Dampak Shrimp Estate: Penyu Lekang Tak Bertandang, Laut Kebumen Tercemar Tambak Udang

Air mata Edi Setia Tamtama (40) tak terbendung saat melihat cangkang telur Penyu Lekang atau Lepidochelys olivacea berserakan di pesisir Pantai Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Selasa, 25 November 2025. Buru-buru ia punguti cangkang tersebut sambil mengeruk gumuk pasir dengan harapan masih ada telur penyu yang belum menetas. Sayangnya, tidak satupun telur yang tersisa di dalam gumuk pasir. “Dulu area pesisir ini banyak pendaratan penyu untuk bertelur,” kata Edi saat ditemui oleh Jaring.id, bersama Majalah Tempo.

Istilah gumuk pasir sendiri merujuk Bahasa Jawa yang berarti gundukan serupa bukit. Pembentukannya tak sebentar. Bisa berlangsung jutaan tahun, dimulai dari erosi dari hulu melalui Sungai Hijau, Laulu, dan Sungai Lawar, lalu ditambah arus gelombang laut dari tenggara. Proses tersebut menghasilkan daratan berpasir seluas 40 kilometer persegi yang menjadi rumah bagi penyu ketika musim bertelur.

Karena keunikannya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan agar gumuk pasir sebagai geosite bagian dari 42 Kawasan Geopark Kebumen sejak 2016. Baru pada April tahun lalu, Sidang Tahunan Dewan Eksekutif United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) akhirnya menetapkannya sebagai bagian dari situs warisan dunia.

Lokasi penyu menetaskan telurnya di kaweasan Konservasi penyu di Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah 4 November 2025. Kawasan gumuk pasir ini telah masuk ke dalam bagian dari Geopark Kebumen karena gumuk pasir tersebut memiliki tipe barchan yang hanya terdapat dua di dunia, yaitu Indonesia dan Meksiko. Tempo/Fardi Bestari

Meski begitu, gumuk pasir di Pantai Petanahan justru mulai lenyap berganti deretan kolam buatan yang diklaim sebagai pertambakan udang modern terbesar di Kebumen. Letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri saat kami temui. Sambil mencari gumuk pasir, lelaki usia 40 tahun itu mendekati kolam berpagar besi tersebut. “Di dekat sini dulunya ada sekitar 10 lokasi pendaratan penyu. Sekarang lenyap semuanya,” katanya sembari melongok kolam udang.

Puluhan kolam udang yang disoroti Edi merujuk proyek budidaya udang berbasis kawasan (BUBK) yang digarap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2022. Tambak ini dibangun di atas lahan seluas 100 hektar dari total luasan 171, 86 hektar yang terletak di Kecamatan Petanahan, meliputi Desa Karanggadung, Desa Tegalretno dan Desa Jogosimo. Proyek strategis nasional (PSN) shrimp estate ini menelan biaya hingga Rp 175 miliar. Lahan yang digunakan merupakan aset Pemerintah Daerah Kebumen yang disewakan kepada KKP berdasarkan surat Perjanjian Pinjam Pakai Nomor 13 Tahun 2021 dan Nomor 03/DJPB/KKP/VIII/2021 tanggal 12 Agustus 2021.

Proyek tersebut mengusung konsep Good Aquaculture Practice atau cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Skema budidaya ini merujuk pada standar Food and Agriculture Organization dalam Code of Conduct Responsible Fisheries (CCRF) serta Aquaculture Certification. Ada empat aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaannya, yakni keamanan pangan, kesehatan dan kesejahteraan ikan, ramah lingkungan, dan sosial ekonomi.

Sejak proyek itu dibangun, rumah-rumah penyu perlahan lenyap di lokasi tersebut. Sebelumnya, sekitar 2021, Edi masih dapat menemukan aktivitas pendaratan penyu untuk bertelur. Saban malam, Edi bersama awak konservasi penyu Kali Ratu menyaksikan langsung puluhan penyu mendatangi pesisir untuk bertelur. “Saya juga cari kerang hijau di area itu, biasanya dapat sekarang tidak ada lagi di area BUBK. Kami baru dapat menemukan telur penyu dan kerang di area konservasi yang jaraknya 3 kilometer dari BUBK. Jumlahnya banyak,” kata Edi.

Berdasarkan pantauan citra satelit Copernicus, Planet Lab, dan Google Earth, sedikitnya terdapat empat gundukan pasir setinggi 2-10 meter menjadi rata sejak 2020. Perkebunan kelapa, lahan pertanian sayur, dan buah-buahan yang dikelola masyarakat turut disapu.

 

Perubahan besar area lahan mulai tampak pada 2022 sampai 2025 ketika sejumlah alat berat meratakan gumuk. Menyisakan beberapa gundukan yang berjarak sekitar 500 meter dari kawasan BUBK. Koordinator Kelompok Riset Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN Chusni Ansori tak memungkiri wilayah pesisir pantai di proyek BUBK merupakan bagian dari geosite atau warisan geologi, salah satunya lokasi bertelur penyu.

Sebelum seluruhnya rata, Chusni bersama tim Geopark Indonesia lantas mengajukan lokasi yang tersisa dekat tambak BUBK untuk dilindungi. Sebab di tempat lain, kerusakannya jauh lebih parah. “Harusnya perlu ada kajian lanjutan pada setiap geosite untuk memetakan zonasi, apalagi pasirnya juga dijadikan tambak. Yang tersia harus diamankan harus ada yang diselamatkan.Yang terjaga dan cukup bagus yang di lokasi Kaliratu itu. Kami tetapkan di situ,” kata Chusni saat ditemui di Kebumen pada November 2025

Edi menduga rusaknya gumuk ditambah buangan limbah tambak udang BUBK ke arah sungai dan laut menjadi sebab penyu enggan datang dan bertelur kembali di pesisir. “Dulu ada mangrove sekitar 2 hektar. Namun hilang ditebang. Ada kerang hijau, kini sulit dicari. Limbah udang dibuang langsung ke sungai dan laut,” kata Edi.

Edi juga menyoroti polusi cahaya yang berasal dari tambak udang BUBK. Pencahayaan untuk menerangi tambak udang yang menyorot hingga ke pesisir. Menurutnya, pencahayaan yang terlalu terang membuat Penyu Lekang hengkang. “Kekhawatiran kami polusi cahaya, saat bertelur penyu sensitif terhadap cahaya. Kekhawatiran jangka panjang berlebihan polusi, membuat penyu tidak nyaman dan mencari tempat lain untuk bertelur. Ini area konservasi penyu, tapi nanti tidak ada penyu,” kata Edi.

Departemen Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro melakukan pengujian sampel konsentrasi nitrat dan fosfat sebagai indikator kesuburan perairan Pantai Kaliratu, Kabupaten Kebumen. Riset tersebut dilakukan pada 20 Agustus 2023 atau setahun setelah BUBK diresmikan oleh Presiden Joko Widodo didampingi oleh Prabowo Subianto, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, hingga mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Tim peneliti Undip mengambil 16 sampel, dengan 9 sampel diambil dari daerah sungai, dan 7 sampel lainnya diambil di daerah perairan pantai. Pengambilan berada pada koordinat 07°77’88.0″S sampai 109°60’07.9″ E dan 07°77’77.0″S sampai 109°58’93.3″E. Dari riset itu, ditemukan konsentrasi nitrat di perairan sungai berkisar antara 0,054 mg/l hingga 0,081 mg/l, sementara konsentrasi nitrat di pantai berkisar antara 0,114 mg/l hingga 0,559 mg/l. Konsentrasi nitrat yang lebih tinggi ditemukan berada dekat dengan industri tambak udang modern.

Sementara pada kandungan fosfat di perairan sungai berkisar 0,074-0,140 mg/l. Sementara konsentrasi di perairan pantai berkisar 0,145-0,431 mg/l. Di sekitar industri tambak kadar fosfat signifikan lebih tinggi dengan nilai 0,217-0,431 mg/l. Konsentrasi nitrat dan fosfat lebih tinggi pada daerah perairan pantai, yang berkaitan karena lokasinya berdekatan dengan aktivitas budidaya udang modern.

Guru Besar Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Muhammad Zainuri saat ditemui di ruangan Center for Coastal Rehabilitation and Disaster Mitigation Studies, membenarkan riset yang telah dilakukan lembaganya. Dia juga mengungkapkan faktor tingginya konsentrasi nitrat dan fosfat juga bergantung pada pasang surut air laut. “Buangan industri pertambakan ikut menyumbang,” katanya pada Senin, 15 Desember 2025

Hal itu dapat menimbulkan kadar fosfat tinggi yang mengakibatkan asidifikasi atau peningkatan keasaman yang dapat menurunkan PH di laut. “Saat terjadi proses penguapan lalu membentuk awan ini akan menurunkan hujan asam. Dampak besarnya ekosistem yang tulang nya rapuh akan mati. Jikalau hewan laut nggak kuat tulangnya atau tidak padat akan hancur,” kata Muhammad Zainuri.

Oleh sebab itu, Zainuri menyarankan pembangunan tambak modern yang membutuhkan lahan ratusan hektar dibangun di area 2 kilometer dari pesisir agar limbah industri tersebut tidak langsung ke laut. “Memang biayanya mahal untuk bikin pompa air. Hanya saja untuk air laut akan jadi bersih,” ujarnya.

Apabila memaksakan tambak udang di 100-200 meter dari bibir pantai itu, kata dia, akan membuat ekosistem pesisir rusak dalam 10 tahun. “Saat awal pengelolaan biaya murah. Namun selepas 5 tahun operasional akan lebih mahal. Sebab air lautnya tidak sebening ketika awal buangannya tidak tercuci alami,” kata Zainuri.

Ketua Tim Kerja Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Budidaya pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kelautan Perikanan Kebumen, Mohammad Musriyanto mengaku telah melayangkan surat kepada pembudidaya tambak. Musriyanto menyampaikan ada tiga rekomendasi yang dilayangkan, salah satunya mengenai pengelolaan IPAL yang kurang baik. “Namun semuanya belum dijalankan,” katanya melalui daring pada Rabu, 4 Februari 2026.

Menanggapi kandungan buangan limbah yang melebihi baku mutu, penanggungjawab Budidaya Udang Berbasis Kawasan Kebumen, Iwan Sumantri menyampaikan pihaknya belum memperoleh data kandungan cemaran akibat aktivitas udang di BUBK. Menurut Iwan, pemerintah akan merancang ulang mekanisme pembuangan limbah tambak udang sebelum dibuang ke sungai dan laut.

“Sebenarnya kami dalam lokasi tidak ideal, buangan limbah berdampingan dengan pipa intake untuk pengambilan air laut. Apa yang kami buang kita ambil lagi. Kami akan cek kualitas dan lingkungan berapa. Kami harus perhatikan buangan ke perairan sekitar. Kami akan ambil lagi sampel. Kalau nggak ambil limbahnya, maka sama saja membunuh kami secara pelan-pelan,” kata Iwan melalui daring pada Rabu, 4 Februari 2026.

Terkait kawasan Geopark Kebumen serta pengelolaan BUBK yang berdampak terhadap aktivitas penyu lekang, Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Tinggal Hermawan mengklaim BUBK dikelola dengan memperhatikan aspek perlindungan ekosistem alam. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan jarak lokasi konservasi dan geopark jauh dari titik inlet dan outlet tambak BUBK Kebumen.

“Penataan jarak itu dilakukan untuk mengurangi potensi terhadap ekosistem konservasi. Pengelolaan tambak dilaksanakan dengan prinsip kehati-hatian serta mengacu pada hasil kajian lingkungan, sehingga kegiatan budi daya tetap berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan,” kata kata Tinggal saat ditemui di Gedung Mina Bahari IV Kementerian Kelautan dan Perikanan pada Senin 9 Februari 2026.

 


 

Liputan ini merupakan kolaborasi Jaring.id dengan Majalah Tempo, dan Bloomberg Businessweek dan didukung oleh Pulitzer Center. Simak artikel lain dalam serial ini bertajuk “Shrimp Estate: Target Meleset, Petambak Merugi, dan IPAL yang Serampangan“.

Abdus Somad

Abdus Somad

Abdus Somad memulai karir jurnalistiknya sebagai kontributor di berbagai media seperti Suara.com, Gatra, dan Tempo.co pada tahun 2017. Ia bergabung dengan Jaring.id pada tahun 2019. Somad telah menerima berbagai beasiswa dan penghargaan jurnalisme nasional dan regional dengan topik korupsi, lingkungan, hak asasi manusia, kesehatan, kelautan, perdagangan satwa liar, dan sains.

Berlangganan Kabar Terbaru dari Kami

GRATIS, cukup daftarkan emailmu disini.