Pagi baru saja dimulai ketika Darmiana, 54 tahun, sibuk menata nasi, lauk, dan aneka hidangan sederhana di warung kecilnya di tepi jalan Desa Telatang, Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan pada Mei 2026 lalu. Perempuan itu segera menutup wadah makanan dengan cepat setiap kali truk pengangkut batu bara maupun kendaraan operasional perusahaan melintas.
Pemandangan itu kini menjadi bagian dari keseharian Darmiana. Padahal, beberapa tahun lalu, perempuan itu tidak pernah membayangkan akan mencari nafkah dengan berjualan sarapan. Selama bertahun-tahun sebelumnya ia menggantungkan hidup keluarga dari hasil berkebun. Cabai, jagung, dan berbagai jenis sayuran yang ditanam di lahannya menjadi sumber penghasilan utama keluarga ini.
Namun, keadaan perlahan berubah sejak aktivitas pertambangan batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) beroperasi di sekitar desanya. Kebun yang dulu produktif kini tidak lagi memberikan hasil seperti sebelumnya. Menurut Darmiana, tanaman yang tumbuh kurang optimal tersebut mengakibatkan panen terus menurun. Hal itu membikin pendapatan keluarganya ikut menyusut.
“Dulu hasil kebun masih bisa membantu kebutuhan sehari-hari. Sekarang hasilnya jauh berkurang, jadi saya mencoba berjualan sarapan untuk menambah penghasilan,” ujarnya saat ditemui simburcahaya.com.
Lapak usaha kecil yang digelar di pinggir jalan sudah dilakukan Darmiana sejak Maret 2026. Meski menjadi harapan baru bagi ekonomi keluarganya, pekerjaan itu juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Hampir setiap hari, ia harus berjibaku dengan debu yang beterbangan akibat padatnya lalu lintas kendaraan operasional perusahaan, mulai dari angkutan karyawan hingga truk pengangkut batu bara.
Debu yang terbawa angin sering kali menempel pada makanan yang dijualnya. Karena itu, Darmiana harus lebih telaten menjaga kebersihan dagangannya. Wadah makanan terus ditutup, meja dagangan berulang kali dibersihkan, dan makanan harus lebih sering diperiksa agar tetap layak disajikan kepada pembeli.
Kisah serupa dialami Jumiati, 40 tahun. Perempuan itu juga pernah mengandalkan hasil kebun sebagai penopang ekonomi keluarga. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, hasil kebunnya terus menurun, sehingga tidak lagi cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Berbeda dengan Darmiana yang baru memulai usaha, Jumiati lebih dahulu berjualan sejak 2024. Setiap pagi, ia menyiapkan berbagai menu sederhana seperti nasi gemuk dan lontong untuk dijual kepada warga dan para pengguna jalan. Baginya, berjualan bukan sekadar mencari tambahan penghasilan, melainkan cara bertahan ketika hasil pertanian dan perkebunan yang selama ini menjadi sandaran hidup semakin sulit diandalkan.
“Kalau hanya mengandalkan kebun sekarang sudah sulit. Hasilnya tidak seperti dulu lagi, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan,” katanya.
Perubahan yang dialami Darmiana dan Jumiati adalah sedikit kisah yang dialami pekebun di Desa Telatang. Menurunnya produktivitas lahan di sekitar kawasan tambang batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mendorong sebagian warga beralih menjadi pedagang kecil dengan cara membuka warung nasi atau menjalankan usaha lain demi menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.
Penulis: Melia Santry
Sumber: simburcahaya.com



