Thursday, November 26, 2020
Home TIPS DAN ULASAN {:id}Menggali dan Menyuntik: Langkah Menelisik Korupsi Sistemik{:}{:en}Digging and ?Injecting?: Steps in Tracing...

{:id}Menggali dan Menyuntik: Langkah Menelisik Korupsi Sistemik{:}{:en}Digging and ?Injecting?: Steps in Tracing Systemic Corruption{:}

{:id}Korupsi identik dengan praktik suap (bribery). Namun, sebetulnya ada dua praktik lain yang tak kalah berbahayanya yakni nepotisme dan penyalahgunaan kekuasaan. Keduanya kerap tidak terendus meskipun menyebabkan kerugian bagi publik.

George Junus Aditjondro, aktivis yang banyak merilis hasil penelitiannya mengenai korupsi sistemik memberikan 10 langkah sederhana untuk menelisik praktik korupsi sistemik yang bisa dibagi dalam dua langkah besar yakni penggalian dan ?penyuntikkan?.

Penelusuran silisilah menjadi langkah pertama penggalian. Tekhnik ini mudah dilakukan jika korupsi yang ditelusuri dilakukan oleh seseorang yang namanya dikenal luas oleh masyarakat. Penelusuran bisa dilakukan melalui buku biografi orang tersebut (atau otobiografi) atau bahkan biografi lawan politiknya. Penelusuran juga dilakukan dengan memanfaatkan informasi ?orang dalam?.

Iklan ucapan selamat atau duka cita?yang seringkali dianggap sebagai hal remeh?juga bisa digunakan sebagai sumber informasi. Sebab mereka yang memberikan ucapan selamat atau duka cita biasanya merupakan pihak yang memiliki hubungan dekat atau mendapatkan keuntungan.

Proses penggalian perlu dilengkapi dengan mengidentifikasi nama yang ?mengisi posisi? kasir (proxy). Beberapa peran yang diembankan pada orang yang menempati posisi ini yakni melakukan lobi ke kalangan pejabat, mengelola keuangan, pengembangan bisnis, hingga pengatasnamaan aset. Nama proxy biasanya jarang muncul di media massa sehingga tidak familiar di telinga publik.

Hal lain yang bisa dilakukan pada tahap penggalian adalah mencari tahu olahraga (dan organisasi/yayasan olahraga) favorit tokoh yang hendak kita telusuri. Rekan yang kerap terlihat di lapangan olahraga seringkali merupakan rekanan bisnis.

Setelah proses penggalian selesai dilakukan, proses penyuntikkan bisa mulai digarap. Nama-nama orang dan yayasan yang sudah teridentifikasi kita gunakan untuk menelusuri bisnis-bisnis yang dijalankan oleh nama-nama tersebut.

Proses ini bisa dimulai dengan penelusuran akta notaris dan Berita Tambahan Negara. Akta notaris membantu kita untuk menelusuri kepemilikan perusahaan oleh nama-nama yang sudah diidentifikasi sebelumnya. Selain itu, dia juga berguna untuk mengetahui perkembangan usaha tokoh tertentu.

Nama-nama tersebut juga bisa ditelusuri dengan menyuntikannya pada database yang disediakan oleh beberapa perusahaan konsultan bisnis seperti PT Dataindo Inti Swakarsa dan PT CISI Raya Utama. Namun, informasi tersebut biasanya berbayar sehingga kita harus menyediakan dana tertentu untuk mendapatkannya.

Dari proses penggalian dan penyuntikkan kita bisa melihat adakah benang merah yang menyatukan kepentingan penguasa politik dan penguasa ekonomi. Sebuah proyek yang dilakukan di satu daerah misalnya, dikerjakan oleh sebuah perusahaan yang kepemilikan sahamnya dipegang oleh keluarga/kolega/proxy dari pejabat publik daerah tersebut.

Sumber: George Junus Aditjondro, Membedah Kembar Siam Penguasa Politik dan Ekonomi Indonesia: Metodologi Investigasi Korupsi Sistemik Bagi Aktivis dan Wartawan, Jakarta: LSPP, 2004{:}{:en}Corruption is synonymous with bribery. However, there are actually two other practices that are no less dangerous, i.e. nepotism and abuse of power. Both forms often go undetected although they are just as harmful to the public.

George Junus Aditjondro, an activist who has released numerous research on systemic corruption, offers 10 simple steps in tracing systemic corruption practices, which can be divided into two major steps, namely digging and ?injecting?.

Genealogical search is the first step of digging. This technique is easy to do if someone whose name is widely known by the public is carrying out the corruption being traced. The search may be done through their biography (or autobiography), and even the biography of their political opponent. Examination can also done by utilizing ?insider? information.

Congratulatory classifieds or obituaries ? which are often regarded as trivial ? may also be used as sources of information. Those who send out their congratulations or condolences are usually in close relationships with the recipientor takes advantage from them.

The digging process needs to be supported by identifying the name who ?fills the position? of cashier (proxy). Some of the tasks that are entrusted to the person playing this role are to lobby officials, manage finances, develop businesses, as well as purchase assets by namesake. The proxies? names rarely appear in the media making them unfamiliar to the public.

Another task that can be done at the digging stage is to find out the favorite sports (and sport organisations/foundations) of the figure we are tracing. Colleagues that are seen on the sport fields are often their business partners.

After the digging process is completed, the ?injection? process is initiated. The names of people and foundations that have been identified can be used to search for businesses that are run by these names.

This process could begin with the search of the notarial deed and Supplement to the State Gazette. Notarial deeds will help us to trace the ownership of the company by the names that have been identified previously. In addition, it is also useful to know the business development of the specific figure.

The names can also be traced by injecting it to the database provided by some business-consulting firms such as PT Dataindo Inti Swakarsa and PT CISI Raya Utama. However, these information usually cost money so we would have to allocate some funds in order to obtain it.

From the processes of digging and injecting, we would discover the common threads uniting the interests of political and economic rulers. A project carried out in one area, for instance, might be done by a company whose ownership of shares are held by the relatives/colleagues/proxies of local public officials.

Source: George Junus Aditjondro, Membedah Kembar Siam?Penguasa Politik dan Ekonomi Indonesia: Metodologi Investigasi Korupsi Sistemik Bagi Aktivis dan Wartawan (Examining the Dynamic Duo of Political and Elite Rulers in Indonesia: Investigative Methodology of Systemic Corruption for Activists and Journalists), Jakarta: LSPP 2004.{:}

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Laporan Kekerasan di Detensi Imigrasi Malaysia Bakal Ditindaklanjuti

Sebanyak 43 pekerja mengaku mendapatkan kekerasan dan perlakukan tidak manusiawi selama ditahan di detensi Imigrasi Malaysia sebelum...

Ramai-Ramai Melanggar Protokol Kesehatan

Mengendarai Vanderhall—mobil beroda tiga buatan Amerika Serikat—bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana dan Aep Saepuloh...

Digulung Proyek Strategis Nasional

“Jangan ki naik, kalau tenggelam mi kapal bagaimana?” cerita Iwan, nelayan Kodingareng, kepada Jaring.id saat dihubungi melalui telepon, Selasa, 25 Agustus 2020. Iwan merupakan salah...

Tergusur “Ratu Belanda” di Perairan Spermonde

Enam jam mengarungi perairan laut Pulau Kodingareng, Sangkarrang, Makassar pada Minggu, 23 Agustus 2020, Iwan (36) tak kunjung mendapat ikan. Padahal lokasi tersebut merupakan...

Recent Comments