Banyak orang hanya menggelengkan kepala ketika mereka mulai menanam padi di atas tanah keras yang dipenuhi bongkahan batubara dan laterit. Hamparan itu lebih menyerupai lanskap mati bekas tambang—kering, masam, retak, dan nyaris tak menyisakan tanda-tanda kehidupan. Debu beterbangan setiap kali angin melintas, sementara tanahnya begitu tandus hingga sulit dibayangkan bisa ditumbuhi apa pun, apalagi padi.
Bagi sebagian orang, upaya memulihkan lahan bekas tambang itu tampak seperti perjudian yang mustahil dimenangkan. Namun di Lubuk Sawah, Sarminto atau yang kerap dipanggil Pakde Minto memilih menaruh keyakinan pada ketekunan, bukan keraguan. Sedikit demi sedikit ia merawat tanah yang terluka itu dengan membolak-balik tanah keras, menebar bahan organik, dan menunggu dengan sabar perubahan yang nyaris tak terlihat.
Waktu kemudian membuktikan bahwa tanah yang dianggap mati ternyata masih bisa dipulihkan. Dari lahan bekas tambang yang semula gersang, padi mulai tumbuh menghijau. Bagi Pakde Minto, kedaulatan pangan bukan sekadar soal panen, melainkan tentang kesediaan manusia memulihkan bumi yang rusak dengan tangan, tenaga, dan kesabaran mereka sendiri.
Pemulihan lahan yang dilakukan Sarminto tidak lahir dari keyakinan kosong. Di balik hamparan tanah tandus bekas tambang itu, ia membawa pengetahuan tentang pemulihan tanah sekaligus gagasan mengenai kemandirian produksi pupuk organik. Baginya, tanah yang rusak bukan berarti tanah yang mati.
Oleh sebab itu, ia membangun kandang sapi sebagai Unit Pengolahan Pupuk Organik (UPPO) tak jauh dari lokasi penanaman. Sapi-sapi di tempat itu dipelihara bukan semata untuk diternakkan, melainkan menjadi sumber pupuk padat dan cair guna memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat aktivitas tambang.
Dari tempat sederhana itulah proses pemulihan lahan dijalankan. Perlahan, unsur hara yang lama hilang mulai kembali. Tanah yang semula keras dan miskin nutrisi sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih gembur dan layak ditanami. “Ini laboratorium kami,” ujar Pakde Minto. “Sambil bertanam, kami mencatat setiap langkah dan hasil pengamatannya. Nanti akan lahir SOP tentang cara memulihkan lahan eks tambang menjadi lahan pertanian,” lanjutnya.
Setelah proses memulihkan tanah dilakukan selama tiga tahun, kini tanah sudah dapat ditanami pelbagai jenis tanaman. Saat kami ke sana, terlihat padi ladang jenis Serai—jarang sekali ditemui di Kota Samarinda, mulai keluar bulirnya dan sekitar sebulan lagi akan dipanen di atas tanah bekas tambang tersebut. “Hampir tiga tahun kami beraktivitas di sini, dengan semua suka dukanya. Dan lihat, kini lahan ini sudah bisa ditumbuhi jagung, pepaya, melon, bahkan padi ladang,” terang Pakde Minto.
Bahkan, menurut Minto, lahan eks tambang itu berpotensi ditanami hingga 5.000 batang melon. Ia memperkirakan panen perdana dapat dilakukan saat libur Lebaran 2026.
Sementara itu, padi varietas Serai yang memiliki masa tanam lebih singkat juga mulai menunjukkan pertumbuhan. Namun, prosesnya tidak berjalan mulus. Pada awal masa tanam, sebagian besar tanaman sempat menguning hingga menimbulkan kekhawatiran gagal panen. “Pada umur sekitar dua bulan, tanaman sempat menguning semua. Awalnya kami kira karena kurang nutrisi, ternyata kekurangan air. Begitu hujan turun dan diberi pupuk tambahan, sebagian tanaman mulai pulih,” jelasnya.
Menurut Minto, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses belajar dalam memulihkan lahan eks tambang. Setiap perubahan kondisi tanah dan tanaman dicatat sebagai bahan evaluasi untuk menemukan pola pertanian yang paling sesuai di lahan kritis.
Sambil mengajak Jurnalis Warga menelusuri hamparan tanaman padi dari dekat, Pakde Minto menjelaskan bahwa memulihkan lahan eks tambang bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan satu cara. Menurutnya, setiap petak lahan memiliki tingkat kerusakan dan karakter tanah yang berbeda, sehingga membutuhkan perlakuan yang berbeda pula. “Perlakuan serupa ternyata tidak selalu menghasilkan hasil yang sama. Di titik ini subur, di titik lainnya merana,” tuturnya sembari menunjukkan perbedaan kondisi tanaman di dua blok lahan yang berdekatan.
Ditunjuknya batang padi tampak hijau dan tegak. Namun di sisi lain, tanaman terlihat pucat dan pertumbuhannya tertinggal. Perbedaan itu, kata Minto, menjadi bukti bahwa proses pemulihan lahan kritis membutuhkan pengamatan terus-menerus, kesabaran, dan penanganan yang menyesuaikan kondisi tanah di setiap titik. “Sebulan lagi akan panen, semoga tidak diserang hama,” harapnya.
Hamparan padi yang tak terlalu luas memang rawan; saat malai mulai keluar, burung-burung datang menghisap sarinya, menyisakan bulir cokelat yang kopong. Pakde Minto dibantu istrinya harus bekerja ekstra mengusir burung demi menyelamatkan bulir padi yang mulai menua. “Jangan terlalu berharap pada hasil cepat. Menanam di lahan eks tambang adalah soal menikmati proses pemulihan,” pungkas Pakde Minto sembari menjerangkan kopi untuk para tamu.
Keberhasilan Kelompok Tani Tegalrejo mengirimkan pesan kuat bahwa kedaulatan pangan dan transisi energi yang adil harus dimulai dari tangan-tangan rakyat yang mau menyentuh tanah. Di Lubuk Sawah, mereka telah mengubah “luka bumi” menjadi ruang diskusi yang hidup. Di tangan mereka, kegilaan telah berubah menjadi harapan yang ranum di tengah narasi pemulihan lahan yang sering kali minim bukti.
Artikel berjudul “Peluh di Atas Tanah Luka Menanam Kedaulatan di Lubuk Sawah,” yang ditulis oleh jurnalis warga, Herliyana ini kali pertama terbit di kesah.id. Redaksi menerbitkan ulang artikel warga untuk memberi ruang kepada masyarakat agar ikut berkontribusi dalam penyebaran informasi. Penerbitan artikel ini dilakukan setelah melakukan verifikasi fakta, pengecekan sumber, penyuntingan bahasa, dan pemeriksaan etika serta hukum pers.



