Kayu bakar kembali menyala di dapur-dapur rumah warga. Menjadi alternatif ketika gas tak tersedia atau terlalu mahal. Foto:kesah.id
Kayu bakar kembali menyala di dapur-dapur rumah warga. Menjadi alternatif ketika gas tak tersedia atau terlalu mahal. Foto:kesah.id

Api yang Tak Pernah Padam, Dapur yang Nyaris Dingin

Malam di Delta Mahakam, Kalimantan Timur tak pernah benar-benar gelap. Lidah api menyembur tanpa henti dari cerobong flare perusahaan migas. Siang dan malam. Di bawah, pipa-pipa baja raksasa yang mengalirkan gas bumi ke berbagai penjuru negeri dipendam di dasar lumpur. Sementara deru mesin industri ini samar terdengar dari rumah-rumah panggung di Desa Muara Pantuan. Namun di sana justru mereka hidup dalam kekurangan. Gas yang harusnya sampai ke dapur-dapur warga kini hampir punah. 

“Sekarang susah sekali cari gas,” kata Nade (50), matanya menatap perairan yang memisahkan desanya dari daratan Anggana. Suaranya pelan, tapi berat. “Kalaupun ada, harganya bisa sampai 40 atau 45 ribu Rupiah.”

Bagi nelayan seperti dirinya, angka itu bukan sekadar mahal—melainkan beban yang sulit dijangkau. Penghasilan yang bergantung pada laut tak pernah pasti. Sementara kebutuhan dapur di tempat yang menjadi bagian penting dari peta energi nasional ini tak bisa ditunda.

Listrik di sana hanya menyala 12 jam sehari. Sejak awal 2026, gas LPG 3 kilogram—yang akrab disebut “gas melon”—mendadak langka, sehingga mengakibatkan harga gas melambung tinggi. Di tengah kondisi itu, warga Muara Pantuan terpaksa kembali menggunakan kayu bakar untuk memasak.

Di dapur rumah panggung milik Norsiah (70), asap tipis mengepul dari tungku tanah liat. Tangannya cekatan menyusun potongan kayu sebelum dibakar. Di hadapannya, kuali besar berisi adonan kerupuk perlahan mulai mendidih. “Kalau mau cepat panas, pakai kayu lendro,” ujarnya. “Apinya besar dan tidak gampang mati,” ia melanjutkan. 

Norsiah memperoleh kayu tersebut dari hutan mangrove yang berada tak jauh dari rumahnya. Tanaman itu bukan sekadar benteng pesisir, melainkan sumber energi yang ia pahami luar dalam. Setiap jenis kayu memiliki karakter masing-masing. Kayu lendro (Rhizophora), misalnya, untuk membuat api besar. Sedangkan kayu Avicennia digunakan bila hendak mendapatkan bara yang stabil. “Tanaman paci-paci untuk memasak cepat,” ujarnya. 

Pengetahuan itu tidak ia pelajari di sekolah. Ia tumbuh dari pengalaman, dari waktu yang panjang bersama alam.

Baco (60) juga punya pilihannya sendiri. Untuk memanggang ikan, ia lebih mengandalkan kayu api-api. “Baranya tahan lama, sehingga ikan matang sampai dalam dan tidak pahit,” katanya singkat. 

Kayu api-api atau mangrove sendiri dapat diperoleh tak jauh dari pemukiman. Untuk kebutuhan sehari-hari, warga tidak menebang kayu, melainkan memanfaatkan ranting jatuh maupun kayu mati. Hal itu, menurut Baco, dilakukan lantaran warga tak mau kehilangan pelindung alami garis pantai. 

Dari dapur Norsiah, kita melihat wajah lain dari ketahanan energi. Bukan tentang limpahan cadangan gas yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, melainkan tentang akses yang timpang.

Di desa yang daratannya lebih sempit dari perairannya ini, kedaulatan energi punya makna yang sederhana: tungku yang tetap hangat setiap pagi, tanpa rasa cemas. Sekalipun api di tungkunya mungkin kecil dan asapnya tipis. Namun dari situlah kehidupan tetap menyala.

 


 

Artikel berjudul “Nyala Api di Ujung Pipa Ironi Kedaulatan Energi di Delta Mahakam” yang ditulis oleh jurnalis warga, Jamiah ini kali pertama terbit di Kesah.id. Redaksi menerbitkan ulang artikel warga untuk memberi ruang kepada masyarakat agar ikut berkontribusi dalam penyebaran informasi. Penerbitan artikel ini dilakukan setelah melakukan verifikasi fakta, pengecekan sumber, penyuntingan bahasa, dan pemeriksaan etika serta hukum pers.

Berlangganan Kabar Terbaru dari Kami

GRATIS, cukup daftarkan emailmu disini.