Di sisi Jembatan Nibung, tidak jauh dari Pasar Segiri, Kota Samarinda, hadir sebuah ruang publik dengan konsep yang berbeda dari taman kota pada umumnya. Taman tersebut bernama Taman Para’an, yang diresmikan pada 19 Mei 2025 sebagai ruang publik berketahanan iklim.
Nama “Para’an” dimaknai sebagai “dekat.” Sesuai namanya taman ini diharapkan menjadi ruang yang dapat menjadi perpanjangan teras rumah—tempat warga dapat berkumpul, belajar, berolahraga, bersosialisasi, dan menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Yang membuat Taman Para’an istimewa bukan hanya lokasinya, tetapi juga proses pembangunannya. Taman ini dirancang secara partisipatif dan inklusif, dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam menentukan bentuk, fungsi, dan kebutuhan ruang. Proses tersebut didampingi oleh Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) bersama mitra akademik.

Kelompok ibu-ibu, pen`yandang disabilitas, komunitas anak muda, NGO, akademisi, dan perguruan tinggi dilibatkan dalam proses perancangannya. Dengan pendekatan tersebut, Taman Para’an bukan sekadar ruang yang dibangun untuk masyarakat, melainkan ruang yang lahir dari gagasan dan kebutuhan masyarakat. Pemerintah Kota Samarinda bahkan melihat pendekatan ini sebagai model yang dapat menjadi percontohan bagi pembangunan ruang publik lainnya.
Keunikan lain Taman Para’an terletak pada sistem energinya. Taman ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan listriknya melalui energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin. Panel surya dipasang sebagai sumber utama listrik, sementara sebuah turbin angin skala kecil turut digunakan untuk menghasilkan energi.
Sistem tersebut membuat Taman Para’an tidak bergantung sepenuhnya pada jaringan listrik PLN. Panel surya yang dipasang memiliki kapasitas sekitar 5.000 watt, sementara turbin angin dirancang khusus agar dapat bekerja di lingkungan perkotaan. Penerapan turbin angin di tengah kota menjadi tantangan tersendiri karena karakter anginnya berbeda dengan kawasan pantai atau perbukitan.
Pemanfaatan energi surya dan angin sekaligus menjadikan taman ini sebagai ruang pembelajaran. Warga dapat melihat secara langsung bagaimana sumber energi yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sebuah ruang publik.

Di samping itu, taman ini juga memanfaatkan air hujan. Air hujan ditampung di sebuah talang untuk kemudian dimanfaatkan sebagai sumber air agar tidak terus-menerus mengambil air dari Sungai Karangmumus.
Karena konsep tersebut, Taman Para’an tidak hanya diposisikan sebagai ruang hijau atau tempat rekreasi. Ia dirancang sebagai laboratorium mini dan ruang belajar terbuka bagi masyarakat.
Warga dapat belajar mengenai energi terbarukan, pemanfaatan air hujan, ketahanan kota, serta cara beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui teknologi yang diterapkan langsung di taman. Akademisi juga didorong memanfaatkan ruang ini untuk kegiatan penelitian, kelas terbuka, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Di dalamnya terdapat berbagai fungsi ruang yang ditentukan berdasarkan kebutuhan warga, mulai dari ruang sosial, ruang belajar, ruang olahraga hingga ruang ekonomi. Karena itu, keberadaan taman diharapkan tidak berhenti pada fungsi estetika, tetapi benar-benar menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Penulis: Windasari
Sumber: kesah.id



