Foto: Herliyana

Surat PHK dan Kebun yang Mengubah Jalan Hidup

Malik (26) berdiri di antara deretan pohon jambu air di sebuah kebun di pinggiran Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Tangannya sesekali memeriksa buah yang mulai matang. Hari itu, sebagian siap dipanen dan dijual, sebagian lainnya masih menunggu beberapa hari lagi.

Beberapa tahun lalu, aktivitas seperti itu bukan bagian dari rencana hidupnya. Malik sebelumnya bekerja di sektor formal hingga pandemi Covid-19 membuatnya kehilangan pekerjaan. “Saat pertama kali surat (PHK) itu keluar, rasanya dunia runtuh. Sedih, kecewa, dan takut menyatu karena tidak tahu harus menghidupi diri dengan cara apa lagi,” kenang Malik.

Setelah kehilangan pekerjaan, Malik menghadapi pilihan yang juga dihadapi banyak pekerja lain, yakni kembali mencari pekerjaan formal atau mencoba sumber penghasilan lain. Ia kemudian memilih memanfaatkan lahan yang tersedia untuk budidaya jambu air.

Keputusan tersebut membawanya ke bidang yang sebelumnya tidak menjadi tujuan utama. Ia mulai mempelajari budidaya jambu, mengelola kebun, hingga memasarkan hasil panen. Dari lahan tersebut, Malik membangun sumber pendapatan yang kini menjadi pekerjaan utamanya.

Pengalaman Malik merupakan salah satu gambaran dari perubahan pilihan kerja anak muda di tengah pasar kerja yang semakin kompetitif. Setiap tahun, sekitar 3,28 juta siswa lulus dari jenjang SMA/SMK. Sebagian dari mereka ada yang melanjutkan pendidikan, sebagian lain langsung mencari pekerjaan. Pada saat yang sama, sekitar 1,3 hingga 1,5 juta lulusan perguruan tinggi, termasuk Diploma dan Sarjana, turut masuk ke pasar kerja.

Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sekitar 10,7 juta pencari kerja setiap tahun. Angka tersebut mencakup lulusan baru, angkatan kerja yang belum terserap, serta pekerja yang kembali mencari pekerjaan setelah mengalami PHK.

Di tengah angkatan kerja yang besar, sebagian besar mengarahkan pencarian pada pekerjaan formal. Pada saat yang sama, terdapat bidang lain yang membutuhkan tenaga kerja dan pelaku usaha, termasuk sektor yang berkaitan dengan ekonomi hijau.

Ekonomi hijau mencakup kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, pertanian dan kehutanan, rehabilitasi lingkungan, energi terbarukan, pengelolaan limbah, serta berbagai kegiatan ekonomi sirkular.

Mencampur media tanam untuk pembibitan. Foto: Herliyana

Namun, pekerjaan di bidang tersebut belum selalu menjadi pilihan utama anak muda. Pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan tanah dan lingkungan masih sering diasosiasikan dengan aktivitas fisik, pekerjaan di luar ruangan, dan tingkat pendapatan yang tidak selalu pasti.

Malik masuk ke sektor tersebut bukan karena sejak awal menargetkannya sebagai pilihan karier. Keputusan itu muncul setelah ia kehilangan pekerjaan formal. Namun, setelah menjalaninya, ia menemukan bahwa lahan yang sebelumnya tidak menjadi bagian utama dari rencana hidupnya dapat menjadi sumber penghasilan.

Kisah berbeda datang dari Abdul Qawiy, lulusan SMK Kehutanan. Berbeda dengan Malik, Abdul memilih bidang yang berkaitan dengan lingkungan sejak awal. Pendidikan yang ditempuhnya membawanya pada kegiatan pembibitan dan penanaman pohon.

Bagi Abdul, pekerjaan di bidang kehutanan merupakan bagian dari upaya pemulihan lingkungan sekaligus ruang usaha. Saat ini, ia bersama sejumlah rekannya mengerjakan pesanan 10.000 bibit pohon Sungkai dari sebuah perusahaan swasta yang memiliki kewajiban melakukan rehabilitasi lahan.

“Alam kita semakin rusak, semua harus dibenahi sedikit demi sedikit. Peluang usaha untuk menghijaukan dan menghijaukan kembali bumi ini sebenarnya terbuka sangat lebar,” kata Abdul.

Pesanan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan terhadap usaha pembibitan seiring pelaksanaan kegiatan rehabilitasi lahan. Bagi pelaku usaha seperti Abdul, kebutuhan tersebut menjadi pasar yang dapat dikembangkan.

Kisah Malik dan Abdul memperlihatkan bahwa kegiatan ekonomi berbasis lingkungan tidak hanya berlangsung dalam skala industri besar. Budidaya tanaman, pembibitan, rehabilitasi lahan, dan pengelolaan sumber daya alam, menurut mereka, berpotensi menjadi kegiatan ekonomi yang dijalankan oleh anak muda. Terlebih di Kalimantan yang memiliki bentang alam dan pelbagai sumber daya yang dapat mendukung kegiatan berbasis lahan.

Bagi anak muda yang ingin masuk ke bidang tersebut, kata Abdul, akses terhadap lahan bukan satu-satu faktor penentu. Modal, pengetahuan teknis, teknologi, akses pasar, dan kemampuan mengelola usaha juga menentukan apakah kegiatan tersebut dapat menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan.

Karena itu, tantangan ekonomi hijau ialah mempertemukan kebutuhan sektor tersebut dengan tenaga kerja muda yang tersedia. Pendidikan dan pelatihan menjadi penting agar lulusan tidak hanya mengenal isu lingkungan, tetapi juga memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja atau membangun usaha di dalamnya.

Malik menemukan jalannya melalui kebun jambu setelah kehilangan pekerjaan. Sementara Abdul menempuhnya melalui pendidikan kehutanan dan usaha pembibitan. Keduanya berada di bidang yang berbeda, tetapi sama-sama menunjukkan bahwa pilihan kerja anak muda tidak berhenti pada pekerjaan formal yang selama ini paling banyak dibayangkan setelah lulus sekolah.

 

Penulis: Herliyana

Sumber: Kesah.id

Berlangganan Kabar Terbaru dari Kami

GRATIS, cukup daftarkan emailmu disini.