Foto: Wahyu Musyifa

Arang Tungku Halaban dari Loa Ipuh Darat

Tak ada bau kayu gosong yang tajam dan kering saat memasuki lokasi pembuatan arang kayu halaban di Loa Ipuh Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Asap hitam pun hampir tak terlihat dari tempat produksi arang ini. Terletak tak jauh dari jalan poros Kutai Kartanegara–Kutai Barat yang ramai dilalui kendaraan, area pembuatan arang tyterasa sunyi.

Terlihat sejumlah tungku berbentuk kubah berjajar di atas tanah. Bentuknya mirip igloo, rumah tradisional masyarakat di wilayah kutub.

Tungku kubah atau dome kiln tersebut menjadi ruang tempat panas, tanah, kayu, dan waktu bekerja bersama. Di dalamnya, batang-batang kayu halaban dari hutan sekunder perlahan kehilangan air dan unsur volatilnya melalui proses pirolisis dan karbonisasi, lalu menjelma menjadi arang bernilai tinggi yang dipasarkan hingga ke luar negeri.

Di tempat inilah teknologi sederhana bertemu dengan pengetahuan yang diwariskan dari pengalaman panjang.

Membangun satu tungku bumi membutuhkan ketelitian. Tanah digali sedalam sekitar satu meter dengan diameter tiga hingga empat meter. Di dasar cekungan itu, potongan kayu halaban—Vitex pinnata, yang di Kalimantan juga dikenal sebagai leban atau alaban—disusun tegak dan rapat. Potongan-potongan kayu tersebut ditata sedemikian rupa hingga membentuk susunan membulat yang menjulang sekitar dua meter di atas permukaan tanah.

Di bagian puncaknya diletakkan serpihan kayu ulin yang kaya minyak, potongan kayu karet, dan serbuk gergaji. Bahan-bahan itu menjadi pemantik api untuk mengawali proses pembakaran.

Tetapi api, kata Reza Karta Pahlevi (39), bukanlah kunci utama keberhasilan.

“Kunci utama dari seluruh keberhasilan proses karbonisasi ini sebenarnya bukan pada apinya, melainkan ada pada selimutnya,” ujar Reza, lelaki yang mengomandoi bengkel kerja di pedalaman Kutai tersebut.

Selimut yang dimaksud Reza itu adalah tanah.

Tumpukan kayu harus dibungkus rapat dengan lapisan tanah setebal sekitar 25–30 sentimeter. Tanah yang digunakan bukan sembarang tanah permukaan. Di tempat Reza, pilihan jatuh pada tanah merah lokal berkarakter lempung bercampur kerikil.

Tanah semacam ini, setelah dipadatkan, membentuk lapisan yang kokoh dan relatif minim pori. Ia bekerja seperti mantel yang menahan panas agar tetap berada di dalam ruang pembakaran. Ketika kubah telah terbentuk dan dipadatkan, api dinyalakan melalui lubang kontrol.

Begitu pembakaran awal stabil, mulut tungku ditutup menggunakan susunan bata merah. Permukaan kubah kemudian kembali dilapisi pasta abu dari pembakaran sebelumnya. Lapisan abu itu berfungsi sebagai segel tambahan, menutup celah-celah kecil pada dinding tanah yang berpotensi menjadi jalan masuk udara.

Di dalam kubah, kayu tidak dibiarkan terbakar bebas. Justru sebaliknya, pasokan oksigen dibatasi agar panas bekerja perlahan mengurai material organik dan meninggalkan karbon.

Dinding tanah pun perlahan ikut berubah. Pemanasan berulang membuat lapisan laterit semakin keras, menyerupai tembikar yang dibakar. Struktur kubah menjadi semakin kuat dan tidak mudah runtuh ketika arang dikeluarkan. Dengan perawatan yang baik, satu kubah dapat digunakan kembali hingga lima atau enam siklus pembakaran.

Karena itu, pekerjaan ini bukan pekerjaan bagi orang yang terburu-buru.

Reza Karta Pachlevi menjadikan workshop pembuatan arang kayu halaban sebagai ruang belajar bagi siapapun yang ingin mempelajari pembuatan arang atau yang ingin memulai bisnis arang kayu halaban. Foto: Wahyu Musyifa

Selama 15 hingga 20 hari, tungku harus dijaga dan dipantau. Para pekerja membaca tanda-tanda kecil yang muncul dari lubang-lubang kontrol: arah asap, warna asap, suhu, bahkan perubahan pada permukaan kubah. Bagi mereka, tungku bukan sekadar bangunan tanah. Ia seperti tubuh yang harus terus dibaca perilakunya.

Retakan sekecil rambut sekalipun dapat menjadi masalah besar. Udara luar yang kaya oksigen bisa masuk ke ruang pirolisis dan mengacaukan proses karbonisasi. Kayu yang seharusnya menjadi arang bernilai tinggi bisa berubah menjadi arang rapuh, hancur, atau dalam kondisi terburuk, habis menjadi abu.

Sebaliknya, ketika proses berjalan sempurna, satu tungku dapat menghasilkan sekitar dua ton arang berkualitas tinggi yang dikategorikan sebagai Grade A.

Arang tersebut memiliki karakter yang khas: kering, ringan tetapi padat, dan relatif tidak meninggalkan jelaga pada tangan ketika disentuh. Ketika dua potong arang diketukkan, bunyinya pun berbeda. Bukan bunyi kayu yang patah, melainkan denting nyaring yang menyerupai benturan dua keping keramik.

Di balik teknologi sederhana itu terdapat sejarah panjang yang terhubung dengan perjalanan arang bumi di Kalimantan.

Teknik produksi arang dengan tungku tanah berkembang di Kalimantan Selatan, termasuk melalui pengaruh teknologi yang diperkenalkan pada masa pendudukan Jepang selama Perang Dunia II. Pada masa itu, produksi arang didorong untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar dan logistik perang.

Dalam perkembangannya, teknik tersebut berkelindan dengan pengetahuan pembuatan arang berkualitas tinggi yang dikenal di Jepang. Di Kalimantan, arang halaban kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat, termasuk untuk memenuhi kebutuhan para pandai besi yang membutuhkan bahan bakar dengan panas stabil dan tinggi.

Seiring waktu, penggunaannya meluas. Arang tidak lagi hanya menopang pekerjaan pandai besi, tetapi juga masuk ke dapur-dapur rumah tangga dan kebutuhan kuliner.

Hingga kini, Banjarbaru dan sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan tetap dikenal sebagai salah satu sentra produksi arang halaban. Namun dalam beberapa tahun terakhir, jejak industri ini mulai bergerak ke utara, mengikuti melimpahnya sumber bahan baku dari hutan sekunder Kalimantan Timur.

Di Loa Ipuh Darat, Reza melihat sesuatu yang selama ini kerap luput dari perhatian. Menurutnya, pohon-pohon pionir yang tumbuh di lanskap sekunder dapat memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan tepat.

Berbekal riset mandiri, keberanian memulai usaha, serta pemahaman mengenai tata kelola perdagangan ekspor, Reza membawa empat pekerja terampil dari Kalimantan Selatan untuk bekerja dan menetap di Kutai Kartanegara.

Keputusan itu bukan semata-mata persoalan tenaga kerja. Ada pengetahuan yang hendak dipindahkan.

“Ketersediaan sumber daya manusia lokal yang benar-benar paham detail, dinamika, dan intuisi seni karbonisasi halaban di Kaltim ini memang masih sangat langka. Saya sengaja membawa empat orang ahli ini langsung dari Kalsel karena keahlian, kejelian mata, dan intuisi mereka dalam membaca perubahan warna serta arah asap dari tungku tanah itu adalah keahlian rasa yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin komputer mana pun,” kata Reza sambil menunjuk deretan tungku kubah di area kerjanya.

Pengetahuan itu bekerja melalui mata, telinga, tangan, dan pengalaman.

Para pekerja harus tahu kapan tungku terlalu panas, kapan asap menunjukkan proses berlangsung normal, kapan sebuah bagian dinding mulai bermasalah, dan kapan waktunya membiarkan api bekerja tanpa banyak campur tangan.

Dari bedeng sederhana di tanah Kutai inilah arang-arang Grade A perlahan menemukan jalannya ke pasar global. Produk tersebut telah dikirim dalam kontainer ekspor menuju pasar Timur Tengah, termasuk hotel-hotel di Arab Saudi. Kini, Reza mulai membidik pasar Eropa yang memiliki tuntutan regulasi lebih ketat.

“Permintaan dari para buyer di pasar ekspor itu sejujurnya sangat besar dan kapasitas produksi kami saat ini selalu kekurangan. Kalau ada tambahan modal dan kesempatan, visi saya adalah ingin terus memperluas skala produksi ini dengan membangun lebih banyak lagi klaster tungku pembakaran sejenis di beberapa titik wilayah baru di Kaltim,” ungkapnya.

Tetapi ekspansi, dalam bayangan Reza, tidak berhenti pada penambahan tungku.

Ia ingin menjadikan tempat kerjanya sebagai ruang belajar. Pengetahuan para perajin senior dari Kalimantan Selatan diharapkan dapat ditransfer kepada pemuda-pemuda lokal Kalimantan Timur. Mereka tidak hanya belajar bagaimana membuat arang, tetapi juga memahami karakter bahan baku, membaca tungku, menjaga kualitas, hingga mengenali standar pasar.

Dari sana, sebuah gagasan tentang green jobs mulai menemukan bentuknya.

Industri arang yang selama ini sering diasosiasikan dengan penebangan dan tekanan terhadap hutan justru ingin diarahkan menjadi bagian dari rantai ekonomi biomassa yang lebih berkelanjutan. Kuncinya terletak pada sumber bahan baku dan bagaimana siklus produksinya dirancang.

Di sinilah halaban memperoleh peran penting.

Vitex pinnata dikenal sebagai pohon pionir yang mampu tumbuh pada berbagai kondisi lahan, termasuk dalam skema rehabilitasi lahan pascatambang—tentu dengan pendekatan silvikultur dan pengelolaan ekologis yang tepat.

Salah satu ciri arang premium atau Grade A adalah tidak meninggalkan bekas hitam di tangan setelah memegangnya. Foto: Wahyu Musyifa

Ia membayangkan masyarakat di sekitar tambang, kelompok tani, dan pemuda desa dilibatkan dalam budidaya halaban di lahan-lahan yang telah rusak. Pohon ditanam bukan semata untuk mengejar produksi arang, tetapi terlebih dahulu untuk mengembalikan tutupan vegetasi dan memperbaiki fungsi ekologis lahan.

Kelak, ketika pohon telah tumbuh dan tersedia bagian tanaman yang dapat dipanen secara lestari, biomassa tersebut dapat masuk kembali ke rantai produksi arang.

Dengan begitu, ia berharap segera terbentuk sebuah rantai produksi yang dimulai dari pemulihan lahan. Saat pohon tumbuh menjadi sumber biomassa, ia dapat dipanen secara berkelanjutan menjadi sumber penghasilan warga. Dengan kata lain, bukan sekadar mengambil dari alam, tetapi menanam kembali apa yang kelak dibutuhkan.

****

Sore mulai turun di Loa Ipuh Darat ketika deretan kubah tanah merah masih menyimpan sisa panas dari pembakaran. Tidak ada mesin besar, tidak ada cerobong menjulang, dan tidak ada teknologi yang tampak futuristis. Yang ada hanyalah tanah, kayu, api, keterampilan, dan kesabaran.

Namun justru dari kesederhanaan itu Reza melihat kemungkinan tentang transisi energi.

Menurutnya, pembicaraan mengenai energi bersih tidak harus selalu dimulai dari proyek-proyek raksasa dengan teknologi mahal. Perubahan juga dapat berangkat dari ruang yang jauh lebih dekat: dapur rumah.

Ia membayangkan arang biomassa berkualitas digunakan secara bijak sebagai bahan bakar pelengkap untuk kebutuhan kuliner tertentu, sembari menghidupkan kembali teknik memasak perlahan yang pernah akrab dengan masyarakat Nusantara.

“Tanpa kita sadari, generasi masyarakat kita hari ini mulai kehilangan ingatan dan melupakan cita rasa otentik dari ragam masakan lokal yang dimasak perlahan di atas bara arang. Kita sudah terlalu nyaman dan dimanjakan dengan budaya mengolah makanan serba cepat. Memasak lambat dengan memanfaatkan radiasi panas stabil dari bara arang adalah bagian dari warisan kuliner kita,” ujar Reza.

Senja akhirnya benar-benar jatuh. Dari perut tungku yang gelap, sebuah gagasan tentang ekonomi sirkular perlahan menyala: menanam kembali, memulihkan lahan, menciptakan pekerjaan, mengolah biomassa bernilai tambah, dan mengembalikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.

Barangkali, di antara asap yang nyaris tak terlihat dan kubah-kubah tanah yang diam menjaga bara, Loa Ipuh Darat sedang menyusun sebuah bentuk kecil dari masa depan—ketika pemulihan bumi dan kedaulatan ekonomi masyarakat tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan tumbuh dari akar yang sama.

 

Penulis : Wahyu Musyifa

Sumber: Kesah.id

Berlangganan Kabar Terbaru dari Kami

GRATIS, cukup daftarkan emailmu disini.