Rumah-rumah kos berdiri berjajar di sisi jalan Desa Tanjung Limau. Cat temboknya mulai kusam, beberapa jendelanya tertutup rapat, di samping itu halaman depannya dipenuhi rumput liar. Padahal beberapa tahun lalu kamar-kamar itu nyaris tak pernah kosong. Para pekerja tambang yang pulang bergelombang menjelang petang meramaikan desa ini. Mereka mengantre di warung-warung makanan. Mesin cuci di jasa laundry pun nyaris tak pernah berhenti berputar, sehingga uang mengalir deras ke hampir setiap sudut desa.
Tapi kini semuanya senyap. Bangunan yang dulu menjadi sumber penghidupan itu kini lebih sering menunggu daripada menerima tamu. Seorang pemilik rumah kos bahkan sempat menawarkan bangunannya kepada kami. “Kalau berminat, beli saja,” katanya sambil tersenyum tipis tanpa mau disebutkan namanya.
Rumah-rumah kosong di Tanjung Limau, sebuah desa pesisir di Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara adalah jejak paling kasatmata dari perubahan yang sedang dialami. Selama bertahun-tahun, denyut ekonomi desa ini dipacu oleh industri batu bara. Dua perusahaan batu bara besar—AKG melalui kontraktornya KDC, serta MKE—menggerakkan hampir seluruh sendi kehidupan desa. KDC pernah mempekerjakan sekitar 2.000 orang dari Muara Badak hingga Marangkayu. MKE menghidupkan usaha angkutan lokal melalui aktivitas hauling.
Seiring dengan kehadiran ribuan pekerja, usaha-usaha kecil bermunculan, dan hampir semua orang ikut merasakan derasnya perputaran uang. “Dulu saya bisa dapat Rp300 ribu per hari. Sekarang paling tinggal 30 persennya,” kata seorang pemilik warung makan.
Namun sejak sekitar dua tahun terakhir, perusahaan-perusahaan tambang mulai mengurangi produksi. Kontrak pekerja tidak lagi diperpanjang. Sebagian dirumahkan tanpa kepastian. Sebagian lainnya memilih pergi mencari pekerjaan ke daerah lain. Bersamaan dengan itu, pelanggan warung berkurang, rumah-rumah kos kosong satu per satu, dan usaha kecil yang bergantung pada aktivitas tambang kehilangan napasnya.
“Sempat kami nggak digaji berbulan-bulan karena tidak ada produksi. Kontrak nggak diperpanjang, akhirnya dirumahkan,” tutur seorang mantan pekerja tambang kepada saya. Ia meminta namanya tidak disebutkan.
Menurutnya, perubahan paling terasa datang saat perayaan Idul Adha 2026 lalu. Halaman masjid yang sebelumnya selalu dipenuhi sapi kurban bertanda pilox “KDC,” kini pemandangan itu lenyap. Tak ada lagi sapi dari perusahaan. Bukan hanya kurban yang hilang. Jaring pengaman sosial pun ikut runtuh. “Nggak ada lagi bantuan sosial ataupun bantuan perbaikan infrastruktur sejak mereka tutup,” ujar seorang pemuda yang saya temui.
Saat itu lah warga mengaku sadar bahwa perusahaan yang telah pergi membawa keuntungan, sementara masyarakat harus memikul sendiri biaya sosial yang ditinggalkan. Kondisi tersebut yang membikin warga terdorong untuk merajut kembali kehidupan dari apa yang tersisa di sana, yakni riuh ombak Pantai Panrita Lopi dan rimbunnya akar mangrove.
Karenanya kami datang ke Tanjung Limau. Bukan untuk menghitung berapa lubang tambang yang tersisa, tapi untuk melihat bagaimana warga menutup lubang ekonomi yang ditinggalkan perusahaan batubara.
Lepas dua jam perjalanan menggunakan sepeda motor dari Samarinda, jalan poros Samarinda–Muara Badak berubah menjadi arus panjang kendaraan yang tak putus saban akhir pekan. Mereka menuju Desa Tanjung Limau. Desa dengan garis pantai ini menyimpan sedikitnya 14 destinasi wisata, lima titik penyelaman yang menawarkan keindahan bawah laut, serta sejumlah lokasi memancing yang menjadi favorit para pemancing.
Pada akhir pekan dan musim liburan, kawasan ini nyaris tak pernah sepi. Jika menengok akun Instagram @panritalopi.beach, hamparan pasir yang dipenuhi lautan manusia, deretan tenda warna-warni, dan kendaraan yang memadati area parkir seolah menjadi bukti bahwa denyut ekonomi desa ini sedang berdetak kencang. Beberapa ratus meter dari bibir pantai, warga justru sedang berusaha menyusun kembali kehidupan setelah mesin-mesin tambang berhenti bekerja.
Tak jauh dari pantai kami bertemu Mansur di Sekretariat Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Sehari-hari ia bekerja sebagai penyelam sekaligus pemandu wisata bawah laut. Di samping itu, Mansur melakukan pembibitan dan menanam mangrove untuk membentengi pesisir Tanjung Limau.
Mansur bercerita, untuk menjalankan berbagai kegiatan konservasi, ia beberapa kali bekerja sama dengan Pertamina Hulu Sanga Sanga dan Pertamina Hulu Mahakam. Namun, ketika pembicaraan beralih kepada perusahaan-perusahaan batu bara yang selama bertahun-tahun mengeruk kekayaan alam di wilayah itu, senyum di wajahnya perlahan memudar.
“Pernah ngajuin proposal tentang lingkungan, tapi nggak pernah digubris.”
Kalimat itu meluncur singkat, tetapi sarat kekecewaan.
Bagi Mansur, masa depan Tanjung Limau tidak lagi bisa disandarkan pada batu bara. Desa ini harus menemukan sumber penghidupan baru yang lebih berkelanjutan. Dengan segala keterbatasan, ia mengajak beberapa mantan pekerja tambang beralih profesi menjadi motoris kapal wisata yang mengantar pemancing dan penyelam menjelajahi perairan desa.
Perlahan, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dipaksa mengambil alih peran yang selama puluhan tahun dipegang industri batu bara sebagai penggerak ekonomi lokal.
Penulis: Andi Arief/Kesah.id



