Menjangkau Pemilih Muda Tak Cukup Lewat Medsos

Dosen Hubungan Internasional, Universitas Pelita Harapan, Yosef Djakababa (Dok pribadi)

Partai politik mulai berinovasi dan menyusun strategi untuk menghadapi Pemilu 2024. Berbagai cara dilakukan, mulai dari menarik simpati melalui isu populis, gelaran festival sampai aktif di media sosial kegemaran anak muda, seperti Tiktok dan Instagram.

Dengan berinteraksi secara aktif di platform media sosial, partai politik menyasar pemilih pemula yang diperkirakan jumlahnya akan mendominasi ketimbang pemilihan sebelumnya. Pada Pemilihan Presiden 2019, Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pemilih usia 20 tahun mencapai 17,5 juta lebih orang dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Sedangkan yang berusia 21-30 tahun sebanyak 42,8 juta orang.

tak hanya di Indonesia, suara pemilih pemula juga berandil besar dalam kemenangan pemilihan presiden di Filipina dan Timor Leste. Namun, menurut pengamat politik sekaligus pengajar hubungan internasional, Universitas Pelita Harapan, Yosef Djakababa, sosial media hanya satu cara untuk meraih suara pemilih. Pada pemilihan di Filipina, menurut Yosep, kemenangan Marcos Jr tidak lepas dari penyatuan dua kekuatan dinasti politik. Keluarga Marcos yang kuat di utara Filipina, sedangkan Sara Duterte, putri mantan Presiden Rodrigo Duterte memiliki pengaruh di bagian selatan. Berikut petikan wawancara Jaring.id pada Sabtu, 28 Mei 2022:


Jelang pemilihan 2024, partai politik tampak berlomba-lomba untuk mendapatkan simpati pemilih pemula lewat media sosial. Seberapa penting hal ini?

Sangat penting, apalagi jumlahnya besar. Mereka juga akan menjadi pemimpin masa depan. Ini sangat strategis, pemilih pemula harus diyakinkan. Saya berharap pemilih pemula harusnya lebih kritis. Tantangan pemilih muda adalah informasi yang benar dan sah. Karena banyak informasi hoax yang bermunculan.

Media sosial merupakan instrumen penting guna menyuarakan ide dan mensosialisasikan kandidat partai politik. Kelompok umur bergantung pada sosial media. Jadi sosial media digunakan sebagai instrumen penyebaran informasi.

Di lain sisi bisa disalahgunakan. Medium sosial media terkadang dijadikan ruang untuk pengalihan serta pembentukan opini. Ini dilakukan oleh semua kandidat yang ada. Bisa saja sosial media direkayasa untuk memenangkan (Pilkada dan Pemilu 2024). Saya pikir ini adalah tantangan dari demokrasi. Media sosial dalam konteks Indonesia dan Asia Tenggara itu alat penting.

Betul. Dan hasil pemilihan di Filipina menjadi bukti..

Filipina tidak mengejutkan. Bongbong menang lagi meski reputasi dari keluarganya buruk. Mereka ini keluarga Marcos—keluarga politik. Mulai dari anak, ibu, keponakan, sepupu. Mereka membangun budaya politik keluarga. Mereka tidak pernah keluar dari politik. Pengikutnya juga kuat. Politik Asia Tenggara memunculkan ketokohan, hal tersebut penting.

Timor Leste yang menang adalah Ramos-Horta. Saya pikir kesamaannya adalah masyarakat melihat figur. Sistem boleh demokrasi, tapi yang muncul kandidat yang sama. Dari kelompok itu juga. Xanana itu adalah king maker dan dukungan dia sangat berarti.

Apakah di kedua negara tersebut suara pemilih muda berperan penting?

Posisi negara mereka strategis. Ini tidak bisa dilepaskan dari demografi. Usia muda produktif adalah individu yang menjadi penentu orang. Mereka masuk dalam kultur politik ketokohan.

Di Filipina, tokoh mudanya banyak mendukung Bongbong karena faktor Duterte. Tapi fenomena di Filipina, banyak kelompok pemilih muda sangat mendukung demokrasi, HAM, pokoknya antithesis Marcos. Ini ada kelompok umur masih muda yang melihat masa depan Filipina lebih baik.

Bagaimana bisa latar belakang politik kandidat tak dipertimbangkan? Apakah penyebaran hoax berpengaruh?

Bukan saja Hoax. Itu berpengaruh memang, namun ada faktor lain. Ada narasi bahwa zaman Marcos adalah zaman keemasan. Ia menyebarkan informasi itu di sosial media. Timor leste juga begitu. Hoax hanya satu faktor signifikan, tapi tidak menjelaskan semua.

Di Facebook, Marcos Jr gencar menyampaikan bahwa ayahnya merupakan zaman keemasan. Di sisi lain, pemerintah Filipina gagal membuat pengajaran baik di sekolah. Narasi pembanding kurang memperhatikan itu.

Apa yang membedakan pilihan pemilih muda di Filipina, Timor Leste, dan Indonesia?

Mereka bagian kehidupan sehari-hari. Itu kesamaan. Mereka terbiasa mendapatkan informasi dari digital. Informasi yang mereka terima massif. Itu kesamaan dari kelompok usia yang ada di kawasan asia.

Timor Leste, Filipina, dan Indonesia ada ciri yang sama dan memiliki kekuatan besar untuk dipilih, yakni pentingya ketokohan. Pemimpin yang dianggap seorang tokoh dengan latar belakang yang dikenal baik sebagai politisi atau artis akan dipilih. Ketokohan atau figure individu lebih penting di kawasan Asia Tenggara dibanding program yang dibuat partai politik atau para kandidat. Itu tradisi yang tetap ada.

Jadi tidak heran ya bila partai memanfaatkan kader berfollowers besar untuk menarik perhatian?

Mereka membidik angkatan milenial itu adalah pangsa pasar suara yang bisa diraih dan diraup. Mereka harus perhatikan (suara pemilih muda). Mereka juga harus mendengarkan juga. Ini marketing dan branding. Bagaimana membuat kelompok umur milenial senang dengan parpol. Ada beberapa yang disukai anak-anak muda, seperti lebih visual, cepat, lebih nggak membosankan, dan menyampaikan poin penting dibanding bertele-tele.

Perlu menjadi perhatian juga untuk partai politik, kalau janji-janji tidak dipenuhi maka instrumen untuk meraih suara bisa dihabisi kalau melakukan kesalahan. Politik itu pencitraan, maka hal itu tidak bisa dihilangkan. Penting menekankan, jangan terus bangun citra, kerjanya mana? hasilnya mana? itu yang dituntut dalam demokrasi.

Jadi belum cukup hanya tampil medsos?

Nggak cukup, mereka harus lebih kreatif. Makanya mereka merekrut anak pemula untuk gabung menjadi bagian partai politik. Cara apa pun pasti akan ada titik jenuh. Harus lebih inovatif. Media sosial hanya satu cara.

Saya pikir tugas partai politik melakukan pendidikan politik sehat untuk pemilih pemula. Caranya, kerja yang benar bukan politik yang jelek. Sejauh ini kan politik mendapat pandangan kurang baik. Dari itu partai politik seharusnya memberikan pendidikan ke masyarakat.

Selain itu, hal yang juga harus dilakukan partai politik adalah dapat memenuhi keinginan masyarakat. Harus ada akuntabilitas dan mendengarkan konstituen. Mendengarkan keinginan masyarakat itu lah cara paling efektif mengajarkan pendidikan politik.

 

Republication

Creative Commons License

Republish our articles for free, online or in print, under a Creative Commons license.

Previous articleAdu Strategi Rebut Suara Pemilih Muda
Next articlePolitical parties compete to attract young voters