Adu Strategi Rebut Suara Pemilih Muda

Politikus muda Partai Amanat Nasional (PAN), Slamet Riyadi tampak menggebu-gebu mengajak anak muda untuk memilih dan masuk dalam barisan partai berlambang matahari putih. Video ajakan berdurasi 01.16 menit itu ditampilkan Slamet dalam aplikasi TikTok pribadinya pada 16 Februari 2022. Disukai sebanyak 387 akun dan berisi 54 komentar.

Akun resmi TikTok dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) PAN pun tak ketinggalan. Mereka kerap melibatkan sejumlah orang yang memiliki banyak followers, seperti komedian Denny Cagur, Gita Sinaga, gitaris Enda Ungu untuk menarik simpati melalui isu-isu populis. Mulai dari menyiarkan dukungan mereka terhadap usaha mikro kecil menengah, hingga program vaksinasi. Konten yang ditampilkan pada 17 Februari lalu itu sedikitnya mendapat tanda jempol dari 116 pengguna.

Hingga 27 Maret 2022, akun TikTok milik PAN telah diikuti lebih dari 15 ribu pengikut. Hampir semua video ditonton ribuan kali. Lewat aplikasi yang populer di kalangan anak muda tersebut, PAN tak jarang mengomentari isu yang lagi mendapat perhatian publik. Salah satunya pengadaan gorden rumah dinas anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan polemik terkait penolakan Singapura terhadap Abdul Somad. Video itu terpantau telah diputar hampir 300 kali.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PAN, Viva Yoga Mauladi mengakui bahwa partainya mengincar suara pemilih muda lewat medsos. Jumlahnya diperkirakan setengah lebih dari total pemilih Pemilu 2024. “Sangat besar ceruknya,” katanya kepada Jaring.id, Jumat 13 Mei 2022.

Data daftar pemilih tetap (DPT) Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada pemilu serentak 2019 sebanyak 192,83 juta jiwa. Terdiri atas DPT dalam negeri sebanyak 190,77 juta dan DPT luar negeri 1,06 juta. Dari angka tersebut pemilih didominasi oleh suara anak muda. Para pemilih pemilih berusia 20 tahun mencapai lebih dari 17,5 juta orang. Sedangkan yang berusia 21-30 tahun sebanyak 42,8 juta orang.

Jumlah pemilih muda diperkirakan bakal mendominasi di Pemilu 2024. Oleh sebab itu, kata Viva, PAN tidak bisa tidak beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. PAN meyakini bahwa partai harus masuk ke dunia anak muda yang sangat lekat dengan berbagai platform media sosial, terutama Tiktok dan Instagram. “Akan mati dan ditinggalkan basis pemilih karena tidak kreatif dan inovatif. PAN sadar akan digital,” jelasnya.

Pada Pemilu 2019 lalu, PAN meraih suara sebanyak 9.572.623. Dengan jumlah suara sebanyak itu, PAN berhasil mendapatkan 44 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Viva berharap partainya dapat meraih hasil maksimal pada pemilu mendatang. Agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat, PAN mengklaim akan tetap konsisten mendorong layanan pendidikan murah dan berkualitas. “Anak muda membutuhkan fasilitas yang bagus pelayanan yang bagus,” kata dia.

Strategi lain yang ditempuh PAN ialah membentuk juru bicara muda dari kalangan milenial dan generasi Z. Menurut Viva, juru bicara muda bertujuan untuk memberikan kesadaran politik. Selain itu, jubir muda juga dapat membantu partai untuk menganalisa pola komunikasi, bahasa politik dan karakter pemilih muda. “Ini tanggung jawab PAN agar kaum muda tidak apatis dan tidak boleh skeptis. Dia harus sadar menentukan pilihan dan tidak boleh golput. Satu suara nyawa bagi bangsa ke depan,” ia menjelaskan.

Partai lain seperti Golongan Karya (Golkar) juga telah menyiapkan strategi untuk mendulang simpati publik lewat media sosial. Salah satunya, menurut Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar, Dave Laksono, melibatkan kader Golkar yang memiliki banyak followers. Di antaranya Nurul Arifin yang memiliki pengikut 91,1 ribu, Meutya Hafid Ansyah (96,4 ribu), dan Erwin Aksa (90,4 ribu).

Ketiga politisi tersebut kerap mensosialisasikan visi partai, serta memposting kegiatan agenda harian partai, dukungan terhadap anak muda, dan mempromosikan serangkaian kegiatan yang dihadiri oleh Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto. “Partai akan mengejar suara sebanyak-banyaknya. Setiap suara perolehan kursi ke depan. Akan didorong menarik suara semaksimal mungkin,” kata Dave saat ditemui Komisi I gedung DPR, Rabu 18 Mei 2022.

Menurut Dave, Golkar bersama PAN dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga membentuk koalisi yang dinamai Koalisi Indonesia Bersatu pada Selasa, 17 Mei 2022. Suara anak muda, kata dia, menjadi salah satu target koalisi tersebut. “Ini untuk memenangkan kontestasi Pilkada dan Pilpres 2024,” ujar Dave bersemangat.

Meski begitu, tiga partai koalisi belum menentukan siapa calon presiden maupun wakil presiden yang akan disodorkan pada Pemilu 2024. Golkar sendiri sudah memutuskan untuk mengusung Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto sebagai calon presiden. Akan tetapi, elektabilitas Airlangga sampai saat ini masih perlu ditingkatkan.

Dalam hasil survei Indikator Politik Indonesia pada rentang 14 sampai 19 April 2022, elektabilitas Airlangga masih kurang menjanjikan. “Itu berdasarkan putusan Munas 2019. Ini diambil keputusan seluruh kader Golkar se-Indonesia. Jadi untuk melanjutkan kami jalin komunikasi dengan kader PPP dan PAN se-Indonesia,” kata Dave.

Keinginan sejumlah partai politik untuk merayu calon pemilih muda dari kalangan milenial dan generasi Z bukan tanpa alasan. Hasil Sensus Penduduk 2020 yang dilakukan Badan Pusat Statistik menunjukkan mayoritas penduduk Indonesia didominasi oleh kalangan muda. Proporsi generasi Z (1997-2012) sebanyak 74,93 juta jiwa atau 27,94 persen, disusul milenial (1981-1996) sebanyak 69,38 juta jiwa atau 25,87 persen. Sementara total populasi Indonesia mencapai 270,20 juta jiwa per September 2020.

 

Perlu Program yang Jelas

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio menyebut wajar partai politik berlomba-lomba mendapatkan pengaruh dari media sosial. Sebab pada Pemilu 2024 jumlah mereka terbilang besar. Kendati demikian, kata dia, merebut perhatian pemilih muda tidak cukup dengan hanya tampil di media sosial. “Dia mungkin signifikan untuk popularitas, tapi untuk harapkan partai dipilih melalui kampanye di medsos, partai harus berpikir ulang dan cari strategi lain,” kata Hendri dalam wawancara daring, Senin, 23 Mei 2022.

Menurut Hendri model komunikasi dua arah perlu diperhatikan parpol. Partai politik juga diingatkan agar tetap menyentuh simpati keluarga pemilih muda dengan menampilkan konten atau program substansial, seperti penyediaan lapangan pekerjaan hingga layanan kebutuhan pokok murah. “Jadi tidak hanya anak muda yang diperjuangkan, keluarga mereka juga,” ujarnya.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan ialah ruang bagi pemilih muda untuk berkreatifitas. Tanpa semua itu, Hendri menilai, sulit bagi partai politik untuk meraup suara pemula. ”Maka berikan kesempatan. Mereka generasi yang paling suka diberikan kesempatan,” ujarnya.

Dua tahun menjelang pemilihan, salah satu pemilih, Dhea Kinanti (24) beranggapan bahwa parpol tidak serius dan konsisten mendukung aspirasi anak muda. Ia menyoroti sikap partai terhadap demonstrasi reformasi dikorupsi dan tarik ulur pengesahan Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual. Sejak diinisiasi pada 2012, RUU TPKS baru disahkan menjadi Undang-undang (UU) pada Selasa, 12 April 2022. Jadi perlu waktu 10 tahun bagi politisi Senayan untuk mengesahkan peraturan yang berpihak pada korban. “Saya berharap aspirasi kaum muda bisa dipertimbangkan,” kata Dhea, Rabu, 10 Mei 2022.

Kendati demikian, Dhea tetap ingin menggunakan hak suaranya pada 2024 nanti. Namun, ia masih belum punya bayangan siapa dan partai mana yang akan dipilih. “Nggak kepikiran Golput. Saya ingin ada perubahan,” ungkapnya.

Sementara itu, Bintang Putra (27) menyampaikan bahwa konten parpol yang berseliweran di media sosial belum ada yang mewakili kepentingannya. “Pesannya tidak dapat. Mereka kebanyakan joget. Saya berpikir untuk tidak memilih,” kata Bintang kepada Jaring.id saat dihubungi melalui telepon, Rabu 10 Mei 2022. Dari pelbagai isu yang diangkat, menurut dia, partai jarang sekali mengungkit isu pendidikan gratis, rumah murah, upah layak, hingga jaminan pekerjaan. “Jadi saya merasa pesannya tidak relate dengan kebutuhan anak muda,” ujarnya.

Yngvie Ahsanu Nadiyya yang akan mengikuti pemilu kedua pada 2024 nanti merasakan hal yang sama. Ia mengaku tidak tertarik memilih partai yang hanya bisa melibatkan selebgram untuk mendapatkan dukungan. “Saya nggak tertarik memilih kalau kontennya demikian,” kata dia.

 

Eksposur Figur

Pengamat politik Asia Tenggara sekaligus pengajar hubungan internasional, Universitas Pelita Harapan, Yosef Djakababa menyebut figur masih menjadi faktor penting untuk menarik perhatian masyarakat yang tinggal di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sementara media sosial berfungsi sebagai alat pemajanan yang dapat menonjolkan sisi tertentu dari kandidat. “Sistem boleh demokrasi, tapi yang muncul kandidat yang sama. Dari kelompok itu juga,” ujarnya kepada Jaring.id kepada Jaring.id, Sabtu, 28 Mei 2022.

Kemenangan Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr di Filipina, menurutnya, merupakan hasil kombinasi dari kampanye dinasti selama beberapa dekade dan pajanan media sosial. Kampanye tersebut dinilai berhasil meningkatkan citra publik terhadap keluarga Marcos. Hasilnya dapat dilihat pada Senin, 9 Mei 2022 ketika Ferdinand Marcos Jr menang dalam perhitungan suara cepat. Ia mengantongi sedikitnya 30 juta suara atau sekitar 59 persen suara.

“Bongbong menang lagi meski reputasi dari keluarganya buruk. Mereka ini keluarga Marcos—keluarga politik. Mulai dari anak, ibu, keponakan, sepupu. Mereka membangun budaya politik keluarga. Mereka tidak pernah keluar dari politik. Pengikutnya juga kuat,” jelasnya.

Dinasti Marcos sebelumnya telah digulingkan dalam demonstrasi besar pada 1986 atas tuduhan korupsi, pelanggaran HAM, hingga kepemimpinan yang diktator selama dua dekade. Diktator Filipina itu diduga menjarah 10 miliar Dollar AS atau sekitar Rp 144 triliun.

Menurut Yosef, kurangnya literasi dan kondisi Filipina yang menghadapi dominasi pemilih muda—yang tidak mengalami sendiri masa kediktatoran Marcos turut mempengaruhi hasil pemilu. Tidak sedikit dari mereka yang terjebak dalam narasi kubu pro-Marcos di Facebook, YouTube, dan TikTok mengenai masa keemasan kepemimpinan Marcos.

Di samping itu, kemenangan Marcos Jr tidak lepas dari penyatuan dua kekuatan dinasti politik lain. “Di Filipina, tokoh mudanya banyak mendukung Bongbong karena faktor Duterte,” kata dia.

Kondisi serupa terjadi di Timor Leste. Negara yang menggelar pemilihan presiden April lalu menghasilkan José Ramos-Horta sebagai pemenang. Dengan kemenangan 397.145 suara atau 62,09 persen, Horta melenggang berkat dukungan Xanana Gusmao dan Partai Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste (CNRT). Sementara petahana, yakni Francisco Guterres “Lú-Olo” yang didukung Partai Fretilin hanya didukung 242.440 atau 37,91 persen suara.

Salah satu kandidat presiden dalam pemilihan tersebut ialah Virgilio Silva Guterres. Menurut dia, kemenangan José Ramos-Horta tak terlepas dari kepopuleran Xanana. “Dia populer karena mau turun membantu masyarakat kecil. Turun dan selfie bersama masyarakat itu yang menjadi pilihan anak muda. Bukan karena kesadaran, tapi figur,” ujar Virgillio kepada Jaring.id, Jumat, 20 Mei 2022.

Dalam pemilihan presiden lalu, Virgilio mengaku sudah memanfaatkan media sosial untuk menjaring suara masyarakat, khususnya pemilih pemula. Mulai dari Facebook, Twitter dan YouTube. Menurutnya, Facebook merupakan platform yang paling digemari di Timor Leste. Pengguna platform tersebut diperkirakan mencapai sekitar 300 – 400 ribu orang. “Saya tidak punya SDM untuk jangkau seluruh wilayah. Saya hanya lewat radio komunitas, sosial media, dan Youtube,” ujar Virgilio. Namun tetap saja ia tidak bisa menandingi popularitas Horta. “Xanana dan partainya tergolong organisasi payung masa perjuangan. Di pelosok memilih berdasarkan hubungan emosional,” ujarnya. (Abdus Somad)

Republication

Creative Commons License

Republish our articles for free, online or in print, under a Creative Commons license.

Previous articleBingung Memilih Topik Investigasi untuk Ide Liputanmu?
Next articleMenjangkau Pemilih Muda Tak Cukup Lewat Medsos