Sumber: Instagram Nicole tung

Nicole Tung: Menangkap Nestapa Nelayan dalam Jepretan Foto

Kesejahteraan nelayan dan industri perikanan seringkali jadi isu yang terlupakan Padahal, di Asia Tenggara, masalah seperti upah minimum, perubahan iklim, berkurangnya ikan yang ditangkap, hingga kekerasan dalam kerja masih terjadi. 

Nicole Tung, jurnalis foto asal Amerika, berusaha menggambarkan masalah ini dalam foto-fotonya. Didukung oleh The Foundation Carmignac, ia melakukan liputan investigasi di Thailand, Filipina, dan Indonesia selama sembilan bulan. Nicole mengungkapkan bahwa hasil riset dan temuannya lebih mengenaskan daripada yang ia bayangkan. Thailand menghadapi krisis peraturan perlindungan nelayan, Filipina dengan masalah geopolitik, dan Indonesia masih marak kasus eksploitasi pekerja.

Karya foto Nicole menjadi pemenang ke-15 Carmignac Photojournalism Award. Selain itu, karya ini akan dipajang dalam pameran di Bronx Documentary Centre di  New York dari 20 Maret- 26 April 2026.

Jaring.id berbicara dengan Nicole selama 34 menit melalui wawancara daring pada Kamis, 5 Maret 2026. Ia menceritakan bagaimana proses liputan dan cerita di balik foto-fotonya kepada Theresia Sekar Kinanti Deviatri dan Michelle Clarissa. Salah satunya, ia harus terjun ke lapangan dalam kondisi hamil enam bulan. 

Bagaimana realitas keadaan nelayan ketika Anda pergi meliput ke Thailand, Filipina, dan Indonesia?

Saya mencoba fokus dalam isu-isu spesifik di setiap negara. Di Thailand misalnya, bagaimana sejak 2015, aturan di sana mencoba meningkatkan situasi para pekerja, banyak pekerja berasal dari Myanmar. Namun, ketika saya pergi kembali ke sana, Parlemen Thailand sedang berunding untuk mengubah peraturan menjadi mundur. Para nelayan berskala kecil menolak karena akan sangat merugikan mereka, sedangkan nelayan komersial diuntungkan.

Di Indonesia, saya lebih fokus kepada masalah tenaga kerja karena banyak pekerja yang direkrut di Jawa Tengah. Mereka berasal dari desa dan latar belakang yang miskin dan mereka dieksploitasi di kapal. Mereka biasanya berada di kapal-kapal China dan mereka masuk ke dalam siklus perbudakan maut (death bondage). Di Filipina, saya melihat isu geopolitik dengan Cina yang mencoba untuk mendominasi banyak bagian laut pesisir Filipina. Mereka sudah melakukan selama dua dekade dan sekarang menjadi lebih agresif.

Sejak menyelesaikan cerita ini, apakah ada perubahan situasi? Apakah Anda memiliki informasi terbaru tentang mereka?

Saya belum menindaklanjuti terlalu banyak. Nelayan yang saya temui di Thailand, mereka masih mencoba untuk mengadvokasi melawan pemerintah agar mengembalikan aturan-aturan. 

Di Filipina, saya tetap terhubung dengan satu-dua nelayan di Palawan. Saat saya berkunjung tahun lalu, mereka sedang menghadapi isu terbaru, China melaju lebih jauh ke area baru zona ekonomi Filipina. Nelayan di sana sangat miskin, tidak memiliki kapal besar atau kapal komersial, kapal mereka sangat kecil. Kemudian mereka terus diganggu oleh milisi China. 

Mereka dulu biasa pergi 100 mil dari laut lepas untuk menangkap ikan besar dan dijual di Hong Kong dan China. Sekarang mereka hanya pergi 40 hingga 50 mil dan ikan yang ditangkap kurang berharga. Saat ini, mereka hanya menangkap 50 persen dari biasanya dan akhirnya kehilangan 50 persen pendapatan. Jadi, banyak dari mereka beralih ke pekerjaan alternatif untuk menambah penghasilan. Beberapa ke pertanian beras dan yang lainnya sepenuhnya berhenti memancing.

Dalam siaran pers, Anda menyatakan bahwa liputan ini mengubah pendirian Anda terhadap boga bahari, apa yang secara spesifik berubah?  

Tumbuh besar di Hong Kong, saya menjadi sadar dengan perdagangan sirip hiu dari usia sangat muda. Saya sudah sangat menentang perdagangan sirip ikan dan memiliki pemahaman paling dasar bahwa banyak hal-hal buruk yang terjadi kepada kehidupan laut.

Namun, saya, sebagai seorang jurnalis, tidak merasa paham lebih lanjut tentang bagaimana hal-hal semakin memburuk, dalam hal berkurangnya ikan saat ini, terutama yang dekat dengan pantai. Para nelayan lokal pun sekarang harus pergi lebih jauh untuk menjangkau ikan yang berharga. Tentu ongkosnya lebih besar. 

Saya juga merasa bahwa ada isu tentang kapal komersial menangkap ikan rucah (trash fish) yang punya nilai jual kecil. Ikan ini kemudian dijual ke pabrik untuk diproses menjadi  makanan  ikan, yang dipakai di pertanian, peternakan ikan, hingga makanan hewan kemudian dijual ke Eropa, Amerika Serikat, dan sebagainya. Efeknya adalah menghancurkan rantai makanan karena ikan rucah dimakan oleh ikan lebih besar.

Kemudian, Indonesia menandatangani perjanjian CITES Appendix II untuk tidak menangkap beberapa spesies hiu. Namun kenyataannya hiu langka tetap ditangkap dan bagian tubuhnya dijual. Maka, saya tidak semestinya menyalahkan nelayan, tetapi kebijakan, perjanjian, dan permintaan yang jadi masalah.

Apa yang membedakan proyek ini dengan proyek Anda sebelumnya?

Sangat berbeda, karena biasanya saya meliput situasi konflik dan perang. Butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari betapa gelapnya industri ini. Banyak orang tidak mau mengatakan atau menunjukkan kebenaran kepada Anda. Aksesnya jauh lebih sulit. Di zona perang akses memang sulit, tetapi dalam cara yang berbeda. Proyek di industri perikanan seperti ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk membangun kontak dan kepercayaan karena mereka tahu ada bagian dari pekerjaan mereka yang tidak menyenangkan dan mungkin ilegal.

Fotografi seringkali jadi cara untuk menunjukan kompleksitas dalam kesederhanaan. Bagaimana Anda mengatasinya? 0811824535

Itu sangat benar. Terkadang fotografi memang bisa terlalu menyederhanakan masalah. Contohnya apa yang dialami nelayan di Tanjung Luar; orang-orang datang memotret, lalu dipublikasikan di blog dengan narasi, “Ya Tuhan, hiu-hiu ini diburu sampai punah.”

Itu ada benarnya, tapi masalahnya jauh lebih rumit. Saat saya bicara dengan nelayan lokal, mereka bilang dulu hiu ada di mana-mana di perairan sekitar, tapi sekarang mereka harus pergi jauh dan butuh waktu satu hingga dua minggu perjalanan untuk bisa menangkap hiu. Kita juga harus mempertanyakan: siapa yang meminta (permintaan pasar) sirip hiu ini? Kenapa mereka masih diburu padahal jumlahnya sudah sangat sedikit?

Sangat mudah untuk menyalahkan nelayan dan bilang mereka hanya mengejar keuntungan, tetapi jika tidak ada permintaan, mereka pasti akan melakukan pekerjaan lain. Foto mungkin bisa membuat orang bilang “kita tidak boleh mengambil hiu dari laut,” dan itu benar, perlu ada hukum yang lebih ketat, tetapi tanggung jawab itu juga ada pada konsumen.

Apa dampak yang Anda harapkan dari pameran ini?

Saya berharap pengunjung pameran memahami bahwa isu overfishing, baik di Asia Tenggara maupun di samudra lain, sangatlah rumit. Hukum laut itu sangat kompleks. Namun, ada cara bagi kita untuk menjadi konsumen yang lebih sadar. Misalnya, dengan bertanya dari mana asal boga bahari yang kita makan. Sebisa mungkin beli lah ikan yang ditangkap secara lokal oleh nelayan skala kecil. Memang sulit bagi konsumen untuk mengetahui transparansi rantai pasokannya. Jadi jika ragu, tanyakan: siapa yang menangkapnya? Dari mana asalnya? Apakah benar-benar etis, meskipun ada label pada kemasannya? Kesadaran kecil seperti itu bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Apakah para pekerja migran aman atau terlihat aman?

Beberapa orang mengetahui penangkapan ilegal dan pekerjaannya adalah industri yang brutal dan gelap, tapi mereka tetap melakukannya karena putus asa dikarenakan tidak ada pekerjaan atau peluang di daerah asal mereka, yang mana membuat mereka sulit untuk keluar dari industri. Oleh sebab itu, para pekerja migran rela mengambil resiko maut demi jutaan rupiah atau baht.

Beberapa pekerja migran bahkan benar-benar dijebak. Mereka bahkan diberitahu akan bekerja di industri jasa atau konstruksi dengan gaji bagus. Tapi setelah direkrut, mereka ditampung selama beberapa minggu di tempat milik agen penyalur (manning agency). Lalu, tiba-tiba diberi tahu bahwa mereka akan dikirim ke kapal dan hanya mendapat pelatihan satu atau dua minggu. 

Dalam banyak kasus, banyak dari mereka bahkan tidak bisa berenang. Lalu mereka disuruh bekerja di kapal penangkap ikan. Saya rasa banyak dari mereka merasa tidak punya pilihan lain. Dalam wawancaranya, Nicole juga mengatakan sesuatu bahwa para pekerja sempat membaca dan juga menandatangani kontrak sebelum bekerja di kapal. Di dalamnya memang tertulis klausul mengenai asuransi jika terjadi kecelakaan kerja. Namun, pihak yang merekrut bersikap acuh tak acuh mengenai klausul tersebut. Banyak keluarga nelayan yang tidak mengetahuinya. Jadi jika terdapat nelayan yang meninggal di laut, dan keluarganya tidak tahu soal asuransi itu, perusahaan akan mengabaikan mereka atau bahkan mengambil uang asuransi tersebut untuk keuntungan pribadi. Itu sangat mengejutkan dan artinya para pekerja dan keluarga mereka sama sekali tidak terlindungi.

Laut begitu rahasia, bagaimana kamu dapat mengambil gambar di balik kerahasiaan?

Tantangan yang dihadapi, terutama di Asia Tenggara adalah isu penangkapan ilegal sangat tertutup. Di Filipina, seperti di General Santos, tuna kapital Filipina. Saya dan juga translator saya mencoba untuk memasuki pabrik yang memproses tuna dan ini di mana mereka menaruhnya di kaleng-kaleng dan diekspor ke seluruh dunia. Beberapa tempat yang kami minta untuk interview menolak dan tidak membiarkan kami masuk untuk melihat. Meskipun kami sudah ada di pelabuhan, melihat tuna yang dibawa ke dalam. Ini adalah masalah bagaimana seafood dilacak. Ini sangat susah dilacak dan memakan banyak waktu. Misalnya, tuna dikirim ke Manila, dibagi, dan dikirim ke tempat lain dan diekspor lagi ke tempat lain. 

Dalam pengalaman kami, kepercayaan adalah tantangan, apalagi masalah mengenai pekerja dan penangkapan ilegal. Bagaimana mengatasinya?

Saya menemukan contohnya di Jawa Tengah, Pemalang dan Tegal. Aku menanyakan, ada organisasi lokal yang melatih orang-orang cara bekerja di kapal. Saya tanya apakah mungkin untuk berbicara dengan beberapa agen yang merekrut. Mereka bilang jangan karena mereka tidak akan bicara atau sedikit diam. Jadi, saya tidak mau buang waktu dan ingin bicara dengan beberapa pekerja nelayan di kapal komersial. Biasanya, nelayan skala kecil lebih terbuka karena tidak diancam oleh boss atau apa seperti itu jadi mereka lebih gampang untuk diajak bicara mengenai tantangan yang mereka hadapi.

Dibalik megahnya sirip hiu, ada nelayan yang menderita

Sepertinya mereka tidak mendapatkan upah yang seimbang jika melihat harga sirip hiu di pasar seperti Hong Kong atau China. Biasanya, saat melewati rantai pasokan, harga sirip tersebut meningkat drastis hingga sampai di toko atau restoran. Jadi, nelayan lokal, terutama mereka yang bekerja di kapal komersial, kemungkinan besar tidak menerima bayaran yang sebanding dengan nilai barang tersebut.

Laut kacau membuat nelayan menghadapi badai finansial                                                                                                         

Nicole mengatakan nelayan yang tinggal di pesisir, sangat rentan terhadap perubahan iklim. Selain itu, ada juga masalah penurunan jumlah ikan di laut serta penangkapan ikan yang sangat merusak oleh kapal komersial. Misalnya, penggunaan pukat harimau yang merusak dasar laut, atau penggunaan jaring yang sangat halus sehingga menangkap ikan-ikan kecil (juvenile fish) tidak punya kesempatan untuk dewasa dan bereproduksi agar menjadi tangkapan baru bagi para nelayan skala kecil. Akibatnya, para nelayan, khususnya nelayan lokal, benar-benar menghadapi situasi tersulit. Dalam banyak kasus, dulunya tangkapan mereka memang sudah sedikit, tapi sekarang jauh lebih sedikit lagi, sehingga mereka kesulitan untuk menghidupi keluarga mereka.

Di Indonesia dan Thailand, nelayan skala kecil harus ke luar lebih jauh untuk mencari ikan yang berharga dan bisa dijual oleh mereka ke restoran atau pasar lokal. Tentu semakin banyak biaya karena mereka harus membeli lebih banyak bensin sehingga lebih banyak waktu yang dihabiskan di laut untuk memancing. 

Jika punya kesempatan untuk mengeksplorasi isu ini lebih jauh, aspek atau wilayah mana lagi yang ingin Anda liput?  

Saya tertarik untuk pergi ke negara Asia Tenggara lain seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Cina, meski sangat sulit untuk masuk ke kapal mereka. Saya juga ingin kembali ke Indonesia karena masih banyak cerita yang perlu disampaikan dari perspektif eksploitasi tenaga kerja.

Banyak organisasi lokal yang mengerjakan isu ini, meski tentu saja rumit karena batasan pemerintah dan hukum. Beberapa aktivis keadilan lingkungan dan pakar tenaga kerja memberitahu saya bahwa situasi banyak nelayan Indonesia saat ini mirip dengan kondisi Thailand pada tahun 2014. Eksploitasinya sangat parah. Masalahnya bukan hanya di laut di mana hukum tidak ditaati, tapi juga saat kapal kembali ke pelabuhan, dimana korupsi mudah terjadi dan pihak berwenang seringkali pura-pura tidak tahu.

Michelle Clarissa

Michelle adalah mahasiswa jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara yang mengikuti magang di Jaring.id. Ia berfokus pada isu-isu mengenai kemanusiaan

Theresia Sekar Kinanti Deviatri

Kinanti adalah mahasiswi Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ia punya ketertarikan pada isu lingkungan, hak asasi manusia, dan kesetaraan gender.

Berlangganan Kabar Terbaru dari Kami

GRATIS, cukup daftarkan emailmu disini.