Model Bisnis Alternatif untuk Media Massa

sumber: tangkapan layar

Demokrasi babak belur. Kepercayaan terhadap lembaga-lembaga penting, seperti halnya terhadap media massa, menurun sedekade belakangan. Terakhir, pandemi memperburuk kondisi tersebut. Model bisnis media massa juga mulai diperdebatkan.

Memang, banyak media digital baru bermunculan. Beberapa di antaranya merupakan hasil ekspansi media yang ada di pusat. Namun, berbagai langkah tersebut nyatanya tetap menciptakan gurun informasi yang berkualitas.

Namun, kita masih bisa berharap pada cahaya, sekecil apapun.

Di Ohio, Amerika Serikat muncul situs berita daring Devil Strip yang mengusung model bisnis anyar. Pada tahun pertama kemunculannya, media lokal yang dikelola secara kooperatif ini memiliki 1.000 anggota cum pemilik.

Upaya serupa sedang diusahakan di California Utara; Maryland; Hartford, Connecticut; Pittsburgh, Pennsylvania; Boston, Massachusetts, dan banyak daerah lainnya. Sejak pertama kali mendirikan Banyan Project — lembaga yang membantu komunitas untuk mendirikan media kooperasi — telah lebih dari 40 komunitas yang mendekati kami.

Setiap proyek yang dibuat punya kekhasan masing-masing. Di Boston misalnya, proyek ditujukan untuk membuat sumber informasi terpercaya bagi komunitas kulit hitam di perkotaan.

 

Apa itu Media Kooperasi?

Para pendukung model bisnis kooperasi (co-op) menilai model ini berpeluang sukses di daerah yang sebelumnya jadi kuburan situs berita. Harapan serupa disematkan di daerah-daerah yang kekurangan informasi berkualitas. 

Pada tahap awal, para pionir media kooperasi membayangkan model ini dari beberapa sudut:

  • Bagi pembaca, media kooperasi adalah institusi akar rumput yang memenuhi kebutuhan berita dan informasi di tingkat lokal. Dalam sebuah forum digital, anggota komunitas dapat mengetahui bagaimana sebuah isu direspons dan bahu-membahu untuk menyelesaikan masalah. Koperasi yang digunakan sebagai model bisnis, menjadikan berita sebagai sebuah layanan publik yang bisa diakses secara gratis.
  • Bagi penerbit, model ini memberikan sumber pendapatan baru. Sistem keanggotaan menawarkan kesetaraan dan hak suara yang didapat melalui pembayaran iuran. Pada dasarnya, media kooperasi memonetisasi harapan anggota terhadap komunitas tempat mereka hidup.
  • Bagi anggota, saham dan hak suara adalah dua keuntungan yang didapat dari pembayaran iuran. Hal tersebut adalah bentuk komitmen terhadap ketersediaan informasi yang berkualitas bagi anggota komunitas. Anggota mendapatkan akses untuk berbicara di forum digital dan buletin mingguan yang berisi pemikiran mereka tentang isu-isu yang diangkat dalam berita. Mereka juga bisa mengajukan berbagai ide mengenai isu yang layak untuk diliput dan bagaimana cara melakukannya. Berbagai keuntungan tersebut, tidak tersedia untuk pembaca yang bukan anggota.
  • Bagi bisnis lokal, media kooperasi dapat menawarkan keanggotaan premium. Dua keuntungan yang mungkin ditawarkan adalah: masuk dalam direktori bisnis lokal dan potongan harga beriklan. Dengan memasang iklan di situs lokal, pebisnis tidak hanya mengumumkan barang atau jasa yang mereka tawarkan, tetapi juga memberitahukan dukungan terhadap komunitas.
  • Bagi komunitas, berita yang bisa diakses secara gratis dapat membangun komunitas yang terinformasi dengan baik. Lebih jauh, forum digital berfungsi sebagai ruang publik daring yang meningkatkan keterlibatan masyarakat. Dengan cara tersebut, dampak pemberitaan bisa diperkuat.

Aturan dalam media kooperasi mengharuskan manajemen bersikap demokratis dalam tata kelola. Setiap anggota punya hak suara untuk memilih anggota dewan direktur yang pada gilirannya bakal menentukan siapa yang menduduki posisi direktur eksekutif dan editor. Media bisa menarik ratusan hingga ribuan anggota, tergantung pada ukuran komunitas. Melalui distribusi kekuasaan yang menjangkau seluruh area yang diliput oleh media, mekanisme penyaluran suara dari bawah ke atas bisa terbentuk.

Apabila dikelola dengan baik, media kooperasi bakal mengajak serta anggota untuk mendiskusikan isu penting komunitas. Mereka juga bisa menawarkan pelatihan jurnalisme warga, literasi media, dan berbagai topik kewargaan lainnya. Hal-hal tersebut memperkuat ikatan sosial dalam komunitas. Melonggarnya ikatan komunitas membuat banyak orang mencari komunitas lain di tingkat nasional atau bahkan internasional untuk memenuhi kebutuhan akan kohesi sosial. Dalam kondisi macam itu, kehadiran media kooperasi dalam komunitas menjadi semakin penting.

Kooperasi memiliki beragam bentuk. Media kooperasi masuk dalam kategori kooperasi konsumer lantaran kepemilikannya dipegang oleh konsumen akhir. Media bakal dimiliki oleh sejumlah besar audiens seperti halnya nasabah yang memiliki Credit Union. Kooperasi konsumer sangat jarang memperluas jangkauannya. Namun, seperti yang sudah dicontohkan oleh Credit Union, modelnya bisa direplikasi dari satu komunitas ke komunitas lainnya

Nilai Credit Union yang dijalankan sebuah lembaga biasanya tak seberapa besar. Namun, sebagai sebuah industri, nilainya tak bisa diabaikan. Di Amerika Serikat saja, 5.133 lembaga yang menjalankan Credit Union punya 123,7 anggota cum pemilik. Total asetnya mencapai US$ 1,79 triliun, lebih besar dari aset Wells Fargo yang merupakan bank terbesar ketiga di AS.

 

Pro dan Kontra

Jadi, apa keuntungan yang dimiliki oleh media kooperasi?

Banyak media digital berusaha meningkatkan keterlibatan pembaca agar mereka mau menjadi donor. Para pendukung media kooperasi menganggap model keterlibatan yang mereka ajukan jauh lebih baik. Keterlibatan dalam media kooperasi bukan sekadar bantuan finansial, tetapi juga memberikan kesetaraan, hak suara, dan aspirasi kepada pembaca. 

Namun, untuk membuktikan kalau model keterlibatan media kooperasi lebih baik daripada model yang telah ada, para pelaku harus mampu menarik lebih banyak anggota. Langkah tersebut pada gilirannya akan memperbesar persentase pendapatan dari keanggotaan sehingga dapat menopang jalannya media. 

Nilai unggul lain dari media kooperasi adalah kepercayaan yang bersifat inheren. Editor dan eksekutif bertanggung jawab kepada audiens sebagai pemilik media. Oleh sebab itu, editor mesti cermat untuk mengetahui informasi apa yang perlu diketahui pembaca. Apabila pembaca tak menyampaikan hal tersebut, maka editor mesti punya intuisi yang kuat.

 

Tantangan dan Kelemahan

  • Perlu pengorganisasian yang serius untuk memulai media kooperasi. Untuk punya modal awal, banyak pembaca cum anggota yang mesti digaet. Hal itu tentunya lebih sulit daripada bicara dengan segelintir investor besar yang mau menanamkan modal. Upaya untuk mendirikan media kooperasi mungkin gagal sebelum peluncuran. Namun, media yang berhasil melewati tahap tersebut punya peluang gagal yang lebih kecil di masa mendatang. Mengubah model bisnis yang sudah berjalan menjadi media kooperasi, seperti yang dilakukan Devil Strip, memiliki risiko yang lebih kecil.
  • Model kooperasi hanya bagian kecil dari bisnis secara keseluruhan. Oleh sebab itu, menemukan manajer yang punya pengalaman mengelola model ini merupakan tantangan tersendiri. Di sisi lain, kooperasi konsumer tak banyak melibatkan anggota, sedangkan kooperasi media justru bertumpu pada hal tersebut. 
  • Media kooperasi mungkin tak bisa menggunakan platform siap pakai yang biasa digunakan media massa. Pasalnya, platform harus memenuhi kebutuhan untuk pengembangan keanggotaan, pelacakan, transaksi, dan pemeliharaan forum digital. Media kooperasi membutuhkan platform yang lebih kompleks.

 

Daya Tarik yang Menyebar

Media kooperasi di Jerman, Italia, Switzerland, dan Meksiko, terbukti mendapatkan dukungan apabila mereka bisa memenuhi masyarakat. Di Kanada, Uruguay, dan Inggris media kooperasi juga mulai menancapkan kukunya. Sementara itu, langkah Devil Strip yang merupakan salah satu pionir media kooperasi di AS, mulai diikuti beberapa media lain.

  • Devil Strip memulai langkah sebagai media alternatif yang terbit setiap bulan. Namun, mereka gagal. Setelah melalui serangkaian riset, Chris Horne, pemiliknya, memutuskan untuk mengubah model bisnis menjadi media kooperasi. Langkah tersebut menarik hibah dengan nilai total US$1,5 juta dari Knight Foundation dan berbagai lembaga donor. Columbia Journalism Review sempat mengulas hal ini.
  • Bloc by Block, yang berbasis di Baltimore, memulai model bisnis kooperasi sejak awal pendirian. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan informasi komunitas di Maryland. Aplikasi seluler dipilih sebagai kanal.
  • Civic Mind mendirikan situs berita Hartford Times yang diambil dari nama sebuah surat kabar lokal berumur 159 tahun yang gulung tikar pada 1976. Civic Mind bersama pendiri Hartford Times membuat model kepemilikan berbeda dengan mengusung keanggotaan nirlaba.

The Banyan Project, tempat saya bekerja, merupakan inkubator media kooperasi nirlaba. Kami  menyediakan rencana, perangkat, dan panduan untuk memudahkan komunitas meluncurkan media kooperasi independen. Komunitas di 21 negara bagian telah menyatakan ketertarikannya untuk menggunakan model bisnis Banyan di komunitas mereka. Saat ini, Banyan bekerja dengan Civic Mind di Hartford.

 

Mencoba memulai

Kekurangan berita bernuansa lokal terjadi dimana-mana. Demokrasi tak mungkin berjalan tanpa pemilih yang terinformasi dengan baik, jadi permasalahan tersebut mesti segera diselesaikan.

Media komersial dan nirlaba berusaha mengisi berbagai lubang informasi. Namun, penelitian UNC menunjukkan bahwa mereka melayani daerah-daerah makmur dan/atau pembaca elit. Media nirlaba cenderung bermunculan di dan dekat kota-kota dengan filantropi relatif berlimpah. 

Beberapa situs media nirlaba yang beroperasi di negara bagian seperti Texas dan Vermont tampil menonjol. Mereka melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada yang pernah dilakukan media komersial. Lembaga investigasi nirlaba di tingkat nasional dan global, terutama ProPublica dan International Consortium of Investigative Journalists, juga secara rutin memublikasikan berita besar.

Ada juga situs berita yang mencoba beroperasi di daerah perkotaan yang kekurangan informasi. Salah satunya adalah usaha yang dilakukan di selatan Chicago.

Meskipun demikian, kekurangan informasi berkualitas terus terjadi dimana-mana.

“Ini adalah tantangan terbesar dalam jurnalisme hari ini,” Martin Baron, mantan Editor Eksekutif The Washington Post, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan PBS NewsHour. Ia menyebut kalau runtuhnya jurnalisme bernuansa lokal adalah “ancaman bagi demokrasi.”

Situasi tersebut menuntut pendekatan baru. Pada saat ini, koperasi berita siap untuk membuat lompatan. (penerjemah: Kholikul Alim)

 

Tulisan lainnya


Tom Stites adalah jurnalis pemenang berbagai penghargaan. Ia pernah bekerja untuk The New York Times dan beberapa media lain. Tom juga mendirikan The Banyan Project dan menjadi editor di International Consortium of Investigative Journalists.

Tulisan ini merupakan saduran A New Business Model Emerges: Meet the Digital News Co-op yang dipublikasikan Global Investigative Journalism Network (GIJN). Penyebarluasan tulisan ini berada di bawah lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International. Jaring bekerjasama dengan GIJN untuk mengalihbahasakan dan mempublikasikan secara berkala artikel-artikel GIJN untuk pengembangan kapasitas jurnalisme investigasi di Indonesia. Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda bisa menghubungi [email protected].

Republication

Creative Commons License

Republish our articles for free, online or in print, under a Creative Commons license.

Previous articleDatatalk.asia: money politics most reported in Sumatra
Next articleDKI Perlu Segera Bagi Zona Peredaran Rokok