Gelombang badai berdampak sangat besar pada rumah-rumah karena perubahan garis pantai. Rumah ini, yang fotonya diambil pada 2016, akhirnya runtuh ketika bukit pasir tempat rumah itu dibangun ambruk pada 2019.
Gelombang badai berdampak sangat besar pada rumah-rumah karena perubahan garis pantai. Rumah ini, yang fotonya diambil pada 2016, akhirnya runtuh ketika bukit pasir tempat rumah itu dibangun ambruk pada 2019.

Memvisualisasikan Kenaikan Permukaan Laut

Banyak cara untuk memvisualisasikan dampak dramatis kenaikan permukaan. Foto yang dimodifikasi secara digital dapat menunjukkan bagaimana kenaikan permukaan air dapat memengaruhi monumen dan bangunan berharga, sehingga mampu membangun daya tarik emosional. Sementara itu, peta interaktif memungkinkan pengguna untuk mencari tahu apakah gelombang akan mencapai rumah mereka. Singkatnya, foto dan grafik dapat menjadi cara visual yang ampuh untuk menggambarkan konsekuensi akibat kenaikan permukaan laut.

 

Dampak pada Bangunan Bersejarah Terkenal

Picturing Our Future adalah kumpulan proyeksi dramatis untuk 189 lokasi di seluruh dunia yang dibuat oleh Climate Central. Perkiraan tersebut didasarkan pada makalah penelitian berjudul Unprecedented Threats to Cities from Multi-century Sea Level Rise (Ancaman yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya bagi Kota-Kota Akibat Kenaikan Permukaan Laut Selama Beberapa Abad) yang dipublikasikan pada 2021. Karya Climate Central juga telah ditampilkan oleh Google Earth.

Majalah Money membuat poster wisata yang menunjukkan kondisi sebelum dan sesudah kenaikan permukaan laut di beberapa destinasi populer, termasuk New York City, Venesia, dan Maladewa.

Sementara itu, surat kabar The Straits Times memuat gambar patung Merlion, maskot resmi Singapura, dikelilingi air.

 

Peta Interaktif

The Invading Sea, situs berita yang berbasis di Florida, Amerika Serikat mengintegrasikan peta Climate Central pada situs web mereka. Pengguna bisa memeriksa kondisi iklim di tempat tinggal mereka atau lokasi mana pun. Menariknya, situs berita tersebut merupakan hasil kolaborasi 25 surat kabar Florida dengan WLRN, radio publik Florida Selatan, serta mendapatkan dukungan dari Energy Foundation dan Environmental Defense Fund. The Invading Sea menampilkan “editorial dari para surat kabar mitra dan opini dari para ilmuwan, akademisi, aktivis, serta warga yang tertarik pada Florida dan ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.”

Sementara itu, platform Earth Time memungkinkan pengguna menggulir peta ke berbagai bagian dunia untuk mengetahui bagaimana kenaikan permukaan laut naik berdasarkan berbagai proyeksi.

Coastline Paradox adalah eksperimen seni daring interaktif karya dua seniman Finlandia yang menumpangkan garis horizontal bercahaya pada pada Google Street View untuk menunjukkan kenaikan permukaan laut di masa depan. Fitur interaktif dapat digunakan untuk melihat garis tersebut naik dari waktu ke waktu di berbagai lokasi di seluruh dunia.

LSM dan lembaga pemerintah di AS juga mengelola beberapa peta. Misalnya:

 

Foto dan Grafik

Foto udara laguna Atol Jaluit di Kepulauan Marshall, yang terancam tergenang air akibat kenaikan permukaan laut. Gambar: Keith Polya/Flickr
Foto udara laguna Atol Jaluit di Kepulauan Marshall, yang terancam tergenang air akibat kenaikan permukaan laut. Gambar: Keith Polya/Flickr

Foto-foto digunakan untuk menunjukkan dampak terkini dari kenaikan permukaan laut dan siapa saja yang terkena dampaknya.

 

Karya Seni

Patung karya Lorenzo Quinn di Venesia yang menggambarkan ancaman naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim. Gambar: Shutterstock
Patung karya Lorenzo Quinn di Venesia yang menggambarkan ancaman naiknya permukaan laut akibat perubahan iklim. Gambar: Shutterstock

Para seniman juga aktif dalam menggambarkan kenaikan permukaan laut dan dapat menjadi sumber bagi para editor. Beberapa di antaranya adalah:

Beberapa literatur tentang banjir dan kenaikan permukaan laut dirangkum dalam artikel Sea-Level Rise: Writers Imagined Drowned Worlds for Centuries – What they Tell Us About the Future dan Melting Ice and Rising Seas. From Greek mythology to J.G.Ballard. Kisah-kisah yang ditampilkan mungkin memberikan petunjuk budaya atau narasi apokaliptik kepada para jurnalis yang mungkin dapat menarik perhatian audiens mereka.

Aka Niviana, seorang penyair dari Greenland, dan penulis Kathy Jetnil-Kijiner, yang berasal dari Kepulauan Solomon, sama-sama melihat bagaimana komunitas mereka terdampak oleh perubahan iklim: bagi salah satu dari mereka, es mencair, menghancurkan mata pencaharian; bagi yang lain, naiknya permukaan laut mengancam pulau-pulau yang ditinggali banyak orang. Mereka berkolaborasi dalam sebuah puisi, “Rise.” Kata-kata dan detail mengenai mereka dimuat dalam sebuah kolom yang ditulis pakar perubahan iklim Bill McKibben. Ia mengatakan: “Gagasan yang paling sulit disampaikan adalah gagasan yang paling sederhana: kita hidup di sebuah planet, dan planet itu sedang retak. Ternyata, para penyair dapat menyampaikan pesan tersebut.”

Berikut kutipan dari puisi karya Jetnil-Kijiner dan Niviana:

The very same beasts

That now decide

Who should live

And who should die …

We demand that the world see beyond

SUVs, ACs, their pre-packaged convenience

Their oil-slicked dreams, beyond the belief

That tomorrow will never happen

And yet there’s a generosity to their witness – a recognition that whoever started the trouble, we’re now in it together.

Let me bring my home to yours

Let’s watch as Miami, New York,

Shanghai, Amsterdam, London

Rio de Janeiro and Osaka

Try to breathe underwater …

None of us is immune.

Life in all forms demands

The same respect we all give to money …

So each and every one of us

Has to decide

If we

Will

Rise

 


 

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di GIJN dengan judul “GIJN’s Guide to Investigating Sea Level Rise: Chapter Five ⁠— Visualizing Rising Oceans

GIJN

GIJN

Edisi Indonesia Global Investigative Journalism Network, pusat global jurnalisme investigasi yang beranggotakan 263 organisasi di 97 negara.

Berlangganan Kabar Terbaru dari Kami

GRATIS, cukup daftarkan emailmu disini.