Peringatannya sangat jelas. “Hampir pasti bahwa rata-rata permukaan laut global akan terus meningkat sepanjang abad ke-21,” tulis para ilmuwan United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dalam laporan Agustus 2021.
Penyebab utama kenaikan permukaan laut adalah pemanasan global akibat penggunaan bahan bakar fosil. Pemanasan menyebabkan lapisan es dan gletser mencair sehingga meningkatkan volume air di lautan. Pemanasan menyebabkan air mengembang (ekspansi termal).
Para ilmuwan mengukur perubahan keseluruhan di lautan dengan menghitung rata-rata permukaan laut global (global mean sea level/GMSL). GMSL “telah meningkat pesat sejak akhir 1960-an,” menurut IPCC, tetapi tren kenaikan ini sudah terjadi setidaknya selama seabad. “Pengaruh manusia sangat mungkin menjadi pendorong utama peningkatan ini, setidaknya sejak tahun 1971,” lapor IPCC.
Selama 3.000 tahun terakhir, kenaikan permukaan laut tertinggi terjadi pada abad ke-20. Menurut laporan IPCC yang dirilis pada 2021, kenaikannya mencapai 20 sentimeter sepanjang 1901–2018. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa rata-rata laju kenaikan adalah 2,3 mm (0,09 inci) per tahun pada periode tersebut dan meningkat menjadi 3,7 mm per tahun sepanjang 2006–2018.
Tingginya kenaikan permukaan laut sangat bervariasi berdasarkan lokasi. Hal itu terjadi karena variasi suhu air, angin, arus laut, dan pergerakan garis pantai (beberapa daerah tenggelam, sedangkan yang lainnya naik). Menurut IPCC, kenaikan permukaan laut paling cepat terjadi di Pasifik bagian barat dan paling lambat di Pasifik bagian timur.
IPCC menjelaskan lima skenario masa depan yang hasilnya tergantung pada usaha untuk membatasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Skenario-skenario tersebut didasarkan pada proses-proses yang memungkinkan proyeksi dapat dibuat dengan setidaknya “tingkat kepercayaan menengah”.
Ketika “skenario emisi sangat rendah,” IPCC memproyeksikan bahwa pada tahun 2100 rata-rata permukaan laut global kemungkinan akan naik sebesar 28 hingga 55 sentimeter. Dalam “skenario emisi sangat tinggi,” peningkatan pada periode waktu yang sama akan berkisar antara 63 sentimeter dan 1,01 meter.
Hasil yang lebih buruk tetap bisa terjadi, meskipun hampir tidak mungkin. “Kenaikan rata-rata permukaan laut global di atas kisaran yang diperkirakan – mendekati 2 m pada tahun 2100 dan 5 m pada tahun 2150 di bawah skenario emisi gas rumah kaca (GRK) yang sangat tinggi (SSP5-8.5) ( keyakinan rendah ) – tidak dapat dikesampingkan karena ketidakpastian terkait proses yang terjadi pada lapisan es,” seperti tertulis dalam ringkasan laporan IPCC.

Berdasarkan studi lainnya, saat ini terdapat sekitar 230 juta orang yang tinggal di lahan yang ketinggiannya kurang dari satu meter di atas garis pasang air laut tertinggi. Terdapat 9 negara Asia dalam daftar 10 negara yang paling berisiko. Laporan itu juga menyebutkan bahwa banyak negara kepulauan kecil berisiko mengalami “kehilangan hampir seluruh” lahan mereka.
Peningkatan banjir dan gelombang badai merupakan fenomena yang terkait kenaikan permukaan laut. “Di kota-kota pesisir,” tulis IPCC dalam ringkasan laporan 2021, “kombinasi kejadian (kenaikan) permukaan laut ekstrem yang lebih sering (akibat kenaikan permukaan laut dan gelombang badai) dan curah hujan/aliran sungai ekstrem akan membuat banjir lebih mungkin terjadi.”
Potensi tersebut diperumit dengan penurunan permukaan tanah di banyak lokasi yang terjadi karena berbagai hal, salah satunya adalah pengambilan air tanah. Dampak buruk penurunan permukaan tanah di daerah pesisir dibahas dalam laporan IPCC dan pengukurannya disajikan dalam penelitian akademis seperti artikel yang dirilis pada 2022 ini tentang 99 kota pesisir dan artikel lain tentang penurunan permukaan tanah di 48 kota pesisir.
Penelitian ekstensif sedang dilakukan tentang kenaikan permukaan laut, yang terkadang disingkat sebagai SLR. Pemerintah juga mulai memperhatikan masalah ini. Laporan-laporan muncul tidak hanya dari lembaga-lembaga lingkungan, tetapi juga dari badan-badan yang bertanggung jawab atas infrastruktur, kesehatan, dan ekonomi. Dengan kata lain, jurnalis yang berminat meliput isu ini memiliki banyak sumber daya.
Perusahaan, kelompok industri, dan para konsultan juga mulai mengantisipasi dampak kenaikan permukaan laut di masa depan, terutama terkait sektor real estat. Organisasi lingkungan bergerak aktif, begitu pula organisasi masyarakat sipil dan para pemegang saham.
Di tengah kelimpahan sumber daya, ada sejumlah laporan penting yang harus dibaca jurnalis untuk mendapatkan pemahaman dasar soal kenaikan permukaan laut. Laporan-laporan tersebut adalah:
- Climate Change 2022: Impacts, Adaptation, and Vulnerability: Laporan dari Kelompok Kerja II IPCC yang diterbitkan pada Februari 2022 ini menilai dampak perubahan iklim terhadap ekosistem, keanekaragaman hayati, dan komunitas masyarakat di tingkat global dan regional. Lihat ringkasan eksekutif dan siaran pers (menjelaskan prosesnya). Kenaikan permukaan laut dibahas dalam bab tiga: Oceans and Coastal Ecosystems and their Services.
- The IPCC Sixth Assessment Report dari Kelompok Kerja I yang dirilis pada Agustus 2021. Lihat khususnya bab sembilan yang berjudul Ocean, Cryosphere and Sea Level Change. Dalam panduan ini, kami menyebutnya sebagai AR6.
- Sea Level Rise and Implications for Low-Lying Islands, Coasts and Communities yang merupakan bab 4 dari Laporan Khusus IPCC 2019 tentang Samudra dan Kriosfer dalam Iklim yang Berubah.
- Sebuah laporan tahun 2022 yang disusun oleh UN World Meteorological Organization mendokumentasikan bahwa permukaan laut dan emisi karbon mencapai rekor tertinggi pada tahun 2021.
- Sumber daya dari NASA, Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS.
- Climate Change: Global Sea Level, penjelasan dari US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
- Global and European sea level rise, yang dipublikasikan European Environment Agency.
Konsekuensi yang Lebih Buruk
Dampak negatif dari naiknya permukaan air laut sangat luas. Sebagai pengantar, laporan IPCC Februari 2022 menyatakan:
“Ekosistem laut dan pesisir mendukung kehidupan di Bumi dan banyak aspek kesejahteraan manusia. Meliputi dua pertiga planet ini, laut menjadi rumah yang luas bagi keanekaragaman hayati dan mengatur sistem iklim global melalui pengaturan siklus panas, air, dan berbagai unsur termasuk karbon. Sistem kelautan sangat penting bagi banyak budaya dan juga menyediakan makanan, mineral, energi, serta lapangan kerja bagi masyarakat.”
Tekanan migrasi akibat kenaikan permukaan laut kemungkinan besar akan memperparah konflik regional dan antarnegara. Kerusakan akan terjadi pada alam, pertanian, dan infrastruktur. Selain kenaikan permukaan air, pemanasan laut akan menyebabkan berbagai perubahan pada ekosistem laut.
Rincian tentang prediksi konsekuensi disampaikan dalam bab tiga laporan IPCC Februari 2022. Di dalamnya terdapat prediksi apabila pembatasan emisi tidak dilakukan sehingga pemanasan hingga 1,5°C yang merupakan target global pada Perjanjian Paris 2015, terlewati. Laporan IPCC merupakan kolaborasi antara 270 ilmuwan dari 67 negara. Mereka meneliti 34.000 makalah ilmiah untuk menilai bagaimana perubahan iklim dapat berdampak pada peradaban manusia dan planet ini, serta menawarkan kemungkinan solusi untuk krisis yang akan datang. Para penulis menyatakan seberapa besar kemungkinan setiap prediksi akan menjadi kenyataan. Jadi ada kategori, seperti “keyakinan sedang” dan “keyakinan tinggi”.
Meringkas bab ini saja tidak cukup untuk menggambarkan banyak konsekuensi yang dapat diprediksi dari pemanasan global. Anggaplah laporan IPCC sebagai sumber ide. Berikut beberapa contoh dari apa yang diprediksi oleh IPCC:
- Meningkatnya risiko erosi pantai dan tenggelamnya lahan pesisir.
- Hilangnya pantai berpasir, rawa garam, dan hutan bakau.
- Hilangnya terumbu karang, padang rumput laut, lamun, dan hutan bakau.
- Salinisasi air tanah.
- Kerusakan pada ekosistem pesisir.
- Runtuhnya sektor perikanan dan akuakultur regional.
- Migrasi spesies laut ke wilayah .baru
- Eutrofikasi pesisir (mekarnya alga) dan hilangnya oksigen terkait (hipoksia), menyebabkan zona mati di lautan..
- Peningkatan risiko paparan racun, patogen, dan kontaminan bagi masyarakat yang bergantung pada makanan laut.
Semua prediksi tersebut punya banyak konsekuensi. Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan terjadinya migrasi yang menjauh dari garis pantai. Laporan Groundswell Bank Dunia yang dirilis pada 2021 memperkirakan perubahan iklim dapat memaksa pindah 216 juta orang di 6 wilayah dunia pada 2050. Sebanyak 250 juta orang, yang tersebar di semua benua, dapat “terdampak langsung” pada tahun 2100, menurut sebuah studi tahun 2019 di jurnal Nature Communications .

Banyak pulau sangat terancam oleh kenaikan permukaan laut, termasuk negara-negara seperti Fiji, Tuvalu, dan Maladewa. Di Kepulauan Marshall misalnya, menurut sebuah studi Bank Dunia pada 2021, kenaikan permukaan laut dapat membahayakan 40% bangunan di Majuro yang merupakan ibu kota negara tersebut. Merespons potensi dampak kenaikan permukaan laut, koalisi yang mewakili 39 negara kepulauan dan negara pesisir dibentuk pada 1990 dan dinamai the Alliance of Small Island States (AOSIS).
Bagi jurnalis, beragamnya potensi dampak dari kenaikan permukaan laut menghadirkan peluang dan tantangan. Meskipun beberapa aspek ilmiahnya mungkin tampak rumit, tetapi pengembangan liputan tetap dimungkinkan dengan menggunakan teknik pelaporan konvensional dan data yang tersedia.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di GIJN dengan judul “GIJN’s Guide to Investigating Sea Level Rise: Chapter Two – Understanding Rising Sea Levels“



