Kaitan antara berbagai topik liputan dengan isu krisis iklim merupakan hal yang umum saat ini, termasuk dengan isu kenaikan permukaan laut. Pada bagian ini, GIJN akan mengulasnya lebih mendalam. Di bagian akhir panduan ini, kamu akan menemukan hampir 100 contoh liputan mengenai berbagai aspek kenaikan permukaan laut.
Beberapa tips dari jurnalis yang berpengalaman menggarap liputan di bidang ini adalah:
- Personalisasikan cerita tentang krisis iklim. Kaitkan dengan sisi kemanusiaan untuk memperkuat daya tarik.
- Mulailah dengan peta yang menunjukkan area yang mungkin segera terendam air – ini adalah dasar untuk berbagai jenis liputan yang kemudian dapat diperkaya dengan pelaporan mendalam.
- Bicaralah dengan orang-orang yang sudah terdampak atau berpotensi terdampak.
- Jadikan studi ilmiah sebagai dasar. Para penulisnya dapat menjadi narasumber yang berguna.
- Gunakan perangkat interaktif untuk memerkaya penyajian cerita.
John Upton, yang memimpin program kerja sama Climate Central dengan jurnalis, telah menulis atau ikut menulis puluhan artikel tentang kenaikan permukaan laut. Topik yang ditulisnya termasuk soal hutan yang menghilang, pendidikan, perjalanan rutin yang dilakukan hampir setiap hari, situs bersejarah, rawa-rawa, migrasi, jalan setapak di tepi pantai, dan tuntutan hukum .

Ia menyarankan jurnalis untuk menghubungi ilmuwan lokal dan mewawancarai pejabat setempat untuk mendapatkan informasi awal. Ketika memberikan penjelasan ilmiah, Upton mengatakan, jurnalis dapat “menghubungkan kepingan cerita dengan tanpa menggunakan istilah yang membuat orang enggan memahami.” Ia lebih memilih untuk tidak menggunakan istilah “perubahan iklim,” karena menganggapnya sebagai isu yang dipolitisasi.
Dalam kisah tentang hutan yang mati akibat banjir berulang, Upton menjelaskan topik tersebut seperti ini: “Kenaikan permukaan laut global yang disebabkan oleh polusi yang memerangkap panas dan penurunan daratan secara bertahap di sekitar Chesapeake bergabung untuk menciptakan laju kenaikan permukaan laut lokal tercepat di dunia. Fenomena tersebut telah mendorong air laut merambah lebih jauh ke garis pantai, meresap ke hamparan hutan yang masih utuh dan membunuhnya.”
Menegakkan Akuntabilitas
“Banyak karya jurnalistik seharusnya berfokus pada akuntabilitas pejabat lokal,” saran Upton.
Ketika masyarakat mempertimbangkan cara untuk mengurangi dampak kenaikan permukaan laut, orang miskin cenderung dikorbankan dan mesti menanggung akibatnya. “Masalah nomor satu adalah siapa yang dilindungi dari bahaya iklim dan siapa yang tidak?” kata Upton.
Beberapa topik terkait kenaikan permukaan laut yang dapat mendorong liputan soal akuntabilitas adalah:
Pengumpulan fakta: Apakah yurisdiksi tersebut memiliki data yang diperlukan terkait kenaikan permukaan laut? Apakah data tersebut diperbarui dengan informasi teranyar tentang kenaikan permukaan laut? Apakah skenario alternatif disertakan?
Transparansi: Apakah informasi, termasuk peta terperinci, tersedia untuk publik? Apakah komunitas yang terdampak dilibatkan?
Integrasi: Apakah kenaikan permukaan laut dipertimbangkan dalam perencanaan proyek? Sebagai contoh, apakah ada pemodelan yang digunakan untuk memperkirakan dampak kejadian badai yang lebih ekstrem terhadap peningkatan volume air yang masuk ke saluran pembuangan?
Komitmen: Apa pendapat para pejabat tentang kemungkinan pemanasan global dan kenaikan permukaan laut? Keraguan/pertanyaan apa yang mereka miliki? Bagaimana dengan pandangan para pemimpin masyarakat lainnya?
Adaptasi: Solusi apa yang diusulkan? Selain pembangunan tembok penghalang seperti tanggul air laut, apakah solusi yang lebih lunak seperti restorasi pantai juga dipertimbangkan? Apakah semua kemungkinan konsekuensi telah dipertimbangkan? Tanggul dan tembok laut untuk mengurangi banjir di satu lokasi dapat meningkatkan genangan di sepanjang garis pantai terdekat, apakah biaya jangka panjang dan jangka pendek terkait hal tersebut juga dipertimbangkan?
Kesetaraan: Siapa yang paling terdampak? Perhatikan dampak yang berbeda-beda, tidak hanya dari kenaikan permukaan laut, tetapi juga dari solusi yang diusulkan.
Mengenai manfaat dari meliput kenaikan permukaan laut, Upton mengatakan: “Apapun cara yang kamu lakukan untuk mendorong isu ini agar semakin diperhatikan, manfaatnya akan semakin membesar.”
Waspadai Misinformasi
Hannah Bernstein, Program Associate di Earth Journalism Network (EJN), Internews – yang baru-baru ini mengumumkan hibah untuk 18 jurnalis untuk meliput tentang “ketahanan pesisir,” – juga menyebut fokus pada akuntabilitas sebagai kunci liputan tentang kenaikan permukaan laut.
“Ada banyak misinformasi dan disinformasi tentang perubahan iklim dan dampaknya. Salah satu pendapat yang sering muncul adalah bahwa kita kekurangan teknologi untuk benar-benar melakukan hal yang perlu dilakukan,” kata Bernstein kepada GIJN. “Kita membutuhkan lebih banyak liputan soal kesalahan pendapat tersebut (karena hal itu memang salah), liputan yang menyoroti hambatan nyata terhadap inisiatif di pesisir. Seringkali, hambatannya terkait dengan uang.”

Bernstein menekankan bahwa hambatan dalam mengatasi dampak kenaikan permukaan laut terhadap masyarakat pesisir adalah kurangnya pendanaan dari negara-negara kaya. “Kita membutuhkan lebih banyak liputan tentang pendanaan iklim, kerugian, dan kerusakan,” katanya. “Ini adalah topik besar di COP26 tahun lalu [Konferensi Perubahan Iklim PBB 2021] yang luput dari perhatian sebagian besar negara kaya, sementara negara-negara yang paling rentan terus menanggung dampak terburuk dari kenaikan permukaan laut.”
Di sisi lain, jurnalis yang mengangkat inisiatif yang dilakukan masyarakat pesisir, dapat memberikan dampak. Kisah sukses akuntabilitas dari Fiji adalah salah satu contohnya. Pada September 2020, jurnalis Stanley Simpson menulis tentang berapa lama penduduk desa Narikoso di Pulau Ono telah menunggu relokasi yang dijanjikan. Kisah berformat teks dan video Simpson menarik perhatian para pejabat dan memicu liputan media yang lebih luas. Meskipun saat ini masih banyak hal yang perlu dilakukan, proses relokasi telah dimulai.
Menjadikan Sains Bagian dari Narasi
Jhesset Thrina Enano, jurnalis Filipina yang telah menulis tentang kenaikan permukaan laut, mengatakan kepada GIJN: “Kenaikan permukaan laut bukan hanya masalah perumahan atau lahan. Ini bersinggungan dengan ketahanan pangan, transportasi, pariwisata, dan hak-hak sipil, serta banyak hal lainnya.”
Dia mengatakan bahwa para jurnalis “harus memperhatikan temuan ilmiah dan mulai meletakkan perubahan iklim bukan sebagai liputan tunggal, melainkan lensa untuk melihat isu-isu paling mendesak saat ini.”
Menyaring bukti ilmiah ke dalam bahasa yang mudah dipahami orang awam, menurut Enano, adalah sebuah tantangan. Ia menyarankan agar jurnalis “menghubungi para ilmuwan, mengajukan banyak pertanyaan kepada mereka, dan meminta mereka untuk menjelaskan proses-proses yang sangat teknis.” Hal itu membuat liputan “lebih berlandaskan fakta dan juga memperdalam pemahaman jurnalis tentang masalah ini.”
Enano menunjukkan bahwa faktor-faktor lain seperti penurunan permukaan tanah, perlu menjadi bagian dari penjelasan yang lebih mendalam. Dalam liputannya, ia menemukan bahwa bahkan penduduk yang paling terdampak kenaikan permukaan laut pun tidak langsung mengaitkannya dengan krisis iklim.

“Sangat penting bagi reporter untuk menyelaraskan sains dan narasi di lapangan, dan tidak mengabaikan satu pengetahuan demi pengetahuan lainnya,” sarannya.
Saat meliput kenaikan permukaan laut di Metro Manila, Enano menambahkan penanda geografis (geotagging) pada lokasi reportasenya untuk mengidentifikasi komunitas terdampak. Ia juga mengandalkan proyeksi dan model yang dibuat Climate Central dan menyarankan agar jurnalis mencari riset yang dilakukan ilmuwan lokal. Dalam liputannya, ia mengandalkan studi Coastal Sea Level Rise Philippines Project untuk menunjukkan bahwa di wilayah Teluk Manila permukaan laut naik empat kali lipat dari rata-rata global.
“Kenaikan permukaan laut pada dasarnya adalah cerita visual,” Enano menjelaskan, “jadi penggunaan peta, foto, dan video sangat membantu.”
Praktik Jurnalisme Pesisir
Rafiqul Montu adalah seorang jurnalis di Bangladesh yang mempraktikkan “jurnalisme pesisir”. Praktik ini sangat relevan lantaran negara tersebut terletak di Teluk Bengal dengan 19 dari 64 distriknya diidentifikasi sebagai distrik yang terletak di pesisir.
Montu menekankan pentingnya reportase lapangan, terutama untuk menjangkau dan mewawancarai warga lanjut usia. Dalam salah satu perjalanan liputannya, ia mulai mendengar tentang masalah kesehatan perempuan. Setelah berbicara dengan para perempuan tersebut, ia mengunjungi pusat-pusat kesehatan, menggali penelitian yang relevan, dan mewawancarai para ahli.
Penelitian ilmiah yang digunakan Montu menyoroti dampak peningkatan salinitas terhadap kesehatan perempuan. Beberapa dampaknya termasuk tekanan darah tinggi pada perempuan hamil dan masalah rahim. Tingginya level air akibat kenaikan permukaan laut juga dapat meningkatkan waktu yang dibutuhkan pasien untuk mendapatkan perawatan medis.
Montu menyarankan kalau “bahasa yang sangat sederhana perlu digunakan untuk melaporkan kenaikan permukaan laut.”
“Bukan rahasia lagi bahwa pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan pemanasan lautan dan kenaikan permukaan laut… Sebagai konsekuensi langsung dari naiknya air laut dan banjir yang melanda desa-desa pesisir, kandungan garam dalam sumber air dan tanah di daerah pesisir Bangladesh telah meningkat secara mengkhawatirkan,” tulisnya, mengutip Atiq Rahman, Direktur Eksekutif Bangladesh Centre for Advanced Studies.

Kunci agar liputan soal perubahan iklim dan naiknya permukaan laut dapat diterima secara luas, menurut Montu, adalah dengan berfokus pada kisah manusia. “Saya menyarankan jurnalis muda untuk mencari tahu hubungan naiknya permukaan laut dengan mata pencaharian manusia,” kata Montu kepada GIJN. Dalam artikelnya, The Hungry Tide, ia “berusaha menceritakan penderitaan manusia terlebih dahulu,” dengan berfokus pada kekurangan pangan, terputusnya pendidikan, dan pengungsian. Ia juga merekomendasikan untuk berbicara dengan keluarga pengungsi. “Jurnalis (yang menggarap liputan) iklim perlu mencari tahu ke mana orang-orang tersebut pergi dan bagaimana mereka hidup,” katanya.
Mulai dari petani yang terpaksa meninggalkan pekerjaan mereka, hingga nelayan yang harus beralih menjadi buruh harian, Montu telah menemukan komunitas-komunitas yang mata pencahariannya berubah drastis akibat naiknya permukaan air laut.
“Bagaimana mereka bertahan hidup? Jurnalisme iklim dapat menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut,” katanya. Meskipun penggunaan peta dan data “akan membuat cerita jauh lebih kuat,” menurut Montu, “dampak pada kehidupan dan mata pencaharian masyarakat jauh lebih penting.”
Selain sudut pandang akuntabilitas, yang menurutnya penting, ia juga menyarankan agar jurnalis investigatif melihat inisiatif berbasis solusi. “Seringkali kita melewatkan kisah-kisah soal solusi saat membahas krisis iklim,” katanya.

Sudut Pandang Liputan
Banyak pendekatan yang dapat digunakan jurnalis untuk meliput kenaikan permukaan laut. Beberapa di antaranya ada di daftar ini yang merupakan gabungan dari laporan IPCC dan liputan investigatif di berbagai negara. Ide dan contoh liputan juga dijelaskan dalam Reporting on Coastal Resilience: A Resource Guide for Journalists yang diterbitkan oleh The Outlier, media massa dari Afrika Selatan.
Perubahan garis pantai: Menunjukkan dampak pemanasan global dengan mendokumentasikan garis pantai di masa depan .
Migrasi, internal dan eksternal: Banyak komunitas terpaksa pindah karena berbagai alasan, termasuk kehilangan rumah dan mata pencaharian. Sebagian besar dari mereka berpindah lebih jauh ke pedalaman atau ke dataran yang lebih tinggi di negara mereka, tetapi ada juga yang pindah ke luar negeri.
Dampak tidak merata terhadap kaum miskin, perempuan, anak-anak, dan kelompok rentan: Banyak daerah pesisir merupakan tempat tinggal bagi masyarakat adat dan masyarakat berpenghasilan rendah. Mereka adalah populasi yang pertama kali terdampak kenaikan permukaan laut.
Dampak buruk terhadap kesehatan : Dampak kesehatan akibat salinisasi semakin banyak didokumentasikan. Paparan air dengan salinitas tinggi dapat menyebabkan peradangan rahim, tukak rahim, tekanan darah tinggi, dan masalah kesehatan lainnya. Kontaminasi air tanah juga menjadi masalah. Masalah infrastruktur akibat naiknya permukaan air laut juga dapat menyebabkan waktu tempuh yang lebih lama ke fasilitas kesehatan. Hal itu dapat menghalangi atau menghambat akses ke perawatan medis, sehingga menyebabkan dampak lainnya seperti peningkatan angka kematian bayi atau ibu.
Dampak negatif pada pertanian: Selain berhadapan dengan erosi lahan, petani di pesisir dan dataran rendah dekat pantai juga menghadapi masalah lain, khususnya intrusi air asin. Saat hal tersebut terjadi, tanaman seperti padi menjadi lebih sulit untuk ditanam.
Dampak negatif terhadap perikanan: Pemanasan laut mengubah habitat ikan dan menurunkan populasi ikan. Hal ini memaksa nelayan untuk berlayar lebih jauh dan meningkatkan persaingan. Para ilmuwan juga memperkirakan bahwa masyarakat yang sangat bergantung pada makanan laut dapat menghadapi peningkatan paparan racun, patogen, dan kontaminan.
Hilangnya habitat satwa liar: Lahan basah, yang merupakan perlindungan alami dari naiknya air laut, rentan terhadap kerusakan akibat kenaikan permukaan laut. Hutan bakau dan rawa garam juga berisiko rusak.
Dampak pada bisnis: Banyak perusahaan bergantung pada laut dan pantai. Pariwisata adalah salah satu sektor yang kemungkinan besar akan sangat terpengaruh. Banyak produk non-makanan seperti suplemen makanan, pengawet makanan, dan obat-obatan juga bergantung pada komponen dari lautan.
Kenaikan dan penurunan nilai properti: Dengan jutaan dolar AS yang dipertaruhkan, pemilik properti dan pengembang real estat mencoba mengantisipasi bagaimana nilai properti di masa depan dan cara melindungi investasi mereka.
Perumahan: Seiring berkurangnya perumahan murah di dekat pantai, komunitas yang tergusur semakin kesulitan dan kesulitan mencari tempat tinggal. Selain itu, “gentrifikasi iklim” – merujuk pada pemilik properti kaya yang pindah ke dataran tinggi, sehingga penduduk asli tidak mampu lagi tinggal di sana – juga terjadi.
Infrastruktur transportasi: Foto dan video jalan yang tergenang banjir sering menggambarkan masalah ini. Namun bandara, jalur kereta api, dan pelabuhan juga terkena dampaknya. Membangun kembali dan melindungi transportasi membutuhkan biaya yang besar. Pangkalan angkatan laut juga terpaksa menyesuaikan diri.
Konsekuensi bagi tempat pembuangan sampah dan fasilitas umum lainnya di dataran rendah: Karena sering kali berlokasi di kawasan yang dianggap kurang bernilai untuk pembangunan, fasilitas pengolahan sampah mungkin harus dipindahkan karena . Jika tergenang banjir, fasilitas ini dapat menjadi sumber pencemaran. Pemetaan sekolah-sekolah dan fasilitas pemerintah lainnya yang rentan terdampak kenaikan permukaan laut juga akan memperjelas risiko dari fenomena ini.
Risiko terhadap tempat-tempat bersejarah dan ikonik: Potensi hilangnya taman di pesisir, situs bersejarah, patung-patung bernilai, dan bangunan-bangunan ikonik bisa digunakan untuk mengkomunikasikan kenaikan permukaan laut dengan cara yang mudah dipahami dan menyentuh hati.
Biaya asuransi yang lebih tinggi: Tinggal di pesisir semakin mahal karena berbagai alasan. Perusahaan asuransi menyadari risiko ini dan menghitung risiko biaya akibat kenaikan permukaan laut.
Adaptasi: Apa yang harus dilakukan? Upaya pencarian solusi sedang gencar dilakukan dan akan semakin intensif. Memilih langkah yang tepat sangatlah krusial dan biayanya bisa sangat besar. Perdebatan terjadi seputar solusi fisik: mana yang lebih baik digunakan, penghalang keras (tembok laut) atau penghalang lunak (hutan mangrove)? Yang juga menjadi pertimbangan adalah kebijakan mengenai lokasi pembangunan yang diizinkan dan ketentuan apa yang harus dimuat dalam peraturan membangun.
Secara keseluruhan, dampaknya terhadap ketidaksetaraan bisa nyata. Laporan IPCC 2019 memperingatkan bahwa konflik sosial “yang disebabkan atau diperparah oleh kenaikan permukaan laut dapat meningkat seiring waktu dan menjadi sangat sulit untuk diselesaikan.”
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di GIJN dengan judul “GIJN’s Guide to Investigating Sea Level Rise: Chapter Four — Story Tips and Best Practices“.



