Perusahaan bahan bakar fosil, yang kini banyak mengganti namanya menjadi perusahaan energi, menerapkan berbagai alternatif untuk mengurangi jejak karbonnya. Mulai dari penangkapan dan penyimpanan karbon serta kompensasi karbon hingga hidrogen hijau dan gas alam. Jurnalis dapat menelisik langkah-langkah alternatif tersebut dengan melacak keberhasilan strategi yang digunakan, mengungkap potensi masalah, dan mendeteksi strategi greenwashing.
Banyak hal mencurigakan telah diungkap liputan investigatif. Mulai dari kredit karbon untuk karbon yang tidak pernah ditangkap, proyek penangkapan karbon yang gagal mencapai target dan malah meningkatkan emisi, serta gas alam yang dipasarkan sebagai pilihan ramah lingkungan padahal sebenarnya tidak. Itu adalah sebagian kecil dari keseluruhan masalah. Seiring percepatan transisi energi sebagai respons terhadap krisis iklim, meliput isu semacam itu akan menjadi semakin relevan bagi jurnalis investigasi.
Emisi Nol Bersih
Emisi nol bersih adalah kondisi ketika emisi gas rumah kaca yang dihasilkan seimbang dengan jumlah yang diserap atau dihilangkan dari atmosfer. Pemanasan global berhenti jika keseimbangan itu tercapai. Perjanjian Paris 2015 menekankan pentingnya hal tersebut dan menyerukan kepada negara-negara untuk “mencapai keseimbangan antara emisi yang dihasilkan oleh kegiatan manusia dan penyerapan oleh penyerap gas rumah kaca, pada paruh kedua abad ini.”
World Resources Institute (WRI) menjelaskan bahwa mencapai kondisi nol bersih membutuhkan dua pendekatan. Pertama, emisi harus dikurangi hingga mendekati nol. Kedua, emisi yang tersisa harus diimbangi dengan jumlah pengurangan karbon yang setara. Membatasi pemanasan global hingga 1,5°C, salah satu target Perjanjian Paris, bergantung pada pencapaian nol bersih antara tahun 2050 dan 2060.
Meskipun merupakan konsep ilmiah, nol bersih telah menjadi tujuan politik dan ekonomi. Pemerintah dan perusahaan terus didesak untuk menetapkan target nol bersihnya. Lebih dari 100 negara, yang mewakili 80% emisi global, dan 1.177 perusahaan yang terdaftar di bursa saham saat ini, telah menetapkan target nol bersih. Perusahaan bahan bakar fosil termasuk di dalamnya, dengan 75 dari 112 perusahaan terbesar telah menetapkan target.
Namun, di sinilah kerumitannya. Sebagian besar perusahaan bahan bakar fosil belum berkomitmen untuk beralih dari penambangan dan produksi bahan bakar fosil. Padahal, UN High-Level Experts Group telah mengatakan bahwa agar target nol bersih kredibel, penghentian penggunaan bahan bakar fosil mesti tercakup di dalamnya. Sebagian besar target nol bersih yang dibuat perusahaan bahan bakar fosil juga tidak sepenuhnya mencakup atau tidak memperjelas pengurangan di emisi cakupan 3 (penggunaan bahan bakar oleh konsumen yang merupakan emisi terbesar terkait bahan bakar fosil).
Pertanyaan Kunci
- Apa yang ada di balik target emisi nol bersih dari perusahaan bahan bakar fosil? Jenis emisi apa saja yang tercakup?
- Apakah perusahaan memiliki rencana terperinci untuk mencapai targetnya?
- Apa kata para peneliti independen dan LSM tentang target tersebut?
- Apakah target dan kemajuannya telah diverifikasi oleh entitas independen?
- Apakah ada perbedaan antara target emisi nol bersih perusahaan dengan praktik aktualnya?
Studi Kasus
CLEW Focus: “Climate Neutral” Products and Companies — Greenwashing or Sign of Serious Action? The Clean Energy Wire (CLEW) menerbitkan sebuah dokumen pada 2023 untuk menganalisis banyaknya klaim nol bersih oleh perusahaan-perusahaan di seluruh dunia. Mereka membuat laporan tentang klaim nol bersih palsu pada produk-produk di Uni Eropa; meneliti laporan tentang target nol bersih yang sebenarnya mengurangi emisi hingga batas tertentu; dan membuat lembar fakta “devil in the detail” untuk para jurnalis.
The Tough Truth Behind Corporate Net Zero Sustainability Targets. Kristen Talman, koresponden BBC, menerbitkan liputan mendalam pada 2023 tentang janji nol bersih perusahaan. Ia menemukan banyak janji tersebut rumit, tidak transparan, dan minim rencana aksi. Kristen mencantumkan contoh dari janji yang dibuat berbagai perusahaan dan menyoroti pertanyaan-pertanyaan penting tentang transparansi serta langkah-langkah berarti menuju perubahan.
The Dishonest Accounting of Net-Zero Emissions. Mark Schapiro, seorang jurnalis lepas yang banyak melakukan investigasi, menerbitkan sebuah artikel di Capital & Main pada 2023 soal janji nol bersih perusahaan bahan bakar fosil yang tidak mencakup seluruh spektrum emisi mereka (mengenai spektrum atau cakupan emisi, lihat artikel ini). Dia juga menyertakan ringkasan tentang emisi nol bersih dan menjelaskan masalah yang dapat timbul dari penggunaan istilah itu. Pada akhirnya, hal tersebut berpotensi memicu greenwashing oleh perusahaan.

Tips dan Sumber Daya
Berbicara di Festival Jurnalisme Internasional (IJF) 2024, Sören Amelang, koresponden tetap di CLEW (Clean Energy Wire), mengatakan bahwa hingga saat ini, janji emisi nol bersih sebagian besar belum diatur secara ketat. Jika janji tersebut merupakan greenwashing, maka jurnalis bertugas menganalisis dan mengungkapnya. Dengan klaim ambisius mereka, perusahaan sebenarnya dapat “menyembunyikan emisi yang bermasalah,” tambahnya.
Mark Schapiro setuju dan mengatakan kepada GIJN bahwa jurnalis harus berhati-hati terhadap apa yang ada di balik janji nol emisi bersih. “Kamu harus melihat aktivitas yang mereka kaitkan dengan (emisi) gas rumah kaca,” katanya. “Dalam klaim emisi nol bersih perusahaan bahan bakar fosil, mereka biasanya berbicara tentang emisi dari fasilitas tertentu dan tidak termasuk emisi dari penggunaan produk mereka oleh mobil di seluruh dunia.”
Untuk mengungkap niat sebenarnya dari industri bahan bakar fosil, para jurnalis yang menelisik krisis iklim dan menghadiri Global Investigative Journalism Conference ke-13 pada 2023 (GIJC23) menyarankan untuk bersikap skeptis terhadap janji emisi nol bersih. Jurnalis bisa mempertanyakan mengapa perusahaan-perusahaan tersebut mengejar target tersebut dan bagaimana strategi mereka untuk memenuhinya. Caranya adalah dengan melihat apa langkah spesifik terkait janji tersebut dan kapan perusahaan berencana melakukannya.
Di IJF, Amelang menyarankan jurnalis untuk bekerja sama dengan peneliti dan peneliti iklim untuk menganalisis target emisi nol bersih perusahaan. CLEW misalnya, telah bekerja sama dengan lembaga nirlaba NewClimate Institute untuk menyusun panduan berisi pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan jurnalis tentang target emisi nol bersih. beberapa di antaranya adalah: Apakah perusahaan menerbitkan data lengkap tentang emisinya? Apakah perusahaan memiliki target sementara? Apakah perusahaan memiliki rencana untuk beralih dari bahan bakar fosil?
Sumber Daya Tambahan
Net Zero Tracker : Dibuat melalui kolaborasi antara empat organisasi penelitian. Laporan ini mengamati komitmen emisi nol bersih dari berbagai negara, wilayah, kota dengan lebih dari 500.000 penduduk, dan 2.000 perusahaan publik terbesar di dunia berdasarkan pendapatan tahunan.
MSCI Net-Zero Tracker : Laporan berkala ini dikembangkan oleh perusahaan riset investasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Di dalamnya terdapat kemajuan kolektif perusahaan-perusahaan yang terdaftar di bursa saham untuk menjaga pemanasan global jauh di bawah 2°C. Laporan ini juga menyoroti perusahaan-perusahaan dengan pengungkapan iklim yang lebih baik dan perusahaan lainnya yang tertinggal.
Panduan Clean Energy Wire (CLEW) tentang target nol bersih dan klaim perusahaan : CLEW menghasilkan dua panduan penting untuk para jurnalis. Pertama, panduan untuk menguraikan target nol bersih dalam tujuh langkah. Kedua, panduan untuk meliput klaim iklim perusahaan.
Corporate Climate Responsibility Monitor. Perangkat yang dikembangkan oleh organisasi nirlaba NewClimate Institute ini menganalisis strategi iklim dari 51 perusahaan global besar dan secara kritis menilai sejauh mana mereka menunjukkan kepemimpinan untuk menghentikan krisis iklim. Perangkat ini menganalisis emisi yang diungkapkan oleh perusahaan berdasarkan metodologi yang dikembangkannya sendiri.
Penangkapan, Penggunaan, dan Penyimpanan Karbon
Penangkapan, penggunaan, dan penyimpanan karbon (CCUS) adalah proses teknologis untuk menangkap emisi gas rumah kaca. Praktik ini umumnya dilakukan di fasilitas dengan beremisi tinggi seperti pembangkit listrik atau fasilitas industri yang menggunakan bahan bakar fosil atau biomassa sebagai bahan bakarnya. Emisi ditangkap sebelum memasuki atmosfer dan kemudian disimpan secara permanen di bawah tanah atau dimasukkan ke dalam jenis produk tertentu, seperti beton. Dengan kata lain, CCUS merupakan teknologi lanjut dari penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) yang berfokus pada penangkapan dan penyimpanan CO₂ untuk mengurangi emisi.

Saat ini terdapat 45 fasilitas CCUS komersial yang beroperasi dan lebih dari 700 lainnya dalam tahap perencanaan. Analisis oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa penerapan teknologi ini diperlukan untuk mencapai emisi nol bersih pada 2050. Amerika Serikat, misalnya, harus membangun 1.000 fasilitas penangkapan karbon di seluruh negeri untuk mencapai target nol bersihnya.
Beberapa LSM lingkungan dan peneliti menggambarkan teknologi ini sebagai “solusi palsu”. Pasalnya, perusahaan bahan bakar fosil tampak mengatasi perubahan iklim sambil terus menjalankan bisnis seperti biasa. DeSmog menulis lembar fakta untuk menjelaskan masalah teknologi ini, mulai dari penerapannya yang lambat hingga berbagai masalah keamanan.
Pertanyaan Kunci
- Apakah teknologi tersebut digunakan untuk memperpanjang umur infrastruktur bahan bakar fosil?
- Apakah proyek CCUS atau CCS spesifik yang kamu selidiki berjalan sebagaimana mestinya? Atau justru berkinerja buruk?
- Bagaimana proyek ini dipantau dan diatur? Apakah proyek ini menghadapi penentangan dari masyarakat setempat?
Studi Kasus
Fossil Fuel Companies Made Bold Promises to Capture Carbon. Here’s What Actually Happened. Jurnalis Michael Buchsbaum dan Edward Donnelly mengulas 12 proyek penangkapan karbon skala besar dalam sebuah artikel untuk DeSmog yang dirilis pada 2023. Mereka menemukan target penangkapan karbon yang tidak tercapai, pembengkakan biaya, dan subsidi senilai miliaran dolar Amerika Serikat. Kedua jurnalis tersebut juga menerbitkan analisis yang mengulas bagaimana teknologi ini mendorong eksplorasi minyak dan gas baru.
Big Oil’s Climate Fix Is Running Out of Time to Prove Itself. Stephen Stapczynski, jurnalis Bloomberg, menemukan pada 2023 bahwa pemerintah dan perusahaan telah menghabiskan lebih dari US$80 juta untuk proyek penangkapan karbon dalam tiga dekade terakhir. Meski demikian, teknologi tersebut hanya menangkap 0,1% emisi global pada 2022. Ia mencantumkan berbagai masalah di balik teknologi tersebut, salah satunya adalah biaya, dan memberikan contoh proyek dari berbagai negara.
ExxonMobil Accused of ‘Greenwashing’ Over Carbon Capture Plan It Failed to Invest In. Jurnalis Ben Webster dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Guardian pada 2024 di Guardian dan OpenDemocracy meneliti proyek penangkapan karbon oleh ExxonMobil di Inggris. Proyek tersebut dipertanyakan sebagai greenwashing karena tidak mendapatkan izin atau dukungan pemerintah. Exxon juga tidak mengalokasikan dana internal untuk membangunnya. Menanggapi tudingan tersebut, juru bicara Exxon mengatakan: “ExxonMobil berkomitmen untuk memainkan peran kunci dalam transisi energi. Transisi ini membutuhkan waktu dan bukanlah proses linier. Kecepatan dan arahnya dibentuk oleh faktor-faktor termasuk kemajuan teknologi, kebijakan pendukung, ekonomi, dan dukungan publik.”
Tips dan Sumber Daya
Sembari menyoroti pentingnya pelaporan tentang penangkapan karbon, Phoebe Cooke, Wakil Editor DeSmog di Inggris, mengakui bahwa liputan soal ini bisa menjadi tantangan. “Memahami penangkapan karbon menjadi rumit kecuali kamu seorang ilmuwan. Karena sebagian besar jurnalis bukan ilmuwan, liputan soal ini menjadi tidak mudah,” tambahnya.
Cooke menyarankan agar jurnalis terlebih dahulu memiliki pengetahuan dasar tentang isu ini. Langkah selanjutnya adalah menyusun daftar ahli yang mudah dihubungi, mulai dari aktivis hingga peneliti. “Jika kamu tidak memahaminya sebelum menulis tentangnya, maka akan sulit untuk membantahnya. Itulah pelajaran yang paling berharga,” katanya.
Para jurnalis di GIJC23 menyarankan untuk mengakses informasi publik guna mendapatkan informasi tentang proyek penangkapan karbon. Pasalnya, perusahaan bahan bakar fosil sering mendapatkan subsidi pemerintah untuk upaya ini. Sumber informasi lainnya termasuk laporan tahunan dari perusahaan, dokumen-dokumen yang wajib diajukan perusahaan kepada pemerintah (regulatory filing), dan laporan dari organisasi antarpemerintah serta non-pemerintah.
Sumber Daya Tambahan
Carbon Capture and Storage — ‘False solution’ or vital tool to curb emissions?: De Smog membuat lembar fakta berisi informasi paling relevan terkait penangkapan karbon. Lembar fakta ini membahas pro dan kontra seputar penggunaan pendekatan ini untuk mengurangi emisi.
International Energy Agency (IEA) carbon capture database: Mencakup semua proyek penangkapan, pengangkutan, penyimpanan, dan pemanfaatan CO₂ skala besar yang telah beroperasi atau sedang dalam perencanaan di seluruh dunia.
Carbon Offset
Carbon offset adalah proses yang memungkinkan individu, bisnis, atau pemerintah untuk menyeimbangkan emisi mereka melalui investasi dalam proyek-proyek yang mengurangi atau menghilangkan emisi di lokasi lain, terutama di negara-negara berkembang. Proses ini melibatkan pembelian kredit karbon yang mewakili emisi yang dihindari, dikurangi, atau dihilangkan, dan dapat diperdagangkan antar organisasi.
Secara teori, setelah emisi dikurangi semaksimal mungkin, entitas dapat menggunakan offset untuk berinvestasi dalam teknologi rendah karbon atau proyek restorasi hutan untuk “meniadakan” emisi yang tersisa. Namun, hal ini juga dapat memungkinkan entitas untuk mempertahankan tingkat emisi mereka saat ini sambil mengeklaim pengurangan yang hanya berdasarkan offset, seperti yang dijelaskan oleh Carbon Brief.
Proyek offsetting karbon telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir di seluruh dunia. Hal tersebut memunculkan pasar yang terus berkembang dan melibatkan sejumlah aktor. Mulai dari pengembang proyek, auditor, lembaga sertifikasi, dan pedagang kredit. Namun, investigasi oleh kelompok masyarakat sipil dan jurnalis menunjukkan kalau beberapa proyek mungkin berdampak negatif pada masyarakat adat dan komunitas lokal, serta melebih-lebihkan emisi yang dapat mereka kurangi. Carbon Brief memetakan 61 proyek terbaru di berbagai negara dan menemukan berbagai masalah di sebagian besar proyek tersebut.

Pertanyaan Kunci
- Siapa yang diuntungkan dari proyek kompensasi karbon? Apakah langkah ini telah dikonsultasikan dengan masyarakat dengan benar dan apakah mereka benar-benar aktif di dalamnya?
- Apakah perlindungan sosial dan lingkungan telah dipatuhi?
- Apakah proyek ini berhasil? Apakah emisi berkurang? Apakah proyek ini memiliki dasar yang tepat sebagai acuan? Apakah proyek ini melebih-lebihkan dampak lingkungannya?
Studi Kasus
Gray Carbon dan Opaque Carbon. The Latin American Center for Investigative Journalism (El CLIP, in Spanish) dan mitra media lainnya menerbitkan dua seri artikel antara 2021 dan 2024 tentang proyek-proyek kompensasi karbon yang tidak berjalan sebagaimana mestinya di lima negara. Beberapa proyek misalnya, dipasarkan tanpa sepengetahuan masyarakat.
The Social Cost of Carbon Credits. Jack Thompson, jurnalis lepas yang berbasis di Senegal, menerbitkan sebuah artikel di Majalah Hakai pada 2024 mengenai proyek pengimbangan karbon senilai US$4,4 juta. Proyek itu hampir tidak memberikan manfaat bagi penduduk setempat. Thompson melakukan perjalanan melalui Delta Saloum untuk mewawancarai orang-orang yang menanam bakau untuk proyek pengimbangan karbon dan menemukan situasi yang mengkhawatirkan seperti upah di bawah standar dan kurangnya keterlibatan masyarakat.
Revealed: Top Carbon Offset Projects May Not Cut Planet-Heating Emissions. Nina Lakhani, seorang jurnalis senior untuk isu keadilan iklim di Guardian Amerika Serikat, menganalisis 50 proyek pengimbangan karbon teratas. Ia bekerja sama dengan para peneliti dari organisasi nirlaba Corporate Accountability dan menemukan hampir 80% proyek pengimbangan karbon bisa diklasifikasikan sebagai proyek sampah. Proyek-proyek tersebut gagal memenuhi berbagai kriteria untuk menjamin pengurangan emisi yang dijanjikan, salah satunya adalah penggunaan baseline yang dibesar-besarkan.
Tips dan Sumber Daya
Andrés Bermúdez Liévano, jurnalis yang berbasis di Kolombia dan memimpin pekerjaan El CLIP tentang kompensasi karbon, mengatakan kepada GIJN bahwa mereka menemukan masalah umum di sebagian besar proyek pengimbangan karbon. Beberapa di antaranya adalah kurangnya konsultasi yang tepat dengan masyarakat setempat; minimnya akuntabilitas atas pendapatan proyek; auditor yang tidak mengunjungi proyek; konflik kepentingan dalam rantai nilai karbon (seperti pengembang proyek yang mempekerjakan mantan mitra bisnis sebagai auditor); perusahaan yang membeli kredit tanpa uji tuntas atau mengungkapkan dari proyek mana mereka membeli karbon; dan kurangnya pengawasan pemerintah terhadap pasar karbon.
“Ini adalah topik yang sangat teknis dan kompleks, jadi kolaborasi adalah cara terbaik untuk bekerja. Investigasi pertama memakan waktu delapan bulan dengan kurva pembelajaran yang sangat curam dan ketidakyakinan soal keberhasilan proyek liputan. Kita perlu mempersingkat pembelajaran di kalangan jurnalis,” kata Bermúdez kepada GIJN. “Bermitra dengan organisasi khusus seperti Carbon Market Watch dan Center for Climate Crime Analysis (CCCA) juga sangat membantu, karena mereka telah membantu kami dalam beberapa liputan.”
Bermúdez mengatakan beberapa liputan El CLIP bermula dari anggota komunitas yang prihatin atau pembocor informasi. Banyak di antaranya adalah mantan pejabat pemerintah yang frustrasi dengan cara proyek pengimbangan karbon diimplementasikan. Ia menyarankan agar jurnalis menelisik perusahaan minyak dan gas ketika hendak meliput isu ini. “Bukti menunjukkan bahwa mereka adalah salah satu pembeli offset terbesar,” tambahnya. “Apakah mereka hanya mengandalkan offset tersebut dan tidak mengurangi produksi mereka?”
Sumber Daya Tambahan
Offsets Database (Offsets DB). Perangkat yang dikembangkan oleh organisasi nirlaba CarbonPlan ini mengumpulkan dan menstandarisasi data soal proyek pengimbangan dan kredit karbon yang diterbitkan oleh lima basis data pengimbangan karbon terbesar. Data tersebut bersumber langsung dari seluruh basis data tersebut.
GIJN Guide to Investigating Carbon Offsets: Toby McIntosh, penasihat senior untuk Resource Center GIJN, menulis panduan tentang cara menyelidiki kompensasi karbon untuk jurnalis. Panduan ini mencakup banyak kiat praktis dan sumber daya.
Voluntary Registry Offsets Database yang dikembangkan oleh program penelitian Berkeley Carbon Trading Project. Basis data ini berisi semua proyek pengimbangan karbon yang terdaftar secara global dan dikelola oleh empat registri proyek pengimbangan karbon sukarela.
Gas Alam atau ‘Gas Hijau’
Gas alam adalah bahan bakar fosil yang sebagian besar terdiri dari metana. Emisi dari pembakarannya lebih rendah dibandingkan dengan emisi dari batu bara atau minyak bumi, tetapi lebih tinggi daripada sumber energi terbarukan seperti tenaga surya atau angin. Namun, itu hanya sebagian kecil aspek yang bisa ditelisik jurnalis. Pengeboran dan ekstraksi gas serta transportasinya dapat mengakibatkan kebocoran metana, gas rumah kaca 84-86 kali lebih kuat daripada CO₂ sepanjang 20 tahun.

Industri bahan bakar fosil dan pemerintah di beberapa negara mendorong penggunaan gas alam sebagai bahan bakar transisi dari batu bara, alih-alih langsung beralih ke energi terbarukan. Para ilmuwan dan organisasi masyarakat sipil mempertanyakannya. Mereka mengatakan bahwa tidak boleh ada lagi proyek bahan bakar fosil yang dikembangkan untuk memenuhi tujuan Perjanjian Paris. Selain itu, biaya energi terbarukan sekarang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil di banyak negara.
Meskipun demikian, industri bahan bakar fosil berencana untuk melipatgandakan ekstraksi dari cadangan gas alam yang terbukti hingga empat kali lipat pada 2030. Nilai investasi untuk memperluas jaringan gas alam cair (LNG) mencapai US$1,3 triliun . Perusahaan gas dan minyak bumi mengeklaim LNG sebagai sebagai cara untuk menurunkan emisi. Namun, seorang peneliti mengatakan jejak gas rumah kaca untuk LNG sepertiga lebih besar dibandingkan dengan untuk batu bara.
Para pelaku industri juga mendukung proyek-proyek kompensasi karbon untuk menjual “gas hijau”, tetapi proyek-proyek tersebut menuai kontroversi.
Pertanyaan Kunci
- Apakah transisi dari batu bara ke gas yang dilakukan pemerintah menurunkan emisi? Mungkinkah peralihan di negara tersebut langsung dilakukan ke energi terbarukan?
- Apakah industri bahan bakar fosil menggunakan gas alam untuk menunda transisi yang lebih awal ke energi terbarukan? Strategi apa yang mereka gunakan untuk mendorong penggunaan gas alam?
- Apa yang ada di balik klaim “gas hijau” perusahaan? Bagaimana proyek kompensasi emisi bekerja di baliknya? Apakah proyek tersebut benar-benar menurunkan emisi?
- Apa saja efek samping yang muncul akibat peningkatan penggunaan gas alam, seperti peningkatan emisi metana?
Studi Kasus
Behind the Push to Re-Brand LNG as ‘Green’. Jurnalis Andy Rowell dan Amy Westervelt menerbitkan sebuah artikel di Drilled pada 2024. Isinya tentang dorongan para produsen LNG di Amerika Serikat untuk mengubah citra LNG menjadi hijau guna meningkatkan ekspor mereka. Keduanya meneliti sebuah kelompok industri LNG dan menelusuri unggahan media sosial, lobi yang diungkap, dan dokumen publik.
The Green Gas Lie. Jurnalis Stella Hesch, Gesa Steeger, Max Donheiser, dan Simon Wörpel menerbitkan sebuah artikel pada tahun 2024 untuk CORRECTIV yang meneliti klaim penyedia gas Jerman tentang gas “netral iklim”. Para jurnalis menemukan bahwa gas tersebut sebenarnya “terkait dengan penggundulan hutan yang seharusnya dilindungi dan perluasan pembangkit listrik tenaga gas.”
How the Gas Industry Aims to Rebrand as ‘Clean’ Energy to Appeal to Black and Latino Voters yang ditulis Taylor Kate Brown, seorang jurnalis lepas, di Guardian pada 2022. Ia membeberkan strategi industri gas alam mengubah citra menjadi energi “bersih” untuk menarik pemilih kulit hitam dan Latino. Taylor menemukan kampanye humas senilai US$10 juta yang diluncurkan oleh perusahaan-perusahaan gas yang tergabung dalam kelompok lobi Natural Allies for a Clean Energy Future. Kelompok lobi dan perusahaan-perusahaan yang terlibat menolak berkomentar atau tidak menanggapi permintaan konfirmasi dari Brown.
Tips dan Sumber Daya
Sara Schonhardt, jurnalis di E&E News, mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa jurnalis harus melihat contoh di lokasi yang menjadikan gas alam sebagai pengganti batu bara. Bagaimana hal tersebut terjadi dan apakah hal itu mengurangi emisi? Dia juga menyarankan jurnalis untuk menelisik kesepakatan gas alam yang mungkin dilakukan di sela-sela negosiasi iklim. Pasalnya, di helatan tersebut banyak pelobi yang hadir.
“Penting untuk melibatkan semua pihak dalam isu ini,” katanya. “Ada manfaatnya berbicara dengan perusahaan gas dan mengetahui apa yang mereka pikirkan dan dari mana mereka berasal. Mengetahui argumen mereka dapat membantu memasukkan informasi dan realisme ke dalam liputan dan melawan sudut pandang mereka.”
Amy Westervelt, di International Journalism Festival 2024, mengatakan bahwa jurnalis harus memperhatikan “industri pendukung” seperti perusahaan humas. Perusahaan-perusahaan tersebut disewa oleh raksasa industri bahan bakar fosil untuk membentuk narasi tentang gas alam, seperti yang telah ditunjukkan Westervelt dalam beberapa liputannya. Ia juga menyarankan untuk berinteraksi dengan karyawan yang kecewa dari industri-industri tersebut.
Sumber Daya Tambahan
Global Energy Monitor: Organisasi nirlaba ini mengembangkan dan menganalisis data tentang infrastruktur energi, sumber daya, dan penggunaannya. Beberapa yang tercakup di dalamnya adalah fasilitas batubara, gas alam dan minyak bumi, jaringan pipa, infrastruktur LNG, serta proyek energi terbarukan.
Hidrogen Hijau
Hidrogen hijau adalah alternatif bahan bakar fosil tanpa emisi. Proses produksinya melibatkan penggunaan listrik dari sumber energi terbarukan untuk untuk memisahkan hidrogen dari molekul air. Uap air adalah satu-satunya produk sampingan dari proses ini. Meskipun berpotensi untuk mengurangi emisi karbon di sektor-sektor yang sulit dikurangi seperti transportasi dan industri berat, kelayakan dan permintaan terhadap jenis energi ini masih menjadi tantangan.
Sebanyak 75 juta ton hidrogen diproduksi di seluruh dunia setiap tahun. Sebagian besarnya dihasilkan melalui proses yang bergantung pada bahan bakar fosil. Hidrogen biasanya diklasifikasikan berdasarkan warna, tergantung pada sumber energinya: abu-abu untuk gas, cokelat untuk batu bara, dan biru untuk emisi yang ditangkap. Model iklim menunjukkan bahwa hidrogen akan memainkan peran dalam rencana emisi nol bersih banyak negara.
Meskipun minat terhadap hidrogen hijau tetap tinggi, laporan kebijakan memperingatkan bahwa investasinya cenderung lebih lambat dari yang diharapkan. Permintaannya pun masih belum jelas. Hal ini terjadi karena perusahaan bahan bakar fosil mempromosikan proyek hidrogen biru yang berasal dari emisi yang ditangkap, alih-alih hidrogen hijau. Mereka juga mengakses subsidi pemerintah dan menghabiskan miliaran dolar Amerika Serikat untuk lobi terkait hidrogen biru.
Pertanyaan Kunci
- Sejauh mana hidrogen hijau dapat menurunkan emisi? Pada sektor industri apa penggunaan hidrogen hijau dapat diperluas? Apakah ada permintaan yang lebih besar untuk hidrogen hijau?
- Saat mempertimbangkan proyek hidrogen tertentu, apa saja biaya dan manfaatnya?
- Apakah pemerintah memberikan insentif untuk proyek hidrogen? Untuk jenis proyek hidrogen apa? Apakah insentif tersebut serupa untuk hidrogen hijau dan jenis hidrogen lainnya?
- Apa dampak lingkungan dari hidrogen hijau? Berapa banyak air yang digunakan untuk setiap proyek? Apakah masyarakat menyetujui proyek ini?
Studi Kasus
Chile Gambles on Green Hydrogen in the Far South. Yasna Mussa, jurnalis lepas asal Chili, menulis artikel pada 2024 untuk Dialogue Earth mengenai rencana Chili menciptakan industri hidrogen hijau dan risiko yang ditimbulkan bagi masyarakat serta lingkungan. Sebagian besar infrastruktur hidrogen hijau akan berlokasi di daerah dengan ekosistem berharga. Yasna juga mengungkap kalau produksi hidrogen hijau membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, sementara Chili berjuang menghadapi kekeringan.
The Dawn of the Clean Hydrogen Economy. Canary Media menerbitkan serial liputan soal hidrogen bersih pada 2024. Para jurnalis mereka meneliti bagaimana industri bahan bakar fosil ingin membentuk ekonomi hidrogen baru dan masalah permintaan yang dihadapi industri tersebut, sehingga kelayakannya dipertanyakan. Mereka juga menganalisis peran bahan bakar elektronik untuk kapal dan pesawat terbang serta rencana penggunaan hidrogen di kereta api dan truk.
Mapping the Hydrogen Lobby. DeSmog memublikasikan serangkaian laporan pada 2021 dan 2022 yang berfokus pada pemetaan lobi hidrogen di Amerika Utara dan Eropa. Para jurnalisnya meneliti jaringan perusahaan, asosiasi industri, pelobi, dan politisi yang memiliki hubungan erat dengan industri bahan bakar fosil. Jejaring tersebut mendorong perluasan produksi hidrogen, alih-alih alternatif yang lebih sedikit polusinya.
Tips dan Sumber Daya
Sara Schonhardt dari E&E News percaya bahwa hidrogen hijau sering disebut sebagai “solusi menyeluruh” tanpa adanya diskusi lebih mendalam mengenai kandungan sebenarnya. “Kita perlu lebih banyak menguraikan seberapa besar solusi ini dapat diterapkan,” kata Schonhardt kepada GIJN. Ia menambahkan bahwa meskipun “ada ruang” bagi hidrogen hijau untuk digunakan untuk menurunkan emisi dari sektor-sektor yang sulit dikurangi, “kita juga dapat menggunakan solusi alternatif yang lebih sederhana.”
Phoebe Cooke dari DeSmog mengatakan bahwa industri gas alam sedang memposisikan ulang dirinya sebagai industri hidrogen. “Pemainnya adalah entitas yang sama dengan mereka yang ingin melanjutkan bisnis seperti biasa,” katanya. “Meskipun kita akan membutuhkan hidrogen hingga batas tertentu, sejauh mana kita bergantung padanya mungkin berarti kita pada akhirnya gagal mencapai target iklim.”
Kedua jurnalis tersebut menyarankan untuk mengurai setiap proyek hidrogen untuk menentukan jenis hidrogen apa yang digunakan, terlepas dari bagaimana perusahaan berusaha menarasikannya. Mereka juga menekankan pentingnya melacak orang-orang di balik organisasi yang mendorong peningkatan penggunaan hidrogen. Pasalnya, dalam banyak kasus mereka berasal dari industri bahan bakar fosil dan hal tersebut menciptakan konflik kepentingan.
Sumber Daya Tambahan
International Energy Agency (IEA) Green Hydrogen Database: Mencakup semua proyek produksi hidrogen demi tujuan energi atau mitigasi perubahan iklim yang dilakukan di seluruh dunia sejak tahun 2000.
Rekayasa Iklim
Fakta bahwa pengurangan emisi saat ini jauh di bawah yang seharusnya telah memicu meningkatnya minat pada rekayasa iklim, biasanya didefinisikan sebagai manipulasi lingkungan secara besar-besaran untuk melawan krisis iklim. Proses ini mencakup teknik kontroversial untuk menghilangkan karbon dioksida dalam skala besar dari atmosfer – dikenal sebagai Penghilangan Karbon Dioksida (Carbon Dioxide Removal/CDR) – dan memantulkan sinar matahari menjauh dari Bumi.
Salah satu contohnya adalah penangkapan udara langsung dengan menggunakan mesin yang menghilangkan CO₂ langsung dari udara; bioenergi dengan penangkapan dan penyimpanan karbon melalui budidaya pohon atau tanaman untuk menyerap CO₂ dan kemudian membakarnya untuk menghasilkan energi sambil menangkap CO₂; dan manajemen radiasi matahari dengan cara memantulkan sinar matahari dari permukaan Bumi sebelum menghangatkan atmosfer.
Ketertarikan pada teknik rekayasa iklim telah memicu perdebatan di kalangan ilmuwan dan pemerintah. Sebagian di antaranya menyerukan penghentian penelitian di bidang ini dan sebagian lainnya mengatakan bahwa riset soal ini perlu terus dilanjutkan. Beberapa aktivis dan kelompok lingkungan mempertanyakan rekayasa iklim sebagai taktik industri bahan bakar fosil untuk menunda tindakan nyata pengurangan emisi. Banyak studi juga memperingatkan tentang risiko yang ditimbulkan teknik ini terhadap alam .
Pertanyaan Kunci
- Apa saja risiko penerapannya? Siapa yang diuntungkan dan siapa yang akan terdampak?
- Apa yang terjadi jika sebuah proyek rekayasa iklim gagal? Siapa yang akan dimintai pertanggungjawaban dan bagaimana caranya?
- Siapa yang berada di balik teknologi rekayasa geologi, baik secara politik maupun ekonomi?
Studi Kasus
The Promise and Peril of Solar Geoengineering. Jeremy Hance, seorang koresponden senior untuk Mongabay, meneliti solar geoengineering dan mencari tahu mengapa sebagian orang mendorongnya, sementara yang lain memperingatkan tentang risikonya. Ia menyebutkan contoh dari berbagai negara dan berbicara dengan banyak peneliti, perusahaan, dan aktivis. Pada bagian kedua cerita ini, ia juga meneliti kesenjangan yang terjadi di antara para peneliti tentang teknik ini.
Geoengineering in Latin America May Create More Problems Than It Solves. Matías Avramow, seorang jurnalis lepas dari Meksiko yang berbasis di Argentina, mengulas momentum yang terus meningkat dalam bidang geoengineering di Amerika Latin. Lewat artikel yang dipublikasikan di Dialogue Earth pada 2023, Ia meninjau proyek-proyek yang aktif di wilayah tersebut dan risiko di baliknya. Matias juga menganalisis peran pemerintah di balik berbagai proyek tersebut dan melihat bagaimana penelitian berkembang.
Startups Want to Cool Earth by Reflecting Sunlight. There Are Few Rules and Big Risks. Julia Simon, jurnalis NPR, menerbitkan sebuah artikel pada tahun 2024 yang membahas perusahaan rintisan yang mengerjakan rekayasa solar geoengineering di Amerika Serikat. Dia melakukan perjalanan ke Silicon Valley untuk uji coba teknologi tersebut dan meninjau bagaimana industri ini berkembang tanpa banyak regulasi, sehingga penggunaannya meningkatkan risiko terhadap cuaca global.
Tips dan Sumber Daya
Direktur Eksekutif Earth Journalism Network (EJN) James Fahn, dalam sebuah artikel di GIJN, menyarankan para jurnalis untuk menyelidiki perkembangan industri geoengineering dan kesepakatan tertutup yang mungkin sudah terjadi. “Siapa yang tahu tindakan putus asa apa yang mungkin dilakukan banyak negara jika beberapa prediksi terburuk menjadi kenyataan,” tulisnya.
Beberapa hal yang menarik untuk ditelisik meliputi siapa yang berada di balik teknologi yang dipromosikan, termasuk potensi keterkaitannya dengan industri bahan bakar fosil, dan menganalisis konsekuensi dari penerapan teknologi tersebut. Jurnalis juga dapat meninjau akuntabilitas di balik geoengineering karena belum ada kerangka aturan untuk penggunaannya.
Sumber Daya Tambahan
Geoengineering Map: Peta interaktif tentang geoengineering yang dikelola oleh kelompok riset ETC Group dan Yayasan Heinrich Böll ini, mendokumentasikan proyek-proyek geoengineering di seluruh dunia. Setiap proyek disertai dengan informasi detil mengenai tipe, status, skala, dan berbagai hal lainnya.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di GIJN.



