Rencana pembangunan energi panas bumi (geothermal) di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, memunculkan kegelisahan di kalangan masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih. Bagi mereka, listrik memang membawa kemudahan hidup, tetapi bukan berarti alam boleh dikorbankan.
Pemuda adat Kasepuhan Pasir Eurih, Juanda, mengatakan listrik kini telah menjadi bagian dari kehidupan warga. Rumah-rumah lebih terang, anak-anak bisa belajar pada malam hari, dan kegiatan keagamaan berlangsung lebih leluasa. Namun, menurut dia, kehadiran listrik tidak pernah mengubah cara hidup masyarakat adat yang selama ini bergantung pada alam.
“Adat tetap berjalan seperti dulu. Bertani masih pakai cara tradisional. Ritual adat juga tetap dilakukan,” ujar Juanda, Rabu (18/02/2026).
Pria yang akrab disapa Juan itu mengenang masa ketika warga masih mengandalkan damar berbahan minyak tanah untuk penerangan malam hari. Saat itu, warga harus menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan minyak tanah.
“Dulu kalau malam harus pakai damar dari minyak tanah. Mencari minyak tanah juga susah, harus pergi jauh. Sekarang dengan listrik lebih mudah, rumah jadi lebih terang dan nyaman,” katanya.
Meski menikmati manfaat listrik, masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih tetap menolak rencana proyek geothermal di Sobang. Warga khawatir aktivitas eksplorasi dan pembangunan akan merusak lingkungan yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
“Kami tetap menolak. Takutnya merusak lingkungan yang sekarang masih asri,” ujar Juan.
Menurut dia, kekhawatiran terbesar warga terletak pada potensi kerusakan sumber air bersih serta dampak kesehatan yang mungkin muncul akibat aktivitas geotermal. Kekhawatiran itu muncul setelah warga mempelajari dampak proyek serupa di daerah lain.
“Kami lihat dari daerah lain ada dampak negatifnya. Takutnya di Sobang juga terjadi seperti itu,” tuturnya.
Di tengah perubahan zaman, masyarakat adat Kasepuhan Pasir Eurih masih mempertahankan berbagai tradisi leluhur. Salah satunya ialah Ngarengkong, ritual mengangkut padi hasil panen dari sawah ke lumbung adat (leuit) menggunakan pikulan bambu yang disebut rengkong.
Bagi Juan, tradisi dan alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat. Karena itu, ia menilai pembangunan tidak seharusnya menghilangkan keseimbangan yang selama ini mereka jaga. “Yang penting hutan tetap terjaga. Prinsip masyarakat adat itu hutan hejo, masyarakat ngejo,” tutupnya.
Artikel berjudul “Listrik Membantu, Adat dan Hutan Tetap Nomor Satu,” yang ditulis oleh jurnalis warga, Ukat Saukatudin ini kali pertama terbit di surosowan.id. Redaksi menerbitkan ulang artikel warga untuk memberi ruang kepada masyarakat agar ikut berkontribusi dalam penyebaran informasi. Penerbitan artikel ini dilakukan setelah melakukan verifikasi fakta, pengecekan sumber, penyuntingan bahasa, dan pemeriksaan etika serta hukum pers.



