Bisakah Masyarakat Adat Berperan dalam Liputan Investigasi?

Penelitian sejarah sangat penting di negara yang berusaha mengubur bab-bab gelap sejarahnya, kata jurnalis Trina Roache. (Gambar: Courtesy of Roache)
Penelitian sejarah sangat penting di negara yang berusaha mengubur bab-bab gelap sejarahnya, kata jurnalis Trina Roache. (Gambar: Courtesy of Roache)

Jurnalis yang berasal dari komunitas masyarakat adat banyak terlibat dalam liputan investigasi. Mereka berhasil menggali berbagai isu penting. Mulai dari kematian dalam tahanan, pemindahan paksa, hingga kehadiran suku-suku palsu.

Hal tersebut disampaikan Suzanne Dredge, Produser Australian Broadcasting Corporation Investigations saat memoderatori sesi panel di Global Investigative Journalism Conference ke-12 (#GIJC21). Dredge adalah perempuan asal Wiradjuri, suku yang merupakan bagian dari masyarakat Aborigin di Australia.

“Liputan investigasi soal masyarakat adat itu penting. Kita membutuhkan lebih banyak jurnalis dan organisasi media untuk memperhatikan masalah sistemik yang mempengaruhi mereka di seluruh dunia,” ujarnya.

Dalam sesi yang dipimpin Dredge, tiga jurnalis yang berasal dari komunitas masyarakat adat bercerita soal investigasi yang mereka lakukan. Mereka berasal dari Kanada, Australia, dan Amerika Serikat.

 

Sejarah yang direka di Kanada

Trina Roache, Jurnalis Video dari suku Mi’kmaw asal Kanada, mengungkap potret kelam Kanada melalui liputan mengenai sekolah residensial yang diperuntukkan bagi anak-anak dari masyarakat adat dan beroperasi sejak 1883 hingga 1996.

Liputannya menyoroti kuburan lebih dari seribu anak-anak yang ada di sekitar lokasi sekolah. Ia menggambarkan sekolah tersebut sebagai kamp konsentrasi untuk anak-anak dari komunitas masyarakat adat.

Roache mengatakan bahwa catatan sejarah merupakan sumber penting bagi jurnalis investigasi yang ingin mengungkap pelanggaran yang dilakukan negara. Berbekal hal tersebut, jurnalis bisa menggali detail gelap sejarah yang ingin dikubur oleh negara.

“Keputusan yang dibuat di masa lalu akan berlanjut hingga hari ini. Sejujurnya, Kanada memiliki kisah rekaan yang mendistorsi kenyataan, terutama soal masyarakat adat,” kata Roache.

Tiga jurnalis yang berasal dari komunitas membagikan pengalamannya di GIJC21.
Tiga jurnalis yang berasal dari komunitas membagikan pengalamannya di GIJC21.

Teranyar, ia menggarap liputan soal efek jangka panjang dari pemindahan paksa terhadap Mi’kmaq, penduduk asli yang bermukim di Quebec, Kanada. Untuk menggarap liputannya yang ditajuki Uprooted, Roache mengandalkan berbagai sumber. Mulai dari dokumen Indian Affairs RG10, arsip dan kepustakaan pemerintah Kanada, hingga debat di parlemen. Ia juga mendapatkan catatan gereja yang sulit didapat karena lembaga keagamaan yang mengelola sekolah residensial biasanya menolak memberikan akses terhadap dokumen tersebut .

Selain ketekunan menghadapi tumpukan dokumen, Roache menyarankan reporter untuk menelusuri arsip dengan menggunakan fokus pada satu pertanyaan khusus. Namun, lanjutnya, jangan sampai terlalu tenggelam dalam dokumen karena banyak cerita menarik yang bisa didapat dari sumber lainnya.

“Arsip adalah kata-kata di atas kertas. Usahakan untuk bicara dengan banyak orang karena mereka bisa membantumu menajamkan perspektif,” katanya. 

 

Basis data ketidakadilan di Australia

Pemerintah Australia memang telah berhenti menghitung berapa banyak orang yang sekarat dalam tahanan, tetapi laporan koroner menunjukkan bahwa banyak dari tahanan yang meninggal karena dua alasan sama: masalah medis dan melukai diri sendiri. Satu hal menarik lainnya: masyarakat adat jauh lebih mungkin meninggal dalam tahanan.

“Kami tahu ada sesuatu yang salah. Ketika menyadari bahwa tidak ada data yang tersimpan, kami pikir kami harus membuat basis data sendiri” ujar Lorena Allam, reporter The Guardian Australia.

Allam adalah perempuan suku Gamilaraay yang merupakan bagian dari masyarakat Aborigin. Ia telah memenangkan banyak penghargaan jurnalistik bergengsi.

Tim liputan yang dipimpin Allam menghabiskan beberapa bulan untuk memeriksa setiap laporan koroner yang terkait dengan kematian tahanan sejak 2008. Mereka menganalisis 37 poin yang ada dalam dokumen tersebut, termasuk membandingkan kematian tahanan masyarakat adat dengan non-masyarakat adat yang terjadi pada periode 2010 hingga 2015.

Peta yang menunjukkan berbagai kasus pembantaian masyarakat adat di Australia. (Gambar: Tangkapan layar peta interaktif “Colonial Frontier Massacres in Australia, 1788-1930” yang dikelola University of Newcastle)
Peta yang menunjukkan berbagai kasus pembantaian masyarakat adat di Australia. (Gambar: Tangkapan layar peta interaktif “Colonial Frontier Massacres in Australia, 1788-1930” yang dikelola University of Newcastle)

Basis data tersebut merupakan bagian dari proyek liputan Deaths Inside yang pertama kali dirilis pada 2018. Liputan tersebut terus diperbarui seiring data yang terus bertambah. Beberapa temuan terbarunya:

Liputan ini memicu protes masyarakat dan memaksa pemerintah membentuk satuan tugas khusus untuk melakukan penyelidikan. Allam mengungkapkan kemarahan dan rasa frustrasinya lantaran pemerintah telah menutupi kematian dalam tahanan yang terjadi selama 30 tahun dan masih terus terjadi hingga sekarang. 

“Masyarakat berharap kami akan terus menceritakan kisah ini. Sistem penahanan di Australia adalah salah satu masalah terbesar yang kami hadapi,” tambahnya.

 

Mengungkap cerita tersembunyi di AS

Global Investigative Journalism Network (GIJN) mengundang jurnalis dari masyarakat adat untuk menghadiri GIJC ke-11 di Hamburg, Jerman pada 2019. Dalam helatan tersebut, terbersit gagasan untuk membentuk jaringan internasional berisikan reporter investigasi dari komunitas masyarakat adat.

Dua tahun berselang, mereka membuat terobosan dengan melalui The Anti-Indigenous Handbook. Proyek liputan ini melibatkan reporter berlatar belakang masyarakat adat dari The Aboriginal Peoples Television Network, Guardian Australia, High Country News, dan Texas Observer. Mereka berkolaborasi dengan Indigenous Investigative Collective dan Economic Hardship Reporting Project. 

BINGO: Reporting in Indian Country Edition merupakan perangkat untuk mengidentifikasi penggunaan kiasan atau stereotip dalam liputan mengenai masyarakat adat. (Gambar: Native American Journalists Association)
BINGO: Reporting in Indian Country Edition merupakan perangkat untuk mengidentifikasi penggunaan kiasan atau stereotip dalam liputan mengenai masyarakat adat. (Gambar: Native American Journalists Association)

Liputan tersebut mendokumentasikan beberapa cara paling umum yang dilakukan organisasi antimasyarakat adat dan simpatisan mereka untuk melemahkan hak kolektif masyarakat adat. Beberapa kelompok di Montana, Amerika Serikat misalnya, dibentuk untuk menghilangkan wilayah masyarakat adat di negara bagian tersebut. Kelompok-kelompok tersebut juga berusaha menghancurkan Bureau of Indian Affairs melalui tuntutan hukum dan pertarungan di pengadilan. Beberapa organisasi lingkungan beranggotakan warga kulit putih bahkan secara aktif membentuk narasi bahwa masyarakat adat tidak mampu menjaga kelestarian lingkungan.

“Berkat dukungan dari GIJN, jurnalis masyarakat adat dari seluruh dunia berkumpul dan mendiskusikan ide-ide yang potensial digarap,” kenang Tristan Ahtone, anggota suku Kiowa dan editor-at-large di Grist. 

Ahtone, yang juga membantu penyusunan GIJN/NAJA Guide for Indigenous Investigative Journalists, terlibat dalam liputan mengenai kematian anggota masyarakat adat akibat terpapar Covid-19.  Searchlight New Mexico, Indian Country Today, dan High Country News berkolaborasi untuk menggarap topik tersebut.

Ide liputan berawal dari berita mengenai tingginya tingkat kematian di kalangan suku Navajo pada puncak pandemi di AS. Namun, berita-berita tersebut hanya menghitung kematian yang terjadi di wilayah masyarakat adat. Akibatnya, ribuan kematian lainnya yang terjadi di luar wilayah tersebut, tidak diperhitungkan. 

Tim liputan kemudian berusaha menghitung tingkat kematian akibat Covid-19 yang sebetulnya. Namun, mereka terhalang oleh ditolaknya permohonan informasi publik oleh pejabat di empat negara bagian tempat suku Navajo banyak bermukim. Kerahasiaan data pribadi jadi alasannya.

“Ketika keempat negara bagian menolak permohonan, kami tahu kalau situasi sebenarnya punya dampak nasional. Jika kita tidak bisa mendapatkan dokumen tersebut untuk memeriksa dampak COVID-19, maka tidak mungkin mendapatkan informasi apapun yang dapat memberikan perspektif umum tentang bagaimana pandemi mempengaruhi 576 negara bagian di seluruh AS,” katanya.

Hasil liputan diterbitkan di High Country News dan dijuduli A Broken System: The Number of Indigenous People Who Died from Coronavirus May Never be Known. Salah satu catatan penting dalam liputan tersebut adalah: “jumlah kematian anggota masyarakat adat, tidak peduli bagaimana mereka meninggal, sangat tidak akurat. Mengoreksi catatan kematian tidak mungkin tanpa sistem terpadu yang mampu melacak masalah kesehatan di komunitas masyarakat adat dan peraturan yang mewajibkan dicantumkannya kewarganegaraan, ras, dan etnis masyarakat adat secara akurat dalam sertifikat kematian.”

Liputan lain yang pernah digarap Ahtone dan High Country News adalah Land-Grab Universities. Ia mengungkap proses pengambilalihan 10,7 juta hektar lahan dari hampir 250 suku dan komunitas. Lahan tersebut digunakan untuk membangun universitas di seluruh Amerika Serikat. Investigasi ini melibatkan basis data geografi khusus yang memetakan sekitar 80.000 bidang tanah di 24 negara bagian.

Ahtone mengatakan bahwa keberhasilan investigasi ini hanya mungkin dicapai dengan melibatkan masyarakat adat. 

“Tidak ada liputan investigasi tentang komunitas masyarakat adat yang etis digarap tanpa melibatkan mereka untuk melaporkan, memotret, atau menyunting liputan itu,” tekan Ahtone. (Penulis: Santiago Villa; Penyadur: Reka Kajaksana)

 

Artikel lain:


Tulisan ini disadur dari Indigenous Journalists Lead on Groundbreaking Investigations yang dipublikasikan Global Investigative Journalism Network (GIJN). Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda bisa menggunakan tombol republish di bawah artikel ini atau menghubungi [email protected].

Republication

Creative Commons License

Republish our articles for free, online or in print, under a Creative Commons license.

Previous articleKisah Sukses Kolaborasi Jurnalis di Asia
Next articleMenanti Komitmen Cegah Normalisasi Politik Identitas pada 2024