Kerusuhan 21-22 Mei 2019 bertepatan dengan bulan Ramadan. Mereka yang ditangkap polisi karena diduga terlibat kerusuhan, menjalani bulan suci di balik jeruji.

 Ibu jari dan pandangan Arman, bukan nama sebenarnya, tertuju pada layar telepon genggam. Saat itu, 22 Mei 2019 sekitar pukul 08.00 WIB. Ia kesal. Sebab sudah berkali-kali memesan taksi online, tak satupun pengemudi yang bersedia menjemputnya di Rumah Sakit Pelni, Petamburan, Jakarta Barat.

Tak habis akal, ia kemudian menumpang mobil milik sebuah lembaga kemanusian agar dapat segera meninggalkan rumah sakit yang terletak tak jauh dari Asrama Brigade Mobil, Petamburan. Namun tak sampai 100 meter berkendara, mobil yang ditumpangi Arman dihadang Brimob. “Ini dia yang mau kabur,” ujar Arman mengulangi teriakan seorang polisi.

Mereka lantas membuka mobil dengan paksa. Kemudian menarik Arman dan menyeretnya ke bagian depan asrama Brimob Petamburan. Di sana, ia menyaksikan puluhan orang lain mendapat perlakuan serupa: ditendang dan dipukul.

“Mereka nggak mau dengar alasan. Langsung digebukin saja,” kata Arman kepada Jaring.id dan Tempo, Selasa, 2 Juli 2019.

Dalam kondisi tak bisa melawan, laki-laki usia 36 itu dibawa ke Kepolisian Resor Jakarta Barat dengan mata dan tangan dibebat lakban berwarna hitam. Dalam perjalanan gelap di siang hari itu, Arman menahan nyeri bekas pukulan, tendangan pada tubuh, juga kepala. Entah pukulan mana yang membuat pelipis matanya sobek mengucurkan darah.

“Sampai sekarang masih berbekas,” ujarnya sambil menunjukkan bekas luka.

***

 Angga Prayoga (22) mengalami perlakuan serupa saat diperiksa di Polres Jakarta Barat. Ia mengaku diperiksa sekitar 6 jam, mulai Rabu, 22 Mei 2019 pukul 20.00 WIB hingga Kamis, 23 Mei 2019 sekitar Pukul 02.00 WIB.

Ia dipukul dengan sepatu dan penggaris besi ketika menjalani pemeriksaan. Menurutnya, hal tersebut dilakukan polisi selepas dirinya menjawab pertanyaan mengenai alasannya berada di lokasi kerusuhan pada Rabu pagi 22 Mei 2019.

Lokasi yang dimaksud adalah jalan KS. Tubun, rute yang biasa diambil Angga untuk menuju ruko tempatnya bekerja di kawasan Tanah Abang.

“Sejujurnya nggak tahu (ada kerusuhan). Saya lanjut ke arah masjid An-Nur, lewat situ bisa,” ujarnya kepada Jaring.id dan Tempo, Selasa, 22 Juli 2019.

Angga menghentikan laju motornya ketika melihat kumpulan aparat di depan Masjid An-Nur, Petamburan. Ia sempat bertanya jalan yang bisa dilaluinya untuk menuju Tanah Abang.

Niatnya berangkat kerja berubah jadi mimpi buruk ketika seorang polisi memintanya membuka jaket. Tato di masing-masing lengannya memancing kecurigaan polisi.

“Ini biang keroknya,” ujar Angga menirukan ucapan polisi ketika itu.

Mula-mula ia tenang saja. Ia yakin tak bersalah dan bakal segera dilepaskan. Namun, percaya dirinya surut seketika saat ia dihadapkan kepada para jurnalis sebagai tersangka. Ada satu kesamaan dari mereka yang dibariskan polisi dengan Angga, yakni semua bagian tubuh tersangka dirajah tato.

Angga hanya menunduk di depan sorot kamera jurnalis. Polisi lantas menyuruhnya mengangkat wajah.

“Hanya karena tatoan, (saya) disuruh paling depan. Pas paling depan saya mau dihantam pakai senjata gara-gara nunduk,” ia menerangkan.

***

Rere, bukan nama sebenarnya, dilanda khawatir sejak panggilan teleponnya tak juga diangkat Angga, kekasihnya, sejak Rabu siang, 22 Mei 2019. Pesan singkat yang dikirimnya melalui WhatsApp juga baru terkirim pukul 10 malam. Pembatasan yang dilakukan pemerintah hari itu memang membuat lalu-lintas pesan tak mulus.

Menjelang tengah malam, Angga tak kunjung berkabar. Rere tak tinggal diam dan berusaha menghubungi famili Angga untuk cari tahu.

“Saya langsung (hubungi) saudaranya. Bilang pada nggak ada semua,” ujarnya, Selasa, 22 Juli 2019.

Kekhawatiran Rere sedikit menyusut setelah wajah Angga yang tertangkap bidikan kamera didapatinya pada sebuah situs berita daring pada Kamis, 23 Mei 2019. Ia bergegas menuju Polres Jakbar untuk menemui sang kekasih.

Waktu belum berpihak, ia tak berhasil bertemu langsung dengan Angga saat berkunjung pada Kamis, Jumat, dan Sabtu. Polisi menyarankannya kembali pada Senin, 27 Mei 2019.

Pada awal pekan minggu terakhir bulan Mei 2019, air mata Angga menetes saat dihadapkan pada wajah kekasihnya. Sudah lima hari Ramadan mereka dipisahkan jeruji besi.

***

Ibunda Joni, yang enggan disebutkan namanya, terkesiap. Janji anaknya untuk mudik Sabtu, 25 Mei 2019 gagal terlaksana. Joni ditangkap polisi saat berada di sekitar kawasan Sarinah, tiga hari menjelang kepulangannya.

“Iya itu, dipukulin pakai pentungan. Setiap lewat Brimob dipukulin. Ada satu orang yang memeluk, bapak-bapak. Kalau nggak ditolongin sudah pasrah deh,” ujarnya mengulangi pengakuan Joni, kepada Jaring.id dan Tempo, Senin, 1 Juli 2019.

Setelah ditangkap, Joni digiring ke sekitar Gedung Bawaslu, Jakarta Pusat. Ia kemudian dibawa ke Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan. Selanjutnya, Joni menjalani Ramadan di  Panti Sosial Marsudi Handayani, Cipayung, Jakarta Timur.

Sepekan setelah ditahan, Ibunda Joni mendapati pukulan yang diterima anaknya  meyebabkan kepala sebelah kiri benjol. Selain itu, ada empat jahitan di kepala.

“Kalaupun dia mau ditangkap, tangkap saja. Nggak usah dipukulin. Kan ditanya dulu ngapain (dia) ikut, mereka (polisi) kan nggak tahu,” keluhnya meradang.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo tak menyangkal kemungkinan penggunaan kekerasan oleh polisi saat penangkapan dan penyidikan.

“Kalau penyidikan yang dilakukan oleh sekian ratus orang, itu kecil kemungkinan (terjadi kekerasan) karena mengejar waktu. Kalau penangkapan secara global, tidak menutup kemungkinan (ada kekerasan),” ujar Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo kepada Jaring.id dan Tempo. (Tim Jaring.id)