Investigasi dengan Menyamar

Ilustrasi: Smaranda Tolosano
Ilustrasi: Smaranda Tolosano

Panduan ini ditulis oleh Nikolia Apostolou, direktur Resource Center GIJN, dan Rowan Philp, reporter GIJN. Penyuntingan oleh Reed Richardson dan Laura Dixon. Ilustrasi oleh Smaranda Tolosano.

 

Investigasi dengan menyamar telah menghasilkan karya jurnalistik yang luar biasa dan berdampak besar. Di negara yang tidak memiliki peraturan transparansi catatan publik atau undang-undang perlindungan narasumber yang kuat, penyamaran dapat menjadi salah satu dari sedikit cara bagi reporter untuk mengungkap cerita mengenai kepentingan publik.

Panduan GIJN ini memberikan saran dari jurnalis investigasi berpengalaman dan memberikan studi kasus yang relevan dari seluruh dunia. Di sisi lain, panduan ini juga menyoroti kesalahan-kesalahan yang dibuat para reporter dan banyaknya pertimbangan etik yang harus dipikirkan sebelum reporter melakukan investigasi dengan menyamar.

 

Panduan ini terdiri atas bagian-bagian berikut:

Sebelum memulai penyamaran, jurnalis harus mempelajari seluruh kerangka hukum dan kebudayaan di negaranya perihal merekam tanpa izin. Di berbagai belahan dunia, reporter berpotensi berurusan dengan tuntutan hukum yang berlarut-larut, penahanan oleh pemerintah, dan bahkan kekerasan fisik karena merekam secara sembunyi-sembunyi atau mengambil gambar orang lain tanpa sepengetahuan yang bersangkutan.

Buku “Undercover Reporting: The Truth About Deception” yang ditulis oleh NYU professor Brooke Kroeger (Gambar: tangkapan layar)
Buku “Undercover Reporting: The Truth About Deception” yang ditulis oleh NYU professor Brooke Kroeger (Gambar: tangkapan layar)

“Operasi penyamaran ini memerlukan biaya besar, memakan waktu berbulan-bulan, membuat stres, dan mewajibkan pemeriksaan dokumen hukum secara lengkap, jadi Anda benar-benar harus memikirkannya dengan matang,” ujar Brooke Kroeger, dosen di New York University dan penulis buku Undercover Reporting: The Truth about Deception. “Akan tetapi, dalam sejarahnya, dampak dari cerita-cerita ini, jika berhasil, sangat luar biasa. Dan cerita-cerita inilah yang kita kenang.”

Meski demikian, investigasi dengan menyamar memiliki berbagai risiko. Mulai dari kualitas liputan yang buruk, tuntutan hukum, hingga terkikisnya kepercayaan masyarakat terhadap pers. Peter Murimi, sutradara dan produser asal Kenya di BBC Africa Eye, menyebutkan bahwa keselamatan merupakan hal terpenting saat jurnalis mempertimbangkan operasi penyamaran. 

“Jika Anda tidak dapat melakukannya dan menjaga keamanan semua orang — kendala ini akan menghalangi prosesnya. Anda harus memastikan keselamatan pembocor rahasia dan kontributor Anda setelah pekerjaan selesai. Begitu pun dengan keselamatan kru,” jelasnya.

 

Kiat Praktis

Investigasi dengan menyamar bisa menjadi cara mengumpulkan bukti yang paling berbahaya dan menyulitkan. Oleh sebab itu, banyak kantor berita besar seperti BBC telah menetapkan pedoman yang jelas tentang cara melakukan peliputan dengan penyamaran.

Selama lebih dari 20 tahun, seorang jurnalis India bernama Aniruddha Bahal telah melakukan penyamaran saat meliput. Pertama, di majalah yang dia dirikan bersama rekannya, yaitu Tehelka. Praktik ini terus ia lakukan ia bersama Cobrapost, anggota GIJN yang dia dirikan sejak 2005.

Sejak memublikasikan cerita penyamaran pertama tentang pengaturan pertandingan oleh pemain kriket pada tahun 2000, Bahal dan timnya memiliki pengaruh yang besar. Contoh utama dari pembongkaran kasus yang mereka lakukan dengan penyamaran telah membuat sebelas anggota parlemen India mengundurkan diri setelah diduga terekam kamera sedang menerima suap untuk mengajukan pertanyaan di parlemen.

Namun, jauh sebelum memutuskan untuk melakukan investigasi dengan menyamar, tim Cobrapost telah memeriksa aspek-aspek berikut: “Nomor satu, kami harus selalu terlebih dahulu memiliki informasi tentang tendensi orang-orang tersebut untuk melakukan perbuatan terlarang,” jelas Bahal. “Investigasi ini harus jelas arah dan tujuannya. Nomor dua, jika tidak ada dokumen untuk memperoleh cerita … satu-satunya cara adalah dengan kamera tersembunyi.”

Bahal dan timnya juga menilai apakah cerita yang bakal mereka angkat terkait dengan kepentingan publik. “(Selama 20 tahun) belum ada satu pun pihak yang mengatakan bahwa cerita kami bukan untuk kepentingan umum,” catat Bahal. Meski demikian, dia memperingatkan bahwa penggunaan kamera tersembunyi, jika tidak digunakan secara profesional, dapat berujung menjadi cerita sensasi, dan kasus seperti ini sering terjadi di India.

Pada akhir tahun 2000-an, investigasi dengan menyamar marak dilakukan. Sekitar 600 saluran TV berita di negara tersebut mulai memproduksi banyak cerita dengan kamera tersembunyi. Bahal meyakini bahwa dari sinilah penyamaran dalam liputan mendapatkan reputasi buruk. 

“Cerita yang dibuat asal-asalan dan sulit dipastikan apakah untuk kepentingan umum pun mulai mengaburkan bidang ini,” jelas Bahal. “Namun sekarang, keadaan telah berubah. Jarang ada orang yang menggunakan kamera tersembunyi.”

BBC Africa Eye mendesak reporternya untuk memikirkan konsekuensi dengan matang sebelum usulan untuk melakukan penyamaran dalam liputan mendapat persetujuan redaksi. “Adakah cara lain untuk mengangkat cerita ini?” tanya Murimi, saat membahas bagaimana BBC Africa Eye menjajaki ide cerita baru. “Penyamaran harus menjadi pilihan terakhir, tidak seharusnya menjadi opsi pertama yang Anda ambil …. Apa kepentingan umumnya? Jika tidak ada kepentingan umum, upaya itu sebenarnya tidak layak.”

Langkah tim selanjutnya — sama seperti penyelidikan lainnya — adalah mengumpulkan alat bukti yang konkret (prima facie evidence). Tanpa bukti tersebut, tim sebaliknya berpotensi membuat cerita yang terkesan seperti pembunuhan karakter. “Harus ada dokumentasi yang sangat spesifik dan sangat terperinci bahwa orang atau institusi yang Anda investigasi benar-benar melakukan pelanggaran yang harus diketahui masyarakat umum dan harus diungkap,” tegas Murimi.

Tugas penting lainnya: selidiki apakah semua orang yang berpartisipasi dalam tim peliputan dapat dijaga keselamatannya. Jika aspek ini tidak bisa dijamin, upaya operasi penyamaran BBC dapat terhalang. Terkadang, kelompok investigasi akan membawa orang luar untuk membantu peliputan jika mereka mengenal masyarakat setempat dengan baik, tetapi tidak tinggal di sana. Cara ini memberikan keselamatan dan keamanan dalam jangka panjang bagi mereka yang berpartisipasi setelah cerita dipublikasikan.

Meski sering diabaikan, rencana komunikasi juga diperlukan untuk memastikan keselamatan bagi mereka yang menyamar. Bagaimana caranya agar orang yang merekam dapat memberi tahu tim terdekat jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Kadang-kadang, komunikasi bisa dilakukan melalui ponsel, tetapi BBC juga menggunakan alat tombol panik sederhana yang langsung memicu anggota tim lainnya untuk mengakhiri pengecohan atau mengalihkan perhatian.

Langkah terakhir sebelum merekam “sebenarnya adalah menggarap naratif cerita tersebut,” jelas Murimi. “Bagaimana pengambilan gambarnya, apa saja adegan yang Anda butuhkan, dan apa saja yang perlu terjadi baik dari segi investigasi maupun dari segi pengambilan gambar?”

Sebelum babak penyamaran dalam investigasi dimulai, para ahli merekomendasikan pemeriksaan alat bukti lainnya secara komprehensif guna memahami pihak yang terlibat dan persisnya apa yang akan disumbangkan peliputan klandestin tersebut untuk cerita yang dibuat. (Ilustrasi: Smaranda Tolosano)
Sebelum babak penyamaran dalam investigasi dimulai, para ahli merekomendasikan pemeriksaan alat bukti lainnya secara komprehensif guna memahami pihak yang terlibat dan persisnya apa yang akan disumbangkan peliputan klandestin tersebut untuk cerita yang dibuat. (Ilustrasi: Smaranda Tolosano)

Seorang produser perempuan lainnya untuk BBC Africa Eye yang berkeliling Afrika untuk melatih pelaku operasi penyamaran (dan karenanya, dia ingin tetap anonim) menjelaskan bahwa investigasi dengan menyamar “tidak seeksotis yang terlihat, karena 80%-nya adalah kerja konvensional dan menyeluruh dengan sumber informasi, kerja intel, dan kerja tulis-menulis dokumen, dan kemudian sisa 20%-nya adalah bagian yang membuahkan hasil. Akan tetapi, jika tidak ditopang oleh fondasi kerja konvensional yang sangat kuat ini, teknik peliputan ini tidak akan berhasil.”

Kedua produser BBC sepakat bahwa perekaman secara rahasia akan optimal ketika beban tuduhan perlu diangkat dari pundak narasumber dan ketika sulit untuk mendokumentasikan pelanggaran, sebagaimana dalam kasus pelecehan seksual atau rasisme. Mereka menerapkannya dalam film dokumenter BBC Africa Eye Sex for Grades dan Racism for Sale.

Beberapa cerita penyamaran yang paling berbahaya — dan umum — bersangkutan dengan investigasi tindakan kriminal. Jurnalis asal Nigeria bernama Tobore Ovuorie, yang menyamar untuk Premium Times dari Nigeria guna membongkar kasus perdagangan perempuan Afrika ke Eropa, menyampaikan kepada GIJN tentang apa saja yang harus dipikirkan dan direncanakan oleh jurnalis yang menyamar:

 

Persiapan

  • Lakukan riset pendahuluan secara komprehensif, tidak hanya mengenai apa dan siapa yang Anda investigasi, tetapi proses yang akan Anda gunakan untuk mencapai tujuan peliputan. Beberapa di antaranya: memetakan tempat yang akan Anda kunjungi, bagaimana Anda akan masuk (jika akses terbatas), dengan siapa, kapan, dan mengapa.
  • Jangan mengungkapkan kepada siapa pun selain anggota tim Anda bahwa Anda melakukan penyamaran, termasuk kepada keluarga, teman, atau rekan kerja lainnya.
  • Langkah-langkah keselamatan yang diterapkan harus mencakup rencana evakuasi, tim penyelamat, uang yang cukup untuk keadaan darurat, media komunikasi yang efektif dengan redaktur Anda, dan alat pelacak untuk skenario penyamaran yang ekstrem, misalnya membaurkan diri dalam komplotan perdagangan manusia.
  • Cari nasihat hukum yang baik sebelum Anda memulai operasi penyamaran. Anda juga mungkin membutuhkan pengacara untuk menangani masalah. Mintalah mereka untuk siap siaga selama babak penyamaran dalam peliputan, sebab mungkin terjadi keadaan darurat yang membutuhkan layanan mereka. Tergantung bagaimana hubungan Anda dengan pengacara ini, Anda bisa mendapatkan bantuan hukum ini secara gratis.

 

Kiat Operasi Penyamaran

  • “Setelah mengidentifikasi berbagai kelompok/orang yang Anda butuhkan dan memetakan tiap tahap penyamaran Anda, mulailah ‘berakting’ dengan mereka,” kata Ovuorie. “Meski harus sangat tertutup, Anda juga perlu bersikap sederhana dan ramah. Siapkan diri untuk mengikuti permainan mereka, tetapi jangan memberikan detail penting dan amati mereka dengan saksama. Langkah Anda tidak boleh mudah ditebak.”
  • “Lengkapi diri dengan alat perekam rahasia, tetapi yang pasti, bukan pena atau jam tangan, karena alat ini mudah dideteksi oleh pelaku kriminal. Pastikan alat yang Anda gunakan cukup terisi daya dan dalam kondisi prima,” ujarnya.
  • “Selalu percaya dengan insting Anda dan jangan pernah putus asa dalam menyelesaikan cerita,” ujar Ovuorie memperingatkan. “Tentukan seberapa jauh Anda ingin melangkah dan jangan pernah mengharapkan semuanya berjalan sesuai dengan rencana yang Anda tulis. Mungkin ada kejutan yang sudah mengintai.” 
Jurnalis asal Polandia bernama Patryk Szczepaniak menulis tentang pengalamannya meliput dengan cara menyamar untuk GIJN pada tahun 2019. (Gambar: Tangkapan Layar)
Jurnalis asal Polandia bernama Patryk Szczepaniak menulis tentang pengalamannya meliput dengan cara menyamar untuk GIJN pada tahun 2019. (Gambar: Tangkapan Layar)

Setelah kembali ke ruang redaksi, Ovuorie menyarankan rekan kerjanya untuk mewaspadai kemungkinan dampak operasi penyamaran terhadap reporter, khususnya potensi konsekuensi terkait kesehatan mental. Dia menyarankan agar tim memastikan ada orang yang secara rutin memeriksa keadaan jurnalis yang terdampak dan memiliki cukup pemahaman tentang gangguan stres pascatrauma (PTSD). 

Membongkar pelanggaran dalam industri makanan adalah salah satu cerita penyamaran lainnya yang umum dilakukan. Jurnalis asal Polandia bernama Patryk Szczepaniak, yang bekerja untuk program investigasi Superwizjer di TVN Discovery Poland, sebelumnya menulis tentang pengalamannya melakukan investigasi dengan menyamar sebagai tukang jagal.

Saran dari Szczepaniak antara lain:

  • “Pengaturan latar cerita. Tokoh terbaik dikembangkan dari peristiwa, emosi, dan riwayat yang nyata. Manfaatkan ingatan dan pengalaman dari masa lalu Anda sendiri untuk membuat cerita yang autentik,” ucapnya.
  • “Bohong …. Saran saya adalah lebih baik berkata-kata sesedikit mungkin. Hafalkan cerita Anda dan bersiap-siaplah kapan pun orang lain mengujinya,” ujar Szczepaniak memperingatkan.
  • “Jejak digital. Hapus semua yang Anda bisa dari internet, termasuk semua media sosial. Profil perlu dihapus dan, jika perlu, diganti dengan yang baru. Lakukan dengan saksama, jauh-jauh hari sebelum penugasan,” sarannya. “Belajar dari kesalahan saya: Saya meninggalkan salah satu foto lama saya yang muncul dengan nama asli saya di halaman keenam pencarian gambar Google. Foto ini membuat saya ketahuan dan, pada saat bekerja shift malam sekitar pukul 3 pagi, saya diminta ke kantor bos saya ‘untuk menandatangani kontrak.’”
  • “Mengubah penampilan. Mencukur, menumbuhkan, atau mengecat rambut; memotong atau menumbuhkan jenggot; menumbuhkan atau memotong kumis — sangat berguna untuk memperhatikan baik-baik penampilan luar Anda, begitu juga dengan isi lemari pakaian Anda,” ujarnya. “Jika pakaian tidak cocok dengan cerita Anda, belilah pakaian yang baru, termasuk kaus kaki dan pakaian dalam.”
  • “Mengubah kepribadian. Beradaptasilah dengan lingkungan Anda. Jika menyamar di lingkungan akademik, bersikap dan berbicaralah layaknya seorang akademisi. Jika masuk ke rumah jagal, bersikaplah dan berbicaralah layaknya tukang jagal. Jika menyelidiki jaringan kriminal, bersikap dan berbicaralah layaknya seorang kriminal,” tegasnya.
  • “Riset. Pelajari apa pun yang Anda bisa mengenai tugas Anda,” kata Szczepaniak. “Saya menonton banyak film dokumenter tentang industri pengemasan daging dan beberapa video yang keji di LiveLeak serta YouTube mengenai kekerasan terhadap hewan.”
  • “Kartu identitas. Memalsukan kartu identitas merupakan bentuk kejahatan di Polandia, jadi kami memutuskan untuk tidak melakukannya selama penugasan saya, dan lagi pula praktik ini tidak terlalu diperlukan,” katanya.
  • “Mengamati dan mendokumentasikan. Keduanya adalah kode etik dasar untuk jurnalisme dengan teknik penyamaran. Anda menyamar untuk mendokumentasikan sistem atau tindakan kriminal, bukan untuk memprovokasi atau membuat-buat suatu keadaan,” catatnya.

 

Alat dan Perlengkapan

Baru beberapa dekade yang lalu, jurnalis harus mencari cara untuk menyembunyikan kamera berukuran besar dalam tas kerja. Sama halnya dengan kamera pada umumnya, biaya dan ukuran alat perekam juga telah berkurang sehingga Anda tidak perlu menghabiskan puluhan hingga ratusan juta untuk melakukan penyamaran. Kamera tersembunyi paling murah dijual seharga dua ratusan ribu rupiah di toko kamera dan situs e-commerce umum lainnya.

“Sejak tahun 2005, (peralatan) mulai dibuat berukuran mini,” jelas Bahal dari Cobrapost. “Saya biasanya tidak membicarakan tentang alat yang kami gunakan, tetapi jika Anda menggunakan perangkat yang menempel di tubuh, Anda akan mengekspos diri Anda apabila digeledah. Lalu, tentu saja, jika Anda menggunakan perangkat tersembunyi yang tidak menempel di tubuh, Anda bisa saja diminta untuk meletakkannya di luar ruangan. Jadi, Anda harus menyeimbangkannya dan memperhatikan siapa yang akan Anda temui.”

Kamera tersembunyi sangat bervariasi; ada kamera di kancing kemeja yang populer dan telah beredar selama beberapa dekade. Akan tetapi, kamera kini bisa disembunyikan hampir di semua tempat: di tali jam tangan, kunci mobil, USB, kacamata, atau pena. Jika Anda perlu meletakkan kamera di ruangan, ada pilihan kamera yang tersembunyi di jam weker, pembersih udara, kotak DVD, penyegar udara, lampu, tanda keluar, dan tentu saja boneka teddy bear.

Anda juga harus memilih apakah kamera untuk digunakan di dalam atau di luar ruangan, apakah kamera harus mobile — dan menggunakan baterai atau colokan — atau memiliki model yang statis dan tersambung aliran listrik.

Saat memilih kamera yang akan digunakan, pastikan resolusi minimumnya 1080 piksel sehingga memberikan kualitas yang memadai untuk video definisi tinggi (HD). 1080 piksel adalah resolusi minimum yang diperlukan untuk sebagian besar stasiun TV. Namun, jika subjek jauh dari kamera, sebaiknya Anda memilih kamera 4K. Maka, Anda dapat memperbesar gambar subjek dalam proses pascaproduksi tanpa kehilangan kualitas definisi tinggi.

Berhati-hatilah, terutama jika Anda menyelidiki pelaku kejahatan terorganisasi atau pihak lainnya dengan anggaran keamanan yang besar. Mereka mungkin memiliki kit kontra-intelijen yang dapat mendeteksi WiFi dari kamera tersembunyi atau menonaktifkan semua perangkat perekam dengan membuat medan elektromagnetik. Pastikan Anda meriset semua bentuk pengamanan yang mungkin dilakukan oleh target sebelum Anda beraksi dengan kamera tersembunyi.

Reporter harus berhati-hati dalam merencanakan taktik penyamaran dan memahami betul cara mengoperasikan semua perangkat perekam video atau audio yang tersembunyi. (Ilustrasi: Smaranda Tolosano)
Reporter harus berhati-hati dalam merencanakan taktik penyamaran dan memahami betul cara mengoperasikan semua perangkat perekam video atau audio yang tersembunyi. (Ilustrasi: Smaranda Tolosano)

 

Perihal kode etik

Bruce Shapiro, direktur eksekutif Dart Center for Journalism and Trauma di Columbia University dan juga pakar kode etik jurnalistik, menandaskan bahwa selain risiko hukum dan terkadang kekerasan fisik, investigasi dengan menyamar dapat mendatangkan konsekuensi etik dan reputasi yang signifikan. “Bagi reporter, keharusan untuk berbohong tentang identitas atau tujuannya untuk mendapatkan cerita yang hebat mungkin sudah jelas, tetapi pengelabuan secara sistematis tetap dapat digunakan terhadap Anda untuk menyangsikan motivasi atau karakter Anda,” ujarnya memperingatkan. “Pengelabuan yang sedang berlangsung artinya berkompromi dengan kode etik, dan perlu dilakukan dengan sangat hati-hati sebelum, selama, dan sesudah peliputan dengan teknik penyamaran.”

Saphiro menjabarkan bagaimana jurnalis harus memikirkan masalah kode etik di sepanjang proses peliputan dengan teknik penyamaran.

Sebelum

Sebelum meluncurkan proyek penyamaran, reporter atau tim harus mengajukan tiga pertanyaan dasar:

  • Alternatif: Apakah investigasi dengan menyamar merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh cerita ini — atau semata-mata yang paling praktis? Apakah Anda sudah sepenuhnya memanfaatkan semua informasi sumber terbuka, dokumen publik, narasumber manusia, dan metode lainnya?
  • Analisis biaya-manfaat: Apakah cerita tersebut cukup penting hingga membenarkan metode penyamaran dan sepadan dengan segala potensi masalah yang sulit diselesaikan?
  • Penilaian risiko: Apakah Anda sudah sepenuhnya menjelaskan potensi risiko kepada tim, atasan, dan narasumber Anda? Risiko ini bukan hanya mencakup ancaman kekerasan fisik dan konsekuensi hukum, tetapi juga stres psikologis yang intens bagi orang yang melakukan investigasi dengan menyamar, risiko reputasi ketika metode Anda diketahui secara luas, dan kemungkinan konsekuensi negatif kepada narasumber Anda.

Saat Penyamaran

Saat Anda bekerja sebagai reporter investigasi seorang diri maupun sebagai anggota tim, menyamar adalah pekerjaan yang sangat membuat stres, dan tantangan etik jarang berujung pada keputusan untuk melakukan penyamaran. Saphiro menjelaskan bahwa mempertahankan peran samaran, khawatir ketahuan, dan menjalani interaksi peliputan setiap hari dapat berdampak buruk pada seseorang.

  • Apa saja dukungan berkelanjutan — baik dari segi hukum, teknis, editorial, maupun psikososial — yang diperlukan selama fase peliputan dengan teknik penyamaran?
  • Bagaimana cara Anda mengetahui kapan saatnya untuk menarik diri, dan apa saja rencana darurat jika penyamaran sudah tidak aman atau mengalami ancaman bahaya lainnya?
  • Selama peliputan dengan teknik penyamaran, evaluasi rutin perlu dilakukan dengan rekan kerja Anda yang tepercaya atau redaktur Anda untuk membicarakan keputusan peliputan sehari-hari yang sulit. Investigasi dengan menyamar menuntut tanggung jawab bersama.

Sesudah

Karena metode peliputan dengan teknik penyamaran menyertakan pengelabuan secara sistematis, cerita akhir Anda nantinya perlu mengimbanginya dengan transparansi yang luar biasa, bahkan radikal, kepada pembaca atau audiens. “Jelaskan secara lengkap keputusan Anda untuk menyamar serta metode yang Anda gunakan,” desak Shapiro. “Maksimalkan atribusi, hindari penggunaan rutin narasumber anonim. Buat pranala ke dokumen dan materi sumber terbuka. Jangan tinggalkan celah bagi target untuk menghancurkan kredibilitas Anda.”

Saphiro sama sekali tidak sendirian. Hampir semua kode etik jurnalistik mendesak insan pers untuk bersikap jujur dan transparan di sepanjang proses peliputan dan menghindari pengelabuan dalam bentuk apa pun.

Larangan terhadap teknik pengelabuan jurnalistik ini mencerminkan risiko yang sangat nyata menyangkut peliputan secara sembunyi-sembunyi dan juga menyoroti reputasi yang umumnya negatif seputar praktik tersebut dalam beberapa tahun terakhir – terutama di media arus utama Barat. Peneliti media menghubungkan reputasi yang kurang tepercaya pada peliputan dengan teknik penyamaran dengan sekumpulan persoalan: operasi tipu daya sembrono dengan kamera tersembunyi oleh media tabloid, pengambilan risiko yang sembarangan oleh media yang makin tidak berpengalaman, kasus jebakan yang langka, penggunaan secara berlebihan yang marak di sejumlah negara, serta penyalahgunaan teknik oleh pelaku operasi politik. Semua faktor ini juga ikut menyebabkan penurunan kepercayaan masyarakat terhadap media.

Nilai dari peliputan secara sembunyi-sembunyi

Di bukunya yang berjudul Undercover Reporting: The Truth about Deception, Brooke Kroeger – dosen jurnalisme di New York University – berpendapat bahwa praktik ini telah dijelek-jelekkan secara semena-mena. Kenyataannya, praktik ini telah mengungguli bentuk jurnalisme lainnya dari segi dampak akuntabilitas dalam 150 tahun terakhir.

Penelitian Kroeger telah diperluas menjadi arsip berisi ratusan “Investigasi secara Sembunyi-Sembunyi” yang sangat berpengaruh – Undercoverreporting.org – melalui kerja sama dengan NYU Libraries. Sebagian besarnya berfokus pada karya dari Amerika Utara.

Kroeger mengatakan bahwa meskipun investigasi dengan menyamar yang dilakukan secara bertanggung jawab terlalu langka dalam beberapa tahun terakhir – dan sering kali dihindari karena alasan yang salah. Akibatnya adalah peluang yang terlewatkan untuk menembus kasus kepentingan umum. Dia menambahkan bahwa teknik ini sangat efektif dalam mengungkap kekerasan dan kondisi kerja yang buruk di lingkungan tempat kerja.

Dia menguraikan lima jenis peliputan secara sembunyi-sembunyi, dan mengatakan bahwa setiap jenis memerlukan pemeriksaan kode etik dan dokumen hukum dengan tingkatan yang berbeda.

  1. Menyamar sebagai pembeli. Kroeger mengatakan bahwa tidak ada hambatan etik bagi seorang reporter yang sekadar meniru pengalaman pelanggan. Misalnya, jurnalis dapat menggunakan jasa servis mobil untuk memeriksa apakah biaya yang dikenakan terlalu mahal. Meskipun prinsip hak jawab jurnalistik normal berlaku sebelum publikasi, dia mengatakan bahwa pemeriksaan khusus tidak diperlukan.
  2. Menguping. Kroeger mengatakan bahwa mendengarkan percakapan – dan menyamarkan peran peliputan agar jurnalis berada dalam jarak pendengaran – dapat dibenarkan, apabila komentar lalai oleh pejabat pemerintah dapat dibuktikan sangat penting dalam cerita untuk kepentingan umum. Namun, nasihat hukum tentang aturan privasi pada tingkat daerah dan negara harus dipahami dengan baik jika jurnalis menggunakan perangkat perekam. Narasumber juga harus diberi kesempatan untuk mengklarifikasi atau menjelaskan komentar mereka, dan audiens harus diberi tahu tentang bagaimana perkataan itu diperoleh.
  3. Lembaga publik. Jurnalis bebas memasuki koridor yang sama yang bisa dikunjungi masyarakat – tetapi Kroeger mengatakan bahwa reporter kadang-kadang perlu diam-diam menyamarkan peran mereka yang sebenarnya untuk menghindari kesulitan dan memperpanjang waktu kunjung mereka di suatu lembaga. Taktik pasif ini, antara lain, menghindari penggunaan kartu pers, tidak secara proaktif menyatakan status sebagai reporter, dan menggunakan pengecohan bernuansa, seperti membawa papan klip atau berpakaian seperti pengunjung biasa lainnya. Namun, dia mengatakan bahwa reporter harus menghindari pengelabuan secara aktif pada kasus semacam ini – seperti mengenakan jas laboratorium dan stetoskop, atau memakai simbol, tato, atau tanda pengenal partisan tertentu. Dia menekankan bahwa reporter pada proyek-proyek ini harus segera mengakui status pers mereka jika secara langsung ditanya atau ditentang. Kroeger mengatakan bahwa metode ini harus menyertakan pembahasan kode etik dan strategi dengan redaktur dan penasihat eksternal.
  4. Proyek dengan kamera tersembunyi. Kroeger mengatakan bahwa penggunaan kamera tersembunyi harus disertai dengan nasihat hukum dan etik yang mendalam, baik sebelum maupun sesudah perekaman, dan alat bukti yang diperoleh harus dikontekstualisasikan oleh banyak peliputan konvensional.
  5. Penyamaran mendalam. Kroeger meyakini bahwa mengambil pekerjaan dengan dalih palsu, atau berpura-pura menjalankan peran dalam skema yang sedang diinvestigasi – terutama yang melibatkan kejahatan – harus selalu melibatkan perencanaan yang cermat serta pemeriksaan dokumen hukum, kode etik, dan keselamatan yang ekstensif di setiap tahap. Semua metode alternatif untuk mengumpulkan fakta harus secara aktif diupayakan.

Kroeger mencatat bahwa banyak reporter, khususnya perempuan, telah berkontribusi besar dalam liputan investigasi dengan menyamar yang berkualitas. Nellie Bly yang membongkar kebrutalan lembaga dengan menyamar sebagai pasien psikiatri di sebuah rumah sakit jiwa di New York pada akhir abad ke-19 adalah salah satu contoh terbaiknya.

Prinsip Utama

  • Pertama, jangan merugikan. Kroeger mengatakan bahwa jurnalis perlu memastikan bahwa kerja penyamaran mereka tidak mendatangkan risiko atau meniadakan pelayanan penting kepada anggota masyarakat. Misalnya, dia mengatakan bahwa reporter tidak boleh tidur di rumah sakit jiwa atau panti wreda jika tempat tidur itu dibutuhkan oleh orang yang benar-benar membutuhkan perawatan.
  • Jangan pernah melanggar hukum. Jurnalis perlu terlebih dahulu diberikan pembekalan tentang risiko hukum dari proyek mereka serta strategi peliputan untuk mengetahui batasan hukum.
  • Upaya menjelma menjadi kepercayaan. Kroeger mengatakan bahwa jika reporter mengerahkan waktu dan tenaga untuk merasakan sendiri suatu keadaan selama berminggu-minggu atau lebih, proyek tersebut biasanya lebih mendapatkan respek dari audiens daripada operasi tipu daya dengan kamera tersembunyi yang berlangsung singkat.
  • Hindari berbohong secara langsung – dan terutama kebohongan yang gamblang dalam bentuk tertulis atau pada dokumen yang memerlukan tanda tangan. Kroeger mengatakan bahwa “cerdik mengelak” dan bentuk pengelabuan lainnya diperbolehkan dalam kasus yang mengharuskan pengumpulan fakta perihal kepentingan umum yang luas. “Akan tetapi, Anda benar-benar harus menghindari berbohong secara terang-terangan,” sarannya.
  • Berkonsultasilah dengan penasihat eksternal dan carilah nasihat hukum saat mengambil keputusan tentang proyek penyamaran, strategi yang dapat diterima, dan fakta yang dapat dipublikasikan. Selain beberapa redaktur dari tim peliputan Anda, pengacara dan penasihat independen lainnya dari luar organisasi Anda dapat menjadi konsultan yang baik. “Anda membutuhkan orang yang sangat objektif agar Anda tetap berada di jalan yang lurus,” ujarnya.
  • Andalkan pengalaman penyamaran masa lalu sebagai dasar pertanyaan untuk cerita yang terpisah dan berdasarkan data yang dapat dikerjakan di ruang redaksi. Kroeger mengatakan bahwa seorang reporter yang melakukan investigasi dengan menyamar mendapati bukti penipuan saat menelisik masalah keselamatan secara terpisah di sebuah rumah sakit di AS. “Tidak akan terpikir oleh Anda untuk meminta catatan tersebut jika Anda tidak menyaksikan [masalahnya],” catatnya.

 

Studi kasus yang berhasil

  • Kidnappers Association (2021 – Ukraina): Maria Gorban dan jurnalis dari situs berita nirlaba Slidstvo.info menyamar untuk menginvestigasi tudingan warga bahwa mereka diculik dan ditahan di pusat rehabilitasi. Jurnalis Slidstvo kemudian melakukan investigasi dengan menyamar di dua dari 50 pusat ini yang tersebar di seluruh Ukraina. Mereka berpura-pura menjadi kerabat yang menginginkan agar anggota keluarga mereka ditahan secara paksa di pusat rehabilitasi.
  • Psychologists Linked to US Ultra-conservative Organizations Provide ‘Therapy’ for Homosexuality in Costa Rica (2021 – Kosta Rika): Jurnalis dari openDemocracy dan Radioemisoras UCR menyamar untuk menginvestigasi sesi “terapi konversi” secara daring yang diselenggarakan oleh kantor cabang Kosta Rika dari organisasi Kristen fundamentalis yang berkedudukan di AS.
  • All the Prime Minister’s Men (2021 – Bangladesh): Unit Investigasi Al Jazeera bekerja sama dengan pembocor rahasia untuk menyelidiki dugaan korupsi di tingkat pemerintahan tertinggi di Bangladesh. Tim melengkapi pembocor rahasia dengan kamera tersembunyi untuk merekam target yang memiliki hubungan dengan perdana menteri negara itu. Investigasi ini memenangkan penghargaan DIG pada tahun 2021.
  • Undercover Journalist as a Slave (2020 – Uganda): Seorang jurnalis perempuan menyamar untuk New Vision, surat kabar Uganda, dan dikirim oleh agen perekrutan untuk bekerja di Dubai. Dilansir dari siniarnya, dia menyaksikan dan mengalami langsung penganiayaan terhadap pekerja migran dan perdagangan budak modern. Dia bermaksud untuk memperingatkan warga Afrika yang ingin pindah ke negara-negara Arab yang kaya minyak tentang risiko melakukan perjalanan ini.
  • Exposing a Licensed Predator (2021 – Ghana): The Fourth Estate, jurnalisme investigasi nirlaba asal Ghana, dan Manasseh Azure Awuni, seorang reporter yang menyamar, diam-diam merekam seorang praktisi kesehatan yang memanfaatkan praktiknya yang terdaftar untuk melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan yang ingin mendapatkan perawatan organ reproduksi. Cerita ini berujung pada penangkapan dan pengakuan pemilik praktik.
  • A Labor of Hitherto Untold Pain (2021 – Kenya): Reporter bernama Naipanoi Lepapa menyamar selama beberapa bulan. Dia berpura-pura menjadi orang tua yang ingin mencari ibu pengganti dan, kemudian, menjadi calon ibu pengganti yang bersedia mengandung dan melahirkan seorang anak untuk calon orang tua. Karya ini dipublikasikan di platform media daring asal Kenya, The Elephant. Investigasi Naipanoi membongkar tuduhan “pemaksaan, eksploitasi, dan intimidasi terhadap ibu pengganti, perdagangan manusia terhadap ibu pengganti dan anak, aborsi paksa, serta pemalsuan dan penipuan identitas”.
  • Undercover: Inside China’s Digital Gulag (2020 – Tiongkok): Pembuat film di balik film dokumenter Frontline ini bekerja di negara tetangga Kazakhstan untuk menginvestigasi bagaimana Uighur, suku bangsa minoritas Muslim di Tiongkok, terus-menerus dipantau dengan bantuan Kecerdasan Buatan. Mereka merekrut seorang pengusaha Tiongkok untuk pergi ke wilayah Xinjiang dan bertindak sebagai reporter proksi yang menyamar, “karena di sana orang asing diikuti dan bangsa Uighur diawasi.”
  • Betraying the Game (2018 – Kenya): Bekerja untuk BBC Africa Eye, reporter rahasia paling ternama di Afrika, Anas Aremeyaw Anas, menghabiskan dua tahun untuk meliput dengan cara menyamar guna mendokumentasikan korupsi di dunia sepak bola Kenya dan Afrika Barat. Berkat Anas, 100 pengurus sepak bola di seluruh wilayah tersebut tertangkap kamera sedang menerima suap berupa uang tunai untuk membantu pengaturan pertandingan.
  • Inside a ‘Secret Abortion Clinic’ on WhatsApp (2018 – Brasil): Selama lima bulan, tim BBC News Brasil memperoleh akses ke grup WhatsApp dan mengamatinya secara diam-diam. Grup tersebut menjual obat aborsi – zat yang menyebabkan aborsi – dan memberikan saran kepada perempuan yang tidak dapat mengakses aborsi legal di Brasil. Tim mendapati bahwa pengurus grup tersebut bukan tenaga medis. Selain itu, dokter yang diwawancarai oleh reporter mengatakan bahwa prosedur aborsi tersebut dapat mengancam jiwa.
  • Éditions Goutte d’Or secara rutin memublikasikan investigasi dengan teknik penyamaran dalam bahasa Prancis. Misalnya, pembongkaran rasisme dan kekerasan oleh oknum polisi di Prancis dan cerita tentang industri pornografi yang mengeklaim telah mengungkap “perkenanan yang berulang kali tidak ada, ketidakpatuhan terhadap undang-undang ketenagakerjaan, dan praktik yang bertentangan dengan martabat manusia”.
  • My Four Months as a Private Prison Guard (2016 – AS): Karya investigasi pemenang Goldsmith Awards ini mengisahkan reporter dari Mother Jones, yaitu Shane Bauer, yang menyamar dalam penjara swasta di negara bagian Louisiana, AS. Selama menghabiskan waktu di penjara, dia mendokumentasikan kekerasan dan pengelolaan buruk yang merajalela. Tidak lama setelah pembongkarannya dipublikasikan, Departemen Kehakiman AS mengumumkan bahwa mereka menghentikan penggunaan penjara swasta.
  • Undercover in Temp Nation (2017 – Kanada): Liputan dengan teknik penyamaran oleh Sara Mojtehedzadeh dan Brendan Kennedy dari Toronto Star ini mengajak pembaca melihat langsung perusahaan roti skala industri dari dalam. Perusahaan ini sangat mengandalkan pekerja pembantu sementara yang biasa berhadapan dengan kondisi kerja yang tidak aman, mendapatkan sedikit pelatihan atau bahkan tidak ada, dan menerima gaji rendah.
Seorang reporter Toronto Star menyamar sebagai pekerja sementara di pabrik pembuatan roti skala industri untuk mendokumentasikan kondisi kerja yang tidak aman, kurangnya pelatihan, dan gaji rendah. (Ilustrasi: Smaranda Tolosano)
Seorang reporter Toronto Star menyamar sebagai pekerja sementara di pabrik pembuatan roti skala industri untuk mendokumentasikan kondisi kerja yang tidak aman, kurangnya pelatihan, dan gaji rendah. (Ilustrasi: Smaranda Tolosano)

 

Kisah untuk peringatan

Jurnalis harus berhati-hati saat melakukan investigasi dengan menyamar agar tidak perlu bersinggungan dengan situasi yang mengancam nyawa atau menghadapi tuntutan hukum yang berpotensi menelan biaya besar. Pasalnya, banyak negara menganggap hak privasi lebih kuat daripada kebebasan pers.

  • Di Montenegro, jurnalis investigasi bernama Jovo Martinović ditahan selama 15 bulan setelah ditangkap saat menyamar untuk membuat cerita tentang perdagangan senjata ilegal di Balkan. Dia kemudian dijatuhi hukuman satu tahun penjara atas tuduhan narkoba. Martinović telah membantah tuduhan tersebut dan menyatakan kepada Committee to Protect Journalists bahwa dia meyakini bahwa mereka membalas dendam atas peliputannya.
  • Salah satu contoh terkemuka dari tahun 1990-an melibatkan reporter ABC News yang berbohong pada resumenya supaya dipekerjakan oleh jaringan toko kelontong AS, Food Lion. Mereka kemudian merekam video daging kedaluwarsa yang ditangani dengan buruk dan dikemas ulang di toko tersebut. Namun, setelah liputan mereka disiarkan, saluran TV tersebut menghadapi gugatan dalam kasus kebebasan pers yang menjadi tonggak sejarah. Meskipun tuduhan penipuan terhadap saluran TV tersebut akhirnya ditolak, produser ABC News yang meliput dengan teknik penyamaran dinyatakan bersalah karena masuk tanpa izin dan diperintahkan untuk membayar ganti rugi sebesar miliaran rupiah. Pada akhirnya, pengadilan tinggi federal AS membatalkan beberapa bagian dari putusan itu serta sebagian besar denda.
  • Jurnalis mungkin juga harus menghadapi dampak emosional berat yang dapat ditimbulkan dari peliputan dengan teknik penyamaran, seperti yang terjadi dalam kasus The Quint, sebuah situs web daring di India. Reporter diam-diam merekam seorang tentara India yang mengeluhkan tentang tugas rumahan yang dia lakukan secara terpaksa untuk atasannya. Setelah cerita dipublikasikan, tentara itu bunuh diri. Dalam analisis jurnalistik ini, Poynter menyimpulkan bahwa cerita tentara India yang mengerjakan tugas rumahan remeh untuk atasan mereka telah berhasil diungkap. Maka, mengkhususkan pengalaman tentara ini dalam tipu daya penyamaran sama sekali tidak memajukan cerita dan tidak perlu dilakukan.

 

Pelajaran langsung dari lapangan

Oleh Rowan Philp

Saya hanya melakukan empat investigasi dengan teknik penyamaran selama 15 tahun sebagai reporter senior di Afrika Selatan. Saya juga membuat kesalahan besar di tiga di antaranya; semuanya menyangkut sikap buru-buru dalam menjalankan proses. Beberapa kesalahan ini masih umum terjadi di ruang redaksi sehingga dapat dihindari.

 

Jangan terburu-buru melakukan penyamaran

Pada satu kasus, redaktur berita saya menyetujui saya berpura-pura menjadi calon pembeli untuk mengungkap tersangka perdagangan manusia di Johannesburg. Laki-laki itu tiba-tiba mengusulkan agar kami bertemu pada malam yang sama, dan saya, dengan menggunakan nama samaran, merasa terdesak untuk menyetujuinya. Jadi, saya buru-buru datang ke pertemuan tersebut tanpa perencanaan yang tepat. Di akhir pertemuan – di pintu keluar tempat biliar yang tampaknya dimiliki oleh laki-laki itu – dia meminta nomor telepon rumah saya. Karena panik, saya menyebutkan nomor sambungan langsung ke ruang redaksi saya, yang langsung terhubung ke pesan suara. Laki-laki itu dengan tenang menatap saya. Yang mengejutkan, dia mengatakan bahwa dia mengenali nomor awalan yang saya berikan kepadanya — yaitu nomor awalan switchboard untuk surat kabar saya! Karena mengkhawatirkan serangan fisik dari penjaga keamanannya, saya langsung berbalik dan kabur ke jalan, dan cerita tersebut pun luput.

Pelajaran yang dipetik: 

  • Ambil waktu yang cukup untuk membuat rencana – dan jangan biarkan subjek Anda menentukan kapan investigasi dimulai.
  • Sebutkan nomor ponsel sekali pakai atau Google Voice kepada subjek, jangan nomor pribadi Anda.

 

Pertimbangkan metode konvensional

Pada kasus kedua, surat kabar saya memutuskan untuk menginvestigasi kasino setempat yang, bertentangan dengan kebijakan yang disebutkannya, diduga memperbolehkan anak-anak dari penjudi kompulsif untuk diantar ke properti tersebut hampir setiap malam sekolah. Narasumber mengeklaim bahwa anak-anak tersebut ditinggalkan di tempat penitipan anak yang berukuran kecil hingga tujuh hari dalam seminggu. Beberapa anak dibiarkan berkeliaran tanpa pengawasan dan tidur di lantai, sementara anak-anak lainnya bahkan ditinggalkan dalam mobil di tempat parkir. Setelah sengaja samar tentang pekerjaan saya pada siang hari saat sesi wawancara saya dengan manajer rekrutmen kasino, saya diangkat sebagai sukarelawan di tempat penitipan anak tersebut. Saya menghabiskan 10 malam di sana selama beberapa minggu – sebuah pengalaman yang mengonfirmasi banyak tuduhan tersebut dan mencuatkan bentuk penelantaran lainnya. Hasil ceritanya sangat berpengaruh: pejabat eksekutif kasino tidak membantah temuan tersebut, dan setuju untuk merombak kebijakan penitipan anak mereka dan mendanai program sosial baru. Namun, sejumlah masalah segera muncul. Cerita kami tidak mengungkapkan kerja penyamaran saya kepada pembaca sehingga fakta tidak memiliki atribusi. Selain itu, kami terlambat menyadari bahwa peliputan ini tidak memerlukan investigasi dengan teknik penyamaran: bahwa saya mungkin dapat menemukan sumber seperti mantan karyawan, rekaman video CCTV kasino, atau dokumen internal untuk mengonfirmasi tuduhan awal dari orang tua.

Pelajaran yang dipetik:

  • Sebelum melakukan investigasi dengan menyamar, adakan satu-dua lagi pertemuan tim dan uji klaim secara komprehensif yang menyatakan bahwa peliputan dengan teknik penyamaran merupakan satu-satunya cara untuk mengumpulkan informasi yang Anda butuhkan dalam waktu yang wajar.
  • Secara substansial, tingkatkan sumber daya perencanaan serta masukan etik dan hukum saat mempertimbangkan segala kerja penyamaran yang melibatkan anak-anak, korban lainnya, atau populasi rentan dalam cerita.
  • Selalu bersikap transparan kepada audiens, dan beri tahu mereka bagaimana persisnya Anda mendapatkan akses, dan alasannya.

 

Hindari publikasi dengan alasan eksklusifitas (scoop)

Dalam kasus ketiga, redaktur berita saya mengkhawatirkan putusan yang tidak adil dalam vonis kasus pembunuhan oleh seorang perempuan di Botswana, yang menunggu hukuman mati. Setelah terhalangi untuk menemui perempuan tersebut akibat undang-undang pers yang membatasi di negara itu, saya akhirnya memperoleh akses ke sel tahanannya melalui pengecohan yang membuat sipir percaya bahwa saya adalah pengacaranya – dengan berpakaian seperti pengacara dan menjelaskan bahwa saya perlu memberi tahu dia tentang isu hukum. Setelah bertemu, saya langsung memperkenalkan diri sebagai seorang reporter dan dia mengatakan bahwa dia sangat ingin membagikan ceritanya. Wawancara yang saya lakukan memberikan bukti baru yang kuat bahwa perempuan tersebut secara mental tidak layak untuk diadili, secara fisik tidak mampu melakukan pembunuhan, dan kemungkinan adalah korban kelalaian pengacara.

Akan tetapi, cerita tersebut gagal mendapatkan momentum. Lembaga peradilan tetap bergeming dan perempuan tersebut pun dihukum gantung dua bulan kemudian. Seorang pejabat pemerintah senior di Botswana menyatakan bahwa saya telah melanggar peraturan perundang-undangan karena memperoleh akses terlarang. Jika diingat kembali, saya menyadari bahwa cerita tersebut sangat kekurangan peliputan tambahan dan dipublikasikan terlalu dini. Cerita tersebut juga ditulis dari sudut pandang orang pertama sehingga – meskipun mungkin memperkaya drama minat insani – sulit menjalinkannya dengan narasumber orang ketiga. Selain itu, saya tidak menyadari bahwa pengelabuan yang saya lakukan berpotensi melanggar peraturan perundang-undangan setempat.

Pelajaran yang dipetik:

  • Tahan godaan untuk segera memublikasikan berita scoop eksklusif dari penyamaran – terutama jika taruhannya besar bagi subjek.
  • Ketahui keterbatasan sudut pandang orang pertama dan bagaimana hal itu dapat merintangi produk akhir Anda.
  • Manfaatkan keberhasilan wawancara melalui penyamaran dengan cara menyediakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek, serta pastikan untuk melanjutkan kerja secara sembunyi-sembunyi tersebut dengan peliputan konvensional yang dilakukan secara terbuka dan pemeriksaan yang saksama.
  • Rundingkan dengan pakar hukum setempat tentang potensi pelanggaran hukum saat melakukan penyamaran di luar negeri.

 

Terkadang Metode Paling Sederhana Adalah yang Terbaik

Mungkin perlu dicatat bahwa satu-satunya proyek penyamaran saya yang sepenuhnya berhasil tidak menerapkan pengelabuan atau kebohongan secara aktif. Alih-alih, proyek tersebut menerapkan aksi menguping pertemuan rahasia. Di sini, saya membiarkan tiap-tiap pihak untuk percaya bahwa saya adalah anggota pihak lainnya. 

Cerita eksklusif terkait pembicaraan tentang pembangkit listrik tenaga nuklir antara Rusia-Afrika Selatan ini diperoleh dengan menggunakan siasat peliputan dengan teknik penyamaran yang paling dasar. (Gambar: tangkapan layar)
Cerita eksklusif terkait pembicaraan tentang pembangkit listrik tenaga nuklir antara Rusia-Afrika Selatan ini diperoleh dengan menggunakan siasat peliputan dengan teknik penyamaran yang paling dasar. (Gambar: tangkapan layar)

Pada tahun 2014, saya menginvestigasi rumor bahwa pemerintah Afrika Selatan secara diam-diam berencana untuk membeli delapan reaktor tenaga nuklir dari Rusia – suatu kesepakatan gelap dengan harga yang terlalu tinggi, sekitar 1.000 triliun rupiah. Namun, pemerintah membantah bahwa ada negosiasi yang sedang berlangsung. Untuk menginvestigasi, saya mengikuti jejak orang yang tampaknya adalah tamu delegasi energi atom Rusia ke sebuah resor pegunungan terpencil, dan – dengan mengenakan setelan jas – saya mengikuti mereka ke ruang pertemuan tempat para pejabat Afrika Selatan berkumpul.

Negosiasi yang saya rekam mencakup pembahasan terperinci tentang kesepakatan kompensasi, fitur keselamatan teknis, dan pembuangan limbah nuklir. Pada akhirnya, para pejabat menyadari bahwa saya bukanlah anggota dari kedua delegasi, dan saya diusir dari ruangan. Setelah mengamankan alat bukti yang saya kumpulkan, saya mendekati kedua delegasi, memperkenalkan diri sebagai reporter, dan meminta komentar. Pejabat Afrika Selatan dengan enggan mengonfirmasi negosiasi tersebut. Peliputan lanjutan saya kemudian mengungkapkan bahwa – meskipun dia menyangkal semua masa lalu dengan perusahaan negara Rusia tersebut – Jacob Zuma, presiden Afrika Selatan saat itu, sebelumnya telah memperjuangkan kesepakatan bahan bakar nuklir dengan anak perusahaan badan tersebut. Berita ini dilanjutkan dengan peliputan investigasi ekstensif mengenai negosiasi rahasia oleh jurnalis lainnya, yang bersama-sama menyebabkan batalnya kesepakatan nuklir tersebut.

 

Strategi yang Berhasil

  • Metode menguping secara pasif berhasil karena (1) kami dapat menunjukkan bahwa tidak ada cara lain untuk mengumpulkan detail tentang isu kepentingan negara yang vital; (2) Saya mengungkapkan identitas saya sebagai seorang reporter kepada subjek segera setelah merekam negosiasi mereka, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk menanggapi secara penuh; dan, (3) kami sepenuhnya bersikap transparan kepada pembaca karena kami menjelaskan bagaimana semua fakta dikumpulkan.
  • Kami bersikap hati-hati untuk memperkaya pengumpulan fakta melalui penyamaran singkat dengan peliputan konvensional. Kami kemudian menindaklanjuti berita scoop tersebut dengan investigasi konvensional terhadap lembaga tersebut dan negosiasi nuklir rahasia sebelumnya oleh pemerintah.
  • Kami memperdalam pengaruh cerita melalui wawancara radio dan saling berbagi kontak dengan ruang redaksi lainnya.

Materi dalam panduan ini terkumpul berkat kerja para staf GIJN: Toby McIntosh, Benon Oluka, Ana Beatriz Assam, Miraj Ahmed Chowdhury, Mariel Lozada, Amel Ghani, Alim Kholikul, dan Deepak Tiwari.

 

Referensi Lainnya untuk Peliputan dengan Teknik Penyamaran


Panduan lainnya dari GIJN


Versi asli panduan ini berjudul GIJN’s Guide to Undercover Reporting dan dipublikasikan oleh Global Investigative Journalism Network (GIJN). Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda mengeklik tombol republish di bawah ini atau menghubungi [email protected]

Nikolia Apostolou adalah direktur Resource Center GIJN. Selama 15 tahun, dia menulis dan memproduksi film dokumenter dari Yunani, Siprus, dan Turki untuk lebih dari 100 media, termasuk BBC, AP, The New York Times, PBS, Deutsche Welle, dan Al Jazeera.

Rowan Philp adalah reporter GIJN. Dia sebelumnya menjabat sebagai kepala reporter untuk Sunday Times dari Afrika Selatan. Sebagai koresponden luar negeri, dia telah meliput berita, politik, korupsi, dan konflik di lebih dari dua puluhan negara di seluruh dunia.

Republication

Creative Commons License

Republish our articles for free, online or in print, under a Creative Commons license.

Previous articlePunya Saran Sesi untuk GIJC23? Kirimkan Pada Kami!
Next articlePenghargaan Internasional untuk Jurnalisme Investigasi: Global Shining Light Award
Edisi Indonesia Global Investigative Journalism Network, organisasi nirlaba yang beranggotakan 211 organisasi di 82 negara.