Dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu, saat ini terdapat lebih banyak liputan investigasi mengenai akuntabilitas iklim. Banyak jurnalis menyelidiki dan menguak perusahaan dan individu yang secara aktif berusaha menghalangi kebijakan iklim.
Liputan yang kini dikenal sebagai “Exxon Knew” dan diterbitkan pada 2015 adalah salah satu contohnya. Karya kolaboratif antara Inside Climate News, The Los Angeles Times, dan Columbia Journalism School tersebut merinci penelitian dan peringatan-peringatan tentang perubahan iklim yang disampaikan para ilmuwan Exxon kepada manajemen perusahaan sejak 1970-an. Liputan tersebut juga menjelaskan tindak lanjut manajemen perusahaan untuk menekan atau melemahkan penelitian tersebut.

Exxon menuduh para jurnalis melakukan berbagai hal, mulai dari menghilangkan fakta-fakta kunci hingga mengorkestrasi kampanye yang menentangnya. Sebuah halaman di situs Exxon menayangkan video yang mendorong publik untuk mendapatkan “kisah sebenarnya” di balik Exxon Knew. Namun, tidak satu pun dari klaim tersebut yang pernah diajukan ke pengadilan. Media yang disurati Exxon agar mencabut liputan juga merasa tak perlu mematuhinya.
Pada 2023, perusahaan minyak besar itu diam-diam menghapus halaman situs webnya yang bertujuan untuk membantah laporan Exxon Knew. Meski demikian, mereka bersikukuh bahwa “pernyataan publik kami tentang perubahan iklim jujur, berdasarkan fakta, transparan, dan konsisten dengan pandangan komunitas ilmiah arus utama pada saat itu. ExxonMobil telah berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan terkait iklim selama beberapa dekade dan telah membuat karyanya tersedia untuk umum. Dan, seiring berkembangnya pemahaman komunitas ilmiah tentang perubahan iklim, ExxonMobil meresponsnya dengan tepat,” ujar juru bicara perusahaan, Casey Norton.
Sepanjang dua tahun setelah Exxon Knew dipublikasikan, liputan tersebut sudah membuka jalan bagi puluhan kasus pengadilan. Pendekatan Exxon dan perusahaan minyak lainnya dalam riset iklim dituding telah menyebabkan pemerintah negara bagian dan pemerintah kota menunda respons iklim. Akibatnya, biaya kerusakan menjadi sangat tinggi dan langkah-langkah adaptasi diperlukan untuk mengatasi krisis iklim. Perusahaan-perusahaan minyak besar terus mengklaim bahwa mereka tidak bersalah. Sementara itu, para jurnalis dan peneliti terus menemukan dokumen baru dan memublikasikan karya yang selaras dengan Exxon Knew. Berbagai investigasi lanjutan seperti Shell Knew, Eni Knew, Total Knew, dan GM Knew bermunculan.
Shell menanggapi liputan tersebut dengan menyatakan, “posisi kami terkait perubahan iklim sudah diketahui secara luas; kami menyadari tantangan iklim dan peran energi dalam mewujudkan kualitas hidup yang layak. Shell terus menyerukan kebijakan yang efektif untuk mendukung bisnis rendah karbon, pilihan konsumen, dan peluang seperti skema penetapan harga/perdagangan karbon yang dipimpin pemerintah.” Eni menegaskan “selalu beroperasi sesuai dengan semua peraturan yang berlaku, baik lokal maupun internasional, serta praktik terbaik industri global.”
Total membantah telah menyembunyikan risiko iklim dan menambahkan bahwa sejak 2015 mereka berfokus pada energi terbarukan. Pada COP29 tahun 2024, Presiden Total, Patrick Pouyanne, mengatakan kepada AFP bahwa perusahaannya terus mengurangi emisi yang terkait dengan minyak dan gas. “Ya, kami adalah bagian dari masalah, tetapi kami memiliki pola pikir kemajuan yang berkelanjutan,” tegasnya. Meskipun “kami tidak pernah cukup cepat bertindak,” bagi sebagian orang. “Tidak ada yang bisa kami katakan tentang peristiwa yang terjadi satu atau dua generasi yang lalu,” kata juru bicara GM kepada E&E News. “Peristiwa tersebut tidak relevan dengan posisi dan strategi perusahaan saat ini.”
Liputan lainnya membeberkan peran perusahaan hubungan masyarakat dan periklanan yang disewa oleh perusahaan bahan bakar fosil dalam menyusun pesan yang menghalangi dan menunda aksi iklim. Ada juga yang menyelidiki bagaimana donor politik utama, seperti Koch bersaudara dan aktivis sayap kanan seperti Leonard Leo membentuk kebijakan dan bahkan sistem peradilan dengan cara yang menurut para ahli mempersulit AS mengatur emisi gas rumah kaca. Koch menegaskan bahwa dia hanya “berjuang melestarikan masyarakat bebas,” sementara Leo menggambarkan dirinya sebagai pembela kebebasan berpendapat dan menulis di koran lokalnya: “Kebebasan berpendapat sangat penting bagi masyarakat bebas. Oleh sebab itu, saya membelanya, akan terus melakukannya, dan selalu menerima bahwa akan ada keberatan dan pertentangan terhadap apa yang saya lakukan.”
Investigasi yang dilakukan oleh para jurnalis selama beberapa dekade terakhir telah mengungkap kekuatan-kekuatan yang mencoba menghentikan tindakan pemerintah terhadap krisis iklim, sesuatu yang sudah diwanti-wanti para ilmuwan selama lebih dari 50 tahun. Investigasi semacam ini yang akan terus meminta pertanggungjawaban para pemimpin politik dan memberi informasi kepada publik tentang perubahan iklim dan berbagai usaha yang dilakukan untuk mencegah penerapan solusi terhadap masalah tersebut.
Dalam bab ini, kami akan mengkaji beberapa klaim dan strategi industri bahan bakar fosil yang menghambat aksi iklim, serta merekomendasikan beberapa kiat untuk menyelidikinya. Kami juga akan menjelaskan cara membantah klaim palsu tanpa mengamplifikasinya.
Misi yang mungkin: menyerang polusi informasi
Penting untuk diingat bahwa usaha menghalangi aksi iklim tidak berhenti pada 2010, ketika perusahaan-perusahaan minyak memutuskan kalau berpura-pura bahwa perubahan iklim bukan hal yang nyata tidak lagi berguna. Strategi tersebut telah digunakan untuk mempersempit cara pandang publik dan pemimpin politik terhadap solusi krisis iklim serta untuk mengarahkan pendanaan dan perhatian terhadap solusi yang terus menguntungkan industri bahan bakar fosil.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan semakin banyak berinvestasi dalam humas dan riset yang membantu mengarahkan percakapan tentang solusi iklim ke arah solusi yang disukai industri: teknologi dan kebijakan yang terlalu dibesar-besarkan dan tidak benar-benar mengurangi emisi. Dengan cara tersebut, mereka mempromosikan gagasan bahwa industri bahan bakar fosil adalah peserta yang bersedia dan aktif dalam transisi energi, sambil terus mendorong gagasan bahwa bahan bakar fosil tidak perlu digantikan karena dapat “didekarbonisasi.” Siaran pers tentang “rendah karbon,” “nol-bersih,” dan minyak “karbon-negatif” menjadi semakin umum.
Industri bahan bakar fosil mempromosikan penangkapan dan penyimpanan karbon, gas alam cair, hidrogen, dan gas alam terbarukan sebagai solusi. Mereka mendanai penelitian universitas yang mendistorsi wacana publik agar pembuatan kebijakan mengarah ke solusi yang mereka inginkan. Perusahaan juga menyewa konsultan manajemen untuk melakukan analisis yang bias dan mendukung solusi tersebut, mendanai pelobi, firma periklanan serta jasa kehumasan untuk mempromosikannya. Para kritikus menganggap solusi-solusi tersebut lebih berfokus pada mempertahankan keuntungan industri dibandingkan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan.
Drilled, proyek liputan yang fokus pada akuntabilitas iklim, menyebut pesan-pesan yang difabrikasi tersebut sebagai “polusi informasi.” UN Development Programme bahkan membuat kuis mengenai hal tersebut. Para pakar di bidang informasi dan komunikasi mengatakan bahwa membersihkan ekosistem informasi merupakan langkah awal yang penting menuju tindakan signifikan terhadap krisis iklim. Bagi para jurnalis, hal tersebut berarti memahami bahasa dan data mengenai disinformasi perubahan iklim serta cara untuk melawannya.
“Hal-hal yang kami lihat sebagai disinformasi—iklan yang menyesatkan, atau para eksekutif yang mengatakan hal-hal sangat menyesatkan di saluran TV kabel—itu hanyalah puncak gunung es,” kata Melissa Aronczyk, profesor jurnalisme dan studi media di Universitas Rutgers di AS. “Untuk benar-benar memahami dan mengatasi disinformasi iklim, kamu harus melihat gambaran besarnya, melihat bagaimana mereka membentuk semua jenis informasi dan data yang menjadi fondasi kebijakan. Kamu harus melihat penelitian universitas apa yang mereka danai, parameter apa yang mereka terapkan pada model ekonomi, bagaimana mereka berinteraksi dengan konsultan manajemen, kelompok perdagangan apa yang mereka ikuti, koalisi penelitian dan lobi apa yang mereka ikuti, bagaimana mereka mendekati pemikir berpengaruh dan pemengaruh, bagaimana mereka membentuk norma-norma budaya, dan bagaimana semua itu dilakukan untuk mendorong kebijakan tertentu atau menjaga regulasi tetap terkendali.”
Cerita lama, negara berbeda

Menunda aksi iklim semakin sering dipakai sebagai strategi industri bahan bakar fosil untuk menghindari regulasi yang merugikan mereka, menggantikan penolakan riset ilmiah yang sebelumnya kerap digunakan. Taktik ini terlihat sedikit berbeda di setiap negara, tetapi mekanismenya—dan terkadang bahkan orang, organisasi, atau perusahaan yang terlibat—sama saja. Sebagai contoh, di Uganda dan Tanzania, untuk mengatasi dampak lingkungan langsung dari East African Crude Oil Pipeline (EACOP) dan kontribusinya terhadap emisi gas rumah kaca di masa depan, raksasa energi Prancis Total Energies menyusun rencana keanekaragaman hayati. Tujuannya untuk “mencapai dampak positif bersih” terhadap keanekaragaman hayati di sekitar operasi pengeborannya, bahkan di kawasan keanekaragaman hayati yang penting di Taman Nasional Murchison Falls, taman nasional terbesar di Uganda.
Para aktivis menuding perusahaan tersebut merusak tutupan hutan, sungai, dan lahan basah, tetapi Total Energies bersikeras bahwa perusahaan tersebut mengembangkan proyek minyaknya sesuai dengan standar International Finance Corporation.
Meskipun variasi baru terus muncul, ada lima narasi utama yang cenderung digunakan industri bahan bakar fosil untuk membungkus dirinya dalam citra tanggung jawab lingkungan atau sosial, meskipun pada kenyataannya mereka justru memperparah masalah.
- Narasi Asli: Keamanan Energi — Perusahaan-perusahaan minyak yang bersaing, bersatu untuk pertama kalinya demi memastikan pasokan bahan bakar yang stabil selama Perang Dunia I. Upaya tersebut mendorong pembentukan kelompok-kelompok bisnis pertama di industri ini. Mereka kemudian berkoordinasi dalam hal permintaan global, produksi, penetapan harga, kebijakan, dan terkadang bahkan penyampaian pesan. Sejak saat itu, industri ini secara konsisten mengaitkan produknya dengan upaya menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
- Ekonomi vs. Lingkungan — Mempertentangkan alam dengan ekonomi dan mendorong gagasan bahwa manusia terpisah dari alam telah menjadi kunci yang membantu industri menghindari regulasi sekaligus menggambarkan aktivis lingkungan sebagai elitis atau radikal. Sementara itu, janji lapangan kerja dan pembangunan ekonomi membantu perusahaan minyak membenarkan proyek-proyek besar baru, yang jarang sekali didukung oleh data.
- Kami Membuat Hidup Anda Berfungsi — Salah satu cara industri bahan bakar fosil mengalihkan tanggung jawab atas dampak iklim produknya kepada individu adalah dengan mengingatkan betapa bergantungnya masyarakat pada bahan bakar fosil dan produk turunannya. Mereka juga menciptakan ilusi bahwa pasar sepenuhnya digerakkan oleh permintaan. Jika konsumen mengurangi konsumsinya, maka industri tidak akan memproduksi begitu banyak bahan bakar fosil. Pada faktanya, ketika masyarakat mengurangi konsumsi bahan bakar fosil di sektor perumahan dan transportasi, industri merespons dengan mencari cara untuk menjual lebih banyak petrokimia dan meningkatkan produksi serta penggunaan plastik sekali pakai.
- Menjadi Bagian dari Solusi — Sejak upaya global pertama untuk mengatur emisi hingga saat ini, industri telah berupaya keras untuk mengendalikan regulasi dengan menyetujui tindakan sukarela. Dalam kondisi tersebut greenwashing sangat berguna, baik sebagai mekanisme pengalihan perhatian—jangan khawatirkan emisi, lihat saja program penanaman pohon kami—maupun sebagai penipuan, seperti ketika perusahaan mengklaim bahwa penangkapan karbon atau kredit karbon secara efektif menghilangkan emisi gas rumah kaca dari proyek bahan bakar fosil.
- Tetangga Terbesar di Dunia — Kalau-kalau orang masih belum senang dengan udara kotor, air kotor, dan perubahan iklim, para pelaku industri ini memastikan untuk mendanai museum, olahraga, sekolah, dan universitas—dan bahkan jurnalisme. Ada tujuan ganda di balik aktivitas tersebut, yakni membersihkan citra dan membuat masyarakat merasa bergantung pada industri tersebut dan dengan demikian memperkecil kemungkinan kritik.
Kita akan melihat cara memeriksa klaim-klaim tersebut; cara menyelidiki narasi palsu serta orang, organisasi, atau perusahaan yang menyebarkannya; dan cara membantah klaim tersebut tanpa memperkuatnya.
Satu hal yang perlu diperhatikan: misinformasi dan disinformasi merupakan area yang sangat dinamis. Fokus dan cara penyampaiannya terus berubah. Oleh sebab itu, hal mendasar yang perlu dilakukan adalah tetap waspada, terus memeriksa fakta, mengidentifikasi sumber, dan mengikuti aliran dana.
Studi Kasus Greenwashing
Solusi Palsu
Bentuk greenwashing yang paling cepat berkembang dan paling efektif saat ini datang dalam bentuk promosi solusi palsu. Teknologi atau kebijakan memungkinkan industri bahan bakar fosil mengklaim bahwa mereka mengurangi emisi gas rumah kaca, bahkan ketika produksi minyak dan gas meningkat. Sementara itu, industri peternakan mengklaim bahwa rumput laut menjadi pakan ternak saat ini, sehingga daging yang mereka jual telah netral karbon.
Klaim-klaim tersebut seringkali mengandung beberapa kebenaran di dalamnya, tetapi dilebih-lebihkan. Perusahaan juga secara strategis mengabaikan dampak negatif dari proyek-proyek tersebut. Penangkapan dan penyimpanan karbon misalnya, mungkin diperlukan untuk sektor-sektor dengan emisi tinggi yang sulit di dekarbonisasi, seperti baja, beton, atau pupuk. David Ho, profesor oseanografi di Universitas Hawaii dan ilmuwan peneliti senior di Universitas Columbia menilai “,Tidak masuk akal menggunakan CCS (teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon) untuk memperpanjang penggunaan bahan bakar fosil, terutama untuk menghasilkan listrik.”
Ketika perusahaan bahan bakar fosil mengiklankan potensi CCS, mereka juga berbicara tentang emisi dari industri lain yang “sulit dikurangi” (hard-to-abate). Pada praktiknya, teknologi CCS sebenarnya hanya digunakan di pembangkit listrik atau fasilitas biofuel. Perusahaan minyak juga telah mendorong gagasan penggunaan teknologi tersebut dalam proses enhanced oil recovery (EOR). Mereka mengklaim bahwa karbon yang terkompresi dan disuntikkan ke bawah tanah untuk mendapatkan lebih banyak minyak, menghasilkan barel minyak dengan kandungan “karbon negatif”. Klaim tersebut dicemooh HO dan Badan Energi Internasional. “Sering kali, argumen yang digunakan untuk mendukung enhanced oil recovery adalah bahwa jika mereka tidak menggunakan CO₂ yang ditangkap, mereka akan menggunakan CO₂ (jenis) lainnya,” kata Ho.
“Tetapi saya tidak menilai cara apapun yang digunakan untuk mendapatkan lebih banyak minyak untuk dibakar sebagai solusi iklim.”
IEA sedikit lebih lunak, dengan menyatakan bahwa EOR hanya dapat menghasilkan produk “karbon-negatif” jika CO2 yang digunakan, ditangkap dari sumber antropogenik seperti pembangkit listrik tenaga batu bara. Hal tersebut berbeda dengan CO2 yang terjadi secara alami, yang seringkali berada di lokasi yang sama dengan gas metana dan perlu dipisahkan untuk menghasilkan gas alam. Namun, perusahaan minyak seringkali mengaburkan batasan antara keduanya.

Penting untuk merujuk pada angka yang ditetapkan IEA agar CCS bisa efektif mengurangi perubahan iklim. Dalam cetak biru emisi nol bersih pada tahun 2050, IEA mengatakan CCS harus mampu menangkap sekitar 1 gigaton CO₂ per tahun. Namun, pembaruan terbarunya menemukan bahwa bahkan jika setiap proyek penangkapan karbon yang direncanakan dibangun dan berfungsi maksimal, jumlah total CO₂ yang dapat ditangkap pada tahun 2030 adalah sekitar 435 juta ton (Mt) per tahun. Berdasarkan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) , CCS akan menyumbang rata-rata 2,4% dari mitigasi CO2 pada tahun 2030, bahkan jika dilaksanakan pada potensi penuh yang direncanakan.
Area untuk Investigasi Lebih Lanjut:
- Data lobi: Teliti siapa yang menghabiskan dana untuk melobi kebijakan yang ramah CCS.
- Dana penelitian universitas: Universitas telah berperan besar dalam membentuk dasar bagi banyak klaim CCS industri. Teliti universitas mana yang menerima dana untuk penelitian CCS dan jenis penelitian apa yang mereka lakukan. Apakah penelitian tersebut diintegrasikan ke dalam kebijakan? Apakah para peneliti kemudian bekerja di pemerintahan atau industri?
- Pelapor internal: Karyawan perusahaan minyak yang bekerja pada CCS dapat mengungkap seberapa banyak mantan pemberi kerja mereka tahu atau tidak tahu tentang kelemahan teknologi tersebut saat mempromosikannya.
- Arsip: Dokumen asli dalam arsip korporasi dapat mengungkap studi awal tentang kelayakan CCS atau penggunaannya yang lama sebagai teknik produksi minyak utama.
Bersembunyi di balik ‘intensitas emisi’
Ketika perusahaan bahan bakar fosil dan perusahaan beremisi tinggi lainnya menggunakan frasa seperti “intensitas energi”, “intensitas emisi”, “intensitas karbon”, dan “karbon rendah”, mereka membicarakan pengurangan emisi terkait operasi perusahaannya. Dengan kata lain, mereka merujuk pada produksi satu barel minyak secara lebih efisien yang lebih sedikit menghasilkan emisi.
Meskipun pengurangan emisi akan membantu mitigasi perubahan iklim, penting untuk dipahami bahwa emisi operasional, atau emisi cakupan 2, maksimal menyumbang 10 hingga 15% dari emisi perusahaan bahan bakar fosil. Perusahaan pengemisi tidak berbicara tentang menghilangkan emisi sepenuhnya, melainkan hanya menguranginya.
Ketika meliput klaim emisi, penting juga untuk melihat siklus emisi dan berapa pengurangan emisi bersih yang sebenarnya. Temuan itu bisa dibandingkan dengan klaim perusahaan seputar pengurangan “intensitas karbon” atau “intensitas emisi.”
Salah satu cara perusahaan bahan bakar fosil untuk mengurangi emisinya adalah dengan menggunakan teknologi penangkapan karbon dalam operasi mereka. Namun, sebagian besar (sekitar 70%) CO₂ yang ditangkap oleh mereka saat ini digunakan untuk proses Enhanced Oil Recovery (EOR). Artinya, jika suatu perusahaan menggunakan satu unit emisi untuk menghasilkan lebih banyak emisi, hal tersebut dihitung sebagai pengurangan intensitas emisi.
Elemen lain dari hal ini adalah ketergantungan pada kompensasi karbon atau kredit karbon untuk mengklaim pengurangan emisi. Namun, berbagai investigasi menunjukkan bahwa banyak proyek penjualan kredit karbon adalah penipuan. Masih banyak laporan tentang kompensasi karbon yang menunggu untuk diselidiki. Kamu bisa membaca Panduan Reporter GIJN untuk Investigasi Kompensasi Karbon untuk mempelajarinya lebih lanjut.
Area untuk Investigasi Lebih Lanjut:
- Kuantifikasi: Berapa banyak perusahaan yang kini mengandalkan metrik intensitas emisi, alih-alih pengurangan emisi secara keseluruhan, untuk mengukur kemajuan iklim mereka? Kapan hal tersebut dimulai? Bagaimana tren tersebut berkembang?
- Kini setelah berbagai proyek pengimbangan karbon terbukti tidak dapat diandalkan, perusahaan mana yang masih mengklaim pengurangan emisi melalui pihak-pihak yang tak jujur? Bagaimana hal tersebut memengaruhi klaim pengurangan emisi perusahaan yang muncul dalam laporan tahunan atau laporan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan?
- Siapa yang mendorong gagasan “intensitas emisi”? Dari mana asal istilah ini? Apakah ada agensi PR atau periklanan yang turut mendorongnya? Arsip dan whistleblower bisa sangat berguna untuk mengungkap hal ini!
Pembangunan Vs. Krisis Iklim
Ini adalah hal yang sangat umum di Afrika, Amerika Latin, dan Karibia. Ceritanya kurang lebih seperti ini: Negara-negara di kawasan tersebut tidak bertanggung jawab atas emisi historis dan mereka membutuhkan akses ke energi murah. Oleh sebab itu, mengapa mereka harus menahan diri untuk mengembangkan sumber daya bahan bakar fosil hanya karena negara-negara maju telah menciptakan krisis iklim?
Ada kebenaran dalam pernyataan tersebut. Bagaimana mungkin aktivis atau politisi dari Global Utara bisa meminta orang-orang di kawasan Global Selatan, yang hidupnya kurang nyaman dan praktis, untuk melakukan pengorbanan yang mereka sendiri belum pernah lakukan? Untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil sebelum negara-negara di Global Utara melakukannya? Hal tersebut juga mengabaikan fakta bahwa negara-negara Global Selatan sudah menanggung beban utama perubahan iklim. Ini merupakan cara cerdik perusahaan minyak global—yang paling banyak mendapatkan keuntungan finansial—untuk memecah belah masyarakat. Mereka mendorong gagasan bahwa perusahaan hanya memenuhi permintaan dan mengamankan posisi mereka dalam pengembangan bahan bakar fosil di kawasan Global Selatan.
Dokumen internal perusahaan minyak dan firma humas menceritakan kisah yang berbeda. Ketika para pemimpin dunia pertama kali bertemu untuk membahas upaya internasional terkait perubahan iklim, perusahaan bahan bakar fosil dan pengamat beraliran kanan mengeluh bahwa kesepakatan apa pun yang tidak mewajibkan semua pihak bertransisi dengan kecepatan yang sama, tidaklah adil. Kelompok-kelompok seperti Global Climate Coalition, yang menyatukan para pelaku industri penentang regulasi emisi, akan mengeluarkan peta dan menunjuk negara-negara yang tidak diwajibkan oleh Protokol Kyoto untuk berkomitmen pada pengurangan emisi, lalu berkata: “Ini tidak global dan tidak akan berhasil.”
Sekarang, hampir 30 tahun kemudian, perusahaan dan organisasi yang sama justru berkata sebaliknya. Mereka bersikeras bahwa dunia harus memberi negara-negara Global Selatan waktu untuk mengembangkan industri bahan bakar fosil dan mengejar negara Global Utara dengan melakukan pembangunan yang intensif karbon.
Sebenarnya, bukan perusahaan atau pemerintah di negara-negara maju yang menentukan bagaimana negara berkembang mengelola sumber dayanya. Namun, hal itu tidak pernah menghentikan mereka untuk coba mendikte kebijakan. Pola yang terus berulang ini, membuat jurnalis mesti pandai memisahkan janji dari kenyataan, fakta dari fiksi.
Untuk melakukan hal itu, mereka perlu menggali data; berdiskusi dengan para ekonom yang latar belakangnya beragam; berbicara dengan orang-orang di lapangan yang dekat dengan proyek-proyek tersebut; menggali informasi dari firma-firma humas yang menyusun dan menyebarkan pesan tersebut; dan secara umum, menelusuri aliran dana untuk mengetahui siapa yang sebenarnya diuntungkan dan siapa yang tidak, serta mengapa. Taktik ini juga muncul dalam negosiasi iklim, ketika para negosiator dari negara-negara kaya minyak dan gas mendorong larangan eksplisit terhadap batu bara, sembari menuntut pengecualian untuk gas dan memberi penekanan berlebihan pada potensi penangkapan karbon. Sekali lagi, para jurnalis harus selalu bertanya: Siapa yang akan diuntungkan dari kebijakan tersebut? Lalu menelusuri aliran dana, ke mana pun arahnya.
Kepercayaan lama soal peningkatan penggunaan energi yang seiring dengan peningkatan harapan hidup misalnya, telah ditantang oleh lebih dari satu dekade penelitian. Pada awal tahun 1974, para peneliti yang menulis dalam jurnal Science menyimpulkan bahwa kualitas hidup warga Amerika Serikat akan sama tingginya jika mereka hanya menggunakan sebagian kecil dari energi yang ketika itu mereka konsumsi. Penelitian lain yang dilakukan pada 2010 juga menunjukkan bahwa jumlah energi yang dibutuhkan untuk mencapai harapan hidup tinggi, memiliki batas.
Pada 2020, para peneliti menemukan bahwa meskipun peningkatan penggunaan energi berkorelasi dengan peningkatan PDB, tetapi hal tersebut maksimal menyumbang 25% peningkatan harapan hidup. Julia K. Steinberger, penulis utama studi PDB dan peneliti ekonomi ekologi dan profesor di Universitas Lausanne Swiss menilai kita bisa dengan yakin memasukkan pandangan soal kontribusi signifikan bahan bakar fosil terhadap harapan hidup ke dalam peti mati lalu mematri tutupnya dengan paku tua. “Gagasan favorit yang sering dipromosikan industri bahan bakar fosil bahwa mereka adalah raksasa kotor yang menopang basis industri bagi kita semua, telah dibantah oleh studi ini. Kita tidak bergantung pada bahan bakar fosil untuk meningkatkan standar hidup.”
Area untuk Investigasi Lebih Lanjut
- Bandingkan data tenaga kerja yang diserap sebelum dan sesudah proyek minyak dan gas baru. Kumpulkan data tentang berapa banyak pekerjaan permanen yang telah diciptakan, lalu bandingkan dengan pekerjaan sementara. Jangan lupa hitung berapa banyak tenaga kerja asing yang dipekerjakan dan bandingkan dengan komitmen perusahaan mempekerjakan tenaga kerja lokal.
- Kontrak: Kontrak antara perusahaan minyak dan pemerintah mengungkapkan banyak hal tentang apa yang sebenarnya dilakukan perusahaan minyak.
- Seruan pemegang saham dan analis: Di sini, para eksekutif perusahaan minyak membagikan rencana aktual mereka, alih-alih apa yang mereka inginkan dari publik. Ketika berbicara kepada para analis pada 2017 tentang ekspansi Exxon di Guyana misalnya, CEO Darren Woods membahas bagaimana “fleksibilitas” pemerintah dalam perizinan memungkinkan mereka untuk mempercepat proses operasi. Perusahaan juga mengubah pandangan mereka di masa lalu soal Guyana sebagai “proyek 20 tahun” menjadi proyek 10 tahun karena politik global terkait perubahan iklim.
- Analis energi dan laporan saham: Mengawasi kondisi keuangan proyek-proyek bahan bakar fosil adalah cara yang baik untuk melacak perkembangannya.
- Pelapor: Karyawan dan mantan karyawan tidak selalu dapat berbicara secara resmi, tetapi mereka dapat memberi informasi penting, mengonfirmasi kecurigaan, dan memberikan petunjuk tentang siapa yang harus diselidiki.
Arsip—perusahaan minyak tidak serta merta memutuskan untuk memulai proyek pengeboran. Umumnya, mereka terlebih dulu menyimpan aset mereka di Afrika, Amerika Latin, dan Karibia selama satu dekade atau lebih. Informasi dalam arsip perusahaan mungkin dapat memberikan gambaran tentang rencana mereka.
Ide lainnya
- Ekonomi pengetahuan: Peran peneliti, konsultan manajemen, lembaga pemikir, dan firma PR dalam menciptakan dan menyebarkan ilusi iklim
- Dari penelitian ke kebijakan: Telusuri satu penelitian yang didukung industri. Mulai dari pendanaan awal hingga proposal kebijakan.
- Periksa sumbernya: Banyak hal soal para peneliti bayaran yang membantu menyebarkan penolakan perubahan iklim sudah dibahas. Namun, kita baru mengulas permukaan studi-studi ekonomi cacat yang ditugaskan untuk meyakinkan para pembuat kebijakan kalau bertindak atas perubahan iklim akan terlalu mahal. Siapakah para ekonom ini, asumsi apa yang mereka gunakan, dan siapa yang menugaskan atau mendanai penelitian mereka?
Teknik Investigasi
- Permohonan informasi publik
- Pelapor
- Wawancara ahli
- Investigasi media sosial
- Penelurusan arsip
Diskusi: Cara Melaporkan Disinformasi Tanpa Memperkuatnya
Jurnalis yang meliput misinformasi dan disinformasi sering kali bertanya-tanya apakah mereka harus membantah kebohongan baru atau mengabaikannya. Pasalnya, membantah kebohongan tersebut bisa jadi malah memberikan kredibilitas dan memperkuatnya. Jika suatu topik pembicaraan benar-benar menarik perhatian, jurnalis bisa menyediakan data dan informasi agar pembaca dan pemirsa bisa membantahnya sendiri. Beberapa jurnalis memilih untuk melakukannya terlebih dahulu di media sosial agar tak ketinggalan berita.
Teknik yang dipelopori oleh ahli bahasa George Lakoff, penemu “sandwich kebenaran” — merupakan cara tepat menangani mis/disinformasi yang banyak mendapatkan perhatian orang. Awali dengan kebenaran, jelaskan kebohongannya, lalu akhiri dengan kebenaran. Meskipun penelitian menunjukkan bahwa “sandwich kebenaran” belum tentu lebih baik dalam mengoreksi kepalsuan dibandingkan dengan jenis koreksi fakta lainnya, strukturnya cenderung membuat orang percaya kepada jurnalis dan proses pengecekan fakta yang telah dilakukan.
Dokumen primer juga merupakan cara efektif melawan misinformasi dan skeptisisme. Jika kamu dapat menunjukkan bahwa suatu perusahaan atau seseorang berencana untuk berbohong kepada publik demi keuntungan, akan cukup sulit bagi mereka untuk membantah bukti yang diajukan. Usahakan untuk mengarahkan orang ke dokumen primer atau sumber audio atau video primer tersebut.
Teknik lain yang direkomendasikan oleh para peneliti disinformasi adalah “pre-bunking.” Sebagai contoh, jika seorang reporter tahu akan ada peningkatan disinformasi seputar energi terbarukan (memang ada! Bahkan sudah dimulai!), maka akan bermanfaat untuk mengingatkan publik. Reporter bisa memberitahu khalayak bahwa kampanye-kampanye yang mendiskreditkan proposal energi terbarukan dan memberi mereka informasi yang untuk memahami dengan tepat apa yang terjadi, akan bermunculan.
Untuk mempelajri lebih lanjut tentang meliput disinformasi tanpa memperkuatnya, lihat panduan lapangan Climate Action Against Disinformation, sebuah koalisi global organisasi iklim dan anti-disinformasi. Ikuti buletin mereka untuk mendapatkan tren terbaru dan perkembanhan greenwashing serta disinformasi iklim.
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di GIJN. Simak artikel lainnya dalam Panduan Investigasi Bahan Bakar Fosil.



