Ekspansi Pertambangan Nikel Picu Deforestasi

Penambangan nikel di Halmahera Tengah tak hanya mengakibatkan deforestasi. Ia membikin aliran air sungai menjadi keruh, banjir bandang, hingga merampas kehidupan warga yang selama ini tinggal di sekitar alur sungai.

Oktaviana Kristin Takuling membeli enam air kemasan galon seharga Rp 30 ribu pada April 2023 lalu. Air isi ulang yang dijajakan menggunakan mobil bak terbuka itu dibeli karena warga Desa Lelilef, Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara tak punya banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Sumber air berupa sumur di desa kini mulai kering. Sedangkan aliran Sungai Akedoma yang terletak tak jauh dari desa berangsur keruh. Saat air sungai jernih, keluarga Yana—begitu ia dipanggil, tak pernah sekalipun membeli air dalam galon. ”Tak ada ada air lagi,” kata dia.

Menurut Yana, Sungai Akedoma sudah bertahun-tahun menjadi sumber utama air bersih bagi warga Desa Lelilef. Aliran sungai juga kerap dijadikan tempat menjalankan prosesi keagamaan, seperti pembaptisan. Tapi, kini, warga tak bisa lagi mengandalkan aliran sungai untuk keperluan rumah tangga. Selain berwarna cokelat, air sungai sungai juga dipenuhi lumpur. Ia menduga penambangan nikel secara masif di hulu dan pembangunan kawasan industri nikel di hilir menjadi sebab dari rusaknya aliran sungai di desanya. “Jangan sampai menimpa seluruh desa,” ia berharap.

Desa Lelilef merupakan satu dari 61 desa yang terletak di bagian tengah Pulau Halmahera. Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri pada 2020, pulau ini sedikitnya dihuni sekitar 63 ribu orang dengan kepadatan penduduk mencapai 23,81 jiwa per kilometer persegi.

Sejak Halmahera dilirik sebagai ladang nikel medio 2000-an, tak sedikit warga yang kehilangan pekerjaan, terutama mereka yang berprofesi sebagai petani. Tambang juga telah mengubah demografi yang kemudian melahirkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti tumpukan sampah, debu, hingga air tanah menjadi keruh—persis seperti yang dialami keluarga Yana. Ia mentaksir kondisi tersebut akan bertambah parah mengingat cadangan nikel di Halmahera terbilang berlimpah.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan cadangan nikel dalam negeri sebesar 11,7 miliar ton atau setara dengan 52 persen cadangan nikel dunia. Komoditas untuk bahan baku baterai ini tersebar mulai dari Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua. Cadangan nikel di Sulawesi ditengarai mencapai 2,6 miliar ton, Papua 60 juta ton, sedangkan Maluku mencapai 1,4 miliar ton.

”Melihat wilayah greenfield nikel yang masih luas, potensi cadangan yang besar dan peluang industri hilir nikel masih dibutuhkan. Indonesia adalah pilihan menarik untuk dilakukan pengembangan investasi pada sektor pertambangan nikel,” ungkap Kementerian ESDM dalam rilis yang diterima Jaring.id.

Di Maluku Utara eksploitasi nikel dibagi menjadi 44 izin usaha pertambangan (IUP) dan 1 kontrak karya. Total luasan lahan yang diberikan berdasarkan catatan Forest Watch Indonesia (FWI) seluas 201 ribu hektar. Puluhan izin itu di antaranya diserahkan kepada PT. Weda Bay Nickel seluas 45 ribu hektar, PT Halmahera Sukses Mineral mencapai 7.726 hektar, 1.000 hektar kepada PT Tekindo Energi, PT Karunia Sagea Mineral menguasai 1.225 hektar, dan PT First Pacific Mining seluas 2.080 hektar.

Juru Kampanye Hutan FWI, Agung Ady menyebut deforestasi tak terhindarkan dari aktivitas penambangan nikel di Halmahera. Hasil penelitian FWI menunjukkan bahwa ada sekitar 180.587 hektare lahan konsesi yang masuk kawasan hutan lindung dan hutan produksi. ”Kebanyakan atau hampir 90 persen masuk hutan lindung dan hutan produksi. Pasti akan timbul deforestasi baru,” bebernya.

Sementara deforestasi yang terjadi di sekitar Sungai Sagea diperkirakan mencapai 392 hektar, Sungai Gemaf alami sekitar 461 hektar, Sungai Waleh seluas 636 hektar, dan Sungai Kobe sebanyak 4.291 hektar. ”Tiga tahun terakhir analisis 2021 hingga September 2023 terjadi 5700 hektar deforestasi di DAS. Kobe lebih dulu dieksploitasi. Makanya deforestasinya lebih besar,” ungkapnya. Pengrusakan hutan itu mengakibatkan daerah aliran sungai (DAS) yang menderas ke Teluk Weda rusak.

Deforestasi di Maluku Utara, menurut Agung, tidak hanya mempertaruhkan hutan dan sungai. Keanekaragaman hayati dan tergesernya tempat tinggal masyarakat adat adalah sedikit dari dampak lain yang ditimbulkan oleh pembabatan hutan. Dampak buruk tambang akan lebih besar karena daerah ini memiliki ratusan ribu lebih keanekaragaman hayati, mulai dari mata air, flora, fauna, hingga kawasan karst. ”Maluku Utara salah satu yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Karena Wallacea ini kan secara biodiversitas sangat baik dan tinggi,” jelasnya.

Salah satu biogeografis yang akan terancam tambang ialah Taman Nasional Aketajawe. Sebab taman nasional yang dilintasi daerah aliran sungai (DAS) Kobe ini terletak tidak jauh dari zona tambang. ”Air kan mengalir dari hulu ke hilir. Kalau di atasnya rusak, maka bisa masuk taman nasional. Jadi ikut rusak,” kata dia.

Potret kerugian dan dampak kerusakan ekologi yang disampaikan Agung hanya segelintir kisah gelap yang muncul di Halmahera Tengah. Pembabatan hutan di sana membikin wilayah yang berada di lingkar tambang rentan dilanda banjir bandang. ”Kalau wilayah hutan dan lahan deforestasi akan mempermudah laju air kian deras. Kan kalau ada hutan air akan ketahan dan terserap pohon,” ujar Agung.

Pada 13 September 2023, Mmlapetaka yang dikhawatirkan Agung dan Koalisi Save Sagea terjadi. Desa Lelilef, Gemaf, hingga Sagea yang masuk dalam wilayah lingkar tambang IWIP tersapu banjir bandang. Ratusan rumah warga terendam banjir setinggi 20-75 centimeter. Sungai-sungai yang menjadi tempat penyangga, menurut Agung, tak lagi berfungsi baik lantaran mengalami pendangkalan akibat lumpur.

Dalam catatan #SaveSagea sedikitnya terdapat 15 rumah yang rusak, ribuan warga kesulitan mengakses jalan, dan ratusan warga juga sulit memperoleh makanan. Banjir tersebut juga menewaskan satu pekerja IWIP. Korban ditemukan tewas di sungai yang terletak tak jauh dari smelter perusahaan.

***

Akhir April 2023 lalu, Jaring.id menyusuri Desa Lelilef sampai Sagea. Dalam perjalanan tersebut terlihat gugusan bukit berhutan dikupas alat berat. Longsoran tanah dari pembukaan hutan itu menimbulkan longsoran tanah yang jatuh persis ke aliran sungai. Akibatnya, sungai menjadi keruh berwarna coklat pekat. Sejak Juli 2023 lalu tercatat sudah sekitar lima kali sungai yang sebelumnya jernih ini menjadi keruh. Di mulai pada 14-15 Juli, 28-29 Juli, 1-4 Agustus, 14-16 Agustus, dan bulan ini terjadi pada Minggu, 3 Desember 2023 lalu.

Dari Sagea, kami melanjutkan perjalanan ke hulu menuju Goa Boki Maruru. Perjalanan menuju mulut goa sejauh 1 kilometer itu dilakukan menggunakan perahu. Dari kejauhan sudah terdengar kelelawar mengernyit, bersahutan satu dengan yang lain. Sekira 500 meter dari bibir goa terlihat kilauan air yang merambati stalagmit dan stalaktit berbentuk kanopi dan gorden. Tak jauh dari goa terdapat Danau Lalego yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik.

Ketua Umum Masyarakat Speleologi Indonesia, Petrasa Wacana menjelaskan Karst Sagea merupakan goa terpanjang di Indonesia. Ia merujuk laporan yang diterbitkan oleh tim Ekspedisi Speleologi dari Perancis pada1988. ”Goa ini merupakan goa dengan karakteristik lorong horizontal bertingkat yang memiliki ruangan yang besar dan secara geologi disusun oleh batugamping masif,” jelas Petrasa.

Dengan topografi tersebut, kata dia, kawasan Karst Sagea menyimpan aliran sungai bawah tanah yang mengalir sampai Sungai Sageyen alias Sungai Sagea. ”Sungai ini merupakan sistem sungai yang hilang dan muncul kembali sekitar 7 kilometer dan tidak jauh dari pantai yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari,” lanjutnya.

Ia khawatir sistem sungai tersebut kembali tiada akibat sedimen proyek tambang yang kerap masuk ke alur sungai. ”Ekosistem Sungai Sagea tidak akan bisa dipulihkan kalau begitu,” tegas Pertasa.

”Sekalipun pulih butuh waktu lama. Ini harga yang harus dibayar ketika tidak berpihak pada keselamatan ekosistem Sungai Sagea,” tambahnya.

Sementara itu, peneliti Karst Goa Boki Maruru, Deddy Arief menjelaskan bahwa kondisi batuan gamping Sagea saat ini masih terbilang baik sekalipun daerah sekitarnya dikepung tambang nikel. ”Dari kubah ke dalam ada lapangan. Dia punya plafon goa luas sekali. Dari pertama naik tangga stalagmit dan stalaktit sudah bisa ditemukan,” beber Deddy saat ditemui Jaring.id.

Keunikan lain yang dimiliki Goa Boki adalah patahan yang muncul akibat fase tektonik sekitar 24-100 jutaan tahun silam. ”Sangat lama sekali. Sebetulnya karst Sagea segaris persis dengan Akejira yang punya taman nasional. Ini karst Halmahera yang isinya Halmahera Timur, Selatan, Utara. Ini semacam Kawasan Bentang Alam Karst Halmahera,” ia menjelaskan. Meski begitu, ia mendesak agar ada upaya serius dari pemerintah guna memitigasi dampak tambang nikel terhadap lingkungan.

Jumat, 8 Desember 2023, masyarakat Halmahera juga menggelar aksi di depan Istana Presiden, Jakarta.

Untuk menyelamatkan ruang hidup dan Goa Boki Maruru masyarakat adat bersama Koalisi Save Sagea kerap menggelar aksi protes terhadap dugaan pencemaran sungai. Mereka menuntut agar pemerintah daerah menghukum pelaku pencemaran. Selain itu, pemerintah juga didesak mengevaluasi izin tambang dan memulihkan sungai. ”Kami meminta agar operasi perusahaan di hulu dihentikan. Selain itu lakukan evaluasi dan penegakan hukum yang tegas,” ujar Koordinator Koalisi Save Sagea, Adlun Fiqri pada Selasa, 7 November 2023.

Kata Adlun, hal tersebut perlu segera dilakukan karena tidak sedikit warga yang bergantung pada aliran sungai-sungai di Weda. ”DAS hutan memiliki ekosistem keanekaragaman hayati tinggi. Sungai dan hutan juga dijadikan sumber penghidupan, lokasi bersejarah yang dikeramatkan leluhur. Dari hal itu tidak boleh ada tambang,” tutupnya.

 


Artikel yang Anda baca tadi merupakan bagian kedua dari liputan terhadap dampak penambangan nikel di Maluku Utara. Sebelumnya, Jaring.id menerbitkan artikel berjudul “Yang Rusak karena Tambang Nikel Halmahera.” Dua hasil liputan ini terbit berkat dukungan dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam).

Jagal Sirip Hiu di Tengah Laut Arafuru

Tumpukan kulit dan sirip hiu lanjaman (Carcharhinus falciformis) dan hiu tikus (Alopias pelagicus) menggunung di dalam gudang yang terletak di pelabuhan Pantai Belakang Wamar, Dobo,

Berlangganan Kabar Terbaru dari Kami

GRATIS, cukup daftarkan emailmu disini.