Banyak cara untuk memvisualisasikan dampak dramatis kenaikan permukaan. Foto yang dimodifikasi secara digital dapat menunjukkan bagaimana kenaikan permukaan air dapat memengaruhi monumen dan bangunan berharga, sehingga mampu membangun daya tarik emosional. Sementara itu, peta interaktif memungkinkan pengguna untuk mencari tahu apakah gelombang akan mencapai rumah mereka. Singkatnya, foto dan grafik dapat menjadi cara visual yang ampuh untuk menggambarkan konsekuensi akibat kenaikan permukaan laut.
Dampak pada Bangunan Bersejarah Terkenal
Picturing Our Future adalah kumpulan proyeksi dramatis untuk 189 lokasi di seluruh dunia yang dibuat oleh Climate Central. Perkiraan tersebut didasarkan pada makalah penelitian berjudul Unprecedented Threats to Cities from Multi-century Sea Level Rise (Ancaman yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya bagi Kota-Kota Akibat Kenaikan Permukaan Laut Selama Beberapa Abad) yang dipublikasikan pada 2021. Karya Climate Central juga telah ditampilkan oleh Google Earth.
Majalah Money membuat poster wisata yang menunjukkan kondisi sebelum dan sesudah kenaikan permukaan laut di beberapa destinasi populer, termasuk New York City, Venesia, dan Maladewa.
Sementara itu, surat kabar The Straits Times memuat gambar patung Merlion, maskot resmi Singapura, dikelilingi air.
Peta Interaktif
The Invading Sea, situs berita yang berbasis di Florida, Amerika Serikat mengintegrasikan peta Climate Central pada situs web mereka. Pengguna bisa memeriksa kondisi iklim di tempat tinggal mereka atau lokasi mana pun. Menariknya, situs berita tersebut merupakan hasil kolaborasi 25 surat kabar Florida dengan WLRN, radio publik Florida Selatan, serta mendapatkan dukungan dari Energy Foundation dan Environmental Defense Fund. The Invading Sea menampilkan “editorial dari para surat kabar mitra dan opini dari para ilmuwan, akademisi, aktivis, serta warga yang tertarik pada Florida dan ancaman yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.”
Sementara itu, platform Earth Time memungkinkan pengguna menggulir peta ke berbagai bagian dunia untuk mengetahui bagaimana kenaikan permukaan laut naik berdasarkan berbagai proyeksi.
Coastline Paradox adalah eksperimen seni daring interaktif karya dua seniman Finlandia yang menumpangkan garis horizontal bercahaya pada pada Google Street View untuk menunjukkan kenaikan permukaan laut di masa depan. Fitur interaktif dapat digunakan untuk melihat garis tersebut naik dari waktu ke waktu di berbagai lokasi di seluruh dunia.
LSM dan lembaga pemerintah di AS juga mengelola beberapa peta. Misalnya:
- Cape Cod Sea Level Rise Viewer memungkinkan pengguna memilih permukaan laut dan melihat pergerakannya di peta.
- Komunitas Pesisir yang Terdampak Kenaikan Permukaan Laut di Maine menampilkan peta dari beberapa lokasi.
- Atlas Pesisir Oregon menunjukkan dampak kenaikan permukaan laut pada muara sungai.
- Artikel berjudul “How Rising Sea Levels Could Push Up a ‘Toxic Soup’ Into Bay Area Neighborhoods” yang dipublikasikan lembaga penyiaran publik San Francisco, KQED, menyertakan peta interaktif yang dikembangkan untuk situs web Toxic Tides.
Foto dan Grafik

Foto-foto digunakan untuk menunjukkan dampak terkini dari kenaikan permukaan laut dan siapa saja yang terkena dampaknya.
- Buku “Bangladesh’s Hidden Climate Costs” karya The New Humanitarian menampilkan serangkaian foto orang-orang yang menghadapi kenaikan permukaan laut.
- Artikel berjudul “These Six Factors Explain Why Louisiana is Rapidly Losing Land” oleh Nola.com menggunakan berbagai grafik, peta, dan foto eksplanatoris.
- “The Change Luck City: Dhaka’s Climate Refugees” adalah kumpulan foto tentang ibu kota Bangladesh dari The Diplomat.
- Buku Alex Maclean berjudul “Aerial Photos of Sea Level Rise” menampilkan pilihan foto dari “Impact”, buku foto udara karyanya yang mengungkap bagaimana komunitas dan infrastruktur di AS rentan terhadap banjir dan cuaca ekstrem lainnya.
- The Last Holdouts karya Economic Hardship Reporting Project dan Scientific American, menawarkan potret sinematik komunitas Pribumi Pointe-Au-Chien di Louisiana yang menghadapi kehilangan tanah air mereka di Pesisir Teluk akibat penurunan permukaan tanah dan perubahan iklim.
- How Climate Change Is Changing the Coastline of The Chesapeake Bay, sebuah wawancara di BuzzFeed, menampilkan karya Michael O. Snyder, seorang ilmuwan yang beralih profesi menjadi fotografer. Inovasinya meliputi:
- Menempelkan pita biru di tanah untuk menandai area yang diperkirakan akan tergenang air dan mengambil gambarnya.
- Mewarnai foto drone dengan warna biru untuk menunjukkan rumah mana yang mungkin berada di bawah air.
- Mengambil potret 30 individu yang memegang tongkat untuk menunjukkan seperti apa kenaikan permukaan laut setinggi enam kaki yang bisa terjadi di tempat mereka.
Karya Seni

Para seniman juga aktif dalam menggambarkan kenaikan permukaan laut dan dapat menjadi sumber bagi para editor. Beberapa di antaranya adalah:
- Instalasi dramatis karya Lorenzo Quinn yang menampilkan dua tangan muncul dari kanal di Venesia, salah satu kota yang paling berisiko terkena dampak naiknya permukaan laut.
- Perangkap lobster bertumpuk karya seniman lanskap Carolina Aragón di Boston menggambarkan seperti apa dampak kenaikan permukaan laut dalam berbagai level yang berbeda.
- Para seniman di Denmark membuat bangku-bangku umum yang lebih tinggi 85 sentimeter dari ukuran normal untuk menyoroti risiko naiknya permukaan laut.
- Lampu-lampu di sebuah rumah tepi laut di Skotlandia menandai seberapa banyak bagian bangunan yang bakal tergenang akibat kenaikan permukaan laut. Karya tersebut dirancang oleh seniman Finlandia Pekka Niittyvirta dan Timo Aho.
Beberapa literatur tentang banjir dan kenaikan permukaan laut dirangkum dalam artikel Sea-Level Rise: Writers Imagined Drowned Worlds for Centuries – What they Tell Us About the Future dan Melting Ice and Rising Seas. From Greek mythology to J.G.Ballard. Kisah-kisah yang ditampilkan mungkin memberikan petunjuk budaya atau narasi apokaliptik kepada para jurnalis yang mungkin dapat menarik perhatian audiens mereka.
Aka Niviana, seorang penyair dari Greenland, dan penulis Kathy Jetnil-Kijiner, yang berasal dari Kepulauan Solomon, sama-sama melihat bagaimana komunitas mereka terdampak oleh perubahan iklim: bagi salah satu dari mereka, es mencair, menghancurkan mata pencaharian; bagi yang lain, naiknya permukaan laut mengancam pulau-pulau yang ditinggali banyak orang. Mereka berkolaborasi dalam sebuah puisi, “Rise.” Kata-kata dan detail mengenai mereka dimuat dalam sebuah kolom yang ditulis pakar perubahan iklim Bill McKibben. Ia mengatakan: “Gagasan yang paling sulit disampaikan adalah gagasan yang paling sederhana: kita hidup di sebuah planet, dan planet itu sedang retak. Ternyata, para penyair dapat menyampaikan pesan tersebut.”
Berikut kutipan dari puisi karya Jetnil-Kijiner dan Niviana:
The very same beasts
That now decide
Who should live
And who should die …
We demand that the world see beyond
SUVs, ACs, their pre-packaged convenience
Their oil-slicked dreams, beyond the belief
That tomorrow will never happen
And yet there’s a generosity to their witness – a recognition that whoever started the trouble, we’re now in it together.
Let me bring my home to yours
Let’s watch as Miami, New York,
Shanghai, Amsterdam, London
Rio de Janeiro and Osaka
Try to breathe underwater …
None of us is immune.
Life in all forms demands
The same respect we all give to money …
So each and every one of us
Has to decide
If we
Will
Rise
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di GIJN dengan judul “GIJN’s Guide to Investigating Sea Level Rise: Chapter Five — Visualizing Rising Oceans“



