Panda Nababan, yang sekarang mentereng sebagai politisi, adalah seorang wartawan yang lama bergelut dengan peliputan investigasi. Kerja kerasnya melakukan peliputan investigasi ia tuliskan dalam buku ?Jurnalisme Investigatif Panda Nababan: Menembus Fakta, Otobiografi 30 Tahun Seorang Wartawan?.

Judul : Jurnalisme Investigatif Panda Nababan: Menembus Fakta

Penulis : Panda Nababan

Penerbit : Q Communication

Tahun terbit : 2009

 

Jurnalisme investigasi bukan hal mudah untuk dilakukan, apalagi dengan kecenderungan media saat ini yang mengutamakan kecepatan dan jumlah berita. ?Peliputan investigasi memerlukan waktu yang lebih banyak dan kadang dengan hasil yang tak bisa terukur, adakalanya seperti berjudi. Akibatnya tak banyak wartawan yang melakukan jenis liputan ini.

Panda Nababan, yang sekarang mentereng sebagai politisi, adalah seorang wartawan yang lama bergelut dengan peliputan investigasi. Kerja kerasnya melakukan peliputan investigasi ?ia tuliskan dalam buku ?Jurnalisme Investigatif Panda Nababan: Menembus Fakta, Otobiografi 30 Tahun Seorang Wartawan?.

Dalam buku ini Panda mengisahkan karier kewartawanannya yang dimulai sejak bekerja di Warta Harian pada 1969. Di Koran tersebut kemampuan jurnalistiknya pertama kali diasah. Panda kemudian? pindah ke Sinar Harapan ?tahun 1970. Bekerja sebagai wartawan di bawah tim khusus pimpinan Aristides Katoppo.

Di tim tersebut Panda mendapat banyak kesempatan untuk? melakukan peliputan investigasi yang kerap membuat resah penguasa Orde Baru. Tiras Sinar Harapan turut terdongkrak? pada periode tersebut hingga akhirnya terganjal? pemberitaan RAPBN 1973-1974. Akibat pemberitaan tersebut Aristides ?dipaksa? keluar dari Sinar Harapan, sedangkan Panda tetap bertahan hingga 1987.

Pada 1976 Panda menyabet penghargaan Adinegoro berkat tulisannya yang? mengupas praktik penyelundupan dan manipulasi di Pelabuhan Udara? Halim Perdanakusuma. Guna mengetahui seluk beluk oraktik tersebut, dia memutuskan untuk menyamar menjadi karyawan Ekspedisi Muatan Kapal Udara (EMKU).

Sepak terjang Panda dalam dunia jurnalistik, termasuk detil teknis dalam melakukan investigasi, dipaparkan dalam otobiografi ini. Dia pernah merekam secara diam-diam pembicaraannya dengan Ciputra mengenai kasus penggusuran di Kalibata meski telah berjanji bahwa pembicaraan tersebut sifatnya off the record. Selain itu, Panda pernah mengambil berkas penting tentang kapal Tampomas II yang terbakar dan tenggelam di Perairan Masalembo tanpa izin.

Berbagai cara yang dilakukan Panda dalam melakukan peliputan investigasi tentunya menimbulkan pertanyaan seputar etika peliputan. Tapi dia memberikan alasan untuk tingkahnya tersebut, ?Apa yang saya lakukan itu sepatutnya dilihat dari situasi sosial-politik pada masa itu, yang berada di bawah kendali rezim militer Orde Baru, yang kekuasaannya nyaris tidak dikontrol oleh siapa pun.?

Lebih jauh dia menyimpulkan bahwa, ?seorang wartawan investigatif harus menjalankan peran diplomat dan detektif. Dalam menguak tabir kebenaran, wartawan harus senantiasa kreatif dan tak segan memutar otaknya. Kadang, dalam situasi yang tidak kondusif, batasan-batasan moral atau etik bias dinisbikan, sepanjang itu demi kepentingan masyarakat banyak.?

Di ujung petualangannya sebagai wartawan, Ayah dari Putra Nababan ini sempat mendirikan harian Prioritas bersama Surya Paloh, dan bekerja tak berapa lama di Media Indonesia. Petualangannya di media massa diakhiri dengan membesarkan Majalah Forum Keadilan bersama Karni Ilyas, sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik.

Lebih dari sekedar otobiografi, buku ini menggambarkan kerja wartawan dalam kondisi yang berbeda dengan saat ini. Pada masa Orde Baru wartawan dan media harus bekerja di bawah bayang-bayang pembredelan oleh penguasa.

Tags:
Categories: Review Buku

Tinggalkan Balasan