JAKARTA, JARING.id – Menemukan ide investigasi bisa jadi bagian tersulit bagi seorang wartawan. Beberapa mengira sebuah cerita dimulai ketika seorang misterius memberikan dokumen rahasia atau adanya panggilan telepon dari anonim. Setelah isi terungkap, cerita muncul di halaman depan, dengan byline dicetak tebal. Pujian, pengakuan dan penghargaan mengikuti.

Tetapi sering romansa itu tidak terjadi. Watergate dimulai dengan dokumen rahasia dan telepon anonim, namun tekad jurnalis bersangkutanlah yang menginspirasi dan membuat cerita itu terkenal. Kita tahu dokumen dan telepon anonim itu hal langka.

Jurnalis tidak pernah berhenti dari tugasnya. Mereka terus membuka mata dan melihat adanya penutupan saluran air saat menuju tempat bekerja, antrean panjang pembuatan paspor, atau kekasaran perawat klinik. Pada pandangan pertama kita bisa bertemu banyak ide cerita yang perlu investigasi dan pembuktian. Catat dan rekam dengan ponsel Anda.

Pengalaman pribadi memang belum representatif untuk mengangkat sebuah isu. Menulis tentang pengalaman pribadi adalah kolom opini, bukan laporan investigasi. Untuk membuat sebuah laporan yang tepat, mencari alasan, memahami konteks, perlu bicara dengan orang berbeda. Itu juga memastikan akhir cerita Anda mewakili sesuatu, lebih dari sekadar keluhan pribadi.

Ini juga berlaku untuk kenalan Anda. Pengalaman mereka nyata, tapi mungkin tak representatif dan bias perasaan pribadi. Hindari informasi yang disampaikan teman yang tidak mengalami langsung masalah. Misalnya, dia mengatakan, “Saya punya sepupu yang tahu seorang wanita yang meminta suap di bandara”, kecuali wanita itu memiliki nama, alamat dan dapat diwawancarai. Pengalaman pribadi bisa jadi titik awal penyelidikan yang baik – tapi ingat itu hanya titik awal.

Centre for Investigative Journalism (CIJ) memberikan catatan tambahan. Pengalaman yang Anda angkat bisa saja berasal dari teman dekat atau tetangga. Tapi, seorang teman tidak otomatis mau membantu. Bisa saja mereka terikat komitmen agar tidak mengungkapkan informasi berkaitan pekerjaan mereka. Selalu dapatkan izin sebelum menggunakan cerita pribadi seseorang.

Wartawan mengeluh “Saya tidak punya cukup bukti!”, bahkan setelah mengunjungi asal cerita. Tapi sebenarnya ini sudah menjadi bukti. Wartawan adalah saksi terbaik bagi cerita mereka karena ia mengalami kejadian sendiri. Mengalami sendiri dan mengobservasi langsung adalah cara terbaik untuk memulai sebuah cerita. Jangan pernah bergantung pada ingatan, selalu catat dan kembali rekam dengan ponsel Anda.

Menanggapi Gosip dan Rumor

Media punya agenda setting mengarahkan orang-orang pada informasi yang seharusnya membuat mereka tertarik. Sama halnya dengan gosip atau rumor. Jurnalis harus membuka mata untuk setiap petunjuk cerita dan punya telinga yang peka pada apa yang dibicarakan orang-orang. “Radio pinggir jalan” akan selalu bercerita perkembangan gosip dan banyak dari dongeng itu benar. Jurnalis harus bertanya pada diri mereka sendiri mengapa memercayai itu. Apakah orang-orang juga menggosipkannya di facebook?

Langkah pertama harus mengonfirmasi keabsahan rumor. Selalu cek sumber yang ada dalam posisi untuk tahu. Hanya saat rumor memiliki beberapa hal substansi, perencanaan cerita dimulai.

Sebagian cerita bisa benar dan bagian lainnya bisa salah karena diarahkan untuk agenda tertentu. Sebelum memutuskan mengangkatnya menjadi cerita, tanyakan beberapa hal seperti: apakah cerita ini akan saya tulis jika tidak mendapat bocoran? Apakah saya bergairah dengan cerita ini? Apakah kebenaran yang digali untuk kepentingan umum? Jika informasi bisa dikuatkan maka untuk mengungkap sebuah rumor, Anda bisa menjawab “Iya”.

Korupsi, Topik Dua Sisi Mata Uang

Lalu bagaimana dengan kasus korupsi anggota panitia tender dan mantan pengemplang pajak? Mengekspos korupsi yang dilakukan individu mungkin tidak berdampak luas terhadap keadilan sosial dan kepentingan umum. Tetapi bagi jurnalis, mengekspos satu pelaku, orang lain akan ketakutan dan perlawanan terhadap korupsi semakin maju.

Paparan pers soal korupsi individu yang tak terhitung jumlahnya, hanya menunjukkan sedikit dampak signifikan terhadap korupsi sistemik, bahkan dalam korupsi yang sudah mendarah daging di setiap struktur dan terkadang dalam struktur yang dibangun untuk mencegah korupsi.

Jika jurnalis dapat mengungkap satu contoh korupsi dengan menyoroti kelemahan sistem yang membuat penggelapan pajak dan penyuapan lebih mudah, cerita itu mungkin berdampak signifikan. Atau investigasi dapat menghubungkan dampak penggelapan pajak terhadap kurangnya sumber daya di klinik kesehatan. Itu bisa menjelaskan masalah secara umum, tidak hanya meratapi.

Petunjuk Lain Ide Cerita

Membaca adalah sumber paling penting untuk ide cerita, cara terbaik meningkatkan profesionalisme dan kemampuan menulis. Jika serius dengan langkahmu, membaca semua terbitan mengenai itu adalah kewajiban profesional dan dasar untuk berkarier profesional dalam jurnalisme investigasi.  Jangan habiskan waktu hanya memproses informasi yang datang, tetapi cari terus informasi baru untuk mengembangkan dasar pengetahuan Anda.

Brant Houston, mantan direktur eksekutif Investigative Reporters and Editors (IRE), mengingatkan bahwa koran lokal menyediakan banyak benih cerita investigasi. Surat kabar lokal juga jadi sumber laporan menarik mengenai konstruksi baru atau proyek-proyek pemerintah dan kasus pengadilan lokal.

Apa yang juga jarang dilakukan jurnalis adalah melanjutkan cerita yang telah diterbitkan. Survei pembaca menunjukkan mereka menyukai cerita tindak lanjut. Mereka ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, mengapa hal itu terjadi atau apa cerita di balik berita singkat.

Carilah berita yang mengabaikan pertanyaan “mengapa” atau tampaknya terfokus sempit pada satu aspek sebuah isu. Lihat juga alternatif lain dengan meliput cerita biasa atau cerita rutin, seperti hari peringatan global atau nasional.

Laporan resmi dan LSM sering dilihat sebagai tugas rutin daripada menjadi sumber cerita yang menarik. Padahal jika isinya dibaca dengan hati-hati, laporan itu bisa mengungkap informasi baru dan menantang memulai investigasi.

Meski sumber daya atau geografi membatasi akses terhadap publikasi luar negeri dan situs website, wartawan investigasi harus menggunakan saluran apa pun sehingga tetap up to date. Berbagai layanan informasi kedutaan dan organisasi nonpemerintah memiliki perpustakaan, sering sekali dengan akses internet. Jika tidak ada alternatif, wartawan harus terbiasa mengunjungi jika memungkinkan.

Jika Anda mengakses internet secara teratur, cari situs berita dan jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Tweet feed memberikan informasi dasar dan berita terbaru tentang kayanya isu saat ini. Hal ini penting untuk informasi kesehatan atau ilmu pengetahuan, di mana pemerintah bisa mengubah kebijakan dengan cepat.

Beberapa jurnalis di negara berkembang masih menulis cerita kurangnya perawatan efektif bagi penderita AIDS setelah obat antiretroviral diuji dan penggunaannya sukses di Eropa dan Amerika Serikat. Jurnalis itu mungkin tidak punya akses terhadap informasi ini, atau tidak punya akses internet. Ini membuat jurnalis lambat membuat publik peduli untuk isu penting kesehatan: hak mengakses obat dan sejumlah kendala yang menghambat mereka. [Debora B Sinambela]

Sumber : http://www.investigative-manual.org/

Categories: Tips