JAKARTA, JARING.id – Merah, hitam, hijau, biru, dan putih berpadu. Warna cat gedung rumah susun Rawa Bebek yang masih mengilap, menjadi pemandangan kontras. Di kiri dan kanan bangunan itu menghampar lahan kosong yang ditumbuhi rumput hijau, sedangkan di depannya mengalir air coklat Banjir Kanal Timur.

Sekitar 100 meter sebelum sampai ke pintu gerbang, jalan menuju rusun masih tanah kuning berbatu dan sedikit bergelombang. Debu akan beterbangan setiap kendaraan melintas. Berbeda dengan kitaran dalam rusun yang luas lahannya kurang lebih 26.000 meter persegi, lintasan ini hampir seluruhnya tertutup paving block.

Di kawasan ini sudah tiga hari Samsiar tak pergi memulung. Rumahnya di lantai 4 Blok D Rumah Susun Rawa Bebek selalu tertutup. Tak tahu apa yang terjadi dan penasaran, seorang tetangga yang kediamannya selang 2 rumah saja datang melongok. Ternyata sang jiran meringkuk di tempat tidur karena sakit.

Kesehatan Samsiar tak kunjung membaik. Klinik kesehatan di rusun tidak bisa menangani dia karena obat tak tersedia. Ia lantas dibawa ke Puskemas Cakung. Di sana dokter bilang, ia mengalami panas dalam akut sehingga sampai berak darah. Ia juga diminta dokter itu mengurus Kartu Indonesia Sehat agar katarak di mata kanannya dioperasi. Sudah berak darah, katarak mata harus dioperasi pula! Ia tak tahu harus berkata apa; merasakan sakitnya saja ia sudah hampir kehabisan kata-kata.

Sebab apa Samsiar sakit? Jawabannya sederhana. Pola makannya tak pernah teratur. Perkaranya bukan disiplin diri melainkan uang yang tak memadai untuk membeli asupan tubuh yang memadai dan bergizi. Penghasilannya sebagai pemulung cuma Rp. 80.000 – Rp. 100.000 per hari. Uang ia punya baru setelah menjual barang bekas yang dikumpulkan 3 minggu. Kerap rupiah itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Setelah membayar utang sana-sini, biasanya yang tersisa dari pemasukan saban hari itu cuma Rp. 30.000. Padahal masih ada pengeluaran lain yang sangat penting: membeli pulsa listrik. Harganya Rp. 25.000. Tentu saja dia tidak bisa tinggal di rumah susun tanpa pencahayaan; apalagi ia masih punya anak yang duduk di kelas 4 SD.
“Itu baru bayar listrik, belum bayar air dan rumah. Abis, duit pas-pasan… bagaimana bayar air? Makan sehari-hari aja nggak ada,” ucapnya lirih.

Samsiar pindah ke sana sejak April 2016. Rusun Rawa Bebek yang ditempatinya terdiri dari 6 blok, masing-masing dengan 5 lantai. Untuk mencapai setiap lantai tersedia tangga dan lift. Luas setiap unit 24 meter persegi (6×4) dengan 2 kamar mandi di sisi kiri dan kanan pintu masuk, tanpa ada dapur. Tempat memasak dan menjemur pakaian menyatu di ruang terbuka yang disekat kerangkeng besi. Kompor dan peralatan masak lain tergeletak di lantai.

Rusun yang dibangun lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ini sebenarnya diperuntukkan bagi lajang. Namun blok A, E, dan F dijadikan tempat tinggal sementara bagi 189 dari total 310 kepala keluarga korban gusuran Pasar Ikan. Mereka akan dipindahkan kalau rusun keluarga yang sesuai untuk mereka telah rampung.

Tiga bulan pertama penghuni belum dikenai biaya sewa. Mereka hanya diminta membayar air dan pulsa listrik. Selepas 3 bulan mereka wajib setor uang sewa melalui Bank DKI.

Masa tiga bulan gratis yang diprogramkan pemerintah berakhir sudah. Ketika harus membayar, Samsiar tak sanggup. Kini sudah 4 bulan ia menunggak. Tagihan airnya juga masih menombok. Pengelola rusun sudah memberikan Surat Peringatan pertama (SP1) ke dia.

Ada juga tawaran untuk pindah ke Pondok Bambu. Pengelola menjanjikan bahwa di sana dia bisa berjualan dan anaknya dapat bersekolah gratis. Pula di tempat itu ada panti sosial. Tawaran ia tampik. Yang terlintas di pikirannya, otoritas di sana akan memperlakukan dirinya laksana tahanan.

“Setelah ada SP1 buru-buru saya nangis, ya udah… mendingan saya mati gantung diri di sini. Bunuh diri juga nggak apa-apa. Makan saya nggak ada. Walaupun cuma 300 perak, dari mana uang saya.”

Sekarang berkat bantuan badan amal zakat, infak, dan sedekah, Samsiar tidak perlu memikirkan pembayaran sewa. Namun bantuan ini hanya sementara. Selain itu setiap saat ia bisa dialihkan dari sana karena rusun yang ditempatinya sekarang khusus untuk penghuni lajang. Wajar kalau ia tetap waswas. Kalau sampai pindah ke rusun keluarga awal tahun depan ia harus membayar. Bagaimana itu akan bisa ia lakukan?

Serba Mahal
Salah satu perbedaan yang dirasakan Samsiar sejak pindah ke rusun adalah meningginya pengeluaran. Kalau dihitung, sewa rumah, air dan listrik bisa mencapai Rp. 400.000 per bulan. Dulu, walaupun rumah yang ditempatinya di Pasar Ikan berdiri tanpa sertifikat dan bocor tatkala hujan, tidak ada tagihan sewa yang harus ia bayar. Listrik tidak pernah bayar. Kalau tak punya duit untuk membeli air, ia bisa mandi di sumur.

Nestapa yang kurang-lebih sama dirasakan Sumratul Aini, warga Pasar Ikan yang kini menjadi penghuni Blok F rumah susun Rawa Bebek. Tinggal di rumah susun, menurut dia, memang lebih enak kalau dilihat dari segi atmosfir lingkungan. Lebih bersih, elok, dan aman. Tapi dari segi ongkos, sebaliknya. Segalanya jadi lebih mahal, terlebih pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari. Pasar, misalnya, terlalu jauh kalau dijangkau dengan menapak. Ojeklah yang diandalkan, padahal sekali jalan tarifnya Rp. 15.000. Biaya air Rp. 5.500 per meter kubik; di Pasar Ikan masih lebih murah Rp. 1.000.

“Keluhan ibu-ibu di sini sama: segalanya lebih mahal,” kata Sumratul Aini.

Saman, 45 tahun, menempati Gedung Merpati Rusun Rawa Bebek. Rusun ini dibangun PT Summarecon Agung sebagai bentuk kewajibannya. Setiap mendirikan 1 rusun komersial, perusahaan pengembang wajib menyisihkan 20% dari nilai proyeknya untuk pembangunan rusun umum. Rusun ini terdiri 4 gedung, masing-masing 5 lantai. Tipe unitnya 36 (6×6) dengan 2 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 dapur, 1 kamar mandi, dan sedikit ruang terbuka di belakang. Di setiap gedung hanya disediakan tangga.

Aktivitas di gedung ini terlihat lebih ramai. Ada 320 dari 379 keluarga asal Bukit Duri yang digusur menempatinya. Bagian depan bangunan yang menghadap jalan dipenuhi kios warga. Lantai dasar gedung mereka manfaatkan untuk berjualan makanan, sembako, baju, dan yang lain.

Saman, beserta istri dan kedua anaknya, termasuk warga gusuran pertama dari Bukit Duri. Di tempat ini ia bermukim sejak Juli 2016. Selama 3 bulan pertama dirinya merasa senang sebab pengeluaran rutinnya hanya untuk membayar tagihan air dan membeli pulsa listrik. Sewa rumah gratis.

Untuk seterusnya tagihan airnya ternyata melonjak 2 kali lipat dari bulan pertama, walaupun pemakaiannya sebenarnya lebih sedikit. Pengelola hanya memberitahu lewat papan pengumuman jumlah yang harus dibayar setiap penghuni. Tidak ada angka perhitungan serta struk pembayaran yang mereka berikan ke pengguna air ledeng.

“Saya bingung, bukit pembayaran nggak dikasih. Harusnya dikasih biar kita bisa tau. Kayak dulu bayar listrik kan ada struknya; jadi kita bisa tahu pemakaian berapa dan harganya berapa.”

Saman juga heran sebab biaya listrik yang harus dibayarnya dalam satu bulan bisa sampai Rp 150.000 untuk tiga kali isi ulang voucher. Padahal listrik sudah ia hemat. “Kalau dulu di sana (Bukit Duri) Rp. 150.000 sebulan udah ikut bayar air karena saya pakai sanyo.”

Recehan
Saman tak hanya kehilangan tempat tinggal; usahanya juga ikut melayang. Dulu ia berjualan bumbu di pasar gang Bukit Duri yang buka dari pukul 07.00-10.00 WIB. Waktu pesanan tinggi, keuntungannya bisa sampai Rp. 1 juta dalam 2 hari. Langganannya bisa dari mana saja: pemilik warteg, penjual nasi goreng, atau tukang bakso. Orang yang akan mengadakan pesta pernikahan pun datang.

Ia juga punya usaha sampingan lain, yakni jual-beli lemari dan mengojek. Dari hasil usaha macam-macam itu ia bisa menyekolahkan anaknya hingga lulus SMK swasta. Ia mampu melunasi cicilan motor tanpa pernah menunggak. Setiap tahun dia juga bisa pulang kampung dengan menyisihkan Rp. 50.000 sehari. Rumahnya yang habis terbakar di tahun 2001 bisa dibangunnya kembali.

Ia malah sudah berencana menyewa satu ruko di sekitar Bukit Duri. Tapi penggusuran oleh Pemda DKI telah melenyapkan segenap bisnis dan cita-citanya. Kini untuk membayar sepetak kontrakan senilai Rp. 750.000 per bulan pun ia sudah tak sanggup. Ia tak punya pilihan lagi selain ikut pindah ke Rusun Rawa Bebek.

“Kalau usaha saya kagak digusur, kemungkinan saya masih bisa ngontrak. Usaha digusur, rumah digusur… saya jadi double, blank saya di situ. Seandainya rumah digusur, usaha tidak digusur, saya masih kuat bertahan di Jakarta.”
Di Rusun Rawa Bebek, ia memulai semuanya dari nol. Ia bingung karena sama sekali tidak punya pemasukan apa-apa.

Kemudian dia minta izin kepada pengelola untuk jualan sayuran di lantai dasar.
Awalnya dagangannya laku karena tidak ada saingan. Namun belakangan penjualannya mulai berkurang sebab daya beli masyarakat menurun. Padahal pasarnya sebatas penghuni rusun belaka.

Keuntungan yang didapatnya tidak seberapa. Dia semakin kesusahan manakala harga sayuran naik. Dia berusaha mencari sayuran paling murah agar sesuai dengan daya beli masyarakat rusun. Dari pasar Cibitung, ia pindah belanja ke Pasar Induk Kramat Jati yang waktu tempuhnya satu jam dengan motor kalau tidak macet.

“Di rusun ini teknisi cepat, keamanan terjaga, kebersihan bagus. Itu saya akuin. Jaga motor parkir gak usah bayar. Kemana-mana cakep sih gedungnya. Tapi ke sininya ekonomi makin susah. Penurunan terasa banget.”

Perekonomian yang lebih baik juga dialami Samsiar tatkala masih berdiam di Pasar Ikan. Selain memulung, ia mengamen. Dari menjual suara setiap hari dia bisa mengantongi Rp. 60.000. Sekarang satu-satunya penghasilannya hanya memetik sampah di dalam kawasan rusun. Petugas keamanan tidak mengizinkan penghuni memulung di luar kompleks rusun.

Pernah terpikir olehnya berdagang. Tapi ia segera mengenyahkan pikiran itu jauh-jauh sebaik menyadari terlalu banyaknya saingan di rusun. Di sisi lain, pinggangnya sudah tak kuat lagi kalau dirinya bekerja sebagai tukang cuci-gosok.

Sumratul yang membuka warung di lantai dasar blok F juga dibebat nesatapa. Semula ia berwarung di Sunter. Terlalu jauh dan melelahkan kalau harus bolak-balik saban hari dari Rawa Bebek ke sana. Akhirnya ke blok F ia berpaling. Di Rawa Bebek ia juga pernah berbisnis kue, bermitra dengan mertuanya. Ternyata masalah langsung menghadang. Daya listrik di sana tak memadai untuk mengoperasikan alat-alat pembuat kue.

“Terasa banget bedanya. Dulu kita bisa pegang duit yang lebih besar. Sekarang dari warung kecil ini ya recehanlah. Tapi mau bagaimana lagi?”

Lowongan Kerja
Siang itu Kepala Rusun Rawa Bebek Darmawati Sembiring baru selesai menerima tamu dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Tempat ini kerap dikunjungi pejabat negara dan anggota dewan perwakilan rakyat dari pelbagai daerah yang datang untuk studi banding. Mereka ingin melihat sendiri bagaimana adaptasi penghuni di sana serta pengelolaan rusun.

Darmawati mengatakan pemerintah DKI sudah berupaya memberi fasilitas agar penghuni bisa lekas beradaptasi dengan lingkungan barunya. Memenuhi permintaan warga, kios pun disiapkan. Penguatan ekonomi juga tujuannya. Lantas, di lantai dasar, disiapkan tempat untuk usaha; listriknya gratis. Fasilitas untuk pemberdayaan komunitas tani juga ada.

Selama ini, ungkap dia, untuk memenuhi berbagai permintaan warga, sebagai pengelola mereka hanya perlu berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat terkait di pemerintahan provinsi DKI. Untuk pengadaan fasilitas olah raga anak-anak, umpamanya, pengelola tinggal berkoordinasi dengan dinas olah raga.

Pemerintah sudah menyiapkan fasilitas; bahwa keluhan penghuni masih banyak, itu, menurut Darmawati, wajar saja. Waktu, ucap dia, pasti akan membuat keadaan lebih baik. Termasuk bagi mereka yang belum menemukan pekerjaan baru yang sesuai. Dari 189 warga Pasar Ikan yang bermukim di rusun, 30% yang menunggak sewa.

“Mungkin tergantung rezeki masing-masing juga. Dan keinginan mereka untuk berusaha,” kata Darmawati.
Pengelola rusun sebenarnya memberi peluang ke penghuni yang menunggak uang sewa akibat tak punya pekerjaan. Mereka diterima menjadi tenaga kebersihan atau teknisi. Sedangkan untuk mereka yang kemampuan membayarnya kurang, sedang diupayakan bantuan dari pemerintah. “Pemerintah mana sih yang nggak mau bantu warganya yang kesusahan? Nggak ada itu,” ucap Darmawati.

Selain memang tidak mampu, ada juga warga yang tidak mau membayar karena tidak terbiasa.
Uang sewa Rp. 300.000 itu, menurut dia, masih terjangkau dan murah jika dibandingkan dengan fasilitas yang didapatkan penghuni.

Pemerintah menyediakan angkutan Transjakarta gratis ke rusun. Bus sekolah juga ada untuk mengangkut anak-anak yang sudah pindah sekolah ke kitaran permukiman itu.

“Juga, kalau mereka sakit, ada dokter. Ada klinik yang tiap hari dibuka. Terus anak-anak mereka nggak perlu pergi jauh-jauh mencari perpustakaan; di sini perpus ada. Fasilitas mereka untuk berinteraksi juga bagus. Itu kan nggak bisa dinilai dengan uang.”

Sanksi kepada penunggak memang ada, mulai dari surat peringatan hingga penghalauan dari rusun. Namun sejauh ini belum ada warga yang dikeluarkan karena menunggak bayaran. “Mungkin ada yang nunggaknya banyak, dia malu, terus keluar sendiri. Nah, yang begitu silakan saja.” (Debora Blandina Sinambela)

Categories: