KATHMANDU, JARING.id – Panama Papers bukan sekadar bocoran dokumen terbesar yang tercatat dalam sejarah jurnalisme, tapi juga kolaborasi terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah jurnalisme.

Kolaborasi ini dimungkinkan karena para jurnalis dari seluruh dunia bisa bekerja dalam platform teknologi yang sama dan trust atau kepercayaan yang terbangun lewat jejaring yang dibangun dalam rentang waktu lebih dari dua dekade. Globalisasi memungkinkan hal tersebut terjadi.

Hal ini dikatakan Mar Cabra dari International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ) dalam panel diskusi bertajuk “The Panama Papers—Lessons Learned & the Road Ahead” yang digelar di Kathmandu, Nepal, Jumat 23 September 2016. Forum ini merupakan bagian dari rangkaian acara The Second Asian Investigative Journalism Conference yang diselenggarakan oleh Global Investigative Journalism Network (GIJN) bekerja sama dengan Centre for Investigative Journalism (CIJ) Nepal. Lebih dari 300 jurnalis berpartisipasi dalam forum yang akan berlangsung hingga Minggu 25 September 2016.

“Kita memerlukan lebih banyak kerja kolaboratif di tengah dunia yang global,” ujar Cabra. Cabra bersama empat jurnalis dari berbagai media di Asia berbagi cerita tentang ikhwal kerja kolaborasi Panama Papers. Keempat jurnalis tersebut adalah Umar Cheema dari The News (Pakistan), Wahyu Dhyatmika dari Tempo (Indonesia), Ritu Sarin dari Indian Express (India), dan Yasuami Sawa dari Kyodo News Service (Jepang).

Menurut Cabra, Panama Papers tidak akan muncul tanpa adanya platform teknologi open source yang membuat data bisa diakses secara bersama oleh para jurnalis dari berbagai belahan dunia. Namun teknologi, menurut Cabra, hanyalah permulaan. Hal lain yang terpenting dalam kerja Panama Papers adalah soal trust atau kepercayaan, tentang bagaimana para jurnalis dari berbagai belahan dunia bisa bekerja bersama secara rahasia untuk menelusuri data yang ada dan akhirnya mempublikasi investigasi bersama secara bersama.

Umar Cheema dari menceritakan bagaimana dokumen Panama Papers memungkinkan The News membongkar skandal pajak Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif dan desakan mundur yang terjadi pascapemberitaan hal tersebut.

Sementara Yasuami Sawa mengisahkan bagaimana dokumen Panama Papers memungkinkan ia bekerja sama dengan jurnalis dari media lain (Asahi Shimbun) yang selama ini menjadi kompetitor dari Kyodo.

Sedangkan Wahyu Dhyatmika mengatakan bagaimana kerja kolaborasi lewat akses data secara bersama memungkinkannya mendapatkan masukan dari jurnalis lain tentang apa yang harus di-check dan re-check dari data yang akan ditelusuri.

Cabra menekankan bahwa bocoran dokumen seperti Panama Papers akan jadi hal normal pada masa-masa mendatang, sehingga kerja kolaboratif global seperti yang dilakukan para jurnalis dalam Panama Papers menjadi sebuah keharusan. (Fransisca R Susanti)

 

Categories: Berita