KATHMANDU, JARING.id – Kolaborasi media lintas negara dengan teknologi mutakhir menjadi formula penting untuk membongkar kasus-kasus korupsi dan kejahatan keuangan yang kini semakin kompleks. “Follow the money” wajib dilakukan wartawan investigasi.

Korupsi dan kejahatan finansial kini semakin kompleks. Tidak hanya terjadi di sebuah negara namun melibatkan lembaga perbankan dan perusahaan multinasional di negara lain. Mantan reporter kejahatan finansial sekaligus editor di lembaga investigasi KRIK asal Serbia, Stevan Dojcinovic berbagi pengalaman membongkar kasus kejahatan finansial dalam sesi diskusi bertajuk “10 Financial Crimes to Investigate” dalam rangkaian konferensi “Uncovering Asia” yang berlangsung di Kathmandu, Nepal pekan lalu.

Menurut Stevan, data-data kejahatan korporasi kadang tidak dapat diakses di negara asal, namun bisa ditemukan di negara lain. Caranya menelusuri aset atau follow the money. “Telusuri data di seluruh dunia, lihat data-data dan aset perusahaan. Beberapa negara menyediakan data terbuka,” kata Stevan Dojcinovic pekan lalu.

Steven menceritakan pengalaman kerja kolaborasi mengusut kasus kejahatan finansial yang diduga dilakukan oleh Walikota Belgrade Sinisa Mali di Serbia. Data kepemilikan aset Sinisa Mali berupa real estate bernilai jutaan dolar justru awalnya ditemukan oleh organisasi jurnalisme untuk kejahatan dan korupsi atau Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) yang berbasis di Bosnia. Properti tersebut berada di pantai Bulgaria. Jurnalis di Bulgaria lalu bergandengan tangan dengan jurnalis di Serbia membongkar dugaan kejahatan tersebut.

Hal yang juga penting selain menelusuri aset perusahaan adalah menemukan dokumen bertanda tangan tokoh atau figur dari perusahaan terkait. ”Selanjutnya cermati modus korupsi yang terjadi,” lanjutnya lagi.

Kasus-kasus pencucian uang menurutnya biasanya terkait dengan hasil kejahatan lintas negara seperti perdagangan obat-obat terlarang, korupsi internasional, pengemplangan pajak, perdagangan senjata dan lainnya.

Direktur Eksekutif OCCRP Paul Radu mengatakan, kejahatan finansial biasanya memiliki infrastruktur pencucian uang yang telah tersistem. “Infrastruktur kriminal itu sangat canggih,” kata Paul Radu. Jurnalis menurutnya juga perlu melakukan cara-cara mutakhir untuk menelusuri kejahatan yang semakin kompleks tersebut. Dalam kasus pengungkapan skandal Walikota Belgrade, jurnalis yang terlibat dalam kerja kolaborasi menggunakan OCCRP’s Investigative Dashboard. Perangkat yang dapat membantu penelusuran data-data perusahaan secara daring.

Ikuti Uangnya

Prinsip menelusuri aset atau uang juga terungkap dalam panel diskusi bertajuk “Investigating Corruption”. Wahyu Dyatmika dari Majalah Tempo  yang menjadi salah satu pembicara dalam panel ini memaparkan pengalaman timnya membongkar kasus korupsi mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah.

Beberapa sumber yang bisa dijadikan alat menelusuri kejahatan korupsi seperti kartu kredit belanja, laporan kekayaan yang rutin diterbitkan serta data kepemilikan perusahaan. Selain menelusuri data, hal penting lainnya yaitu membangun relasi dengan narasumber. “Kami bisa mendapatkan narasumber dari pengacara, NGO atau partai oposisi,” tutur Wahyu Dyatmika.

Sementara itu, Karol Ilagan dari Philippine Center for Investigative Journalism menekankan pentingnya jurnalis menjaga akurasi data dan berita untuk menghindari tuntutan dari pihak-pihak yang dirugikan akibat pemberitaan. “Pertahanan terbaik adalah menyajikan informasi yang akurat,” ujar Karol.

Philippine Center for Investigative Journalism selama ini membantu media atau komunitas yang membutuhkan data terkait peliputan investigasi. Kerja-kerja berbasiskan data tersebut telah berhasil membongkar kasus korupsi yang melibatkan mantan Presiden Filipina Joseph Estrada dan berujung pada pemakzulan. (Bhekti Suryani)

Categories: Berita