Menggunakan Peta Untuk Liputan

BuzzFeed News menggunakan peta untuk mengungkap pusat detensi di provinsi Xinjiang, China (Gambar: Courtesy of Alison Killing)
  • Perangkat pemetaan semakin banyak digunakan dalam jurnalisme.
  • Tingkat kesulitan penggunaan perangkat sejalan dengan keragaman fitur yang ditawarkan.
  • Penting bagi jurnalis meluangkan waktu untuk belajar menggunnakan peta dalam liputannya.

Banyak orang menggunakan peta untuk memvisualisasikan dan memberikan konteks pada data geografis. Dengan cara tersebut, tak hanya tampilan menarik yang bisa didapatkan, tetapi juga perspektif yang berbeda.

Belajar membuat dan menggunakan peta yang menarik dan informatif untuk mendukung praktik jurnalistik, layak dilakukan. Saat ini, ada banyak perangkat yang tersedia untuk melakukannya. Namun, adakalanya hal tersebut justru membuat Anda sulit memilih perangkat yang tepat.

Daftar ini jauh dari lengkap, tetapi mencakup perangkat pemetaan yang paling sering kami gunakan dalam menggarap visualisasi. Sebagian besar perangkat mudah digunakan. Cukup menambahkan beberapa data dan meletakkan plot di beberapa titik. Sisanya, terutama menjelang akhir daftar, membutuhkan pengetahuan pemrograman.

 

1. My Maps

Gambar: tangkapan layar Google MyMaps

Tingkat kesulitan: Mudah.

Berguna untuk: Meletakkan titik pada peta dan visualisasi sederhana

Perangkat buatan Google ini adalah salah satu yang paling mudah digunakan. Anda cukup mengunggah kumpulan data berisi alamat atau koordinat, lalu memilih kolom yang digunakan sebagai penanda. My Maps juga memungkinkan penggunanya untuk menggambar poligon pada peta, menandai, dan menambahkan informasi pada area tersebut. Sayangnya, tak banyak fitur untuk menyesuaikan desain peta yang ditawarkan perangkat ini. 

Untuk memublikasikan hasil kerja di My Maps, Anda bisa membagikannya melalui tautan atau meyematkannya di situs web.

Kelebihan: Sangat mudah digunakan untuk membuat dan membagikan peta.

Kekurangan: Pilihan desain dan kustomisasi yang terbatas.

 

2. BatchGeo

Gambar: Tangkapan layar BatchGeo

Tingkat kesulitan: Mudah.

Berguna untuk: Meletakkan titik pada peta dan visualisasi sederhana

BatchGeo punya kemampuan serupa dengan My Maps. Perangkat ini secara otomatis membaca kolom berisi alamat atau koordinat GPS yang ada dalam data Anda. Salah satu fitur menariknya adalah kategorisasi yang memungkinkan pengguna untuk memberi warna berbeda pada lokasi yang ditandai pada peta. Peta yang sudah digarap kemudian bisa dibagikan melalui tautan atau disematkan di situs web. Meski memiliki fitur yang lebih sedikit dibandingkan dengan My Maps, BatchGeo menghasilkan peta yang lebih rapi.

Kelebihan: Sangat mudah digunakan dan presentasinya lebih menarik dibandingkan dengan My Maps.

Kekurangan: Pilihan kustomisasi dan desain yang terbatas.

 

3. Batch GeoCoder Untuk Jurnalis

Gambar: Tangkapan layar Batch GeoCode for Journalist

Tingkat kesulitan: Mudah.

Berguna untuk: Mencari koordinat untuk daftar alamat.

Jurnalis yang tertarik menggunakan peta dalam liputan bisa mencari koordinat lokasi/alamat dengan bantuan Google Maps. Namun, hal tersebut bakal makan waktu ketika berhadapan dengan daftar berisi ratusan alamat/nama lokasi. Batch GeoCode bisa dipakai ketika menghadapi situasi tersebut karena perangkat ini berguna untuk mengubah nama lokasi/alamat menjadi data geografis. 

Kelebihan: Sangat mudah digunakan.

Kekurangan: Adakalanya tak bekerja maksimal di beberapa negara.

 

4. GeoTools

Gambar: Tangkapan layar Gimme GeoData

Tingkat kesulitan: Mudah.

Berguna untuk: Mengekstrak potongan peta tertentu, menghitung serta membandingkan ukuran sebuah wilayah, dan lain sebagainya.

GeoTools adalah kumpulan perangkat pemetaan yang mudah digunakan. Jurnalis yang hendak menggunakan peta bisa memakai fitur Radius dan How Big untuk wilayah dalam radius tertentu. Sementara itu, fitur Reprojector bisa dipakai untuk membandingkan luas sebuah area dengan membandingkannya dengan area lain. Fitur terakhir, dan mungkin yang paling menarik, adalah Gimme Geodata, yang memudahkan pengguna untuk memilih titik di peta untuk menentukan sebuah wilayah dan kemudian mengunduh berbagai bentuk peta yang terkait dengan wilayah tersebut. 

Kelebihan: Mudah digunakan, berguna untuk melakukan eksplorasi.

Kekurangan: Data yang diunduh berformat geoJSON dan Anda membutuhkan perangkat lain untuk memvisualisasikannya.

 

5. Ogre

Gambar: Tangkapan layar Ogre

Tingkat kesulitan: Menengah.

Berguna untuk: Mengubah shape file menjadi geoJSON dan atau sebaliknya.

Banyak perangkat yang punya kemampuan serupa dengan Ogre, termasuk MapShaper dan QGIS. Namun, perangkat ini patut dicoba lantaran spesialisasinya adalah mengonversi data peta antara format shapefile dengan GeoJSON. Fitur Ogre memang terbatas, tetapi API milik mereka memudahkan Anda untuk mengakses fungsi konversinya.

Kelebihan: Mudah digunakan.

Kekurangan: Fitur terbatas.

 

6. MapShaper.org

Visualisasi kabel komunikasi bawah laut dunia. (Gambar: Tangkapan layar Mapshaper.org)

Tingkat kesulitan: Menengah (beberapa fitur lanjutnya sangat teknis)

Berguna untuk: Mengeksplorasi data peta, mengonversi format, mengurangi ukuran peta, dan membuat subset peta.

MapShaper adalah salah satu alat favorit kami yang punya banyak kegunaan. Jurnalis yang menggunakan peta bisa memakainya untuk melihat pratinjau peta, mengonversi format peta, hingga memilih bagian tertentu dari peta. Perangkat ini mampu bekerja dengan beragam format data, termasuk file shapefile, geoJSON, dan TopoJSON. Pengguna dapat mengekspor hasil ke dalam bentuk SVG serta CSV. Untuk menambahkan desain akhir, pengguna dapat membukanya di perangkat lain seperti Illustrator atau Figma. Pekerjaan yang banyak dilakukan di MapShaper adalah menyederhanakan detail shapefile sehingga lebih cocok untuk dilihat di browser atau membagi peta kompleks menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Jika Anda memiliki pemahaman dasar tentang pemrograman, MapShaper juga memiliki berbagai fitur untuk menghasilkan peta yang lebih canggih.

Kelebihan: Manipulasi peta, sangat baik untuk mengurangi ukuran peta dan mengekspornya ke format file lain.

Kekurangan: Fitur lanjut membutuhkan kemampuan pengodean (coding).

 

7. Leaflet.js

Gambar: Tangkapan layar Leaflet.js

Tingkat kesulitan: Menengah hingga sulit.

Berguna untuk: Pemrograman peta interaktif berbasis web dengan menggunakan Javascript.

Leaflet adalah pustaka Javascript untuk pemetaan. Kami menggunakannya ketika membutuhkan kustomisasi tingkat lanjut. Anda harus menguasai pemrograman Javascript untuk menggunakan Leaflet secara maksimal. Jurnalis yang menggunakan peta dalam liputan bisa menggarap hampir semua peta yang bisa dibayangkan dengan memakai perangkat ini. Meskipun berbasis Javascript, Leaflet juga bekerja baik dengan sebagian besar bahasa pemrograman lain sehingga opsi untuk kustomisasi peta menjadi semakin banyak. 

Kelebihan: Anda bisa menggarap peta untuk web dengan kustomisasi yang sangat beragam.

Kekurangan: Membutuhkan kemampuan pemrograman.

 

8. QGIS

Gambar: Tangkapan layar QGIS

Tingkat kesulitan: Menengah hingga sulit, tergantung pada kebutuhan Anda.

Berguna untuk: Menyunting dan menganalisis peta, membuat peta yang lebih kompleks, serta banyak fungsi lainnya.

Jika Anda siap menggunakan peta tingkat lanjut, perangkat ini cocok untuk melakukannya. QGIS (sebelumnya dikenal sebagai Quantum GIS) adalah perangkat lunak sumber terbuka yang membantu jurnalis mendalami pemetaan tanpa perlu mengeluarkan uang untuk perangkat lunak. Perangkat ini memiliki lebih banyak fitur dibandingkan perangkat lain yang ada dalam daftar ini. Oleh sebab itu, mempelajarinya butuh usaha ekstra. Namun, banyak panduan yang tersedia, termasuk yang dibuat oleh QGIS

QGIS dapat digunakan untuk menganalisis dan mengedit hampir semua bentuk peta dan data spasial serta mendukung layer vektor dan raster. Bagi pemula, perangkat ini berguna untuk mengedit peta dan data terkait. Jurnalis yang menggunakan peta juga bisa memakainya untuk menarik fitur spesifik dari peta kompleks ke peta sekunder. 

Sementara itu, mereka yang lebih mahir bisa menikmati opsi untuk melakukan penyuntingan peta dengan sangat detail dan membuat peta baru dari berbagai sumber. Jika Anda hendak mendalami pemetaan, luangkan waktu untuk mempelajari QGIS.

Kelebihan: Perangkat pemetaan canggih untuk para profesional.

Kekurangan: Mereka yang tak akrab dengan bahasa pemetaan butuh usaha ekstra untuk mempelajarinya.

 

9. Pilihan Lain

Ada semakin banyak pilihan perangkat pemetaan yang tersedia. Oleh sebab itu, sulit untuk memilih beberapa di antaranya dan nomor 9 dalam daftar ini adalah kumpulan perangkat lain yang bisa digunakan.

Apabila Anda hendak menggunakan peta sebagai ilustrasi, MapStack adalah perangkat yang mudah digunakan. Sebagai alat bantu untuk menemukan skema warna yang tepat, Color Brewer bisa dicoba. 

Perangkat lain seperti Flourish dan DataWrapper juga memiliki perangkat pemetaan bawaan yang cukup baik. Hanya saja, sebagian besar perangkat daring tidak memiliki data soal peta di tingkat lokal. Hal itu bisa disiasati dengan menambahkan peta secara mandiri. 

CartoDB juga bisa jadi pilihan. Sayangnya, saat ini Anda perlu berlangganan untuk menggunakan sebagian besar fitur terbaiknya. 

Jika Anda ingin lebih mendalami desain peta dengan perangkat seperti Leaflet, maka ada baiknya memeriksa peta dasar yang disediakan Leaflet Provider Demo dan Leaflet Plugins directory.

Sebagian besar alat visualisasi peta Google kini telah menyatu di Google Earth Pro. Perangkat ini canggih dan bisa dipakai dengan gratis. Membuat peta interaktif yang memungkinkan Anda mengunjungi beberapa lokasi berbeda juga bisa digarap dengan mudah di Google Earth Pro.

 

Kesimpulan

Daftar ini jauh dari lengkap, tetapi mudah-mudahan merupakan awal yang berguna bagi mereka yang hendal menggunakan peta dalam pekerjaannya.

Artikel ini Ini adalah pembaruan untuk unggahan pada 2017 dengan topik yang sama. Pertama kali diterbitkan di Medium dan diunggah ulang di sini dengan izin dari penulis. (Penerjemah: Kholikul Alim)

 

Artikel lainnya:


Alastair Otter bekerja untuk GIJN dalam aspek teknologi informasi dan jurnalisme data. Ia juga merupakan Managing Partner Media Hack Collective, sebuah inisiatif jurnalisme data yang berbasis di Johannesburg. Di sana ia memprogram visualisasi data interaktif dan mengelola sejumlah situs media daring.

Tulisan ini merupakan terjemahan dari 9 Essential Mapping Tools for Journalists in 2022 yang dipublikasikan Global Investigative Journalism Network (GIJN). Alih bahasa ini disponsori oleh dana hibah dari Google News Initiative. Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda bisa menghubungi [email protected].

Republication

Creative Commons License

Republish our articles for free, online or in print, under a Creative Commons license.

Previous article“Indonesia is the only country applying 20 percent of presidential threshold”
Next articleBeda Perlakuan Tembakau Panas