Kamis, Mei 13, 2021
Beranda TIPS DAN ULASAN Karya Investigasi Terbaik dari Tiongkok dan Taiwan

Karya Investigasi Terbaik dari Tiongkok dan Taiwan

Karya investigasi terbaik dari Hong Kong dan Taiwan
Sumber: GIJN

Kebebasan pers di China pada 2020 belum membaik. Lembaga pemantau kebebasan pers, Reporters Without Borders (RSF) menempatkan China di peringkat ke-4 dari bawah dalam Indeks Kebebasan Pers 2020. Seperti yang dilaporkan BBC, setidaknya tiga jurnalis warga yang melakukan penyelidikan terhadap pandemi virus corona ditahan. Sementara itu, kelompok masyarakat sipil yang menyerukan penyelidikan dan menuntut pertanggungjawaban pemerintah dibungkam. Karya investigasi terbaik muncul di tengah kondisi tersebut.

Gelombang baru muckraking journalism—julukan yang diberikan pada jurnalis yang menggugat ketidakadilan, mengungkap kesewenang-wenangan dan menyebarkan informasi tentang berbagai penyimpangan—di China. Sejak kasus pertama terdeteksi di Kota Wuhan, China, media massa di negara tersebut menghasilkan lebih banyak karya investigasi berkualitas tinggi ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Pascapandemi, banyak jurnalis yang mulai menyoroti penanganan kesehatan masyarakat, seperti membikin laporan tentang rumah sakit pertama yang mendeteksi virus corona, mengungkap keterangan pembocor “peniup peluit” tentang kejadian di rumah sakit Wuhan, serta menginvestigasi penanganan wabah. Berikut adalah karya investigasi terbaik di China dan Taiwan sepanjang 2020 berdasarkan pilihan editor GIJN.

 

Pengubahan Kriteria Diagnosa Covid-19 (Freezing Point Weekly)

Mengapa wabah Covid-19 tidak dikendalikan secara efektif pada tahap awal? Karya investigasi yang digarap Freezing Point Weekly—sebuah media dari China Youth Daily mengungkapkan bahwa sejak awal Komisi Kesehatan Kota Wuhan telah mengidentifikasi 2 diagnosa berbeda untuk “kasus radang paru-paru yang tidak diketahui.” Pelaporan diagnosa yang lebih ketat dalam buku catatan rumah sakit di mana kasus pertama terlihat, menghalangi pengungkapan sejumlah besar kasus awal.  Penemuan dua diagnosa berbeda tersebut penting untuk melacak asal-usul wabah, di samping bisa memberikan gambaran singkat tentang tanggung jawab pemerintah China dalam mengelola situasi tersebut.

 

TULISAN LAIN:  Sexy Killer dan Empat Film yang Diputar di Festival Internasional

 

Pekerja Pengiriman yang Terjebak dalam Algoritma (Majalah Renwu)

Di China, bekerja sebagai pengirim barang merupakan profesi yang berbahaya. Semakin lambat waktu pengiriman, maka pekerja akan mendapatkan penilaian buruk, mendapat gaji yang lebih rendah, dan beresiko dipecat. Karena tidak ada serikat buruh, pekerja pengiriman tidak bisa menentang sistem penghitungan waktu dari aplikasi pengiriman. Mereka sampai harus memacu kendaraan lebih cepat dan menggunakan cara lain untuk memastikan pengiriman tepat waktu. Hal ini tak jarang mengakibatkan kecelakan lalu lintas, hingga berakibat fatal.

Lalu bagaimana hubungan yang ideal antara algoritma dengan manusia? Majalah mingguan Renwu berusaha menjawab pertanyaan ini dengan melakukan investigasi selama 6 bulan. Renwu mewawancarai lusinan buruh antar, pekerja yang bertugas di semua tahap rantai pengiriman dan sosiolog. Laporan yang diterbitkan September 2020 lalu membuat perusahaan jasa pengiriman makanan yang sangat populer, seperti Meituan dan Ele.me menjadi perdebatan publik. Karya investigasi ini berhasil mengubah kondisi pekerja menjadi lebih baik dengan waktu kerja yang lebih fleksibel.

 

TULISAN LAIN:  Alasan Web Scraping Penting Untuk Jurnalistik dan Kepentingan Publik

 

Pasien Lanzhou (Caixin)

Tim investigasi Caixin—organisasi wartawan investigasi terkemuka di China, menyoroti sebaran wabah Brusella, bakteri yang dapat menularkan penyakit Brusellosis yang dapat mengakibatkan demam. Wabah mula-mula berasal dari pabrik biofarmasi Lanzhou, sebuah industri peternakan milik China. Di sana para pekerja menggunakan pembersih kadaluarsa dalam produksi vaksin. Hal ini memungkinkan bakteri keluar melalui ventilasi udara dan menginfeksi warga yang tinggal dan bekerja di sekitar pabrik. Hingga Desember 2020 lalu dilaporkan bahwa 203 orang terinfeksi. Tidak ada catatam resmi dan tidak ada yang bertanggungjawab secara hukum. Saat wartawan Caixin melakukan investigasi, mereka menemukan orang yang terinfeksi lebih dari 10 kali lipat dari jumlah kasus yang dilaporkan. Mereka yang terinfeksi juga mengaku tidak tahu kapan mereka terinfeksi, apakah mereka harus diobati atau tidak, dan apa yang harus dilakukan apabila bakteri Brusella masih berada dalam tubuh. Setelah laporan itu dipublikasikan, Komite Kesehatan Lanzhou mengonfirmasi sebanyak 3.245 orang yang terinfeksi dan berjanji memberikan kompensasi pada mereka.

 

Penyesalan Wuhan: Bagaimana China Gagal Menangani Masa Kritis untuk Mengontrol Wabah Covid-19 (China News Weekly)

Liputan utama China News Weekly yang merangkai kejadian dalam beberapa bulan hingga 23 Januari 2020, hari ketika Wuhan dikuncitara, mempertanyakan: Bagaimana masa kritis gagal ditangani sehingga virus menyebar? Liputan ini menampilkan respons pemerintah lokal dan apa yang dilakukan oleh Center for Disease Control and Prevention di tingkat lokal dan nasional di pekan-pekan kritis tersebut. Hanya dalam 24 jam setelah dirilis, liputan tersebut dihapus dari situs China News Weekly dan berbagai media besar di China, tetapi beberapa situs aggregator yang bekerja dari luar China berhasil menyimpan salinannya. Ketika kita masih belum tahu bagaimana kasus pertama Covid-19 muncul, liputan ini sangat membantu bagi jurnalis yang hendak menelisik hari-hari awal pandemi.

 

TULISAN LAIN:  Perangkat Investigasi Favorit Jurnalis Pada 2020

 

Pembocor Pertama (Majalah Renwu)

Ai Fen adalah dokter di Rumah Sakit Pusat Wuhan. Pada Desember 2019, ia merupakan salah satu dokter pertama yang menemui pasien Covid-19. Pada 30 Desember, dia menerima diagnosa dari pasien yang dicurigai Covid dan memperlihatkannya kepada dokter mata bernama Li Wenliang. Li kemudian membagikan laporan tersebut lewat aplikasi pesan singkat Wechat. Setelah laporan tersebut tersebar, Ai Fen diperiksa oleh pihak rumah sakit. Meski belum bisa dipastikan kapan virus corona pertama mucul, laporan dari majalah Renwu menjelaskan bagaimana Ai Fen menjadi pelapor pertama dari kasus Covid-19. Setelah terbit, karya ini sempat disensor selama beberapa jam, tetapi warganet China kadung melakukan “Whistle Relay” atau menerbitkan ulang laporan ini dan menerjemahkannya dalam Bahasa Inggris, Jerman, Jepang, braille, kode morse dan bahkan ke dalam tulisan China kuno. Beberapa contohnya bisa diakses di sini.

 

Mengungkap Pabrik Troll Transnasional (The Reporter)

Dalam beberapa tahun terakhir, pasukan trolls (pembuat kegaduhan) di dunia maya berkembang pesat, menyebarkan hasutan dan konten yang tidak diinginkan. Siapa operator mereka? Bagaimana mereka memanipulasi opini publik di internet? Mengapa? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap masyarakat? Media nirlaba yang berbasis di Taiwan, The Reporter (salah satu anggota GIJN) melakukan perjalanan ke Makedonia Utara, negara kecil yang merupakan sumber berita dan situs palsu, untuk mewawancarai “generasi baru” tentara daring dan pelatihnya.

Laporan ini juga menyajikan analisa mendalam mengenai situasi di Indonesia, mengungkapkan bagaimana partai yang berkuasa dan partai oposisi membayar tim siber untuk melawan satu sama lain di internet, begitu pula wawancara dengan ahli Uni Eropa dan “warganet” yang berada di garis terdepan dalam melawan berita palsu, yang telah meningkat menjadi isu global.

Laporan ini menyajikan analisa mendalam terhadap industri penyebaran kegaduhan di internet, kekacauan yang diakibatkan, dan bagaimana cara menangkalnya. Sebuah panduan yang berguna bagi jurnalis yang ingin mengungkap informasi palsu.

 

TULISAN LAIN:  Bagaimana Tagar UU Sapu Jagat Menjadi Viral

 

Kematian Perempuan yang Dibakar Mantan Suami (Guyu Story Lab)

Kekerasan dalam rumah tangga merupakan masalah umum di China, tetapi saat korban menghubungi polisi, kasus mereka kerap ditolak. Polisi mengklaim jika kasus kekerasan dalam rumah tangga sulit diselesaikan. Dalam artikel ini, Guyu Story Lab, Tencent’s media mengungkap kasus ekstrem: cerita mengenai Lamu, seorang influencer media sosial berusia 30 tahun yang dibakar sampai mati oleh mantan suaminya, Tang. Sebelum kejadiaan itu, Lamu sudah berkali-kali menghubungi polisi ketika Tang datang mengunjunginya, tetapi polisi menolak untuk menanggapi laporan Lamu hingga tragedi itu terjadi. Sejak saat itu Tang ditangkap. Laporan ini memicu protes keras dari masyarakat melalui kampanye daring bertagar “Lamu Bill.” Dalam protes itu, Polisi dinilai abai terhadap kasus. Kampanye ini kemudian diberangus dari internet tidak lebih dari 24 jam setelah kemunculannya.

 

Investigasi Hilangnya Perempuan Hangzhou (Sanlian Life Magazine)

Pada 5 Juli 2020, warga Hangzhou berusia 53, Lai Huili dibunuh dalam keadaan tertidur. Ia dimutilasi dan jasadnya dibuang ke bak penampungan kotoran (septic tank). Dua puluh hari berselang, tepatnya pada 25 Juli, polisi mengumumkan suami Lai sebagai tersangka dan menahannya. Majalah berita dan budaya mingguan, Sanlian Life mengunjungi lokasi di mana pasangan ini tumbuh dan tinggal, dan menelusuri latar belakang mereka dibesarkan dan memberikan pemahaman kepada pembaca tentang siapa mereka. Laporan ini serupa dengan serial podcast investigasi di Amerika Serikat. Laporan ini juga menelisik suka dan duka masyarakat urban China melalui cerita keluarga ini. (Joey Qi/Penerjemah: Damar Fery Ardiyan)


Joey Qi adalah editor GIJN in Chinese. Ia berpengalaman sebagai wartawan selama 7 tahun, termasuk 3 tahun dalam manajemen media. Qi merupakan salah satu pendiri The Initium Media, di mana ia terlibat dalam merancang bagan peliputan harian.

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan oleh Global Investigative Journalism Network (GIJN) dan ditajuki Editor’s Pick: 2020’s Best Investigative Stories from China and Taiwan. Penyebarluasan tulisan ini berada di bawah lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International. Jaring bekerjasama dengan GIJN untuk mengalihbahasakan dan mempublikasikan secara berkala artikel-artikel GIJN untuk pengembangan kapasitas jurnalisme di Indonesia.

GIJN Indonesia
Bagian dari Global Investigative Journalism Network yang beranggotakan 211 organisasi di 82 negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments