Jumat, Mei 7, 2021
Beranda TIPS DAN ULASAN Apakah Etis Mendapatkan Data Secara Ilegal Dalam Liputan Investigasi?

Apakah Etis Mendapatkan Data Secara Ilegal Dalam Liputan Investigasi?

Sumber: Pixabay/Tumisu

Kolaborasi investigasi yang dilakukan empat media terhadap kasus peracunan tokoh oposisi Rusia Alexey Navalny dilakukan dengan mengombinasikan metode investigasi tradisional dan keahlian menggunakan sumber terbuka, atau belakangan beken dengan nama OSINT (Open Source Intelligence). Namun, hal tersebut ternyata tak cukup. Membeli informasi di pasar gelap Rusia harus dilakukan untuk memperkuat temuan. Beberapa data yang dibeli antara lain:

  • Data lalu-lintas panggilan telepon atau tagihan telepon.
  • Manifes penumpang pesawat dan kereta api. “Di Rusia, Anda bisa membelinya dari broker data,” ujar Christo Grozev, Lead Researcher Bellingcat. Bellingcat merupakan media nirlaba yang berbasis di Belanda dan salah satu anggota Global Investigative Journalism Network (GIJN). Dengan menggunakan manifes penumpang, Bellingcat menemukan daftar orang yang punya kesamaan dengan rute perjalanan Navalny beberapa pekan sebelum ia diracuni. “Kami menemukan dua orang yang memesan tiket pada jam yang sama persis di sebelum hari keberangkatan mereka,” imbuh Grozev. Dua nama tersebut kemudian ditelusuri lebih lanjut dan tim investigasi menemukan kalau keduanya menggunakan identitas palsu yang tak terdaftar di database paspor. Tanggal lahir kedua orang tersebut juga mencurigakan.
  • Catatan perjalanan dan pemesanan tiket dari database Rusia bernama Magistral. “Data itu didapat dari pembocor yang bekerja untuk kepolisian atau broker data. Isinya mencakup banyak catatan perjalanan berdasarkan pemesanan tiket,” ujar Grozev. Data tersebut, jelasnya, menujukkan bahwa seorang agen intelijen yang menggunakan nama palsu “Frolov” membeli tiket dengan jam kedatangan di Novisibirsk sejam sebelum pesawat yang dinaiki Navalny mendarat di kota tersebut. Orang tersebut kemudian memesan penerbangan dari Tomsk—kota tempat Navalny diracuni—ke Moskow sehari setelah operasi peracunan dilakukan.
  • Data paspor. “Setiap warga negara Rusia punya file paspor yang berisikan foto, alamat, dan juga data lain yang digunakan pada paspor sebelumnya,” terang Grozev.

Ia menjelaskan bahwa data-data yang dibeli membantu tim investigasi untuk merumuskan hipotesis soal rencana operasi rahasia ini.

 

TULISAN LAIN:  Cara Jurnalis Menginvestigasi Peracunan Navalny

 

Pertimbangan Etik

Jangkauan dan dampak dari liputan ini memang mengagumkan, tetapi pembelian data dari pasar gelap Rusia memunculkan beberapa pertanyaan seputar etika reportase investigasi. Dorothy Bryne dari Ethical Journalism Network menekankan kalau media massa harus memiliki panduan etik bagi pengumpulan fakta yang kontroversial.

“Menurut saya, tersedianya bermacam tehnik yang brilian dan inovatif dalam peliputan harus sejalan dengan usaha jurnalis untuk berpikir serius soal dilema etika yang mungkin terjadi saat meliput,” tegasnya.

Bryne mewanti-wanti bahwa jurnalis setidaknya memeriksa beberapa hal ketika memutuskan untuk melanggar aturan yang berlaku di sebuah negara atau menerabas kerahasiaan data personal. Pemeriksaan tersebut bisa dilakukan dengan menjawab beberapa pertanyan penting seperti:

  • Apakah liputan berkaitan dengan kepentingan publik?
  • Apakah liputan betul-betul penting?
  • Apakah tidak ada cara lain untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan?
  • Apakah tindakan saya bakal menimbulkan risiko bagi orang lain? Jika iya, maka saya perlu menyiapkan dana untuk memberi perlindungan hukum atau membawa pergi orang tersebut ke negara lain.
  • Jika saya membayar seorang pelaku kriminal, apakah saya membantunya melakukan tindak kejahatan, dan apa yang akan ia lakukan dengan uang tersebut?
  • Apakah jurnalis yang bekerja dengan saya—terutama jurnalis muda—berada dalam tekanan untuk ikut serta dalam melanggar norma atau aturan? “Anda harus berhati-hati dengan kenyataan bahwa banyak jurnalis muda ingin tenar dan mungkin melakukan hal yang seharusnya tak mereka lakukan untuk meraih hal tersebut,” ujar Bryne.
  • Apa saja aspek soal metode penggalian informasi bakal dibuat transparan setelah liputan dipublikasikan?

“Dalam kasus Navalny, dua poin pertama bisa terjawab dengan jelas. Penting juga bagi Anda untuk mempertimbangkan bahwa membeli informasi di pasar gelap hanya dilakukan ketika isu liputan sangatlah penting, bukan sekadar membuat anda terkenal,” tekannya.

Bryne menambahkan kalau jumlah uang yang digunakan untuk membeli data di pasar gelap juga bisa membuat perbedaan etik. Hal tersebut lantaran jumlah uang yang banyak sangat mungkin digunakan oleh penjual untuk melakukan tindakan kriminal lainnya.

 

TULISAN LAIN:  Bagaimana Jurnalis Meliput Kontrak Vaksin yang Ditutup-tutupi

 

Grozev menyebut kalau jumlah uang yang dilakukan untuk membeli data terkait kasus Navalny tidaklah banyak, maksimal US$ 12. Ia menekankan bahwa Bellingcat mempertimbangkan langkah ini ketika mereka percaya bahwa pejabat negara terlibat dalam kasus pelanggaran penting. Membeli data di pasar gelap juga jadi pertimbangan ketika melakukan investigasi terhadap agen intelijen karena mereka punya kemampuan untuk menutupi jejak.

Ia menambahkan kalau keuntungan berkolaborasi dengan media seperti The Insider dan Der Spiegel ketika meliput isu penting adalah, “semua keputusan besar dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama”.

Grozev juga mewanti-wanti jurnalis agar tidak menjadikan dugaan yang mentah sebagai dasar untuk membeli informasi di pasar gelap. Langkah ini hanya dilakukan ketika hipotesis yang kuat sudah terbentuk dari berbagai bukti yang didapat dengan metode liputan tradisional ataupun penggunaan sumber terbuka.

Di sisi lain, menelisik privasi individu para mata-mata dengan menggunakan data rahasia merupakan hal yang adil secara etik dan legal. Alasannya sederhana menurut Grozev, “Mereka (mata-mata) penuh dengan kepalsuan”. (Rowan Philp/ Penerjemah: Kholikul Alim)


Rowan Philp adalah reporter GIJN. Ia pernah bekerja untuk Sunday Times di Afrika Selatan. Sebagai koresponden luar negeri, ia meliput beragam topik seperti korupsi, politik, dan konflik di lebih dari dua lusin negara di berbagai belahan dunia.

Tulisan ini merupakan bagian kedua dari dua tulisan dan pertama kali dipublikasikan oleh Global Investigative Journalism Network (GIJN) dengan tajuk How Reporters Exposed the Spies Implicated in the Navalny Poisoning. Penyebarluasan tulisan ini berada di bawah lisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International. Jaring bekerjasama dengan GIJN untuk mengalihbahasakan dan mempublikasikan secara berkala artikel-artikel GIJN untuk pengembangan kapasitas jurnalisme di Indonesia. Untuk menerbitkan ulang tulisan ini, Anda bisa menghubungi alim.kholikul@gijn.org.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments