PALU, MERCUSUAR – Petaka gunung yang dikeruk makin bertambah. Bukan cuma tanaman pangan warga yang terancam, tapi juga pernapasan mereka terganggu akibat debu tambang galian batu.

Dari data yang dihimpun Mercusuar, warga yang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), di wilayah seputar tambang tergolong sangat tinggi. Bahkan tren penyakit tersebut masih menduduki peringkat pertama. Kendati demikian, tren penyakit yang sama juga terjadi di daerah yang bukan tambang.

Kepala Puskemas Donggala, dr. Syahriar, mengatakan warga di sekitar tambang galian batuan rentan terkena penyakit ISPA karena melihat intesitas debu makin meningkat di udara akibat aktivitas tambang.

“Kita lihat sendiri sepanjang dari Palu kemari (Donggala), kita dipenuhi dengan debu. Salah satu penyebabnya itu intensitas debu,” ujar Syahriar.

Ia menjelaskan, ciri-ciri penyakit ISPA ditandai dengan badan pegal-pegal, hidung berlendir, batuk, sakit kepala dan sakit pada tenggorokan. Penyebab ISPA yakni virus, bakteri dan jamur. Namun, kata Syahriar, penyebab penyakit ISPA bukan saja karena debu tetapi asap kendaraan yang mengandung zat monoksida.

“Yang jelas ISPA tidak bisa dicegah dengan obat karena itu dari lingkungan, selain itu faktor asupan gizi dan keadaan tubuh jika lelah maka mudah terkena ISPA,” katanya menerangkan.

ISPA juga akan mudah menyerang warga di perkotaan, seperti Kota Palu. Bila penyakit ISPA tergolong tinggi di wilayah perkotaan, itu disebabkan oleh zat monoksida yang berasal dari asap kendaraan. Namun, jika bandingkan dengan Donggala, diakuinya penyakit ISPA lebih didominasi akibat terpapar debu.

“Di sini memang rata-rata (penyakit ISPA) karena debu,”ungkap Syahriar.

Walaupun begitu, katanya, sebagai petugas kesehatan, pihaknya tidak tinggal diam. Yang terakhir, Puskesmas Donggala pernah bekerja sama dengan lembaga penelitian di Makassar untuk mengukur kadar debu di udara melalui cara alat diletakkan di Desa Loli Saluran. Kepada Mercusuar, Syariar tidak menjelaskan hasil penelitian tersebut. Ia sudah menyerahkan hasil penelitian itu ke Dinas Kesehatan Donggala.

“Kita mau bagaimana, menutup perusahaan bukan wewenang kami,” ujar Syariar.

Kondisi demikian juga terjadi pada puskesmas di wilayah tambang galian batuan Kota Palu. Dari data menunjukkan, ISPA masih mendominasi dari 10 tren penyakit di daerah itu. Dan menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, drg. Emma Sukmawati, ISPA terjadi karena kondisi lingkungan yang kurang mendukung.

Tanaman Rusak

Sementara itu paparan debu, menurut Alam Anshari, guru besar Universitas Tadulako (Untad), jelas akan sangat mengganggu pertumbuhan tanaman. Karena debu yang menempel di daun akan menghalangi proses fotosintesis tumbuhan yang membutuhkan paparan cahaya matahari.

“Tergantung intensitas paparan debunya. Bila kejadiannya berulang-ulang dengan jumlah besar, tumbuhan mana pun sulit hidup,” ungkap Alam.

Ia menjelaskan, walaupun terlihat halus, debu mengandung sifat kasar bila menyentuh permukaan kulit daun. Bila debu sudah menempel di daun, dengan mudah daun tersebut tergores, sehingga menyebabkan daun menjadi rusak. “Coba saja kalau debu dioleskan di kulit, maka akan terasa sakit atau kasar. Begitu juga dengan kondisi pada daun,” kata Alam.

Rawan Bencana

Daerah tambang galian batuan, yakni Palu dan Donggala, memiliki topografi pegunungan dan bukit serta berbatasan langsung dengan laut. Jenis tanah di kedua wilayah itu lempung dan berpasir. Dengan demikian, menurut hasil pengkajian Kebijakan Strategi dan Penanggulangan Bencana Sulawesi Tengah, Palu dan Kabupaten Donggala masuk dalam katagori daerah rawan bencana dengan indeks resiko tinggi.

Namun diungkapkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) Kota Palu, Asri hingga kini khusus di daerah tambang galian batuan di Kota Palu termasuk wilayah dengan indeks risiko tinggi rawan bencana.

Pihaknya juga memetakan, Kelurahan Buluri dan Watusampu masuk dalam kajian rawan bencana karena lokasi tambang yang dekat rumah warga dan area umum. Namun, perkiraan mereka meleset, bencana malah terjadi di wilayah yang tidak masuk dalam kajian.

“Di wilayah itu hingga sekarang belum pernah terjadi bencana walaupun dia masuk dalam wilayah bencana, tetapi kami tetap siaga,”ungkap Asri.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Donggala, Akris Fattah Yunus mengungkapkan bencana seperti banjir sering terjadi di Donggala. Hanya sejauh ini, pihaknya belum bisa memastikan bencana tersebut akibat ulah pertambangan. Tetapi lokasi tambang juga menjadi pusat perhatian mereka karena beberapa di antaranya masuk dalam daerah rawan bencana.

“Daerah rawan bencana kami tetapkan yakni Banawa Selatan, Banawa Tengah, Tanantovea, Labuan, Sindue, Sindue Tobata, Sindue Tambusabora, Dampelas, Sirenja, Balaesang, Sojol dan Sojol Utata,” kata Akris.

Hal itu juga dibenarkan Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR), Dedi Irawan, Kamis (22/9). Ia mengungkapkan jalanan di seputaran Palu-Donggala khususnya lokasi tambang yang ramai dilintasi kendaraan umum kerap banjir. Akibatnya sering terjadi kecelakaan.

“Dalam hitungan saya, selama galian itu beroperasi, sudah ada 32 orang kecelakaan dan dua di antaranya meninggal dunia karena jalanan tergenang. Sebelum ada galian batu, jalan-jalan tidak seperti itu,” kata Dedi. (Intan Arif)

 

Tulisan ini telah diterbitkan di Mercusuarnews.com, 6 Oktober 2016, dan diedit untuk dimuat kembali di Jaring.id.