Menangkal Hoaks dari Rumah ke Rumah

Pandemi Covid-19 merenggut hampir segalanya dari kita. Mulai dari keluarga hingga sumber mata pencaharian. Pedagang kecil, yang jadi tumpuan ekonomi Jakarta, terimbas kuat. Kebijakan pembatasan kegiatan di luar ruangan dan penutupan pasar-pasar tradisional beberapa waktu lalu pun kian mencekik pelaku usaha kecil.

Tidak ada pemasukan, banyak usaha gulung tikar. Modal habis, tak menyisakan cukup tabungan untuk bisa membayar tagihan. Banyak orang terpaksa kehilangan pekerjaan. Warga pinggiran ibu kota merasakan betul kemalangan seperti ini. Alih-alih diakomodasi kebutuhan dasarnya, mereka kian merana digempur gelombang hoaks.

Iming-iming kemudahan pinjaman modal usaha kerap jadi narasi yang menjebak rakyat yang sedang kesulitan uang. Ina, salah seorang kader Jurnalisme Warga (JW) Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI), dengan logat khas Betawi-nya menceritakan apa yang dialami oleh tetangganya. Seorang pedagang sayur, sebut saja namanya Diman.

Baca juga: Giat Medsos Pejabat dan Minimnya transparansi

Sejak dari bulan-bulan awal pandemi Covid-19, Dirman mulai kesulitan mengangsur uang pinjaman modal. Karenanya ia berinisiatif mencari pinjaman. Di tengah keputusasaan, Diman menerima pesan yang menginformasikan layanan simpan pinjam dari Kementerian Sosial untuk UMKM. Seolah mendapat pencerahan, Diman segera mengikuti alur pendaftaran melalui tautan yang termuat di pesan tersebut. Seminggu berselang, janji survey dan pencairan dana tidak kunjung terlaksana.

Kepada Ina, Dirman menceritakan apa yang barusan ia alami. Sang kader kaget bukan kepalang. Sudah lima tahun Ina melakukan sosialisasi bantuan sosial untuk rakyat miskin, tapi baru kali ini dia menemukan modus pendataan penerima bantuan simpan pinjam melalui aplikasi WhatsApp (WA).

Buru-buru Ina menghubungi Haidar Alam, koordinator program JW SPRI, untuk membincang dan mengonfirmasi kebenaran berita itu. Sesuai dugaan, pesan berantai pendataan dari Kemensos itu palsu. Ina segera menghubungi tetangganya dan memperingatkan beberapa tetangga lain tentang bahaya tautan tersebut.

“Untungnya kita sudah dikasih pelatihan (cek fakta). Jadi kalau seperti itu ada lagi, sekarang warga tanya ke saya: ‘Bu. benar tidak ini beritanya?’ gitu,” tutur Ina.

 

Dari Bansos ke Hoaks

Tidak ada kata terlambat untuk memulai kerja baik. Umur kerja SPRI menggerakkan kadernya, untuk membangun kesadaran melawan hoaks dan disinformasi memang masih dalam hitungan bulan. Namun, dampaknya sudah dirasakan warga. Kuncinya terletak pada sosialisasi langsung dari rumah ke rumah.

“Awalnya kegiatan ini hanya meningkatkan literasi melalui pemberdayaan jurnalisme warga, tapi ternyata ibu-ibu di SPRI punya inisiatif lain untuk mensosialisasikan bahaya hoaks di kampung-kampung mereka,” tutur Alam pada Senin, 25 Juli 2022.

Sedikitnya ada sembilan kader JW SPRI yang tersebar di tujuh kecamatan di bilangan Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara. Pemilihan kader di tingkat kecamatan ini merupakan buah dari ketekunan SPRI memupuk kader selama bertahun-tahun. Meskipun literasi digital merupakan bidang relatif baru, optimisme sejak awal tumbuh.

“Ketika JW-nya manuver terlihat mudah, karena (para kader) di sana sudah lama, dari lima sampai tujuh tahun,” ucap Alam.

Memberi pelatihan bagi para ibu rumah tangga bukan perkara mudah. Mereka memikul peran ganda yang tidak enteng, karena harus bekerja rumahan, sehingga menyulitkan pengelolaan waktu luang. Latihan literasi digital memakan waktu hingga dua pekan. Setelah mengerti langkah memverifikasi sebuah informasi, para kader JW diharapkan mampu memproduksi gagasan alternatif untuk melawan kabar bohong yang beredar.

Sebelumnya, kegiatan SPRI berfokus pada isu sosial yang dihadapi warga miskin kota. Salah satunya berupa sosialisasi dan pendataan bantuan sosial (bansos). Musababnya, banyak bansos dan program-program pemerintah sejenis yang tidak tepat sasaran. Dari Jakarta, SPRI saat ini sudah bercabang di beberapa kota di Indonesia. Sistem pengkaderannya sederhana saja. Yang terpenting adalah kemauan dan kerelaan untuk bekerja bagi kelompok miskin kota.

Baca juga: Perjudian Iklan Politik Daring

Di tengah masa pandemi Covid-19, urusan bansos direcoki juga dengan kabar-kabar bohong yang berseliweran, terutama di grup WA. Tidak sedikit warga menjadi korban. Inilah yang membuat para pegiat SPRI tidak tutup mata.

Irma Minar, salah satu kader JW SPRI, mengaku pada mulanya dirinya kesulitan saat harus menyosialisasikan bantuan sosial sembari memilah informasi yang bercampur dengan hoaks. Jumlah kabar yang simpang siur banyak sekali. “Biasanya hoaks itu berupa link pendataan bansos yang disebar ke grup-grup WA,” kata Irma.

Bak gayung bersambut, kegelisahan para kader SPRI bertemu dengan kerja komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) yang sedang rajin-rajinnya mengadakan pelatihan tangkal hoaks melalui program jurnalisme warga. SPRI salah satu komunitas penerima manfaat dari kolaborasi ini. Baru beberapa bulan, jalan masih teramat panjang.


Liputan ini merupakan  hasil kolaborasi lima media, yakni Jaring.id, Ambon Ekspres, Harian Jogja, Serambi Indonesia, dan Bandung Bergerak, yang didukung oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) di bawah Program Democratic Resilience.


Tim Kolaborasi

Penangung jawab: Fransisca Ria Susanti (Jaring.id), Tri Joko Her Riadi (BandungBergerak)

Penulis: Reka Kajaksana (Jaring.id), Elyas  Rumain &  Tajudin Buano (Ambon Ekspres), Anisatul Umah (Harian Jogja), Emi La Palau (BandungBergerak), Rahmad Wiguna (Serambi Indonesia)

Penyunting: Damar Ferry Ardiyan (Jaring.id), Tri Joko Her Riadi (BandungBergerak)

Foto: Reka Kajaksana (Jaring.id)

Republication

Creative Commons License

Republish our articles for free, online or in print, under a Creative Commons license.

Previous articleMerajut Jaring Pengaman Hoaks sejak dari Akar Rumput       
Next articleKreator Konten di bawah Sorotan UU ITE