Puluhan kiai bersama empat ribuan warga berkumpul di rumah Hendrar Prihadi di Lempongsari, Semarang. Akhir November lalu (Ahad malam, 29 November) itu, sang tuan rumah yang menjadi Calon Wali Kota Semarang menggelar acara Digdoyo Tanpo Aji Menang Tanpo Ngasorake (hebat tanpa aji-menang tanpa meremehkan).

Hadirin yang rata-rata memakai baju warna putih dan songkok melafalkan tahlil dan istighosah untuk mendoakan sang tuan rumah. Berpasangan dengan Hevearita Gunaryanti, Hendi–sapaan Hendrar–berstatus sebagai calon inkumben. Status inilah yang memudahkan calon yang diusung PDIP ini menjaring dukungan.

Di acara itu, misalnya, tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama juga hadir, seperti Habib Ja Far, Habib Umar Mutohar, KH Hadlor Ihsan, KH Hanif Ismail, dan ketua PC NU Kota Semarang KH Anasom, hingga Ketua Gerakan Pemuda Ansor Semarang Muhammad Busro. Kami bersama sahabat-sahabat Ansor dan Banser siap memenangkan pasangan Hendi. Kami punya 8 ribu anggota, kata Busro.

Sebagai inkumben, jaringan Hendi ke ormas lumayan banyak. Buktinya, ya itu tadi, dukungan ormas banyak yang mengalir. Mulai Ketua KONI, Pemuda Muhammadiyah, NU, HIPMI, asosiasi pedagang kaki lima, gerakan pemuda Ansor, dan lain-lain.

Dalam dokumen laporan pertanggungjawaban APBD 2014 yang diperoleh Tempo, rata-rata organisasi yang mendukung Hendi adalah baik yang mendapatkan bantuan sosial maupun hibah saat Hendi menjadi wali kota.

Berdasarkan audit BPK atas APBD 2014, hibah untuk KONI Semarang pada 2014 Rp 13,8 miliar, naik dibandingkan 2013 yang sebesar Rp 11 miliar. Ketua KONI dijabat Ihwan Ubaidillah. Ketua Dewan Pembina Ormas Lindu Aji mengerahkan ratusan anggotanya mendukung Hendi. Dalam kampanye terbuka di Simpang Lima, Rabu, 2 Desember, Ihwan ikut naik panggung bersama dengan ratusan pasukan yang mengenakan seragam Lindu Aji.

Berdasarkan audit BPK, masih ada puluhan organisasi lain yang dikucuri hibah, seperti Pemuda Pancasila Rp 25 juta, NU Rp 50 juta, Pemuda Muhammadiyah Rp 20 juta, KNPI Rp 476 juta, Ansor Semarang Rp 10 juta, dan lain-lain. Namun mereka membantah dukungan ke Hendi karena sudah diberi hibah. Meski audit BPK 2014 mencantumkan nama Ansor sebagai penerima hibah, ketua Ansor Busro malah membantahnya. Saya tak pernah menerima bansos, katanya. Ia mengklaim mendukung Hendi karena ideologi yang sama.

Menjelang pemilihan wali kota, anggaran hibah dan bansos di Kota Semarang melonjak drastis. Sesuai dokumen audit BPK, anggaran belanja hibah 2014 hanya Rp 57 miliar. Namun Hendi selaku Wali Kota menaikkan realisasi hibah menjadi Rp 113 miliar atau 196,21 persen. Realisasi ini melonjak drastis dibanding 2013 yang hanya Rp 1,9 miliar. Anggaran bantuan sosial 2014 juga naik. Pada 2013 hanya Rp 4 miliar, sedangkan pada 2014 menjadi Rp 7,7 miliar dengan realisasi Rp 6,3 miliar (81 persen). Dalam pantauan Tempo, seremoni pemberian bansos dan hibah selalu dilakukan Hendi saat menjabat sebagai Wali Kota. Biasanya diberikan di Kantor Balai Kota Semarang.

Selain APBD, Hendi diuntungkan dengan pemasangan fotonya melalui iklan layanan masyarakat di baliho-baliho milik pemerintah. Jauh hari sebelum tahapan pemilihan Wali Kota Semarang dimulai, mantan anggota DPRD Jawa Tengah tersebut sudah menebar fotonya melalui baliho-baliho di berbagai sudut kota. Mulai dari iklan zakat, iklan antinarkoba, antikorupsi, taat bayar pajak, cukai rokok, hingga ucapan selamat tahun baru, dan selamat hari raya Idul Fitri. Ini yang membuat calon iri. Iklan kampanye dibatasi, tapi inkumben malah masang foto di mana-mana. Lihat saja itu foto Hendi,? kata Calon Wali Kota Soemarmo.

Kini, Hendi sudah lengser sejak Juli 2015. Namun masih saja ada baliho bergambar Hendi terpasang hingga kini. Misalnya di Jalan Setiabudi, tepatnya di dekat Swalayan ADA Banyumanik.

Hendi menyatakan, penyaluran bansos dan hibah sudah sesuai aturan. Penerima adalah mereka yang benar-benar berhak. Bahkan, kini penyaluran hibah dan bansos sangat ketat sesuai dengan peraturan Menteri Dalam Negeri. Penerima bansos dan hibah juga harus membuat laporan pertanggungjawaban,? katanya.

Categories: Pilkada Semarang