[mapsmarker layer=”4″]

Seperti apa wajah lingkungan hidup di Indonesia setelah hampir dua dekade Reformasi dan Otonomi Daerah? Sayangnya wajah lingkungan hidup di Indonesia tak lagi sehijau dan serimbun masa sebelumnya. Hutan telah dieksploitasi seluas-luasnya oleh perusahaan yang rakus, dan menghisap segala yang ada di dalamnya, industri pertambangan muncul di berbagai tempat dengan mengabaikan berbagai prosedur yang seharusnya.

Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah hutan pun tak pelak ikut kena getahnya. Hutan yang banyak dieksploitasi meninggalkan hutan dalam kondisi yang terbakar. Di Desa Karangsari, Banyuasin, Sumatera Selatan, warga menderita akibat terbakarnya hutan di kawasan hutan Taman Nasional Sembilang.

Sementara itu warga di Desa Loli Oge, Kecamatan Burawa, kabupaten Donggala mengalami kesulitan mengakses air bersih akibat aktivitas perusahaan tambang galian batu yang beroperasi tanpa memikirkan dampaknya pada masyarakat setempat.

Yang tak kalah ironisnya adalah warga masyarakat di Mentawai, suku Taikako, yang mengalami kemiskinan, sementara hutan di sekitar mereka tinggal banyak dieksplotasi habis-habisan oleh perusahaan yang memproduksi kayu bulat.

Dari bumi Kalimantan, kondisi lingkungan yang mengenaskan juga terjadi di Kalimantan Timur, dimana hutan lindung di Sungai Wain, perlahan-lahan tergerus akibat ketidakcocokan data yang dimiliki oleh Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan. Akibatnya luas hutan lindung perlahan-lahan berkurang dan masyarakat di sekitarnya pun terusir dari wilayahnya.

Di tempat lain, di perbatasan Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah, banyak lahan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit dan di wilayah tersebut pun banyak terjadi konflik antara perusahaan sawit dengan masyarakat setempat. Kondisi yang juga mengenaskan. Di Propinsi lain di Sulawesi, yaitu di Sulawesi Tengah, di kota Palu, tambang ilegal pun menguasai kota. Dampak tambang terhadap masyarakat sekitar jarang diperhatikan oleh pemerintah daerah setempat.

Terakhir, di Jawa Tengah, seiring dengan meningkatnya industri, maka pabrik-pabrik baru yang didirikan di wilayah Jawa Tengah membutuhkan aliran listrik yang tak sedikit. Atas perkembangan ini maka batubara menjadi salah satu bahan baku yang diperlukan untuk menyokong industrialisasi tersebut. Wilayah Kalimantan Timur menjadi sumber kebutuhan batubara untuk pasokan ke wilayah Jawa Tengah. Dengan demikian kemajuan di daerah lain, menghasilkan kemunduran di lain daerah.

Inilah wajah lingkungan hidup dan kehutanan di Indonesia menjelang dua dekade Reformasi dan Otonomi Daerah. Butuh keterlibatan banyak pihak untuk bisa membuat ada keseimbangan antara kepentingan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat serta niatan untuk memelihara lingkungan hidup yang asri dan nyaman ditinggali warga masyarakat. Semua pihak perlu terlibat untuk menyelesaikan berbagai soal tersebut, dan laporan-laporan ini hanya memotret sebagian dari realitas murung saat ini.

Silahkan klik ikon pada map diatas untuk masing-masing laporan.