Nama Brown Moses mendadak mengemuka saat berhasil menguak kisah tentang penyelundupan senjata di perang sipil Suriah dari sudut pandang yang tak terjamah oleh wartawan, dengan kapasitasnya sebagai blogger dan citizen journalist pencapaiannya menjadi contoh baru bagaimana jurnalisme warga bisa menjadi sangat berkualitas.

Nama Brown Moses mendadak mengemuka saat berhasil menguak kisah tentang penyelundupan senjata di perang sipil Suriah dari sudut pandang yang tak terjamah oleh wartawan, dengan kapasitasnya sebagai blogger dan citizen journalist pencapaiannya menjadi contoh baru bagaimana jurnalisme warga bisa menjadi sangat berkualitas.

Brown Moses tentu terlalu aneh untuk nama seseorang, nama aslinya adalah Eliot Higgins. saat perang suriah mulai berkecamuk pada 2012, Higgins adalah seorang pengangguran yang menghabiskan waktunya di depan laptop sambil menjaga anaknya di rumah, sebuah rumah yang tenang di Leicester, Inggris.

Saat Higgins?menyiapkan sarapan pada 21 Agustus 2013, dia membuka Twitter di telepon genggamnya, dia menemukan kicauan tentang kemungkinan adanya serangan senjata kimia di Ghouta, daerah pinggiran Kota Damaskus. dengan rasa penasaran setingkat wartawan, dia menelusur Youtube dari laptopnya, Video tentang Ghouta sudah berjejer dan menampilkan gambar-gambar yang menyesakkan Higgins.

Sebelumnya Higgins sudah menjadi blogger sejak Maret 2012, dia membuat sebuah blog dan memakai nama semu “Brown Moses” yang dia salin dari judul lagu Frank Zappa. Lewat blog inilah dia menampilkan hasil penelusuran dan analisis tentang konflik di Timur Tengah yang diolahnya dari bahan-bahan di internet, terutama video-video dari Youtube.

Sampai akhirnya dia memusatkan perhatiannya untuk melacak jenis senjata yang digunakan dalam perang tersebut. Keahliannya ini didapat secara otodidak bermodalkan internet. Lewat blognya dapat terpantau perkembangan senjata yang digunakan oleh pihak pemberontak (Free Syrian Army), salah satu temuannya adalah penggunaan peluncur roket M79 Osa yang digunakan oleh pasukan oposisi tersebut untuk melawan pemerintahan Bashar al-Assad.

Higgins menganggap ada praktik penyelundupan peluncur roket yang merupakan buatan Kroasia tersebut. Hasil penelusurannya ini kemudian ditindaklanjuti oleh C.J. Chivers dan Eric Schmitt dari The New York Times. Mereka menemukan bahwa senjata tersebut dibeli oleh pemerintah Arab Saudi, kemudian dipindahkan ke Jordania, lalu diselundupkan ke Suriah, dan menurut laporan ini proses tersebut mendapat dukungan dari Amerika Serikat.

Sedangkan serangan di Ghouta akhirnya terbukti adalah serangan senjata kimia setelah Inspektor PBB melakukan penelitian di daerah tersebut, tim PBB ini juga memukan adanya penggunaan roket artileri buatan Rusia pada era Uni Soviet. Alur masuknya senjata ini kemudian bisa memperjelas peran beberapa negara dalam pergolakan dalam negeri Suriah.
“Mungkin lebih banyak kisah yang berhasil dibongkar oleh Eliot Higgins daripada yang dapat dilakukan kebanyakan wartawan sepanjang karier mereka.” Puji Stuart Hughes, Produser berita BBC. Kegigihan Higgins yang dengan teliti menyortir gambar-gambar yang bertebaran di Youtube mampu menghasilkan sebuah hasil yang dipakai tidak hanya oleh media arus utama, bahkan oleh lembaga internasional seperti Human Rights Watch.

Eliot Higgins awalnya adalah komentator setia di berita politik luar negeri The Guardian, sampai kemudian dia yang diwawancarai oleh media ini. Di video ini Higgins menjelaskan tentang serangan Rusia terhadap Ukraina bermodal potongan video dari sosial media dan Google Earth.

Setelah Suriah, Higgins kemudian membuat situs Bellingcat dengan tema “by and for citizen investigative journalists”. Situs ini dibuatnya dengan lebih banyak orang, sehingga mampu memperluas penjelejahannya. Higgins sejak awal memang tidak anti untuk bekerjasama dengan orang lain, bahkan saat ia masih menjadi “Brown Moses” dia selalu mengajak bekerjasama dengan blogger lain untuk menganalisis video-video dari Suriah, dan bila ada yang tidak dimengertinya ia tak sungkan bertanya.

Saat meneliti perang Suriah, Higgins membangun “open newsroom” dengan menggunakan Storyfull yang memungkinkan banyak kontributor dalam menginvestigasi suatu masalah, dengan menggunakan data-data yang tersedia di media sosial, dan dengan berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

Kini dengan Bellingcat, Higgins yang pernah gagal menyelesaikan kuliah media ini telah banyak membuat analisis, antara lain Perang Ukraina hingga peristiwa penembakan pesawat MH17.?Apa yang dilakukan Higgins ini semacam pembuka jalan bagi para investigator untuk membuktikan analisis-analisis Higgins yang dibuatnya dari data-data yang berserakan di dunia maya, sambil mengasuh anaknya di rumah.


Categories: Tips Review

Tinggalkan Balasan