Oleh: Mallary Jean Tenore

Ketika terjadi bencana, bukan cuma pelaporan berita yang bisa diperbuat para awak media. Mereka juga bisa membantu para korban pulih dari tragedi yang dialami. Bagaimana caranya?

Kevin Becker, seorang psikolog klinis, membagi beberapa tips untuk awak media dalam menuturkan Narasi Restoratif pada komunitas-komunitas yang terdampak bencana. Ada tiga hal, katanya, yang dibutuhkan komunitas pascatragedi: keamanan, kepastian dan pengendalian.

Secara khusus, media bisa menyediakan rasa aman dengan menciptakan ruang yang aman bagi para korban untuk menceritakan apa yang telah mereka lalui dan dengan meyakinkan para sumber bahwa mereka berkomitmen untuk menuturkan kisah-kisah para korban ini dengan akurat dan jujur.

Media bisa menyediakan kepastian dengan memberitahu para sumber kisah apa yang akan ditulis sehingga mereka tidak terkejut ketika membuka koran atau menyalakan TV. Media juga bisa menyediakan kendali dengan membiarkan para sumber tahu bahwa mereka memiliki kontrol tentang apa yang bisa mereka ceritakan atau tidak mereka ceritakan.

Becker, yang ahli dalam intervensi krisis dan trauma selama 25 tahun membagi beberapa pandangan yang bermanfaat dalam mengolah berita pascabencana. Berikut beberapa tip dari Becker:

1.Biasakan diri Anda dengan reaksi psikologis terhadap bencana-bencana. Memiliki pemahaman dasar tentang berbagai fase yang menyusul sebuah bencana bisa membantu dalam saat-saat setelah tragedi serta bulan-bulan dan tahun-tahun selanjutnya. Di bawah ini, fase-fase yang umumnya dilalui para korban pascabencana:

2.Berikan fakta-fakta. Terdengar sederhana, tapi pascabencana, orang “membutuhkan informasi yang berasal dari tempat yang bisa dipercaya, [dan] perlu tahu di mana dan bagaimana mendapatkan sumber-sumber,” kata Becker.

3.Berusahalah untuk tidak mengekalkan “hirarki penderitaan”: Para korban mungkin membandingkan penderitaan mereka dengan orang lain yang juga mengalami tragedi,” kata Becker. “Kadang-kadang mereka melihat orang lain dan mengatakan ‘setidaknya saya tidak separah dia.’ Di saat yang lain, mereka mungkin merasa ‘penderitaan saya lebih buruk dari penderitaanmu dan saya memerlukan lebih banyak layanan/dukungan/penghiburan.’ Jika hirarki penderitaan ini menjalar dalam sebuah komunitas, ini bisa menjadi indikasi bahwa komunitas tersebut mungkin belum pulih dengan sangat baik.”

4.Kenali pentingnya komunitas. Becker menyarankan untuk mencari cara menekankan pentingnya komunitas yang berbagi masa lalu dan masa kini, seiring langkah-langkah kecil dan sedikit demi sedikit kemajuan. Menjadi bagian dari komunitas bisa membantu orang untuk membuat langkah kecil untuk maju, katanya: “Orang butuh merasa mereka menjadi bagian dari komunitas. Tak seorang pun pulih dalam sebuah isolasi.”

5.Lihatlah trauma sebagai kaca pembesar. Perbesar baik hal-hal positif maupun negatif yang ada dalam sebuah komunitas sehingga Anda bisa mengambil pendekatan yang lebih menyeluruh untuk peliputan Anda. Barangkali ada banyak hal buruk yang terjadi secara politis dalam sebuah komunitas, misalnya, yang bisa berdampak negatif pada upaya-upaya pemulihan. Itu penting, tapi begitu juga dengan upaya-upaya pemulihan dan cara komunitas bersama-sama menemukan langkah berarti untuk terus maju.

6.Berhati-hatilah dalam memberitakan seolah-olah komunitas-komunitas korban ini telah pulih, padahal mereka belum. “Kadang-kadang lebih mudah menulis berita ketika mereka belum pulih,” kata Becker. “Mereka berjuang dengan segalanya … Banyak kontroversi tentang semua jenis keputusan— uang, penghiburan, kenangan, hirarki penderitaan dll.” Komunitas-komunitas yang pulih mulai melihat apa yang mereka lakukan sebelum bencana. “Mencari kembalinya rasa aman, kepastian dan kendali bisa menjadi indikator bagus dari sebuah proses pemulihan yang positif,” kata Becker.

7.Sadari bahwa komunitas yang tabah tidak sama dengan kumpulan individu-individu yang tabah. “Bahkan, dalam segala kemungkinan, komunitas yang tabah yang terbaik untuk mengurus dan memberikan segalanya bagi para individu anggotanya,” kata Becker. “Kajian tentang ‘kesehatan mental komunitas’ dulu adalah kajian tentang individu-individu yang ada dalam komunitas, bukan tentang kajian komunitas itu sendiri.”

8.Hindari klise yang keliru seperti “waktu akan menyembuhkan.” “Waktu tidak menyembuhkan,” kata Becker. “Waktu memberi Anda kesempatan untuk sembuh.” Juga, komunitas-komunitas perlu berubah setiap saat, bergantung pada posisi mereka dalam proses pemulihan.

9.Hindari kata “selesai”. Tak ada hal seperti itu, kata Becker. “Memulihkan diri dari trauma adalah sebuah proses pengembangan; seseorang yang mengalami sebuah trauma sebagai seorang anak mungkin akan kembali ke peristiwa itu dan perlu memprosesnya kembali ketika anak-anak mereka mencapai usia yang sama seperti mereka dulu atau ketika anak-anak mereka terpapar peristiwa serupa (tapi bukan yang traumatis),” kata Becker. “Trauma dicerna sepanjang waktu, jadi ‘selesai” bukan deskripsi yang tepat dan para korban akan mendengarnya sebagai ‘dia telah melupakannya.’”

10.Usahakan Narasi Restoratif seperti Anda menuturkan cerita-cerita sehari-hari, daripada menulis sebuah tragedi. Bersikap proaktif — ketimbang reaktif – dalam liputan Anda bisa berlangsung lama, Becker said: “Jika sebagai seorang jurnalis Anda telah mengidentifikasi dan mendiskusikan hal-hal ini dalam komunitas — hal-hal yang bisa menambah persatuan dan hubungan — maka ketika sebuah tragedi terjadi Anda akan memiliki cara untuk mengukur kemajuan, terhubung dengan para korban, mengingkatkan mereka tentang kekuatan mereka dll.”

Megingat-ingat tips ini ketika meliput bencana dan pasca-bencana bisa membantu memperbaiki liputan dan — mungkin yang lebih pentihg lagi— membangun kepercayaan. (*)

Sumber:
10 tips for media practitioners covering tragedies & Restorative Narratives, diterbitkan di http://ivoh.org/, 1 Juli 2016

Categories: Tips