Oleh Luigi Serenelli

Mauri König adalah seorang reporter investigasi dari Brazil. Oktober lalu, dalam Global Investigative Conference di Lillehammer, König berbagi tempat pertama dengan dua jurnalis lainnya dalam Global Shining Light Awards untuk investigasinya yang berjudul “Empire of Ashes” tentang penyelundupan tembakau di Amerika Latin. Dalam wawancara dengan Luigi Serenelli, Konig berbagi cerita tentang sepak terjangnya mengungkap kepentingan terlarang yang melibatkan presiden sebuah negara dan bekerja dalam lingkungan yang sangat berbahaya.

Pertama-tama, apa pendapat Anda tentang penghargaan yang Anda peroleh?

Saya rasa penghargaan ini penting karena kita hidup, bukan hanya di Brazil tapi juga di hampir seluruh dunia, dalam krisis ekonomi dan krisis alat produksi, yang terkait dengan bagaimana berita diterbitkan. Krisis ini mempengaruhi banyak jurnalis yang terdampak perampingan di ruang-ruang redaksi dan kehilangan pekerjaan. Penghargaan ini adalah cara untuk mengingatkan jurnalis-jurnalis lain bahwa jurnalisme patut dilakukan, bahwa penting untuk mempertahankan keyakinan bahwa jurnalisme yang baik akan diakui dan memiliki ruang dalam kehidupan orang. Sebuah penghargaan seperti ini penting untuk menjaga spirit kita untuk membuat lebih banyak pekerjaan jurnalistik.

Apa yang menantang dalam mengerjakan investigasi ini?

Saya mengerjakan investigasi ini selama lima bulan, dan sebagian dari tugas ini melibatkan kerja lapangan di perbatasan antara Brazil dan Paraguay, di bagian paling berbahaya di perbatasan Brazil. Saya kenal perbatasan itu, saya tahu isu yang berkaitan dengan penyelundupan rokok. Kami mengenal wilayah tempat kami akan melakukan investigasi juga isunya, dan ini membantu kami. Namun ketika Anda berada dalam sebuah zona berbahaya seperti ini, mengerjakan sebuah isu bawah tanah terkait sebuah bisnis yang ingin diungkap, sudah pasti ada risiko-risiko yang akan terjadi.

Kami merasa – saya dan fotografer — setidaknya tiga kali berada dalam bahaya atau bahwa pekerjaan kami diancam. Pertama, contohnya, ketika kami bersama-sama dengan polisi federal — polisi yang bertanggung jawab atas keamanan perbatasan Brazil-Paraguay — dan kami ditembaki dari seberang perbatasan, dari Paraguay. Saat lain, di bagian lain perbatasan, saya dan fotografer dikuntit dua atau tiga mobil, pasti oleh orang-orang keamanan para penyelundup rokok. Momen lain lagi terjdi di kota saya, Curitiba, di kantor pusat koran yang menerbitkan laporan kami. Saya sedang turun ke jalan bersama rekan lain untuk melihat bagaimana rokok-rokok, yang meninggalkan Paraguay dan tiba di Brazil, dijual di jalan-jalan di Brazil. Ketika pergi ke terminal bus, saya diserang dua preman yang bekerja untuk para penyelundup. Salah satunya nyaris merampas kamera saya dan mengancam untuk memukul saya; saya harus menelepon lima atau enam teman dari kantor untuk membantu saya. Ada risiko-risiko sepanjang waktu karena kami bekerja di perbatasan siang dan malam.

ilustrasi
ilustrasi

Apa tantangan-tantangan dalam mengerjakan investigasi yang menargetkan para politikus?

Selama bertahun-tahun, ada kecurigaan bahwa presiden Paraguay, Horatio Cartes, terlibat dalam produksi rokok-rokok yang diselundupkan di seluruh Amerika Latin, tapi tak seorang pun membuktikannya dengan dokumen-dokumen. Jadi kami memulai dengan dukungan IPYS, Institute for Press and Society Institute, yang berbasis di Peru, sebuah organisasi yang mendukung jurnalisme. IPYS mengusulkan sebuah cerita yang berkaitan dengan isu ini dan mengundang saya untuk melakukan investigasi, jadi kami mulai.

Setelah lima bulan melakukan investigasi, saya memperoleh dokumen-dokumen yang membuktikan Cartes adalah salah satu yang memperoleh keuntungan terbesar dengan menyelundupkan rokok-rokok dari Paraguay ke seluruh Amerika Latin. Saya melakukan survei, contohnya, dari 2010 hingga 2014, tentang semua rokok selundupan yang disita di Brazil. Saya menemukan bahwa selain jumlah yang disita, rokok-rokok itu berasal dari 70 merek yang diproduksi di Paraguay. Saya mencari pemilik merek-merek ini, dan mendapati bahwa Cartes memiliki dua perusahaan tembakau, salah satu dari perusahaan ini memproduksi lima merek rokok, dan lima merek rokok ini merupakan 51 persen dari seluruh rokok yang disita di Brazil. Dengan kata lain, perusahaan Cartes bertanggung jawab atas separuh rokok yang diselundupkan ke Brazil.

Mengapa bekerja sama dengan wartawan-wartawan lain penting?

Pada awal investigasi ini kami mendapat partisipasi wartawan dari tujuh negara. Tapi kemudian, untuk berbagai alasan, banyak yang tidak bisa melanjutkan investigasi ini, jadi tinggal tersisa saya di Brazil, Martha Soto di Kolombia, dan Ronny Rojas di Kosta Rica. Saya melakukan palig banyak pekerjaan, tapi Ronny, contohnya, memproduksi infografis untuk menemukan data untuk memahami rute-rute penyelundupan, karena kami menemukan sembilan rute penting yang meninggalkan Paraguay dan menuju Argentina, Bolivia, Meksiko, Venezuela, Colombia…

Saya tidak bisa mengerjakan peta semacam ini. Ronny memiliki pengetahuan untuk mengolah dan mencari data tentang ekspor rokok dari Paraguay. Kami membuat peta ekspor Paraguay, rute udara dan laut, dan jejak ke Presiden Cortes.

Partisipasi Martha Soto juga penting karena ia menunjukkan bahwa di Kolombia, contohnya, rokok-rokok Cartes secara tidak langsung membantu mendanai kelompok-kelompok kriminal terorganisir seperti FARC, the Revolutionary Armed Forces of Colombia.

Apa dampak dan konsekuensi yang ditimbulkan investigasi ini di Brazil?

Dua pekan setelah kami terbitkan laporan ini dalam surat kabar saya, ada operasi besar di Brazil terhadap penyelundupan rokok, di sebuah kawasan yang kami investigasi. Polisi lalu lintas di Brazil memobilisasi 160 polisi dari berbagai wilayah Brazil dalam sebuah operasi di perbatasan antara Brazil dan Paraguay, di dalam sebuah kota bernama Mundo Nov. Pada saat operasi itu dilancarkan, sepuluh orang yang terlibat dalam penyelundupan itu dipenjara.

Sulit untuk mengatakan apakah ini karena laporan kami atau bukan, tapi mungkin laporan kami memberi kontribusi. Enam bulan kemudian, pemerintah Brazil dan Presiden Dilma Rousseff meloloskan undang-undang federal yang memperpanjang masa tahanan semua yang terlibat penyelundupan, dan bukan hanya rokok tapi seluruh jenis penyelundupan.

Saya tidak bisa bilang bahwa undang-undang baru dipicu oleh laporan ini, tapi kami memiliki dampak dalam hal bahwa masalah ini menjadi isu dalam perdebatan nasional dan saya rasa laporan itu pada akhirnya berkontribusi meningkatkan hukuman untuk orang-orang yang terlibat dalam penyelundupan di Brazil.

Ada dampak lain di luar Brazil, karena ini kerja yang dilakukan bersama: Saat saya bekerja di Brazil, saya disusul oleh rekan sesama wartawan Martha Soto di Kolombia. Ia menerbitkan beberapa tulisan di koran El Tiempo di Bogota. Kami juga bekerja dengan seorang rekan di koran La Nación di Costa Rica. Saya mengerjakan bagian terbesar, tapi dua lainnya juga terlibat, dan setelah Martha menerbitkan cerita ini, pada hari yang sama, di korannya El Tiempo di Bogota, ada mobilisasi para gubernur, dan sebagian gubernur di beberapa negara bagian di Kolombia, yang berencana mengambil tindakan legal di pengadilan internasional. Kemudian sebuah gugatan internasional didaftarkan melawan presiden Paraguay.

Namun, hingga saat ini, rokok-rokok masih diselundupkan di perbatasan, dan perusahaan-perusahaan Paraguay terus berproduksi. Laporan ini membuat isu itu menjadi catatan publik, tapi perubahan harus dilakukan oleh otoritas pemerintah. Negara-negara perlu menekan pemerintah Paraguay untuk menutup perbatasan-perbatasan. Dalam laporan kami, saya membuktikan bahwa Horacio Cartes, presiden Paraguay, sedang melanggar hukum federal (Undang-undang Kepabeanan) negaranya sendiri, Cartes mengatakan kepada wartawan bahwa ia hanya memproduksi rokok, dan tidak bertanggung jawab ke mana rokok-rokok itu berakhir. Tapi kami memeriksa UU Kepabeanan Paraguay, yang merupakan undang-undang federal, dan jels disebutan bahwa penyelundupan tidak hanya barang yang masuk ke Paraguay tanpa membayar pajak, tapi juga yang keluar tanpa membayar pajak. Ada pasal lain dalam UU Kepabeanan, undang-undang federal yang mengatakan bahwa keuntungan pendapatan dari penyelundupan itu harus dipertanggungjawabkan. Jadi presiden Paraguay tahu rokok-rokoknya diselundupkan, tapi mengatakan ia tidak bertanggung jawab. Tentu saja, ia bertanggung jawab!

Sumber: gijn.or

Categories: Feature