Liputan investigasi dicap sebagai praktik berongkos besar tanpa imbal hasil yang jelas. Tak heran banyak media massa cenderung menghindarinya. Namun, kesadaran mengenai peran pentingnya dalam mengawasi kepentingan publik tetap bertahan dan terus disebarkan. Salah satunya melalui organisasi investigasi nirlaba.

“Kami cuma punya mesin ketik elektrik bekas, sebuah komputer berbasis DOS, dan beberapa kotak disket,” ujar Sheila Coronel, Jurnalis Senior Filipina, saat menyampaikan pidato kunci pada ajang Uncovering Asia: The First Asian Investigative Journalism Conference di Manila empat tahun lalu.

Bersama dengan delapan jurnalis lain, Sheila mendirikan Philippine Center for Investigative Journalism (PCIJ) pada 1989. Sheila dan delapan jurnalis Filipina lainnya memulai langkah pada 1989. Modal terbesar mereka adalah kesadaran soal pentingnya media massa melampaui rutinitas peliputan harian.

“Banyak ketidakpastian, kerja yang kami lakukan sangat berisiko, tak ada model (organisasi) di dunia ketiga (yang bisa dicontoh), kami juga merupakan wartawan muda yang belum matang,” bebernya dalam sebuah wawancara dengan The Asia Foundation.

Usaha mempromosikan jurnalisme investigasi untuk kepentingan publik tak surut di tengah keserbaterbatasan. PCIJ telah melakukan 120 pelatihan sepanjang periode 1990-2012. Tak hanya di Filipina, tetapi juga Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, Jepang, dan Indonesia.

Mendirikan media nirlaba memang terdengar nekat. Media massa, industri, dan khalayak kadung membentuk model segitiga bisnis yang kukuh. Berita dijual pada khalayak, khalayak dijual pada pengiklan, dan pendapatan iklan menjadi sumber dana untuk memproduksi berita. Dalam model seperti itu, laba adalah batas bawah (bottom line).

Model tersebut menyisakan ceruk yang menjadi ruang PCIJ mengembangkan diri.

Seperti tertulis di laman resminya, “PCIJ tidak bermaksud menggantikan kerja surat kabar, televisi, atau radio, tetapi semata-mata berusaha untuk mendorong perkembangan jurnalisme investigasi dan membentuk kultur tersebut di lingkungan pers Filipina.”

Membangun lembaga nirlaba yang berfokus pada praktik investigasi menjadi kecenderungan baru yang muncul setelah keberhasilan duo wartawan The Washington Post Bob Woodward dan Carl Bernstein merilis laporan investigasinya pada 1972. Berawal dari pembobolan Kantor Pusat Partai Demokrat di Kompleks Watergate, Washington DC, mereka mengikuti peristiwa tersebut hingga muaranya ke skandal politik yang melibatkan Presiden Amerika Serikat Richard Nixon. Laporan tersebut berujung pada pengunduran diri Nixon.

Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1977, wartawan investigasi Rolling Stones yakni Lowell Bergman, David Weir bersama rekannya Dan Noyes, mendirikan lembaga investigasi nirlaba pertama bernama Center for Investigative Reporting (CIR) yang berpusat di California.

Liputan investigasi pertama CIR mengenai geng kriminal yang bertranformasi menjadi Partai Black Panther dimuat di majalah New Times dan Mother Jones. Bertajuk The Party’s Over, liputan tersebut menuai pujian dari editorial The Wall Street Journal.

Langkah sejalan diambil Jurnalis CBS Charles Lewis. Mantap mengakhiri karier sebagai produser News 60 Minutes di radio jaringan, ia mendirikan Center for Public Integrity pada 1989. Bersama dua rekannya sesama wartawan Amerika, mereka menggalang dana dari yayasan kecil, serikat pekerja, perusahan dan menjadi konsultan TV jaringan. Di tahun pertama pendirian, mereka berhasil mengumpulkan US$ 200 ribu, atau sekitar dengan Rp 2,9 miliar. Jumlah yang lebih dari cukup untuk digunakan sebagai modal awal memproduksi liputan investigasi.

Produksi laporan investigasi oleh media nirlaba tak bisa dipisahkan dari kemunculan lembaga donor yang mendanainya. Filantropis Philip M. Stern sebagai contoh, membentuk Fund for Investigative Journalism pada 1969. Ia memulainya dengan langkah kecil, memberikan dana senilai US$ 2.250 pada Seymour Hersh untuk melakukan liputan mengenai pembantaian yang dilakukan tentara Amerika Serikat di My Lai, sebuah Desa di Vietnam.

Nilai dari dana tersebut, menurut Stern, bukan terletak pada jumlahnya tapi pada dampaknya yang, “Berkontribusi besar pada perubahan cara orang Amerika memandang perang di Vietnam.”

FIJ masih bertahan hingga kini. Dalam laman resminya mereka mengklaim, “Telah menyalurkan hibah dengan nilai lebih dari US$ 1,5 juta kepada reporter, pengarang, dan penerbit kecil. Memungkinkan mereka untuk memublikasikan lebih dari 700 cerita dan siaran, serta lebih dari 50 buku,” selama tiga dekade belakangan.

Beberapa lembaga serupa juga muncul di Amerika Serikat pada 1960-an. Investigative Fund at The Nation Institute dan Investigative Reporters and Editors ikut ambil bagian dalam mendukung liputan investigasi dengan pendampingan media, membantu kolaborasi antar jurnalis, dan mendanai liputan investigasi.

Lama berkembang di Amerika, Benua Biru baru mencicip hadirnya organisasi investigasi nirlaba di abad ke-21. Perkembangannya diawali di negara-negara Eropa Timur pascajatuhnya komunisme. Stefan Candea, Sorin Ozon, dan Paul Radu mendirikan Romanian Centre for Investigative Journalism pada 2001.

Kehadiran lembaga nirlaba yang mendukung jurnalisme investigasi, Menurut Radu, diperlukan untuk mengungkap korupsi dan relasi petinggi pemerintah, kelompok kriminal dan kejahatan petugas intelijen yang terjadi di Rumania. Peran tersebut dijalankan dengan mempublikasikan liputan mengenai perdagangan senjata, kepemilikan perusahaan lepas pantai, dan organisasi kriminal internasional.

Kemunculan lembaga nirlaba yang fokus pada Jurnalisme Investigasi mencapai puncaknya dua dekade belakangan. Menjalar ke benua Afrika, hingga jauh ke Asia. Center for Media Assistance mencatat ada 39 organisasi investigasi nirlaba yang tersebar di 29 negara pada 2007.

Lembaga-lembaga tersebut membangun aliansi internasional di bawah Global Investigative Journalism Network (GIJN). Saat ini terdapat 173 organisasi dari 75 negara yang tergabung dalam GIJN. Di Indonesia dua organiasi terdaftar sebagai anggota yakni Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi (Jaring).

Mengapa Nirlaba?

Pendapatan media komersial yang terus tergerus menjadi alasan Charles Lewis undur diri dari CBS dan mendirikan lembaga nirlaba pada 1989. Meledaknya bisnis pertelevisian sejak 1970 mengurangi pendapatan media cetak dari iklan. Liputan panjang dan berbiaya mahal seperti investigasi kerap menjadi sasaran utama pengetatan anggaran. Hampir dua dekade berselang, alasan tersebut masih relevan.

“Dengan kompleksitas masalah yang terjadi di tengah masyarakat sekarang, perlu informasi independen, orisinal dan dapat dipercaya. Terlebih dukungan teknologi untuk menyampaikan pesan gambar suara dan teks secara global,” tulis Lewis dalam artikel The Nonprofit Road: It’s paved not with gold, but with good journalism, Oktober 2017 lalu.

Profesor ekonomi Julia Cage punya pandangan ekstrem. Dalam bukunya Saving the Media, ia berpendapat bahwa media harus berubah menuju struktur nirlaba agar bertahan dengan berita berkualitas. Dia mengklaim media komersial menghabiskan potensi monetisasi mereka, berubah dalam keputusasaan kepada siapapun yang bersedia membayar.

“Jika media masa depan harus bergantung pada investor kaya untuk pembiayaan mereka, banyak bahaya terbentang di depan,” katanya.

Namun, bukan berarti model nirlaba tak menyisakan masalah. Independensi tetap menjadi tantangan. Lewis menyarankan organisasi nirlaba agar membuka sumber pendanaanya dengan memublikasikan laporan keuangan tahunannya agar bisa diakses publik. Pendanaan organisasi juga tak boleh bertumpu pada donor tunggal.

Masalah lain muncul. Bagaimana organisasi nirlaba yang fokus pada jurnalisme investigasi, terutama organisasi bergantung pada donor, bisa bertahan hidup?

Richard J. Rouan dari EWS School of Journalism, Universitas Ohio, menganalisis organisasi investigasi nirlaba menurut sumber pendanaannya. Pertama, organisasi yang dijalankan dengan biaya sepenuhnya dari donor seperti Pro Publica. Kedua, media komersial yang memiliki bagian investigasi nirlaba seperti Huffingthon Post yang bekerja sama dengan Atlantic Filantropies untuk memberikan dana liputan investigasi kepada jurnalis lepas. Ketiga, organisasi nirlaba yang pendanaanya bergantung pada masyarakat seperti Spot.us.

Pendanaan investigasi yang dilakukan Spot.us, menurut Rouan, merupakan contoh terbaik dengan mengandalkan dana dari masyarakat untuk meliput isu lokal.

“Dikuatkan laporan State of the Media News 2009, para peneliti sepakat masa depan media nirlaba bukan pada bisnis skala besar dengan isu umum, tetapi pada ceruk khusus dengan isu lokal yang mengandalkan web,” tulisnya dalam The Non-Profit Model of Investigative Reporting: Can it Save Public Service Journalism?

Bukan tidak mungkin akan ada koran investigasi daring berbasis komunitas yang didanai masyarakat atau universitas. Atau membangun media dengan skala lebih besar yang mengandalkan model langganan. Lewis menilai hal itu sangat mungkin terjadi dengan kombinasi antara orang yang tepat, sumber daya, dan waktu.

Saat ini, dukungan jangka panjang filantropi kepada organisasi investigasi nirlaba setidaknya bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas laporan investigasi. Batas bawahnya adalah dampak, bukan lagi kalkulasi untung-rugi. (Debora Blandina Sinambela)

Categories: Feature