Oleh Daria Sukharchuk

Di Brasil, beberapa perempuan wartawan mendirikan sebuah kantor berita jurnalistik investigasi yang dihormati karena berita-beritanya yang mendalam dan berkualitas. Kantor itu bernama Agência Pública. Salah satu pendirinya, Natalia Viana membagi pandangan-pandangannya tentang seperti apa bekerja dengan tim investigasi yang mayoritas perempuan di Brasil.

Agência Pública didirikan pada 2011 oleh tiga jurnalis Brasil, dengan tujuan untuk melakukan investigasi-investigasi secara independen. Lembaga ini didanai oleh donasi-donasi dan hibah-hibah, dan laporan-laporannya diterbitkan sesuai lisensi Creative Commons.

Luiza Bodenmueller, yang pernah bekerja untuk Pública, mengatakan kantor itu selalu mengambil sisi korban, sebuah pendekatan yang berangkat dari fokusnya pada kepentingan publik. Tapi yang membedakan mereka dari sebagian besar ruang redaksi lain adalah lebih dari separuh stafnya adalah perempuan. Rasio perempuan dan laki-laki di sana 3:2.

Salah satu pendirinya Natalia Viana berbicara soal keuntungan dan tantangan pendekatan agensi ini pada jurnalisme investigatif.

Viana memulai karier jurnalistiknya sebagai seorang reporter di sebuah majalah sayap kiri utama Brasil bernama Caros Amigos. Ia kemudian menyelesaikan masternya di London, dan bekerja sebagai jurnalis lepas. Ia selalu suka bekerja untuk investigasi-investigasi mendalam dan panjang, dan menerbitkan tiga buku tentang isu-isu HAM di Brasil.

Ketika skandal Wikileaks pecah, Viana dan Agência Pública yang baru didirikan bekerja sama dengan Wikileaks membawa dokumen-dokumen itu ke Brasil, dan mengoordinasikan penerbitan mereka dengan media Brasil.

Pekerjaan mereka dengan dokumen-dokumen dan pengalaman mereka terdahulu membantu tim Pública menyadari bahwa ada kebutuhan yang tinggi untuk jurnalistik investigasi mengelola isu-isu seputar HAM di Brasil.

Menurut Viana, komposisi gender dalam tim Pública memberi keuntungan besar, dan membantu kantor berita itu menemukan sudut pandang yang berbeda dalam cerita-cerita yang mereka liput. Dalam beberapa kasus, bisa membantu mereka berbicara dengan orang-orang yang tak bisa didekati oleh seorang reporter pria.

Identitas feminin Pública tak pernah diniatkan, kata Viana. Terjadi lebih karena ketidaksengajaan, ketika dia menyadari bahwa para kolega yang bekerja dengannya untuk mendirikan Pública semua perempuan.

Identitas feminin Pública menjadi penghalang pada awalnya – mula-mula, mereka disebut sebagai “kantor berita jurnalisme investigasi”. Tapi gender mereka memengaruhi topik yang mereka pilih untuk diliput. Viana dan rekan-rekannya yakin bahwa perempuan melihat masyarakat dan masalahnya secara berbeda, menaruh minat pada cerita-cerita yang berbeda dibanding rekan laki-laki mereka.

Aborsi ilegal, yang diliput Pública secara panjang lebar, adalah salah satu contohnya. Viana yakin seorang laki-laki jurnalis tidak akan bisa berbicara kepada perempuan yang melakukan aborsi ilegal, karena mereka tidak terbuka terhadap laki-laki, seperti mereka terbuka kepada seorang perempuan.

“Perempuan-perempuan itu tahu bahwa mereka telah melanggar hukum, tapi dalam budaya kami lebih mudah bagi mereka berbicara kepada perempuan, karena mereka mengantisipasi tingkat pemahaman tertentu, tingkat solidaritas.”

“Saya percaya bahwa perempuan bisa berempati lebih baik dengan orang-orang yang mereka wawancara,” katanya. Kultur macho bisa mendorong kaum lelaki merendahkan perempuan, dan para perempuan wartawan bisa menggunakannya sebagai keuntungan, seperti yang dilakukan Agência Pública pada 2015, ketika tim tersebut meliput pembangkangan politik di Angola.

Mereka mewawancarai perempuan-perempuan muda yang berjuang melawan rezim–dan mengejutkan tak ada jurnalis yang mendekati mereka sebelumnya.

Menjadi seorang perempuan bisa membuat peliputan investigasi lebih berbahaya – pergi ke tempat-tempat seperti Mozambique, atau pusat Amazon bisa berbahaya bagi siapa pun, dan apalagi bagi kaum perempuan.

Tapi di sisi lain, bisa juga menjadi keuntungan besar. Contohnya, ketika Pública sedang menginvestigasi penahanan para pembangkang politik di Angola, para pejabat lokal, yang tidak akan membiarkan para jurnalis membuat film di Angola, harus menghentikan para wartawan Pública yang sedang membuat film, tapi tidak menyensornya sama sekali. Menurut Viana, sebagian termotivasi fakta bahwa mereka perempuan.

Isu-isu perempuan dan identitas feminis justru tidak pernah menjadi fokus pekerjaan Pública’. Namun, menurut Viana, kantor berita itu masih dipimpin oleh kaum perempuan, meskipun mereka kini menerima kaum lelaki sebagai staf juga, sebagian besar karyawan adalah perempuan. Viana tidak terkejut jika perempuan lebih mungkin terlibat dengan pekerjaan-pekerjaan kantor berita ini – “Saya rasa perempuan cenderung lebih terbuka terhadap inovasi, lebih berpetualang,” katanya.

Pemenang Banyak Penghargaan

Baik laki-laki maupun perempuan di Pública telah menghasilkan laporan-laporan yang memenangi banyak penghargaan sejak diluncurkan. Viana menambahkan meskipun kantor berita ini didominasi kaum perempuan, fakta bahwa  para lelaki wartawan memiliki peran penting tak bisa dibantah.

Menghabiskan waktu bertahun-tahun bekerja dengan media Brasil, Viana yakin kultur di sekitarnya sedang berubah, dan ada tuntutan untuk lebih banyak berita feminis karena nilai inti masyarakat telah berubah.

Ketika kaum perempuan mulai bersuara, mereka menunjukkan perspektif berbeda pada masalah yang dihadapi masyarakat, dan yang tidak bisa dilihat kaum lelaki. Kebijakan cuti orang tua adalah contoh yang bagus – di Brasil, kaum lelaki hanya mendapatkan empat hari cuti orang tua, sementara perempuan mendapat 120 hari libur kerja. Adakah yang heran mengapa para ibu yang tinggal di rumah bersama anak-anak, dan bukan para ayah?

Viana yakin salah satu alasan orang-orang Brasil lebih banyak berbicara tentang isu itu adalah perubahan cara media memberitakannya.

Tentu saja, para lelaki masih menempati mayoritas posisi manajerial di media, dan itu memengaruhi pekerjaan mereka. Viana menyebut majalah Veja yang terkenal sebagai salah satu contohnya. Ketika menerbitkan profil Marcela Temer, ibu negara baru Brasil, mereka memfokuskan penulisan secara khusus pada kecantikannya, kecintaannya pada rumah dan sikapnya yang pendiam.

“Ini pandangan stereotip pria terhadap perempuan. Saya yakin bahwa dalam kasus ini semua keputusan diambil oleh kaum lelaki, bahkan seandainya pun wartawan yang ditugaskan itu perempuan,” kata Viana.

Viana tidak menyebut dirinya sebagai feminis. “Teman-teman feminis saya mungkin marah dengan hal ini,” ia tertawa tapi ia menikmati bekerja sama dengan para perempuan koleganya, dan berpendapat bahwa sebagai perempuan, mereka memiliki pemahaman yang lebih baik dalam tim karena mereka memiliki pengalaman serupa, dan pemahaman lebih baik tentang masalah yang mereka angkat – seperti diskriminasi atau kekerasan gender. Identitas feminis Agência Pública adalah produk natural dari pekerjaan mereka. (*)

Daria Sukharchuk adalah seorang jurnalis lepas dari Moskwa, berbasis di Brasil. Ia menulis tentang HAM dan migrasi dalam kapasitas wartawan lepas.

Sumber: Journalism.co.uk

Categories: Feature