Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menerbitkan izin pengelolaan hutan desa untuk tujuh desa, pada 27 November 2017. Dampaknya begitu terasa bagi masyarakat. Mereka pun bisa mengelola kawasan hutan secara legal seperti di Kepulauan Meranti.

HENING di tepi hutan Desa Sungai Tohor pecah oleh suara mesin diesel yang menggerakkan alat pengolahan sagu. Sejak pagi hingga sore hari, 14 kilang pengolahan sagu terus beroperasi mengolah tual-tual sagu menjadi sagu basah. Tak hanya dijual di Riau dan Pulau Jawa, sagu basah warga Desa Sungai Tohor juga kerap diekspor ke negeri jiran, Malaysia.

Ya, geliat usaha warga desa di Kecamatan Tebing Tinggi Timur, Kepulauan Meranti, kian bergairah penerbitan izin oleh Kementerian LHK. Sejak itu, perekonomian masyarakat, terutama warga Desa Sungai Tohor pun terus meningkat. Salah seorang warga Sungai Tohor, Syahruddin merasakan betul dampak pengelolaan hutan desa itu. Sejak skema hutan desa berjalan, hasil sagu dari lahan yang dia kelola terus bertambah.

“Dulu saat masih ada penebangan hutan dan penggalian kanal, pohon sagu hanya bisa tumbuh dengan tinggi maksimal 5 sampai 8 meter saja. Kalau sekarang, sagu bisa tumbuh sampai 12 meter. Bahkan ada yang lebih. Hasil produksi sagu basahnya tentu jauh berbeda,” ujarnya bersemangat.

Bagi Syahruddin, mengolah lahan sagu sangat menguntungkan. Sebab, hanya dengan menanam satu pohon sagu, anakan pohonsagu bisa tumbuh menjamur dalam beberapa tahun. Bahkan dalam kurun 10 tahun, jelas Syahruddin, belasan pohon sagu bisa tumbuh dalam satu rumpun. “Jadi kalau sekali kita menanam pohon sagu, sampai anak cucu kita tidak akan pernah habis meskipun setiap tahun dipanen. Seperti kita menanam pohon pisang,” ujar Syahruddin.

Alhasil dengan mengelola lahan sagu warisan orangtuanyaitu, Syaruddin tak hanya bisa memenuhi keperluan hidup sehari-hari, tapi juga bisa membayar ongkos pendidikan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Bahkan Syahruddin berseloroh, banyak warga Sungai Tohor yang sanggup menunaikan ibadah haji dengan penghasilan mengelola sagu.

“Sekali panen dengan hasil sekitar 200 batang pohon sagu, saya bisa mendapatkan hasil Rp70-80 juta. Hasil ini terus meningkat. Apalagi setelah adanya skema hutan desa. Dampak lainnya juga masyarakat semakin tenang saat mengelola lahan karena tidak perlu takut lagi lahan yang dikelola ada di kawasan hutan,” tambahnya.

Sekretaris Desa Sungai Tohor Hernandi Jamal mengisahkan, lahan sagu yang kini mereka kelola adalah lahan turun-temurun. Dulunya dikelola orangtua mereka. Untuk legalitas lahan, orangtua mereka hanya mengantongi surat keterangan desa. Tapi surat yang diterbitkan pemangku desa gugur ketika Kementerian Kehutanan menerbitkan izin Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk PT Lestari Unggul Makmur pada 2007.

“Setelah sekarang adanya skema hutan desa, lahan yang dulunya dikelola masyarakat tetap boleh dikelola. Sedangkan yang tidak memiliki lahan, tetap dilibatkan mengelola hutan desa yang sebelumnya belum dikelola masyarakat,” jelasnya.

Pekerja mengupas tual sagu untuk digiling menjadi tepung sagu di Desa Sungai Tohor Kabupaten Kepulauan Meranti Provinsi Riau, (11/5/2018) . Foto : Soleh Saputra

Hernardi menjelaskan, dengan banyaknya kilang sagu, sagu basah yang diproduksi setiap bulan bisa mencapai 400 ton. Dengan jumlah produksi sebanyak itu, perputaran uang mereka taksir bisa mencapai Rp1 miliar. Konsumen pembeli sagu basah asal Sungai Tohor, banyak berasal dari daerah Cirebon, Jawa Barat dan juga dari Malaysia.

Untuk harga jual sagu basah, saat ini ada di kisaran Rp1.700 per kilogramnya. “Luas perkebunan sagu di Desa Sungai Tohor sekitar 6 ribu ha, jika ditotal di seluruh Kecamatan Tebing Tinggi Timur, luas perkebunan sagu mencapai 36 ribu ha,” imbuhnya.

Menurut tokoh masyarakat Desa Sungai Tohor, Nong Mel, tanaman sagu di sekitar Desa Sungai Tohor sudah ada sejak zaman penjajahahan Belanda atau sekitar tahun 1920. Tanaman sagu ditanam para leluhur masyarakat Sungai Tohor. Tapi, saat itu jumlah yang ditanam masih sedikit. Baru pada era 1980-an, Nong Mel mengajak masyakat membudiyakan tanaman sagu. Penanaman sagu gencar dilakukan karena masyarakat kesulitan memenuhi keperluan hidup sehari-hari, hingga mereka harus membuka ladang di pulau lain.

“Karena banyak masyarakat yang berladang hingga keluar desa, desa menjadi sepi. Bahkan jamaah Salat Jumat saja hanya 10 orang. Kemudian anak-anak kesulitan untuk bersekolah. Karena itu, saya mengajak masyakat untuk kembali ke desa dan menanam sagu. Setelah sagu mulai menghasilkan, perlahan perekonomian masyarakat mulai berubah,” ujar Nong Mel mengisahkan kiprahnya dahulu.

Dengan kondisi perekonomian masyarakat yang terus membaik, masyarakat tidak serta merta membabat habis hutan yang ada di sekitar desa. Karena masyarakat percaya, tanaman sagu yang berkualitas bisa tumbuh di lahan gambut yang kondisinya terjaga. Serasah gambut yang basah dan tumbuh tanaman-tanaman hutan.

“Sagu di Sungai Tohor ini tumbuh di lahan gambut dan berdampingan dengan tanaman hutan lainnya. Jadi masyarakat akan tetap menjaga hutan agar tanaman sagu mereka bagus. Selain itu, meskipun dari tengah lahan jaraknya cukup jauh ke tepi sungai hingga 2-3 kilometer untuk membawa batang sagu. Masyarakat tidak akan membuat kanal, karena masyarakat sadar jika dibuat kanal lahan gambut akan kering dan berpengaruh kepada tanaman sagu mereka,” sebutnya.

Nong Mel menjelaskan, tumbuh suburnya tanaman sagu jadi penanda lahan gambut di hutan tetap terjaga. Ini karena tumbuhan sagu sangat memerlukan air untuk bisa tumbuh subur dan menghasilkan kualitas sagu terbaik. “Masyarakat paham betul soal itu. Sehingga selain menanam sagu masyarakat juga sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.

Sebelumnya Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman -yang sudah mundur terhitung 20 September lalu-, pada acara Annual ASEAN Sago Symposiun di Hotel Pangeran Pekanbaru awal Agustus lalu mengatakan, perkebunan sagu memang banyak terdapat di Kepulauan Meranti dengan luas areal mencapai 11.700 ha milik perusahaan dan 60.562 ha milik rakyat. Dengan puluhan ribu ha lahan sagu yang ada, Riau sanggup memproduksi 300.755 ton tepung sagu pada 2017 lalu.

Masyarakat tidak serta merta membabat habis hutan yang ada di sekitar desa. Karena masyarakat percaya, tanaman sagu yang berkualitas bisa tumbuh di lahan gambut yang kondisinya terjaga.

Sementara menurut data Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Riau, sagu dengan segala keunggulannya memiliki daya saing sangat bagus. Untuk kesehatan konsumen misalnya, nilai kabohidrat sagu bisa menghasilkan energi yang setara dengan orang yang mengkonsumsi beras. Tapi dari sisi produksi, satu ha lahan sagu mampu menghasilkan pati 20–40 ton, berbeda dengan rata-rata produksi padi yang hanya 7 ton per ha lahan.

Balitbang Pemprov Riau juga menghitung, satu batang sagu dapat memenuhi keperluan konsumsi untuk satu orang dewasa selama satu tahun lamanya. “Mengingat pentingnya penganekaragaman pangan khas daerah ini, berbagai upaya sudah dilakukan Provinsi Riau. Seperti menyiapkan aturan mulai dari Perda Ketahanan Pangan, Peraturan Gubernur, dan Surat Edaran Gubernur untuk pengembangan pangan lokal khususnya berbasis sagu di hotel-hotel dan restoran,” sebutnya.

Arsyadjuliandi mengatakan, Pemprov juga gencar melaksanakan sejumlah program. Misalnya perubahan perilaku dan penguatan kelompok pangan lokal di Dinas Ketahanan Pangan, inovasinya produk turunan sagu pada Badan Litbang, perluasan arealnya pada Dinas Pertanian dan Perkebunan, Penguatan UKM pada Dinas Perdagangan dan Promosi pada Dinas Parawisata Provinsi Riau.

“Menjadikan sagu sebagai cadangan pangan stragegis dalam rangka diversifikasi produk dan publikasi keragaman pangan berbagai upaya sudah dilakukan oleh Provinsi Riau, antara lain; mengeksploitasi keragaman jenis masakan berbahan sagu, sehingga dapat rekor MURI 2016 untuk 369 jenis. Saat ini, pemerintah Provinsi Riau juga bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti dan Hotel Pangeran Pekanbaru, dalam menyajikan makanan berstandar hotel berbintang berbasis sagu,” ujarnya.

Tapi di Meranti, warga Sungai Tohor sedang mencari cara agar mereka tak sekadar memproduksi sagu basah. Ke depan, mereka berusaha memproduksi sagu dalam bentuk kering dan berbagai produk turunannya. Kesanggupan masyarakat memproduksi tepung sagu dan turunannya diharapkan bisa menggenjot perekonomian warga Desa Sungai Tohor.

Artikel ini telah diterbitkan di Riau Pos dan diedit kembali untuk dimuat di Jaring.id