Sejumlah anak muda di Bekasi menginisiasi program les gratis bagi anak-anak kurang mampu. Para pengajar berasal dari berbagai agama.

PERAYAAN Ekaristi di Gereja Santo Bartolomeus Taman Galaxi, Bekasi, belum lama usai. Theodora Karunia Masharini buru-buru melangkah menuju parkiran. Ia menghidupkan motor  dan meninggalkan gereja bersama seorang rekan. Mereka meluncur ke Kampung Tembok Bolong, sekitar 1,5 kilo meter di sebelah utara Gereja Santo Bartolomeus. Kampung padat penduduk itu masuk dalam kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan.

Tiba di tujuan, Runi bersama rekan memarkir kendaraan di depan Mushala Al-Ikhlas. Puluhan anak langsung menyambut dan mencium tangan Runi –sapaannya– dan teman. Di rumah ibadah itu, ia bersama lebih dari 20 orang muda lintas agama memberikan les tambahan untuk 68 anak, mulai dari prasekolah hingga kelas VI Sekolah Dasar. Les tambahan yang berlangsung tiap minggu, dari pukul 10.00 hingga 11.30 tak dipungut biaya sama sekali.

Dua Dasawarsa

Les tambahan muncul sejak 2015. Menyambut dua dasawarsa (20 tahun) usia Paroki Taman Galaxi. Kala itu, panitia perayaan ulang tahun paroki meminta komunitas orang muda Santo Bartolomeus untuk mengadakan bakti sosial. Mereka mengusulkan untuk membuat taman belajar di Tembok Bolong. Rencana itu diterima.

Setelah rencana diterima, mereka menjalin kerja sama dengan organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Santo Bartolomeus. Kebetulan, WKRI sudah lebih dulu mengadakan kegiatan sosial di Tembok Bolong tiap pekan kedua dalam bulan. WKRI bersama para kader Posyandu Kencana memberikan asupan tambahan, seperti susu, bubur kacang hijau, dan biskuit kepada sekitar 200 balita.

Pengurus Posyandu Kencana menyambut positif rencana orang muda Santo Bartolomeus. Mereka bahkan yang mendatangi rumah warga. Meminta izin kepada para orangtua agar anak-anak mengikuti les tambahan. Mereka juga yang mencarikan tempat untuk melangsungkan kegiatan itu.

Kegiatan perdana diikuti sekitar 30 anak. Sebagian besar adalah siswa sekolah dasar, beberapa anak sudah putus sekolah dan belum mencecap pendidikan. Jumlah pengajar saat itu ada delapan orang.

Pelajaran yang diberikan antara lain menggambar, mewarnai, membaca, berhitung, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Matematika, dan bahasa Inggris.

Seiring waktu, jumlah anak yang mengikuti les bertambah. “Sering terjadi, kalau kakak-kakaknya ikut, adik-adiknya pasti menyusul. Kalau nggak yah diajak sama kakaknya untuk ikut (les),” ujar Runi, ketika ditemui di halaman Gereja Santo Bartolomeus, awal Mei lalu.

Sayang, antusiasme anak-anak tak dibarengi dengan animo sejumlah pengajar. Hampir setengah dari mereka tak bisa datang rutin. Alasan mereka karena pada saat bersamaan ada kegiatan di gereja, acara keluarga, kendaraan bermasalah, dan ada juga yang sama sekali tak memberi kabar alias “muntaber”, mundur tanpa berita.

Komposisi antara pengajar dengan murid yang tak sebanding menyebabkan pelajaran berlangsung tak optimal. Sebagai koordinator pengajar, Runi merasa malu. Ia tak enak hati dengan WKRI dan warga yang sudah banyak membantu. Terlebih untuk anak-anak yang begitu antusias mengikuti les tambahan ini.

Hilang Berganti

Demi menyambung karya ini, Runi bersama beberapa pengajar tersisa bergerilya. Mereka mencari relawan. Runi memanfaatkan jaringan Forum Orang Muda Katolik (OMK) Dekanat Bekasi.

Kelompok ini merupakan kumpulan pengurus Seksi Kepemudaan dari tujuh paroki di Dekanat Bekasi, Keuskupan Agung Jakarta, yaitu: Paroki St Arnoldus Bekasi, Paroki St Mikael Kranji, Paroki St Bartolomeus Taman Galaxi, Paroki St Clara Bekasi Utara, Paroki St Albertus Harapan Indah, Paroki St Servatius Kampung Sawah, Paroki Ibu Teresa Cikarang, Paroki Kalvari Lubang Buaya, dan Paroki St Leo Agung Jatiwaringin.

Pada suatu kesempatan pertemuan forum itu, Runi menceritakan kegiatan orang muda paroki di Tembok Bolong. Termasuk persoalan yang tengah mereka hadapi. Kisah serupa juga ia bagikan kepada teman-teman di kompleks perumahan dan kampus.

Bak menanam pohon, Runi tak bisa segera menikmati buah usaha. Ia harus bersabar sembari tetap mengajar anak-anak Tembok Bolong. Beberapa anggota WKRI turun tangan untuk meminimalisir kekurangan pengajar. Persoalan ini berlangsung hampir dua tahun.

Pada Oktober 2017, Runi merasakan kejadian luar biasa. Banyak orang muda tertarik untuk menjadi relawan di Tembok Bolong. Ini terjadi setelah mereka mendengar cerita dan melihat  langsung yang dilakukan Runi dan kawan-kawan di sana. “Sekarang jumlah pengajar 28 orang,” ungkap mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana Jatiwaringin, Pondok Gede, Jawa Barat.

Relawan baru tak hanya berasal dari Paroki Taman Galaxi, tapi juga dari paroki dan gereja reformasi, serta beragama Islam. “Kehadirannya (relawan beragama Islam) membantu kami banget. Sebab, pernah ada anak yang minta bantuan dalam pelajaran agama Islam,” ujar dara kelahiran Jakarta, 9 November 1995, sembari tersenyum.

Demi memudahkan komunikasi  serta koordinasi dengan para relawan, Runi membuat grup WhatsApp. Runi menamai komunitas  berbagi pesan itu “Sahabat Tembok Bolong”. Di grup itu, Runi rutin mengirimkan pembagian jadwal mengajar para relawan. Tiap pekan, sekitar delapan hingga sepuluh relawan bergantian untuk mengajar. Di grup itu juga, mereka kerap berbagi pengalaman pasca proses belajar-mengajar.

Indra, salah satu relawan, tergerak untuk ikut mengajar di Tembok Bolong setelah mendengar cerita Runi. Ini pengalaman perdana baginya. Kendati tak mendapat upah, Indra mengaku bahagia terlibat dalam aksi tersebut. “Saya mendapatkan pengalaman baru dan ternyata (ilmu yang saya miliki) berguna buat anak-anak,” ujar orang muda Paroki St Clara, Bekasi Utara.

Sementara Rizky menjadi relawan karena tertarik saat melihat temannya mengajar di sana. Batin Rizky langsung tersentuh saat itu. Ia mengutarakan niat ingin bergabung. Pada pekan berikut, Rizky menjadi bagian Sahabat Tembok Bolong. Rizky adalah satu-satunya relawan beragama Islam .

Ia tinggal di Cikarang, sekitar 30 kilo meter dari Tembok Bolong. “Saya dari rumah pukul delapan, sampai di sini (Tembok Bolong) sekitar pukul sembilan,” ujar karyawan swasta ini.

Kini, Runi bisa tersenyum. Persoalan defisit pengajar mulai teratasi. Relawan yang dulu  sempat “hilang” sekarang telah berganti dengan wajah-wajah baru. Meski demikian, Runi berharap, kegiatan di Tembok Bolong terus berkembang agar dapat membantu semakin banyak anak yang kurang beruntung.  Selain itu, dengan menabur ilmu di sana, dapat menuai persaudaraan antarwarga.

Banyak Dukungan 

Banyak pihak mendukung eksistensi dan aktivitas Sahabat Tembok Bolong. Ketua WKRI Cabang Santo Bartolomeus, Fransisca Lenny Wikyanhadi, menuturkan, WKRI langsung menyambut tawaran orang muda untuk kegiatan di Tembok Bolong. “Kebetulan, pendidikan termasuk salah satu program WKRI,” ujar Lenny, sapaannya.

WKRI menjadi jembatan komunikasi antara orang muda Santo Bartolomeus dengan warga dan tokoh masyarakat di sana.

Tokoh masyarakat Tembok Bolong yang paling mendukung rencana itu adalah pasangan suami-istri Yadi Sucipto dan Sanih Suryani. Yadi merupakan Pembina Karang Taruna RT 05, RW 26, Kelurahan Pekayon Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan. Sedangkan sang istri adalah Ketua Posyandu Kencana Pekayon Jaya.

Sanih membantu proses perizinan kepada pengurus RT dan RW setempat. Ia juga meminta restu kepada orangtua untuk menggunakan mushala sebagai tempat belajar anak-anak Tembok Bolong. Mushala Al-Ikhlas adalah milik Haji Misin, ayah Sanih. Lokasi rumah ibadah itu persis berada di samping rumah Hajin Misin.

Sanih bersama suami dan Karang Taruna-lah yang meminta izin kepada orangtua anak.  Menurut perempuan asal Bekasi itu, seluruh orangtua “membuka pintu” agar anak-anak mengikuti kegiatan yang diadakan oleh orang muda dan WKRI Santo Bartolomeus. “Biar pinter dan nggak terlalu banyak main,” ujar Sanih menirukan pendapat para orangtua.

Sanih dan Yadi menginginkan agar masyarakat Tembok Bolong sejahtera. Karena itu, mereka amat terbuka kepada setiap komunitas atau kelompok yang ingin berkontribusi bagi kebaikan warga di sana. “Saya sih lillahi ta’ala saja. Orang yang berniat baik harus kita sambut baik, apa pun agamanya,” ungkap Sanih.

Misi mulia itu tak selalu mulus. Menurut mereka, ada oknum yang berusaha memprovokasi masyarakat untuk menolak aneka bantuan selain dari kelompok Islam. Ujaran-ujaran kebencian itu disampaikan di mimbar masjid saat shalat berjamaah.

Yadi tak menggubris berbagai narasi negatif yang sengaja dibangun. “Saya ingin orang itu ngomong di depan saya. Nggak berani dia. Ia berceramah seperti itu, apakah sudah menyantuni orang susah? Dia bisa membantu nggak?,” tanya Yadi, retoris.

Ia tak menampik ada warga di sana yang terpengaruh dengan ceramah tersebut. Namun, Yadi yakin jumlah kelompok itu sedikit. Masih banyak warga di sini, lanjutnya, mendukung program-program sosial dari luar. “Di sini banyak keluarga tak mampu yang membutuhkan bantuan. Kami ingin menjadi jembatan (antara masyarakat dengan kelompok yang ingin membantu),” ujar pria asal Bekasi itu.

Haji Misin, pemilik Mushala Al-Ikhlas, tak mempersoalkan mushala digunakan sebagai tempat belajar anak-anak. Ia juga menanggapi secara santai jika mayoritas pengajar bukan beragama Islam. “Biar pada pinter gitu…Mau orang dari (agama) mana kek biarin aja, nggak apa-apa, yang penting anak-anak sudah bisa diajarkan. Yang penting ngajarnya pada bener,” ungkapnya seraya tersenyum.

Mayoritas Mengontrak

Ketua RT 01, Muhammad Abdul Rosyid, mengatakan, anak-anak yang mengikuti les adalah warganya dan dari RT 05. Jumlah penduduk di dua RT itu sekira 180-300 kepala keluarga. Mayoritas penduduk, sekitar 75 persen, berasal dari luar Bekasi, terutama Cikarang dan Karawang. Mereka tinggal di rumah kontrakan. Minimal empat orang dalam satu rumah.

Menurut Rosyid, tingkat ekonomi warga di sana adalah menengah ke bawah. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik Kota Bekasi yang ia terima tahun lalu, mayoritas penduduk Tembok Bolong bekerja sebagai pemulung, asisten rumah tangga, tukang batu, tukang bangunan, ojek motor, dan buruh lepas pabrik.Dengan mata pencarian seperti itu, Rosyid yakin, warga amat sulit untuk mendaftarkan anak-anak mengikuti les di luar.

Saat ini, biaya les tambahan atau bimbingan belajar di Kota Bekasi bekisar Rp. 120-150 ribu untuk satu pelajaran selama 1,5 jam per sesi. Bila dalam sebulan empat kali pertemuan, orangtua harus merogoh kocek Rp. 480-600 ribu. “Kalau untuk ikut les tentu mereka tak mampu. Karena itu, saya berterima kasih kepada pengajar bisa membantu anak-anak dari warga saya,” ungkap pria yang berprofesi sebagai satpam ini.

Pendapat hampir senada juga dikemukakan oleh Muhamad Tarsan Hidayat. Ketua RW 26 itu mendukung program les tambahan yang diinisiasi oleh orang muda Santo Bartolomeus. Ia cuman berpesan agar kegiatan tersebut tak menyentuh soal iman dan agama. “Agak sensitif. Tapi, kalau tujuannya untuk pendidikan yah dilanjutkan,” harap suami dari Yanti Linda Sari ini.

Irmawati, salah satu orangtua yang anaknya ikut les tambahan, mengaku, takkan memasukan anaknya bila les tambahan itu dipungut biaya. Ibu dengan lima anak itu takkan sanggup membayar. Sebab, dengan penghasilan di bawah Rp 2 juta per bulan sebagai asisten rumah tangga, hidupnya pun sudah pas-pasan.

Ia juga terbantu dengan les tambahan itu. Sebab, selama ini hanya dirinya yang mendampingi dan mengajarkan anak-anak di rumah. Kehadiran para relawan juga turut meringankan tanggung jawabnya sebagai pendidik utama dan pertama anak. “Suami saya tak mau (menemani anak belajar),” ujar Irmawati.

Dema Al Hidayah, Adam Armani, Rahel Tri Noviani, Nusa Nur Fatimah, dan Asyanur Kolifah merasa senang ikut pelajaran di Mushala Al-Ikhlas saban minggu. Ada kakak-kakak yang membantu mereka mengerjakan tugas sekolah. Mereka juga bisa menanyakan materi pelajaran yang belum dimengerti. “Seneng. Biar pinter, kata Mama,” ungkap Nisa.

Tak hanya orangtua dan anak-anak yang merasa gembira. Perasaan serupa juga dirasakan oleh Sodikun. Pria asal Semarang itu sehari-hari mengurus kebersihan Mushala Al-Ikhlas. Ia mendapat uang kebersihan dari koordinator atau pendamping pengajar selepas les.

Memikul Tanggung Jawab

Kepala Paroki Santo Bartolomeus, Taman Galaxi, Bekasi, Romo Thomas Bani SVD, mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh umatnya. Menurutnya, sebagai bagian warga Kota Bekasi, umat Paroki Taman Galaxi memikul tanggung jawab untuk ikut mencerdaskan, meningkatkan kesejahteraan, dan kesehatan masyarakat.

Hadir sebagai warga, lanjut Romo Thomas, merupakan faktor utama yang membuat orang muda dan WKRI Cabang Santo Bartolomeus diterima masyarakat. “Kalau membawa “bendera” Katolik pasti takkan diterima,” ujar imam kelahiran Timor, Nusa Tenggara Timur.

Kota Bekasi sempat menyandang predikat sebagai satu dari sepuluh kota paling intoleran di Indonesia. Berdasarkan hasil kajian yang dirilis oleh Setara Institute pada 2015, Bekasi mendapatkan skor terendah kedua, setelah Bogor, dalam indeks kota toleran. Ada beberapa peristiwa konflik berlatarbelakang keagamaan yang pernah terjadi di Bekasi.

Peristiwa-peristiwa ini hanya membatasi gesekan antara sejumlah oknum atau kelompok yang mengatasnamakan Islam dengan Katolik. Di luar itu, ada kejadian dengan umat beragama lain.

Beberapa peristiwa berlatar agama yang pernah terjadi, antara lain: demonstrasi beberapa organisasi Islam di depan Kantor Wali Kota Bekasi pada 2016. Mereka menolak pembangunan Gereja Santa Clara, Bekasi Utara. Para demonstran mendesak Wali Kota Bekasi untuk mencabut Izin Mendirikan Gereja (IMB) gereja. Lokasi demonstrasi hanya berjarak sekitar 4,5 kilo meter dari Tembok Bolong.

Desember 2009, ratusan massa merusak dan membakar Gereja Santo Albertus Harapan Indah. Lokasi kejadian terdapat di sebelah utara Tembok Bolong, berjarak sekitar 12 kilo meter. Jauh sebelum itu, pada September 1996, pukul 23.00 WIB, ratusan massa membakar Gereja Santo Leo Agung, Jatibening. Gereja Santo Leo Agung hanya berjarak tujuh kilo meter di sebelah utara Tembok Bolong.

Pada tahun 90-an juga sempat terjadi gangguan terhadap umat Katolik di lingkungan Maria Ratu, di blok cc, Perumahan Pondok Pekayon Indah. Saat Doa Rosario di rumah seorang umat, sejumlah oknum melempar batu dan memaksa umat untuk menghentikan doa. Jarak tempat kejadian dengan Tembok Bolong kurang dari tiga kilo meter.

Dengan berbagai catatan kelam tersebut, menurut Romo Thomas, aksi sosial ini diharapkan bisa menjadi jalan untuk membangun toleransi antarumat beragama, terutama di kalangan akar rumput. Kegiatan ini juga, tambahnya, dapat menjadi pelajaran bagi orang muda Santo Bartolomeus untuk hidup bermasyarakat dan berkontribusi untuk kemajuan warga setempat.

Tak Hanya Mengajar

Ketua Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta, Bruder Heribertus Sumarjo FIC, mengaku bangga atas kepeduliaan dan karya orang muda untuk anak-anak Tembok Bolong. Baginya, aksi tersebut merupakan gerakan transformatif, yakni memberdayakan orang lemah menjadi kuat, anak-anak yang kurang mampu mendapatkan pendidikan optimal. Apalagi, gerakan tersebut mengacu pada keberagaman yang menekankan persaudaraan yang inklusif, inkultural, dan plural.

Br Heri menyarankan, intensitas perjumpaan itu perlu ditingkatkan. “Kalau mereka mau membangun budaya perjumpaan, komunikasi, dialog, pelatihan, pembimbingan yang agak rutin, pengaruhnya luar biasa, perubahannya juga cepat,” ungkap biarawan dari Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria yang Terkandung Tanpa Noda (Congregatio Fratres Immaculatae Conceptionis Beatae Mariae Virginis/FIC).

Gerakan ini, menurutnya, juga melatih kemandirian dan tanggung jawab orang muda. Karena itu perlu didukung oleh semua pihak. Namun, ia mengingatkan, agar dukungan pihak luar jangan terlampau berlebihan. Sebab, bakal mengurangi inisiatif, kreatifitas, dan daya juang mereka.

Pakar Pendidikan, Doni Koesoema Albertus, menilai, gerakan sosial ini dapat menjadi sarana orang muda untuk menumbuhkan rasa empati terhadap kondisi masyarakat sekitar. Terutama, bagi anak-anak yang kurang beruntung secara ekonomi, sosial, dan budaya (pendidikan). Harapannya, lewat program pendidikan itu, anak-anak Tembok Bolong mampu melepaskan diri dari belenggu kemiskinan.

Gerakan bersifat lintas agama itu, menurut Doni, juga bisa menjadi model pembinaan di daerah-daerah lain. Bila semakin banyak wilayah di Indonesia memiliki gerakan serupa, relasi sesama anak bangsa akan terjalin secara guyub dan harmonis.

Agar kegiatan ini bisa tetap ajeg, anggota Badan Standar Nasional Pendidikan periode 2019-2023 itu menyarankan, dibuat jadwal rutin mengajar serta mengevalusi program serta pelajaran. Pelayanan yang baik, menurutnya, perlu dibuat sistematisasi.

Selain itu, para pengajar perlu mendata dan membuat portofolio anak didik. Sehingga, saat mereka mencari pekerjaan, dapat dibantu lewat jejaring yang dimiliki oleh para pengajar. “Jadi, bukan hanya mengajar, tapi juga membantu mereka untuk menggapai masa depan,” harap pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah ini.

Kota Maju

Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, juga mengapresiasi program pendidikan itu. Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, mengatakan, para relawan telah ikut berperan dan berpartisipasi menjaga persatuan dan kesatuan. “Ini bukan saja (tanggung jawab) sebagai anak bangsa, tapi keyakinan atau akidah setiap agama juga mengajarkan hal itu, yakni hidup saling mengasihi dan memberi manfaat,” ujar Pepen, sapaan akrab Rahmat Effendi.

Pada 2017, label Bekasi sebagai salah satu kota intoleran luntur. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia memberi penghargaan kepada Pemkot Bekasi karena berhasil menjamin kebebesan beragama dan berkeyakinan. Setahun kemudian, giliran Setara Institute menahbiskan Bekasi sebagai salah satu kota toleran di Indonesia. Bekasi menempati posisi keenam dari sepuluh kota yang menyandang predikat tersebut.

Pepen menyebut penghargan itu merupakan hasil dari proses panjang membangun peradaban di tengah masyarakat yang heterogen. Penghargaan itu, menurutnya, juga terwujud berkat keterlibatan warga. “Kota ini takkan maju, jika masyarakatnya masih mengeleminir keyakinan-keyakinan. Soal itu (keyakinan) urusannya antara pribadi dengan Tuhan,” pungkasnya.

Oleh: Yanuari Marwanto

Diterbitkan oleh Majalah HIDUP edisi 30-28 Juli 2019

Categories: Harmoni Sosial