Sejak 2008 hingga 2017 Indonesia mengimpor 800 kornea mata. Itu pun tak cukup untuk mengisi kekosongan. Komunitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menawarkan solusi lewat program Keluarga Donor Mata

Haru menyeruak dari sebuah rumah di Desa Tenjowaringin, Kecamatan Selawu Tasikmalaya, subuh itu. Keluarga dan kerabat almarhumah Susi Fasalawati berkumpul, merapal doa, seraya melantunkan ayat suci Al Quran untuk mengantarkan sanak keluarganya menghadap Sang Khalik.

Prosesi kematian ini tak serupa dari biasa. Selain rapalan doa, ada pula proses pengambilan kornea mata milik mendiang Susi. Batas waktunya hanya 6 jam setelah sang donor mata meninggal dunia.

Kornea mata almarhumah Susi diambil oleh warga yang sudah mendapatkan pelatihan medis. Cepat, tidak sampai 10 menit, tak ubahnya mengambil lensa kontak dari mata.

Setelah prosesi ini selesai, keluarga bersiap menggelar pemakaman. Sementara, kornea Susi masih akan menempuh perjalanan panjang.

DESA SIAGA DONOR MATA

Susi adalah satu dari 3.000 calon pendonor mata dari Desa Tenjowaringin, Tasikmalaya.

Di desa ini, 80 persen warga adalah anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Desa yang terletak di perbatasan antara Tasikmalaya dan Garut ini dikenal sebagai basis Ahmadiyah terbesar di Tasikmalaya. Bagi mereka, donor mata adalah hal yang sudah biasa dilakukan.

Baru pada Desember 2018, desa ini mendeklarasikan diri menjadi Desa Siaga Donor Mata. Ini adalah bagian dari program nasional Keluarga Donor Mata dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia.

Rosini, salah satu warga desa bercerita, ayahnya adalah salah satu pendonor mata pertama.

“Saat ayah wafat, kami langsung ingat kalau beliau adalah calon donor. Di tengah suasana kami masih bersedih, kami langsung mengabarkan kepada petugas donor mata agar keinginan bapak dilaksanakan. Karena itu pertama kali, maka banyak sekali yang datang untuk menyaksikan,” kisah Rosini.

Rosini mengatakan, alasan ia dan keluarga menjadi calon donor tidak lain karena ingin membantu siapapun di luar sana yang tak bisa melihat.

“Kalau sudah meninggal tubuh ini kan akan habis juga. Kalau ada yang bisa dimanfaatkan saat kita meninggal itu lebih baik. Misalnya ada yang bisa melihat karena donor kornea yang kita berikan, itu akan jadi amal ibadah,”katanya.

Dodi Kurniawan, Koordinator Desa Siaga Donor Mata,di Tenjowaringin mengatakan, saat ini tiga ribuan calon donor mata yang sudah siap diambil kornea matanya kelak saat mereka meninggal. Daftar calon donor mata ini pun makin melebar, tak hanya diisi anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia, tapi juga warga lainnya.

Kata Dodi, dorongan utama bagi warga untuk menjadi pendonor mata adalah alasan kemanusiaan.

“Latar belakangnya adalah penghayatan terhadap nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam agama. Memberikan yang terbaik dari apa yang kita miliki kepada sesama merupakan perbuatan yang mulia. Apa yang dilakukan orang Ahmadi adalah hal yang seharusnya. Kepada siapapun dan dari golongan apapun,” kata Dodi.

KETIKA KORNEA BERPINDAH TUBUH

Petugas medis yang tadi mengambil kornea mata mendiang Susi, melanjutkan tugasnya. Ia lantas memasukkan kornea mata tersebut ke dalam suatu wadah berisi cairan kimia. Wadah itu lantas ditaruh lagi ke dalam sebuah kotak, siap menempuh 3 jam perjalanan menuju Rumah Sakit Mata Cicendo di Bandung.

Di ujung lain, petugas rumah sakit mulai menghubungi calon penerima donor mata untuk bersiap-siap.

Kornea hanya bisa tahan dua minggu sebelum berlabuh ke mata lain.

KBR dipersilakan masuk ke dalam ruang operasi. Satu petugas medis menyiapkan proses anestesi pasien, sementara petugas lainnya mengajak KBR masuk ke tempat penyimpanan kornea.

“Kornea mata di sini tidak disimpan lama. Begitu datang langsung kami beri kepada calon penerima yang sudah mengantri. Paling lama seminggu karena melalui proses administrasi dan pemberitahuan dulu,” kata petugas medis di RS Cicendo, Dedi.

Operasi dimulai begitu pasien selesai dibius. Mesin pendeteksi detak jantung memecah kesunyian ruang operasi. Dalam waktu tak sampai 1 jam proses operasi transplantasi mata selesai.

Kornea milik Susi kini sudah menempati rumah barunya — mata yang kembali punya kesempatan melihat dunia.

MINIM SUPLAI

Ketua Bank Mata Jawa Barat Alma Lusyati mengatakan, 3 persen penduduk Indonesia buta. Artinya, ada 3 juta orang yang membutuhkan kornea mata baru untuk bisa tetap melihat dunia. Di Jawa Barat saja, ada 1.000 pasien lebih yang antre untuk mendapatkan donor mata.

Panjangnya antrean ini berbanding terbalik dengan jumlah pendonor mata. Jika ditotal, dari seluruh Indonesia saja hanya ada 14 ribu orang pendonor mata yang siap diambil kornea matanya saat meninggal kelak.

“Tingginya kejadian pada kornea mata tak sebanding dengan ketersediaan kornea di Indonesia. Jumlah yang memerlukan saat ini hampir seribu. Tapi donor kornea itu hanya bisa dilakukan saat calon donor meninggal. Jadi stoknya memang sangat terbatas,” kata Alma.

Menurut Alma, ada banyak mitos yang membuat banyak orang ragu menjadi pendonor mata. Ada yang mengira, proses donor mata dilakukan dengan mengangkat seluruh jaringan bola mata, ada pula yang khawatir pendonoran mata ini bisa merusak kondisi jenazah.

Ketakutan ini, kata Alma, berawal dari ketidakpahaman.

“Ketakutan masyarakat kalau diambil apa masih sempurna jenazah saya? Jadi masih awam. Itu kenapa kami ajak juga para tokoh agama untuk sosialisasi kepada masyarakat. Kami beri pemahaman bahwa semua anggota tubuh kita bisa bermanfaat bagi orang banyak,” kata Alma.

Penyanyi Eddy Hidayatullah, yang lebih dikenal sebagai Eddy Brokoli, sejak 2018 ditahbiskan menjadi Donor Mata Indonesia. Ia kerap “turun gunung” memberikan informasi soal proses donor mata.

“Ada yang mengira kalau donor itu dilakukan saat masih hidup. Sangat konyol tapi ya itu karena nggak tahu. Jujur sebaik-baiknya gue juga ga mau kasih mata saat hidup kan?” papar Eddy Brokoli.

Menurut dia, ia kerap menekankan soal betapa mulianya menjadi donor mata. Sesuatu yang bisa dilakukan oleh siapa pun, agama apa pun, bahkan strata sosial apa pun.

“Harapannya tentu akan semakin banyak orang yang menjadi calon donor. Saya sering menyampaikan, kalau kita sudah tidak memerlukannya (mata -red) lagi, tidak bolehkah orang lain memilikinya?” kata Edi.

MEREKATKAN KEMBALI

Bagi Jemaat Ahmadiyah Indonesia, donor mata tak sekadar amal ibadah atau aksi kemanusiaan. Tapi juga upaya merekatkan kembali hubungan antar warga di Desa Tenjowaringin, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Pada 2013 lalu, rumah dan tempat ibadah warga Ahmadi dirusak orang tak dikenal. Banyak perusak yang datang dari luar desa, mengakibatkan seratusan rumah rusak. Harta benda mereka ludes tak bersisa.

Begitu suasana tenang, warga Ahmadi kembali ke Desa Tenjowaringin, membangun dan menata kembali hidup mereka yang berantakan. Warga desa juga menyambut baik kembalinya mereka mengingat para perusuh sebetulnya datang dari luar desa.

“Dulu tenjowaringin dikenal sebagai masalah saja. Misal ada bentrok atau isu soal upaya penyesatan. Tapi setelah ada kegiatan desa siaga donor mata kita melihat ada sisi lain dari Tenjowaringin. Ini lebih merekatkan ikatan antar warga,” kata Koordinator Desa Siaga Donor Mata, Dodi Kurniawan.

NU ikut mendukung program ini. Ketua Lembaga Pengembangan SDM Nahdlatul Ulama Tasikmalaya, Andi Ibnu Hadi mengatakan, program donor mata dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia membantu menghapus friksi antar kelompok.

NU juga aktif mengedukasi berbagai pihak untuk melihat program donor mata Jemaat Ahmadiyah Indonesia ini sebagai suatu aksi kemanusiaan.

“Perbedaan itu adalah keniscayaan seperti alat musik yang berbeda-beda tapi kalau dijadikan satu akan membentuk sebuah harmoni yang indah,” katanya.

Kini hubungan yang akrab mewarnai Desa Tenjowaringin. Warga Ahmadiyah bisa hidup tenang dan beribadah sesuai keyainan mereka.

“Warga disini baik-baik saja. Kami tak mempermasalahkan soal agama. Tetap menjalin hubungan yang baik bahkan menjaga. Kalau ingat yang dulu-dulu, sebenarnya juga asalnya bukan dari warga di sini,”kata Dodi

KEBANJIRAN PEMINAT

Daftar pendonor mata di Desa Tenjowaringin terus bertambah. Tua muda tak segan mendaftar, berbagi kebaikan bagi sesama.

Apalagi syaratnya mudah. Tidak mengidap HIV/Aids atau hepatitis, serta berusia di atas 17 tahun. Gina Nurhasina Ihsan, yang baru 16 tahun , sudah mendaftar jadi pendonor mata.

“Donor mata program dari Jemaat dan bisa jadi amal ibadah untuk diri sendiri. Selagi masih bisa manfaat untuk orang lain itu bisa jadi salah satu cara untuk mendapat surganya Allah,”kata Gina

Pendonor mata lainnya adalah Nukila Gedafatin, sebaya dengan Gina. Ia juga aktif meluruskan mitos yang salah soal donor mata kepada teman-temannya di sekolah.

“Memang masih banyak yang awam soal ini. Alasan saya menjadi donor tentu saja untuk membantu siapapun di luar sana yang membutuhkan. Tak ada alasan lain,” katanya.

Oleh: Friska Kalia

Tautan asli: https://kbr.id/saga/07-2019/cahaya_dari_ahmadiyah/99972.html

Categories: Harmoni Sosial