Dalam sebuah pernyataan di tahun 2015, Presiden Propublica Richard Tofel, menyebut bahwa revolusi digital telah mengubah, bahkan bisa disebut menghancurkan model bisnis yang dihasilkan oleh hampir semua jurnalisme berkualitas pada seperempat abad setelah Watergate. Perkembangan internet dan digitalisasi media membawa dampak pada perkembangan jurnalisme investigasi.

Watergate—skandal politik yang diungkap oleh dua jurnalis Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein—memang merupakan tonggak jurnalisme investigasi. Dari sinilah muncul rujukan bahwa kualitas organisasi berita atau perusahaan media diukur dari sejauh mana mereka bisa menghasilkan liputan investigasi. 

Namun revolusi digital membuat patokan organisasi media bukan lagi pada kedalaman berita tapi lebih pada kecepatan.  Laporan yang dirilis Global Investigative Journalism Network (GIJN) tahun 2016 berjudul Investigative Impact, The Role of Investigative Journalism in Fostering Change – and How to Measure It  menyebut bahwa selama 15 tahun terakhir, guna menghemat ongkos produksi, organisasi media mengorbankan ranah investigasi.

Kerja-kerja jurnalisme investigasi dianggap menghabiskan waktu, berbiaya tinggi, dan tidak efisien. Semakin banyak organisasi media yang kemudian memprioritaskan berita yang “meledak” yang bisa disajikan cepat, dengan asumsi mendapatkan lebih banyak pembaca, dan juga keuntungan cepat.

Namun jika “ledakan berita” dianggap sebagai ukuran untuk kehebatan jurnalistik, maka–menurut laporan GIJN—jurnalisme investigasi tidak tertandingi. Laporan yang dibuat GIJN berdasarkan data liputan jurnalisme investigasi dari berbagai negara dan wawancara dengan berbagai pihak menunjukkan, dampak jurnalisme investigasi dapat diukur dan pengaruhnya jauh lebih luas dari pada ongkos produksinya.

Contoh liputan jurnalisme investigasi yang memiliki dampak luas antara lain laporan skandal Panama Papers dan Offshore Leaks yang dikerjakan oleh International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ) ; liputan skandal korupsi Presiden Filipina Joseph Estrada yang dilakukan oleh Philippine Center for Investigative Journalism (PCIJ) yang membuat Estrada akhirnya lengser di tahun 2007; investigasi selama 7 tahun yang dilakukan wartawan Inggris David Leigh dan Rob Evans terhadap suap yang dilakukan salah satu perusahaan senjata terbesar di dunia BAE System yang membuat BAE Systems akhirnya harus membayar denda.

Konferensi Jurnalis Investigasi Asia

Laporan Investigasi nyatanya berdampak terhadap pembongkaran penyalahgunaan kekuasaan, pengungkapan korupsi, menumbuhkan transparansi, mempromosikan akuntabilitas, dan memperkuat demokrasi serta pembangunan ekonomi. Maka dari itu, jurnalis investigasi penting menguatkan kapasitas dan jaringannya.

Para jurnalis investigasi dan jurnalis data se-Asia telah mengagas pertemuan rutin setiap dua tahun sekali sejak 2014 lalu. Konferensi ke tiga The IJAsia18 akan digelar di Seoul, Korea Selatan pada 5-7 Oktober pekan ini. Pertemuan ini digagas GIJN, Korean Center for Investigative Journalism (Newstapa) dan Konrad Adenauer Stiftung.

Konferensi ini menampilkan puluhan panel, lokakarya dan sesi jaringan. Mulai dari kolaborasi lintas batas dan korupsi hingga analisis data tingkat lanjut. Peraih Pulizer, pionir jurnalis data hingga mereka yang sukses menjalankan bisnis media akan membagikan pengalamannya.

Selain pembicara dari mancanegara, Jurnalis Indonesia akan berbicara dalam sejumlah sesi. Muhammad Kholikul Alim, periset di Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi berbicara dalam sesi “From FOI Laws to Leak Platform”. Ia akan bercerita tentang platform IndonesiaLeaks yang menerima dokumen rahasia serta meneruskannya ke sembilan media di Indonesia. Bagaimana pun, investigasi menggunakan dokumen publik masih cara terbaik mengungkap cerita seperti menggunakan dokumen audit, laporan tahunan, catatan rapat dan pengadilan, kontrak, dan memo internal yang semuanya sering dirahasiakan.

Wahyu Dhyatmika, Editor eksekutif Tempo dijadwalkan mengisi tiga sesi yang membagikan pengalaman kolaborasi lintas batas. Wahyu bersama jurnalis dari Newstapa Korea, Indian Express dan Kyodo News akan membahas kolaborasi yang dipimpin ICIJ ketika mengungkap penggelapan pajak di lepas pantai; pengalaman redaksi Tempo mengungkap kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia; serta berjejaring untuk proyek liputan lintas batas.

Sapariah Harsono, Editor Mongabay.co.id, hadir dalam sesi Investigasi Lingkungan. Sapariah akan mengungkap perampasan lahan dan perusakan hutan tropis di Indonesia serta bagaimana jurnalis meliputnya. Tahun 2014 ia mendapat penghargaan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara untuk tulisannya yang mengangkat perlawanan penduduk asli Batak terhadap perkebunan karet.

Eni Mulia, Direktur Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) akan berbicara dalam sesi “Dealing with the New Threats”. Ia akan berbagi strategi terbaik bagaimana jurnalis dan media menghadapi era baru ancaman hukum dan peraturan, pelecehan online dan disinformasi.

Seiring meningkatnya popularitas podcast di negara-negara berkembang, keterampilan memproduksi audio berkualitas adalah keterampilan yang tidak ternilai bagi jurnalis. Citra Prastuti, Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) akan mengulas bagaimana menghasilkan cerita audio yang kuat untuk liputan investigasi. (Fransisca R Susanti/Debora B Sinambela)

Categories: Aktivitas