Jakarta, Jaring.id – Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi (JARING) dan Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ2) memberikan beasiswa kepada jurnalis untuk peliputan isu perkawinan anak di Sulawesi Selatan. Lima jurnalis yang berhasil mendapatkan beasiswa adalah AF Astrid (Majalah Empati), Didit Haryadi (Tempo), Nurdin Amir (VE Channel), Rahma Amin (Radar Makassar), dan Rahmat Hardiansya (Beritagar).

Kelima jurnalis dipilih berdasarkan penilaian mentor terhadap proposal liputan yang mereka kirimkan. Penilaian menggunakan sejumlah kriteria seperti ketajaman perumusan topik liputan, penyajian data, kelayakan liputan dan penggunaan bahasa dalam penyusunan proposal.

Sebelumnya, JARING bekerjasama dengan Koalisi Cegah Perkawinan Anak dan AIPJ2 telah memberikan lokakarya liputan mendalam berbasis data tentang perkawinan anak kepada 18 jurnalis di Makassar pada pertengahan Desember 2018. Selain jumlah perkawinan anak yang cenderung meningkat di Sulawesi Selatan, cara media menyajikan isu perkawinan jadi masalah tersendiri.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen Makassar Agam Sofyan mengatakan kebanyakan jurnalis di Makassar masih bias terhadap isu yang berkaitan dengan anak, perempuan dan difabel. Hal itu terlihat dari penggunaan diksi yang dipilih jurnalis, angle, hingga judul yang lebih menekankan sensasional ketimbang mengungkap masalah sebenarnya.

“Ini juga sebagai satu momentum untuk jurnalis agar lebih dalam, tidak hanya mengambil data tapi mengolahnya,” kata Agam pada 14 Desember 2018 di Makassar.

Penggunaan data untuk peliputan isu perkawinan anak salah satu hal yang ditekankan dalam kegiatan ini. Tujuannya untuk mengungkap lebih jauh, serta memberikan gambaran yang lebih luas masalah yang terkait dengan perkawinana anak.

Beberapa data yang bisa dimanfaatkan seperti Survei Sosial Ekonomi Nasional, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, Survei Penduduk antar Sensus, Data Indeks Pembangunan Manusia, hingga data ketimpangan gender.

Selain soal data, jurnalis senior Maria Hartiningsih juga mengingatkan pentingnya konteks dalam laporan jurnalis. Jurnalis harus melihat dasar persoalan, mengumpulkan cerita dari keluarga. Fakta-fakta yang dikumpulkan menjadi kebenaran yang berlapis, lalu dikaitan dengan isu besar.

Data itu penting sekali, karena itu menunjukkan keseriusan persoalan. Tapi yang tidak kalah penting adalah cerita di balik angka. Story behind the number harus ada karena disitulah jurnalisme berwajah manusia,” katanya.

Kelima jurnalis yang mendapatkan beasiswa akan melakukan peliputan selama dua bulan ke depan dan hasilnya diterbitkan di media masing-masing pada Februari. Laporan jurnalis juga akan dijadikan bahan diskusi dengan mengundang sejumlah pihak terkait. (Debora Blandina Sinambela)

Categories: Aktivitas