Selain ancaman kematian dan resesi ekonomi, pandemi corona juga membangkitkan kembali  semangat kolektif masyarakat. Sejumlah komunitas menggalang solidaritas untuk kaum miskin kota.

 

Usamah (50) kesulitan mencari nafkah. Pandemi corona membuat jajanan pasar dan lotek yang ia jajakan seret pembeli. Padahal itu adalah periuk satu-satunya sejak ia memutuskan tidak lagi bekerja di rumah orang. Hal sama terjadi pada Sari. Perempuan usia 46 tahun ini kesulitan mengepulkan asap dapur sejak koperasi kecil tempatnya bekerja tutup karena pandemi dan suaminya yang pengemudi ojek online sepi pelanggan.

Hingga kemudian pada 25 Maret 2020 lalu, kedua warga Umbulharjo, Yogyakarta tersebut bertemu Ernawati, aktivis perempuan Yogyakarta yang menjadi relawan Solidaritas Pangan Jogja (SPJ). Oleh Erna, Usamah dan Sari diminta memasak masing-masing 50 nasi bungkus tiap hari. Seratusan nasi bungkus yang dihargai Rp 7.500/bungkus itu kemudian didistribusikan Erna dan kawannya ke para perempuan buruh gendong di Pasar Beringharjo dan Pasar Giwangan.

“Selain nasi bungkus, kami juga membagi masker, sabun cuci tangan, sarung tangan, atau pun vitamin jika memang ada stok sumbangan,” kisah Erna kepada Jaring.id, Senin 30 Maret 2020.

Dapur umum yang dikelola Erna adalah satu dari delapan dapur umum yang diorganisir oleh SPJ. Adalah Ita F. Nadia, aktivis perempuan cum penulis, yang awalnya menggagas gerakan ini. Ia dan kedua anak perempuannya gelisah dengan kondisi masyarakat marginal jika kasus covid-19 terus meningkat dan kebijakan lockdown (karantina wilayah) jadi diambil oleh pemerintah.

Sejak kasus covid-19 positif pertama diumumkan pada 2 Maret lalu, pasar-pasar tradisional mulai sepi, sehingga mengakibatkan efek berantai terhadap buruh gendong dan tukang becak. Sementara para pekerja harian di industri penganan khas Yogyakarta, yakni bakpia di kawasan Pathuk—yang tidak jauh dari rumahnya—mulai dirumahkan.

Itu sebab ia terdorong untuk membantu dengan cara yang praktis, yakni menyediakan makan siang bagi orang-orang tersebut. Maka rumahnya di kawasan Ngadiwinatan menjadi dapur pertama dari gerakan cikal bakal SPJ. Dapur ini mampu memasak 50 nasi bungkus untuk dibagikan kepada para buruh gendong di pasar. Awalnya mereka memasak sendiri, tapi kemudian dirasa kurang efektif.

“Kami kemudian mencoba kontak (penjual warung) angkringan. Karena angkringan juga mulai sepi pembeli,” ungkap Ita kepada Jaring.id, Senin 30 Maret 2020. Lalu terjadilah relasi “saling menguntungkan” tersebut.

  Kepala Lembaga Eijkman: Jejak Penularan Corona Mesti Dikendalikan
Seorang nenek mendapatkan jatah nasi bungkus yang dibagikan oleh relawan Solidaritas Pangan Jogja (SPJ). (Dok. SPJ)

Ita tak lagi kewalahan memasak, penjual angkringan punya pendapatan lagi dan buruh gendong serta tukang becak tak perlu bingung soal makan. Distribusi nasi bungkus juga dimudahkan dengan bantuan para mahasiswa, sebagian besar adalah mahasiswa yang tergabung di Social Movement Institute (SMI).

Namun dana Ita dan keluarganya hanya cukup membikin 50 nasi bungkus, padahal kebutuhan di lapangan jauh lebih besar. Ita dan para aktivis tersebut akhirnya berembuk dan memutuskan untuk membuka donasi. Maka lahirlah gerakan Solidaritas Pangan Jogja.

Gerakan ini membuka donasi berupa uang, makanan, obat-obatan, vitamin, sanitasi tangan, masker, dan apapun yang dibutuhkan untuk mengantisipasi dan menanggulangi dampak pandemi. Menurut Syafiatudina, salah satu relawan yang  bertanggung jawab terhadap pengeloaan dana SPJ, total donasi  hingga 30 Maret 2020 mencapai  Rp 40 juta-an.

Dari donasi inilah, SPJ berhasil menyuplai bantuan lebih besar ke masyarakat pinggiran. Hingga 30 Maret 2020, SPJ sudah mendirikan delapan dapur umum di Yogyakarta. Dua diantaranya adalah dapur yang dikelola oleh Ita dan Erna. Ke-8 dapur umum tersebut menyuplai dan mendistribusikan  800 nasi bungkus per hari. “Gerakan ini adalah gerakan solidaritas. Targetnya untuk kaum miskin kota yang paling terdampak dalam situasi seperti ini,” jelas Ita.

 

Mengambil Inisiatif   

Di Jakarta, Sandyawan Sumardi punya kegelisahan sama. Pendamping komunitas Ciliwung ini pun kemudian menggagas Rumah Solidaritas Kemanusiaan Warga Jakarta (RSKWJ). “Pengalaman selama ini menunjukkan kita tidak bisa menunggu bantuan pemerintah. Prosesnya pasti akan lama dan birokrasinya panjang,” jelas Sandyawan kepada Jaring.id, Senin 30 Maret 2020.

Melalui RSKWJ, Sandyawan menggerakkan komunitas relawan ibu-ibu di Cengkareng untuk memasak dan menyuplai nasi bungkus bagi para buruh harian maupun pemulung, juga untuk warga di sejumlah kampung urban di Jakarta. Distribusi dilakukan oleh para pengemudi ojek online maupun ojek pangkalan yang juga sedang sepi pelanggan gegara pandemi.

Para relawan RSKWJ juga melakukan food banking alias mengumpulkan sayur dan buah yang sudah disingkirkan dari lapak toko atau supermarket karena layu tapi masih cukup baik untuk dikonsumsi. Sayuran dan buah ini kemudian diolah dan didistribusikan kepada kelompok miskin kota.

  Mereka yang Berjibaku dengan APD Covid-19 Seadanya
Relawan Rumah Solidaritas Kemanusiaan Warga Jakarta(RSKWJ) membagikan nasi bungkus kepada warga di Kampung Sumur, Klender, Jakarta Timur (Dok. RSKWJ)

Sandyawan mengakui bahwa inisiatif yang dilakukannya tidak besar. Total donasi yang dikumpulkan komunitas ini pun selama 1 pekan sekitar Rp 25 juta. Tiap hari, RSKWJ hanya mampu menyuplai dan mendistribusikan 200 nasi bungkus ditambah masker dan hand sanitizer. Sandyawan hanya berharap inisiatif tersebut bisa direplikasi oleh komunitas lainnya. “Karena kita tidak dapat menggantungkan diri pada pemerintah,” ujarnya.

Alasan ini pula yang membuat Koordinator Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid dan Direktur Utama Mizan, Haidar Baqir bergerak menggalang donasi lewat platform Kitabisa.com. “Daripada nunggu pemerintah, kita fokus melakukan mitigasi semaksimal mungkin dengan apa yang bisa kita kerjakan,” ungkap Alissa kepada Jaring.id, Selasa 31 Maret 2020.

Menargetkan capaian donasi sebesar Rp 2 miliar, inisiatif bertajuk “Bantu Kebutuhan Ekonomi Warga Rentan Corona” diharapkan bisa membantu kebutuhan ekonomi warga kelas bawah dan pekerja informal di sejumlah kota besar di Indonesia yang paling terdampak dengan pembatasan aktivitas pascamerebaknya pandemi.

Sejumlah tokoh publik maupun seniman turun tangan membantu inisiatif ini, di antaranya mantan menteri agama Lukman Hakim Saifuddin, seniman Sudjiwo Tedjo dan aktor Ernest Prakasa. Tidak disangka target Rp 2 miliar tersebut tercapai hanya dalam tempo 2 pekan setelah inisiatif penggalangan dana itu dirilis di Kitabisa.com. Hingga Rabu 1 April 2020, donasi yang terkumpul di bawah inisiatif ini  sudah mencapai Rp 2, 1 miliar. Sebanyak 15.793 donatur tercatat sebagi pemberi sumbangan. “Begitu inisiatif ini kami buat, banyak sekali yang mau bantuin sebagai fundraiser dan campaigner,” kisah Alissa.

Selain donasi yang dikumpulkan dari platform Kitabisa.com, inisiatif Alissa dan Haidar juga mendapatkan tambahan bantuan dana dari konser musik #dirumahaja yang dibuat oleh Najwa Shihab. “Hari ini (Selasa 31 Maret 2020), kami terima dari konser musik Najwa sebanyak Rp 2 miliar,” ungkap Alissa. Dengan demikian total dana yang berhasil  dihimpun Alissa di bawah inisiatif ini sebesar Rp 4 miliar.

Dana tersebut akan digunakan untuk membantu ekonomi warga dalam bentuk penyaluran  bantuan sembako senilai Rp 600.000 per keluarga. Mula-mula bantuan akan disalurkan ke 1000 kepala keluarga di wilayah Jakarta. Tahap berikutnya, bantuan berupa beras, minyak, gula, garam, kecap, terigu dan kacang hijau tersebut akan disalurkan ke warga di sejumlah kota besar di Indonesia lainnya, baik di Jawa maupun luar Jawa. Total akan ada 6.250 KK atau 25.000 jiwa di 30 kota besar di Indonesia yang akan mendapat bantuan sembako dari inisiatif ini.

  Babak-belur Pekerja Setelah Corona

 

Membangun Solidaritas

Antropolog dari Universitas Padjadjaran, Dede Mulyanto, melihat fenomena solidaritas terhadap pekerja informal ataupun kaum miskin kota tersebut  sebagai sesuatu yang lazim. “Ini dorongan lazim di kelas menengah untuk menyumbang selama krisis belum menyentuh keluarga mereka secara langsung,” ungkap Dede kepada Jaring.id, Selasa 31 Maret 2020. Namun jika krisis makin besar, Dede tidak yakin solidaritas tersebut akan bertahan. Ia mencontohkan kasus depresi  besar tahun 1929 yang menghancurkan ekonomi dunia. “Kalau sudah parah, seperti kasus depresi 1929, mereka akan cari selamat sendiri dan kelompoknya,” kata Dede.

Solidaritas di kelompok marginal, Dede menambahkan, bahkan hanya merupakan siasat bertahan hidup harian. “Menurut saya tidak ada yang bisa menguatkan komunitas selain identitas primordial, seperti lokalitas atau agama, di saat krisis. Untuk solidaritas nasional lintas kelas dan agama agak mustahil di Indonesia,” ungkapnya.

Meski begitu, baik Alissa Wahid, Sandyawan Sumardi, maupun Ita F.Nadia membuktikan, dalam skala mereka masing-masing, bahwa solidaritas itu masih ada. Alissa mengaku terharu saat menemukan bahwa dari 15 ribu lebih donatur yang menyumbang di platform Kitabisa.com, banyak dari mereka yang menyumbang dengan nilai Rp 2.000 – Rp 5.000. Bahkan ada yang hanya menyumbang Rp 1.000. “Saya terenyuh. Saya merasa, ya Allah, Indonesia punya nilai gotong-royong yang sangat kuat. Yang menyumbang itu pasti kan orang yang sebenarnya lebih butuh uang tersebut,” ujar Alissa.

Hal sama diungkapkan oleh Sandyawan. Pengalamannya mendampingi kaum miskin kota di Bukit Duri, kolong Kampung Melayu, Kampung Sumur Klender dan lain-lain menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat sangat kuat. Sementara Ita optimistis bahwa solidaritas bisa membangun kembali spirit kolektif yang sempat retak seusai reformasi. “Saya ingin menghubungkan kembali para mahasiswa dengan para ibu, bapak dan kaum miskin kota. Ini waktunya membangun kembali solidaritas sosial,” demikian Ita. (Fransisca Ria Susanti)

Categories: COVID-19