Jumlah korban Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Hingga kemarin, ada 34 pasien corona positif. Seorang di antaranya, yakni warga negara asing meninggal di Bali karena komplikasi pelbagai penyakit. Meski begitu, pemerintah meyakini sudah melakukan banyak hal, mulai imbauan pencegahan, pencarian terhadap orang-orang yang kemungkinan tertular, hingga mengisolasi penderita. Lantas bagaimana dengan pengujian spesimen suspect corona virus? Jaring.id mewawancarai Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Profesor Amin Soebandrio untuk mengetahui lebih dalam soal pengendalian virus yang sudah dinyatakan pandemik oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Honorary Professor University of Sydney Medical School ini mendorong agar pemerintah melakukan protokol kesehatan sembari melacak secara intensif jejak sebaran virus. Berikut petikan wawancara pada Rabu, 11 Maret 2020.


Apa yang berbeda dari Covid-19?

Virus corona dan influenza berasal dari keluarga yang berbeda, tetapi keduanya menimbulkan gejala yang sama, yakni influenza like highness seperti demam, batuk pilek, hingga sesak napas. Secara klinis, virus influenza gejala pileknya lebih menonjol dan mempunyai tingkat pilek yang berat. Sementara virus corona sedikit. Kadang ada ada, terkadang tidak.

Penanganan Covid-19 di Indonesia sudah tepat?

Virus influenza dan corona adalah penyakit yang bisa sembuh sendiri. Tidak diperlukan antivirus yang spesifik. Semestinya yang tetap ditangani itu gejala klinisnya. Kalau sampai sesak napas diberi oksigen, ketika batuk dan pilek dikasih obat. Penyakit itu muncul tergantung kekebalan tubuh manusianya. Nah pada posisi mereka yang diisolasi itu sebenarnya tujuan utamanya adalah supaya tidak menularkan ke orang lain.

Apakah Eijkman sudah dilibatkan, seperti dalam menguji spesimen suspect virus corona?

Kalau saat ini pemeriksaan masih dilakukan jajaran Kementerian Kesehatan, belum melibatkan institusi lain. Selama kementerian menganggap bisa ditangani sendiri, mungkin masih bisa dikelola Kemenkes. Organ di bawah Kemenkes pasti dimobilisasi. Kalau kami dilibatkan, kami siap saja. Ini penting untuk mempelajari karakter virusnya. China misalnya bisa melakukan publikasi seminggu setelah hasil risetnya ditemukan. Indonesia harus bisa melakukan itu juga. Kami sudah mulai membuat kajian vaksin. Walaupun belum sampai penelitian yang konkret, tapi kajian itu sudah dilakukan. Beberapa perguruan tinggi juga sudah melakukan kajian. Lembaga maupun perguruan tinggi yang kompeten dan berminat sudah menggali informasi ilmiah terkait pengembangan vaksin.

  Corona yang Mengubah Praktik Keagamaan

Biasanya butuh berapa lama menemukan vaksin?

Ini memakan waktu bertahun-tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan waktu 18 bulan untuk membuat vaksin. Prosesnya diuji di laboratorium dulu, kemudian diujikan kepada hewan. Selanjutnya kepada manusia secara terbatas. Setelah itu diuji dengan skala lebih besar. Saya pikir ini membutuhkan waktu yang lama.

Pengecekan suhu tubuh dinyatakan tak lagi efektif karena penyebarannya sudah masuk fase dua, bagaimana menurut Anda?

Karakteristik virus yang menyebabkan infeksi ditandai dengan demam, batuk. Akan tetapi, tidak semua gejala klinis itu muncul. Kalau tidak demam tentu tidak terdeteksi. Kita harus menyadari tidak semua sakit itu demam, tidak semua demam itu corona. Bisa saja karena demam berdarah atau influenza. Meski demikian, ketika kita merasakan dalam tubuh kita ada gejala kilinis seperti demam dan batuk-batuk hal itu perlu diperiksa (test swab). Saya sendiri tidak memahami gelombang satu dan gelombang dua. Mudah atau tidaknya manusia terinfeksi itu lebih banyak dipengaruhi tubuh kita terhadap virus. Sejauh ini belum ada mutasi yang signifikan dari virus itu. Kalau mutasi kecil-kecilnya pasti ada. Karena satu wilayah dengan wiayah lain bisa dilihat ada perbedaan virusnya.

Jadi harus tetap periksa suhu tubuh, terutama di fasilitas publik?

Tetap harus dilakukan sebagai bentuk screening. Makanya sekarang kita lihat ketika orang masuk di gedung kantor dan sekolah, semua diukur suhunya. Ini screening yang tidak spesifik. Bisa demam itu karena sebab lain. Orang sakit tidak selalu demam, orang demam tidak selalu infeksi.

Apakah penanganan yang dilakukan saat ini sudah tepat?

Prinsipnya adalah segera temukan siapa saja yang tertular oleh orang yang terdiagnosis positif. Awalnya dua, lalu dilacak siapa saja yang sudah kontak, baik orang pertama maupun orang aktif yang menjadi sumber. Ini hal penting untuk membatasi ruang gerak virus agar tidak menyebar ke orang lain.

Apa yang perlu diwaspadai oleh masyarakat?

  Mereka yang Berjibaku dengan APD Covid-19 Seadanya

Masyarakat harus berpartisipasi dengan baik, artinya mereka harus kooperatif. Mereka yang pernah punya kontak dengan orang yang terdiagnosa positif harus dengan sukarela melaporkan ke petugas kesehatan setempat. Tidak harus dikejar-kejar. Hal ini mampu mengendalikan peredaran, serta membantu pemerintah. Selanjutnya, masyarakat harus menjaga kesehatan dan kebersihan. Kalau toh virusnya ada, mereka tidak tertular. Kalau mereka tidak tertular, mereka tidak akan menjadi sumber (penyebaran) baru.

Mengapa jumlah kasus covid-19 di beberapa negara meningkat pesat dalam waktu singkat, termasuk Indonesia?

Itu disebabkan karakteristik virusnya. Ada yang melaporkan virus corona 20 kali lebih cepat menempel ke sel-sel saluran pernapasan manusia dibandingkan dengan SARS dan MERS. Ini yang memengaruhi adalah kesesuaian permukaan virus dengan reseptor yang ada di permukaan sel. Secara ilmiah, virus dapat menempel ketika ada reseptor yang dikenali. Virus juga mempunyai kekuatan untuk bisa melekat di sel-sel manusia. Hal ini yang memengaruhi mengapa lebih cepat menular dibanding yang lain.

Maksudnya menempel?

Ada tempat berlabuh atau reseptor. Kemudian ada molekul lain di permukaan sel maupun sel yang memperkuat ikatan. Keduanya memfasilitasi virus ke dalam sel. Inilah yang mempercepat virus masuk ke dalam sel. Kalau menempel saja, maka dia tidak akan masuk. Sedangkan kalau virusnya masuk ke sel, maka dia akan membelah dan memperbanyak diri. Virus itu bermutasi setiap enam sampai satu tahun sekali. Virus juga beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Caranya dengan cepat menempel dalam sel manusia. Kalau dia gagal bermutasi, virusnya bisa mati. Kalau berhasil, dia akan lebih bagus dan lebih cepat menempelnya ke dalam sel.

Seberapa kuat daya tahan tubuh manusia ketika terpapar virus ini?

Pada prinsipnya manusia punya ketahanan yang bagus. Kita bisa lihat bahwa tidak semua yang terpapar itu tertular. Pemerintah China tetap melakukan screening terhadap orang yang sehat, apakah mereka tertular atau tidak. Ini untuk pencegahan dini agar orang yang terkena virus bisa dilokalisir, tapi umumnya, mereka sehat saja karena daya tahan tubuhnya baik.

Kalau ada penyakit bawaan?

  Yang Bersemi Kala Pandemi

Berat ringannya komplikasi tergantung penyakit bawaan yang sudah ada. Misalnya dia ada penyakit paru, diabetes atau gangguan ginjal. Bila paru-parunya terserang, maka secara otomatis suplai oksigen berkurang. Itu sebab, klinis yang terjadi  bisa lebih berat. Ini sangat tergantung dari kondisi pasiennya. Jadi tidak ada standarnya (berapa lama). Tapi dari pengamatan kami, mulai dari masuk virus sampai fatal hingga berujung kematian itu membutuhkan waktu kurang lebih 9-10 hari.

Sebab dari kematian itu apakah virus atau penyakit lain? 

Penyebab kematian dari orang meninggal itu sebagian besar karena kegagalan organ, bukan karena virusnya. Misalnya para-parunya kurang oksigen, maka timbulah (dampak) di organ lain. Orang itu tidak seketika (terkena virus-red) langsung meninggal. Tidak terinfeksi pagi hari, tiba-tiba malamnya meninggal tidak demikian, tentu ada prosesnya.

Di Singapura ada WNI positif, padahal sebelumnya dia sempat mendapat perawatan medis di Indonesia dan dinyatakan bersih. Apakah ada yang salah dari penanganan kasus di sini?

Ada orang yang membawa virus tapi tidak sakit. Itu yang sekarang dicari, kalau dia berkontak (dengan penderita) tapi tak ada gejala. Kalau dia secara sukarela malaporkan diri akan membantu, baik dirinya sendiri maupun masyarakat.

Pasien yang sembuh bisa pulang meski belum melewati masa 14 hari. Apakah masih perlu diawasi? 

Kalau dia secara klinis tidak ada gejala lagi, tidak membutuhkan perawatan rumah sakit dan diperiksa laboratorium dua kali berturut-turut dinyatakan negatif, maka tidak butuh masa inkubasi. Dia bisa dipulangkan dengan catatan di rumah tetap diawasi. Tidak harus 14 hari dirawat. Kalau tidak ada gejala, tapi ada kontak mestinya membatasi ruang gerak agar tidak menularkan ke orang lain. Selama mendapatkan tesnya negatif, berarti tidak menularkan. Kalau 14 hari kan yang sudah diperiksa. Kalau sudah diperiksa tidak ada virusnya, ya sudah. Tapi dengan catatan, kalau ada gejala lagi mestinya kembali (diperiksa).

Berarti mungkin terkena lagi?

Reinfeksi bisa saja, kalau dia tidak cukup mendapatkan kekebalan tubuh. Dia harus diperiksa lagi seperti awal. Kalau positif, tidak boleh pulang. (Abdus Somad)

Categories: COVID-19