Beralas kain pantai tipis miliknya, Claudia berbaring menanti suaminya yang tengah berselancar di Pantai Jerman, Kabupaten Badung, Bali. Perempuan asal Kanada itu sudah hampir 7 bulan berada di Pulau Dewata.

Kepulangan yang semula dijadwalkan sebulan lalu harus tertunda lantaran tidak tersedianya jadwal penerbangan ke negara tujuan. Alih-alih cemas, pasangan yang kini tinggal di kawasan Ungasan, Kuta Selatan itu justru mengaku beruntung.

“Saya senang terjebak di Bali,” ungkap Claudia kepada Jaring.id sembari menikmati pantai berpasir putih pada Jumat pagi, 3 Juli 2020 lalu.

Claudia ialah satu di antara ribuan warganegara asing yang masih bertahan di Bali. Selain karena tidak tersedianya penerbangan antarnegara, ada pula warganegara asing yang memang memilih bertahan di Bali selama masa pandemi. Alasannya, mereka tidak ingin menjalani masa karantina ketat di negaranya. Terlebih Indonesia menyediakan fasilitas perpanjangan izin tinggal.

“Kalau saya kembali ke Kanada, saya hanya akan terjebak di rumah saya.  Saya lebih senang berada di sini (Bali),” ujarnya.

  Bersiasat di Tengah Kelangkaan Obat

Meski sejumlah pantai dan kawasan wisata di Bali sudah dapat dikunjungi sejak bulan lalu, Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan bahwa kawasan wisata mulai dibuka pada Kamis, 9 Juli lalu. Namun, hanya masyarakat yang sudah berada di Bali yang dapat mengakses lokasi iwisata.

Sementara itu, wisatawan domestik dari luar Bali baru bisa berkunjung pada 31 Juli mendatang. Adapun pintu kunjungan kepada wisatawan mancanegara menurut rencana akan diberikan mulai 11 September. Koster mengingatkan agar masyarakat mematuhi protokol kesehatan, semisal menjaga jarak fisik dan selalu mengenakan masker di tempat umum.

“Kita memulai tahap pertama bertepatan dengan Hari Kamis Wrespati Umanis Sinta. Hari baik yang telah kita pilih bersama-sama. Semua ini akan dievaluasi setiap tahap dan kita berharap agar semua berjalan dengan baik sesuai dengan rencana,” ujar Koster saat melepas puluhan pengendara mobil kuno dari kantor Gubernur Bali pada 9 Juli 2020.

***

Kepada Jaring.id, Wayan Koster mengaku tak punya banyak pilihan selain membuka kembali ruang ekonomi masyarakat. Pasalnya sektor pariwisata di Bali sudah terlalu lama tercekik pandemi. Terlebih, hingga saat ini tidak ada yang dapat memastikan kapan pandemi corona berakhir.

“Jika kita biarkan bisa menimbulkan masalah sosial baru dan muncul kerawanan di dalamnya,” ujar Koster.

Sementara protokol kesehatan di seluruh situs pariwisata Bali berjalan, Koster menjamin akan menggenjot pemeriksaan massal, baik melalui pelacakan kontak dari kasus positif, maupun melalui kebijakan surat keterangan bebas Covid-19 bagi pelaku perjalanan. Politisi PDI Perjuangan ini juga mengklaim bahwa fasilitas kesehatan di Bali masih memadai untuk mengantisipasi ledakan kasus Covid-19.

“Sudah disiapkan dengan baik. Kita ada banyak fasilitas kesehatan,” kata dia.

Seorang penumpang yang menggunakan alat pelindung diri melintas di terminal domestik Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pada 16 Juli 2020. (Foto: Ni Komang Erviani)

Sejak 28 Mei lalu, Bali telah memperketat pintu masuk dengan mewajibkan pengujian terhadap sampel lendir (swab) bagi semua pelaku perjalanan udara dan rapid test kepada pelaku perjalanan darat. Namun, mulai 5 Juli lalu, kebijakan itu diubah dengan hanya mewajibkan skrining medis awal untuk seluruh penumpang, baik udara maupun darat.

Pelonggaran perjalanan ke kawasan wisata disambut dengan antusias oleh masyarakat. Namun, berdasarkan pantauan Jaring.id, sebagian dari mereka masih ada yang tidak mematuhi protokol kesehatan pada akhir pekan pertama.

***

Bagi Wayan Asri, protokol kesehatan tak bisa diabaikan. Warga Denpasar ini mengunjungi Pantai Kuta bersama keluarga pada Sabtu, 11 Juli 2020 lalu.

“Akhirnya bisa ke pantai lagi. Senang banget. Sudah kangen sama pantai,” kata warga yang tinggal di Denpasar.

Keputusan membuka seluruh kawasan wisata di Bali diawali dengan sembahyang bersama di Pura Besakih—kompleks pura terbesar di Bali pada Minggu, 5 Juli lalu. Upacara pemahayu jagat tersebut berguna untuk memohon keselamatan jelang dimulainya tatanan kehidupan era baru, demikian Koster membuat istilah pengganti dari istilah umum, kenormalan baru. Dihadiri lebih dari seribu orang, penyelenggaraan upacara tersebut sayangnya mengabaikan protokol physical distancing. Sebagian besar masyarakat, termasuk para pejabat yang hadir tidak menjaga jarak dan justru menyampirkan masker di dagu.

Padahal hingga Rabu, 21 Juli 2020, terdapat 2781 kasus Covid-19 di Bali. Dari total kasus, ada 2058 pasien sembuh sementara 44 orang dinyatakan meninggal. Pasien Covid-19 yang menunjukkan gejala dirawat di 14 rumah sakit rujukan di wilayah Bali.

Sementara itu, mereka yang tidak bergejala atau kerap disebut orang tanpa gejala (OTG), dikarantina di sejumlah fasilitas pemerintah dan hotel, antara lain Badan Pelatihan Kesehatan Masyarakat (Bapelkesmas), Wisma Bima, Hotel Ibis, Hotel Grand Mega, dan BPK Pering.

Fasilitas cuci tangan tersedia di Pantai Sanur, Denpasar, Bali. Foto diambil pada 1 Juli 2020. (Foto: Ni Komang Erviani)

Direktur Rumah Sakit PTN Universitas Udayana, Dewa Putu Gede Purwa Samatra menyatakan, lonjakan kasus Covid-19 didominasi transmisi lokal. Saat ini, menurutnya, rumah sakit rujukan hampir mulai kelebihan pasien.

“Peningkatan kasus sudah terjadi sejak beberapa minggu terakhir. Sejak ada (istilah) normal baru,” kata Dewa Putu Gede Purwa Samatra, Direktur RS PTN Unud, rumah sakit milik Universitas Udayana.

Meski demikian, Purwa tidak mau berspekulasi mengenai sebab dari peningkatan kasus Covid-19 di Bali.

“Bisa jadi meningkat karena pengetesan sudah massif, tracing lebih banyak. Jadi lebih banyak yang ketahuan,” ungkapnya.

Hingga Rabu, 8 Juli, tercatat ada total 498 ruang isolasi COVID-19 di 14 rumah sakit rujukan di seluruh Bali. Dari jumlah itu, hampir 80 persennya telah terisi.  Overkapasitas membuat beberapa rumah sakit mulai menyiapkan ruang isolasi baru. Menurut Dewa, puluhan tenaga kesehatan juga dilaporkan telah terinfeksi virus corona hingga membikin sejumlah tempat layanan kesehatan ditutup.

***

Akhir pekan lalu, seorang dokter senior yang juga Direktur RS Puri Raharja, I Nyoman Sutedja, meninggal dunia akibat Covid-19. Dia merupakan tenaga kesehatan pertama yang meninggal akibat infeksi corona di Bali. Instalasi Gawat Darurat (IGD) di salah satu rumah sakit swasta di Denpasar itu sempat ditutup selama beberapa hari. Beberapa puskesmas di Bali juga sempat ditutup lantaran tenaga kesehatan turut terjangkit.

Oka Negara, seorang dokter di Denpasar, Bali, mengaku was-was dengan kasus Covid-19 di Bali yang justru tidak dibarengi peningkatan kewaspadaan masyarakat. Ia menilai masyarakat kurang sadar akan bahaya virus corona. Bahkan ia heran ada sedikit orang yang mengaitkan bencana kesehatan ini dengan konspirasi.

“Perasaan saya bercampur aduk sebenarnya. Antara was-was, geregetan, kecewa, sedih, dan kasihan. Was-was terutama. Karena kita belum menuntaskan permasalahan penularannya tetapi masyarakat sudah tidak sabar kembali ke kehidupan normal yang akhirnya mengabaikan protokol kesehatan,” kata Oka Negara yang berpraktik di sebuah klinik swasta di Denpasar kepada jaring.id pada 6 Juli 2020.

  Kepalang Tanggung Pelarangan Pulang Kampung

Sementara itu, epidemiolog DN Wirawan menilai bahwa Bali belum memenuhi syarat pelonggaran sesuai rekomendasi organisasi kesehatan dunia (WHO). Di antaranya mampu mengendalikan penulara, sistem kesehatan mampu mendeteksi, mengetes, mengisolas, melacak kontak seluruh kasus positif, juga dapat meminimalisasi risiko wabah khususnya di fasilitas kesehatan dan perihal edukasi masyarakat. Ia juga menyebut bahwa proporsi penduduk yang menjalani test PCR (polymerase chain reaction) seharusnya 1 berbanding 1000 penduduk tiap minggu.

“Dengan jumlah penduduk Bali sebanyak 4,6 juta orang, seharusnya ada 4.600 pemeriksaan per minggu, atau sekitar 760 per hari. Bali baru separuhnya.

Indonesia, termasuk Bali, masih jauh di bawah target ini,” ungkapnya.

Wirawan berharap agar pemerintah daerah melacak dan menguji sampel lebih banyak. Terlebih Bali saat ini belum mencapai puncak epidemi.

“Dari beberapa penelitian, sekitar 40 persen orang yang terinfeksi virus SAR-CoV-2 dijumpai asimtomatis atau tanpa gejala. Maka sangat logis bahwa mereka baru diketahui positif bila mereka dites. Bila tidak dites, tentu tidak diketahui. Karena itulah bila testing dilakukan secara massif, maka semakin banyak yang diketahui,” kata Wirawan kepada jaring.id pada 12 Juli 2020.

  Covid-19

Hingga 7 Juli lalu, Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Provinsi Bali telah melakukan uji cepat sebanyak 161.526 orang. Rapid test dilaksanakan berdasarkan contact tracing (penelusuran kontak) terhadap klaster penyebaran Covid-19 seperti pasar tradisional, desa, dan banjar. Sedangkan uji usap telah dilakukan terhadap sebanyak 34,974 spesimen.

Wirawan menjelaskan bahwa WHO menganjurkan agar tiap negara melakukan tracing dengan tes PCR terhadap sekitar 25 orang per satu kasus positif yang ditemukan. Sementara di Bali, tracing baru dilakukan terhadap 14 orang per kasus.

“Saya melihat untuk Bali dan juga Indonesia, belum bisa mencapai target-target terukur seperti benchmark (WHO) tersebut,” tambahnya.

Itu sebab, menurutnya, Bali perlu mendisiplinkan masyarakat lebih lekat. Tanpa sanksi yang tegas, ia khawatir penularan infeksi di Bali makin meluas.

“Tidak cukup dengan protokol kesehatan saja. Perlu dijaga dan ada sanksi untuk yang melanggar. Jadi, perlu dibuatkan payung hukumnya dan harus jelas bagaimana dan ke mana pembayaran dendanya,” ujar Wirawan sembari merujuk sejumlah negara yang juga menerapkan sanksi berupa denda kepada pelanggar. (Ni Komang Erviani)

Categories: COVID-19 BERITA