Dalam riwayatnya, media cetak telah ikut mewarnai perubahan dan revolusi di belahan dunia. Salah satu tinta emas yang ditorehkan pers cetak adalah kehebatan jurnalisnya dalam melaporkan reportase investigasi.

Judul Buku: Global Muckraking; 100 Years of Investigative Journalism from Around the World.

Editor: Anya Schiffrin.

Penerbit: The New Press

Tahun terbit: 2014.

Halaman: 296 hal.

Sudah hampir tamat riwayat media cetak. Nama-nama besar seperti Sinar Harapan, The Jakarta Globe, dan Harian Bola tumbang. Sejumlah majalah di bawah payung kelompok usaha Kompas bahkan sudah tinggal namanya saja. Yang tutup diam-diam, tanpa pamit kepada pembaca setianya, saya kira tidak sedikit. Banjir informasi di medium digital telah menghantam tiras sebagian besar media cetak. Arus migrasi audiens media cetak ke digital kian besar. Ini telah lebih dulu di Amerika Serikat dan Eropa.

Dalam riwayatnya, media cetak telah ikut mewarnai perubahan dan revolusi di belahan dunia. Salah satu tinta emas yang ditorehkan pers cetak adalah kehebatan jurnalisnya dalam melaporkan reportase investigasi. Membongkar praktik-praktik penyalahgunaan kekuasaan yang terorganisir, sistematis dan merugikan banyak orang. Sepanjang abad ke-20, reportase jenis ini telah ikut mempercepat perubahan-perubahan penting di banyak negara.

Salah satu buku kenangan tentang kejayaan media cetak yang berhasil mengubah dunia terangkum dalam buku Global Muckraking; 100 Years of Investigative Journalism from Around the World. Buku yang disunting oleh Anya Schiffrin ini memuat deretan kisah dan laporan yang membongkar kejahatan dan penyimpangan kekuasaan yang terjadi di benua Afrika, Asia, Amerika hingga Australia sepanjang satu abad.

Tapi, Schiffrin tak memasukkan nama-nama jurnalis beken yang ikut menorehkan sejarah di AS. Direktur program media dan komunikasi di Sekolah Hubungan Internasional dan Publik di Universitas Columbia, AS, itu tidak memasukkan kisah heroik duet jurnalis kondang Carl Bernstein dan Bob Woodward yang liputan investigasinya dalam membongkar skandal Watergate berhasil mendorong Presiden Richard Nixon mundur dari jabatannya.

Jurnalis perempuan Rachel Carson yang membongkar kepalsuan revolusi hijau dalam bukunya Silent Spring maupun Ida M. Tarbel yang mengungkap gurita bisnis dan kekuasaan raja minyak John D. Rockefeller, juga tidak masuk dalam daftar. Nama besar Seymour Myron Hersh, jurnalis yang menyelidiki kebiadaban tentara AS di Vietnam maupun dalam operasi penggulingan Saddam Hussein bersama pasukan NATO di wilayah Irak, juga tak disebut dalam buku ini.

Dalam pengantar buku ini, Schiffrin menyatakan, ia memilih untuk menelisik dokumen-dokumen reportase investigasi yang dihasilkan oleh jurnalis-jurnalis di luar negaranya. Jurnalis yang tak dikenal dunia, bahkan di negeri si jurnalis itu sendiri. Schiffrin dibantu koleganya, menyeleksi karya-karya jurnalis investigatif dengan beragam topik dari sejumlah negara, khususnya Amerika Latin, Eropa Timur, Afrika hingga Asia.

Proses seleksi karya ini ibarat kontes idola baru. Schiffrin meminta pendapat sejumlah akademisi, sejarawan, dan jurnalis investigasi di sejumlah negara untuk ikut mencalonkan kandidat jurnalis dan hasil liputan investigasi terbaik sepanjang tahun 1900 hingga 2000-an. Para akademisi, sejarawan, dan jurnalis tadi bertindak sebagai kontributor yang memberi komentar, memaparkan konteks dan latar belakang munculnya reportase investigasi yang dilaporkan sang jurnalis. Mereka juga mengulas sosok dan motivasi para jurnalis di balik reportase investigasi tersebut. Sehingga pembaca, khususnya wartawan peminat jurnalisme investigasi, dapat memperoleh inspirasi dari sosok tersebut.

Hasilnya, buku ini menampilkan sosok dan cuplikan karya jurnalis investigatif di kawasan Amerika Latin, Afrika dan Asia yang sebelumnya kurang dikenal, kecuali Sheilla Coronel yang namanya menjulang di kalangan jurnalis internasional bersama organisasi wartawan independen yang ia dirikan, Philippine Center for Investigative Journalism (PCIJ).

Tema-tema yang diliput para wartawan di buku ini membentang dari persoalan perbudakan, antikolonialisme, korupsi, pelanggaran HAM, militerisme, kerusakan lingkungan, kelaparan, kemiskinan, hingga ketidakadilan terhadap kaum perempuan. Tak salah lagi, persoalan-persoalan tersebut hingga kini masih banyak terjadi dan dialami oleh masyarakat di bawah sistem yang demokratis dan tata pemerintahan yang modern.

Terbakar Amarah

Bagian awal ini menceritakan sosok dan potongan reportase Edmund Dene (E. D.) Morel yang ditulis oleh Adam Hoschild tentang praktik penindasan dan pelanggaran HAM di Kongo, Afrika. Morel (18 73-1924) menulis serangkaian laporan terkait kekejaman yang dilakukan oleh Raja Leopold II di Kongo, sebelum dijajah Belgia dan kemudian menjadi Republik Demokratik Kongo.

Sebelum menjadi jurnalis, seperti dikisahkan Hoschild, Morel semula bekerja sebagai pegawai maskapai perkapalan Inggris Elder Dempster yang berbasis di Liverpool. Maskapai ini memegang hak monopoli jalurkapal-kapal yang hilir-mudik antara Belgia dan Kongo di Pelabuhan Antwerp, Belgia. Tugas Morel mengawasi bongkar-muat barang tiap kapal milik maskapai itu datang dari dan hendak berangkat ke Kongo.

Selama dinas di Pelabuhan Antwerp, Belgia, Morel adalah sosok pemuda yang tekun bekerja. Ia sampai hapal proses bongkar muat berikut isi muatannya. Kapal yang pulang dari Kongo kerap membawa timbunan gading-gading gajah Afrika berukuran raksasa dan tumpukan karet dalam volume besar untuk menyuplai kebutuhanindustri otomotif kala itu yang berkembang pesat. Namun ketika kapal-kapal itu hendak kembali berangkat ke Kongo, Morel hanya menyaksikan kapal itu diisi pasukan, senjata, amunisi, dan kebutuhan logistik para tentara.

Kisah penyelidikannya terhadap penindasan buruh di Kongo bermula dari amarahnya menyaksikan ketidakadilan yang ia saksikan. Saat masih menjadi pegawai Elder Dempster, ia sempat protes kepada atasannya. Ia mendesak agar pihak perusahaan tak lagi terlibat dan mendukung praktik perdagangan yang menindas itu. Tapi si bos menolak, karena nilai kontrak bisnis yang diterima maskapai itu terlampau besar. Si bos malah menawarkan posisi dengan gaji tinggi jika Morel tetap bungkam. Tawaran itu ia tolak. Ia memilih keluar dan menjadi wartawan, membongkar dan menyiarkan kasus besar itu kepada publik di Eropa.

Laporan-laporan investigasi yang ia tulis dimuat halaman utama majalah Speaker mendapat sorotan publik, termasuk dukungan aktivis politik dan NGO. Seperti terbakar amarah, ia bahkan menerbitkan koran yang khusus memberitakan penindasan buruh di Kongo dan mendirikan organisasi Congo Reform Association. Inisiatif Morel mendapat dukungan sejumlah kolega dan pembacanya. Sejumlah wartawan lain ikut mengungkap penyiksaan yang memicu kematian massal terhadap buruh-buruh paksa perkebunan karet di Kongo. Bahkan, jumlah penduduk di Kongo yang pada 1880 mencapai 20 juta jiwa, kala itu hanya tinggal separuhnya.

Setelah lebih dari satu dekade, kerja jurnalistik ditambah perjuangan lewat kampanye-kampanye politik oleh organisasi yang didirikannya berbuah hasil. Laporan jurnalistik Morel, yang didukung kampanye reformasi Kongo, pemerintah kerajaan Belgia mengubah kebijakan perdagangannya dengan Kerajaan Kongo di bawah Raja Leopold II.

Ya. Bagi pembaca yang pernah membaca buku karya Multatuli, Max Havelaar: atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda, potongan cerita penindasan dan ketidakadilan perdagangan antarnegara yang diungkapkan Morel terkesan memiliki kesamaan. Praktik perdagangan komoditas pertanian yang ditukar dengan tentara, senjata, amunisi, dan upah yang amat rendah.

Buruh Nike di Tangerang

Isu perburuhan, terutama tentang kesejahteraan buruh, bukan cerita masa lalu. Zaman kerajaan ataupun kolonial. Di era globalisasi, penindasan terhadap buruh masih kerap terjadi di negara-negara dunia ketiga yang haus akan modal asing atas nama pembangunan. Jurnalisme pembangunan (development journalism) dikembangkan di negeri-negeri tersebut, termasuk Indonesia. Pemberitaan isu-isu pembangunan dan modal asing lebih menonjol ketimbang suara-suara kaum tertindas akibat pembangunan itu sendiri. Media milik pemerintah, seperti TVRI dan RRI, nyaris tak menyiarkan isu perburuhan. Pembangunan yang menjadi jargon pemerintahan Suharto lebih mendominasi isi siaran dan pemberitaan.

Tahun 1990an, isu penindasan terhadap buruh di Indonesia naik ke permukaan, bahkan ke kancah dunia. Beberapa media cetak ikut melaporkan. Salah satu yang menyedot perhatian publik di masa itu adalah tewasnya Marsinah, seorang aktivis buruh perempuan yang bekerja di sebuah pabrik di Sidoarjo. Sebelum dibunuh, buruh perempuan yang aktif menggelar demonstrasi itu diculik dan diperkosa. Berita kematian itu memicu gerakan buruh dan solidaritas di sejumlah daerah di Indonesia.

Dalam buku ini Schiffrin memasukkan laporan investigasi karya wartawan Indonesia tentang praktik perdagangan antarnegara yang tidak seimbang dan penindasan buruh. Tapi bukan berita terbunuhnya Marsinah. Isu perburuhan yang diangkat adalah kasus buruh pabrik sepatu yang menjadi kontraktor Nike, produsen sepatu dunia. Salah satu pabrik sepatu itu berada di Tangerang.

Taufiqulhadi dan Usmandi Andeska, dua wartawan harian Media Indonesia melaporkan ketimpangan antara upah buruh sepatu yang bekerja untuk perusahaan sepatu dunia itu. Harga sepasang sepatu Nike kala itu rata-rata dibanderol $75, bahkan hingga $175. Sementara, gaji perhari buruh sepatu itu di Tangerang sangat minimalis, hanya Rp986! Upah itu jauh di bawah upah minimum yang berlaku di Jawa Barat saat itu, Rp1.600 perhari.

Belakangan, reportase yang mengungkap borok sistem perburuhan mendapat perhatian media asing. Liputan-liputan perburuhan memicu kampanye dan advokasi dari NGO-NGO internasioal. Konsumen di sejumlah negara maju kian kritis atas barang yang mereka beli. Ini memaksa perusahaan sepatu seperti Nike mengubah kebijakan perburuhannya.

Kejahatan yang Berulang di Era Digital

Isu kesejahteraan buruh-buruh pabrik perusahaan internasional ini masih berlanjut hingga di era digital, awal abad ke-20. Kasus ini berulang di Cina ketika sejumlah buruh perusahaan Foxconn, pabrik yang memproduksi gawai untuk Apple tewas bunuh diri akibat beban kerja tinggi dan upah sangat rendah.September 2015, seperti dilansir situs publicintegrity.org, ratusan mantan buruh pabrik produsen gawai ternama Samsung di Korea Selatan menderita kanker akibat terpapar zat kimia beracun ketika bekerja.

Selain isu penindasan terhadap buruh, laporan-laporan investigasi terkait penyimpangan kekuasaan dalam bentuk korupsi, kolusi, pelanggaran HAM, perusakan lingkungan, eksploitasi korporasi, kemiskinan, hingga kekerasan terhadap perempuan yang dikutip dalam buku ini adalah tema yang tak pernah lekang oleh ruang dan waktu. Karena itu laporan investigasi yang ditulis oleh para wartawan media cetak yang dirangkum dalam buku ini dapat menjadi referensi dan sumber inspirasi bagi para jurnalis di era digital.

Tak heran, usai membaca kisah-kisah dan proses investigasi dalam buku ini, pembaca akan menemukan kesan bahwa keterbatasan teknologi informasi bukan penghalang dalam penyelidikan maupun publikasi untuk menjangkau khalayak luas. Dalam mengumpulkan bukti-bukti dokumen maupun sumber kunci, para jurnalis yang dikisahkan di sinimengandalkan reportase lapangan atau yang popular dengan “shoe leather reporting“. Teknik reportase dengan mendatangi lokasi kejadian, membaca tumpukan dokumen, hingga menemui sumber-sumber kunci.

Benang merah dari rangkaian laporan-laporan investigasi dalam buku ini adalah jurnalisme investigasi menjadi puncak dari praktik jurnalisme yang senantiasa ditunggu publik. Mereka menulis dengan satu misi: mengungkap kebenaran. Meski berbeda waktu dan tempat, para jurnalis memiliki kesamaan visi: demi kemanusiaan dan peradaban yang lebih baik.

Sebagian besar media cetak yang memuat laporan investigasi dalam buku ini hanya tinggal nama. Sebagian lainnya mungkin tengah megap-megap. Atau malah bersiap menyambut era digital. Yang jelas, media boleh berganti, tapi esensi dari eksistensi pers sebagai pengawas kekuasaan tak boleh mati. Karena, dikatakan Schiffrin dalam buku ini, pola kejahatan baru hingga trik korupsi baru adalah medan perjuangan baru bagi media. ***

Penulis: Samiaji Bintang, Direktur Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)

Categories: Review Buku

Tinggalkan Balasan